
Begitu sampai di apartemennya Farel langsung mengambil kotak musik yang tadi dia bawa dari kamar orang tuanya Siska.
" Aku penasaran kenapa kotak musik kakek saya ada di sana?" tanya Farel bingung.
" Apakah itu artinya bahwa Siska memang adalah calon istriku yang sudah dipersiapkan oleh kakek dