
Siska terlihat sedang melamun seorang diri di pojokan dia merenungkan kehidupannya selama beberapa bulan belakang ini.
Kehidupan bahagianya bersama Farel setelah kelahiran putra mereka. Benar-benar sangat Siska rindukan. Tampak air mata mulai menetes di kelopak mata Siska.
" Sudahlah jangan terlalu kau tangisi Siska. Kalau kau tidak bersalah, pasti juga akan dibebaskan dari sini kok. Tidak mungkin hukum akan menutup mata memenjarakan orang yang tidak bersalah!" ucap teman Siska yang selama ini selalu menemani Siska selama dia berada di penjara.
" Aku dituduh membunuh nertuaku sendiri. Aku hanya takut kalau sampai suamiku jadi benci padaku, ilfil padaku dan tidak mau menganggapku sebagai istrinya lagi. Aku sangat mencintainya Meh. Aku tidak akan bisa hidup lagi kalau sampai dia membenciku aku lebih baik mati aja deh, Aku tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa hidup dalam kebencian dia! Hiks hiks!" ucap Siska sambil menangis terisak di dalam pelukan sahabat barunya yang bernama Imeh.
" Aku yakin kok pasti suamimu juga tahu kalau tidak mungkin kamu melakukan hal tercela seperti itu. Dia pasti kenal kamu kan dan dia pasti percaya denganmu. Yakinlah Siska bahwa cinta kalian pasti akan menang!" ucap Imeh berusaha menghibur sahabatnya yang tampak begitu sedih mengenai nasib rumah tangganya bersama Farel.
Terlihat Siska meraup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak dalam diam. Saat ini hatinya benar-benar sedih dan juga terluka karena nasib buruk yang menimpa dirinya dengan menjadi tersangka pembunuhan mertuanya sendiri.
" Nasib sedang mempermainkanku dan juga suamiku. Baru saja kami berbahagia tiba-tiba sudah dihempaskan ke jurang penderitaan seperti ini. Aku bahkan sudah lama tidak bertemu dengan putraku yang baru berusia beberapa bulan saja. Entah bagaimana kabarnya dia saat ini!" Siska Kemudian menceritakan tentang Aaron putranya yang sangat dia banggakan dan juga sangat dia cintai dengan segenap jiwa raganya.
" Putramu suatu saat pasti mengerti tentang situasimu saat ini. Percayalah Siska padaku. Kebenaran suatu saat pasti akan terungkap!" ucap Imeh lagi dengan begitu yakin.
" Oh iya, bagaimana? Kenapa kau bisa ada di penjara? Aku lihat kau tidak ada tampang sebagai penjahat. Bisa kau ceritakan padaku? Apa sebenarnya yang menimpa dirimu? Sehingga kau berakhir di sini dan aku lihat tidak pernah kau mendapatkan kunjungan dari siapapun," ucap Siska yang mulai memperhatikan Imeh yang kini seperti sedang merenung atau lebih tepatnya menerawang ke masa lalu tentang hidupnya yang kini berakhir di penjara dalam kesepian dan kesendirian.
" Aku dijebak oleh selingkuhan suamiku. Sekarang mereka hidup berbahagia sebagai suami istri. Sementara aku berakhir di sini, menjadi seorang pembunuh dari anakku sendiri!" Siska benar-benar terkejut mendengarkan penuturan dari Imeh yang terlihat begitu menderita ketika menceritakan kisah hidupnya.
" Apakah suamimu tidak berusaha untuk menolongmu?" tanya Siska heran.
" Jangankan menolongku. Malahan dialah yang paling semangat untuk menjebloskan aku masuk ke dalam penjara. Dia juga lah yang menjadi saksi bahwa akulah yang telah membunuhku putraku sendiri." ucap Imeh
Imeh terlihat tersenyum pilu. Dia terlihat memikirkan kembali tentang nasib hidupnya yang tidak pernah bahagia. Ya! Semenjak kehadiran sahabatnya di dalam rumahnya.
Sahabat yang selama ini dia tampung setelah perceraiannya dengan suaminya yang dulu. Ternyata malah memberikan kehancuran untuk rumah tangganya. Kebaikan dirinya dibalas dengan air tuba dan sekarang dia menjadi tersangka pembunuhan putranya sendiri karena Imeh yang masuk jebakan sahabat laknatnya itu.
" Pesanku cuma satu sama kamu Siska. Sebaik apapun sahabatmu ataupun semalang apapun dia, siapapun dia. Jangan pernah mengundangnya ke rumahmu untuk masuk ke dalam hidupmu. Apalagi kalau kau memiliki suami yang tampan dan kaya raya. Wah, itu sama saja seperti kau mengundang ular berbisa ke dalam rumahmu!" ucap Imeh sambil tersenyum kepada Siska.
Ya! Mereka berdua satu sama lain saling menguatkan di saat titik terlemah hidup mereka. Mereka berjanji akan saling menolong satu sama lain.
" Siska Bolehkah aku meminta tolong padamu ketika kamu bebas nanti?" tanya Imeh sambil menatap Siska dengan penuh harapan.
" Apa? Katakanlah!" jawab Siska sambil tersenyum kepada Imeh dan menunggu apa yang akan dikatakannya.
" Bisakah kau membantuku untuk membalaskan dendamku kepada pelakor yang sudah merebut suamiku dan menghancurkan hidupku?" tanya Imeh dengan raut wajah penuh dendam dan kebencian.
Siska tampak terdiam beberapa saat lamanya karena ragu dan bimbang. Siska pun mulai merasa bingung harus menjawab apa. Karena dirinya sendiri tidak jelas kapan akan dibebaskan. Bahkan semua bukti-bukti sudah mengarah kepadanya kemungkinan untuk dirinya bisa bebas dari penjara sangat kecil.
" Aku tidak tahu Imeh. Apakah bisa memenuhi keinginanmu itu. Sementara nasibku saja tidak jelas begini. Mungkin saja malah besok kau yang lebih duluan keluar dari penjara ini. Kamu sendiri bisa membalaskan dendammu itu kepada wanita yang telah merebut suamimu!" ucap Siska sambil tersenyum kepada Imeh yang sepertinya merasa kecewa karena tidak mendapatkan janji dari Siska.
" Tapi aku berjanji kalau suatu saat aku bertemu dengan suamimu, maka aku akan menceritakan apa yang kau ceritakan hari ini kepadaku. Ya, semoga saja suamimu akan terbuka mata hatinya dan bisa melihat kebenaran di dalam kasusmu!" ucap Siska sambil tersenyum dan memberikan hiburan terbaik untuk Imeh.
" Aku lihat suamimu tidak pernah datang kemari untuk menjenguk kamu. Apakah dia tidak ingin memperjuangkan kebebasanmu?" tanya Imeh yang membuat hati Siska tiba-tiba menjadi mellow tingkah dewa.
Terlihat Siska bangkit dari duduknya. Tampak sedih. Kemudian Siska melihat ke arah luar, di mana lalu lalang para polisi kini telah menjadi pemandangan sehari-hari untuk dirinya. Setelah Siska ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan Ibu mertuanya sendiri.
" Aku yakin kalau suamiku pasti juga sibuk di luar sana. Apalagi dia harus mengurus baby kami yang baru berusia beberapa bulan! Aku tidak mau berpikir negatif terhadap dia Aku percaya bahwa dia mencintaiku dan aku juga percaya kalau dia pasti di luar sana sedang memperjuangkan kebebasanku!" ucap Siska dengan penuh keyakinan.
" Ah semoga saja apa yang kau katakan itu benar. Semoga kau tidak bernasib sama sepertiku. Jadi istri yang dijebak oleh selingkuhan suamiku hanya untuk membuat suamiku menikahi dia!" ucapan Imeh benar-benar membuat Siska tersentak seketika memikirkan kata-katanya.
Siska mengingat kembali kronologis kejadian pada saat pembunuhan itu terjadi. Di mana dirinya diundang oleh Amora untuk datang ke apartemen. Di mana dia menemukan tubuh ibunya Farel yang sedang sekarat dan bersimbah darah.
Seketika tubuh Siska meremang. Ketika dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Imeh yang kemungkinan 100% adalah kebenaran hakiki bahwa dia telah dijebak oleh Amora hanya untuk mendapatkan Farel sebagai suaminya. Bukankah selama ini Amora memang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Farel sebagai suaminya?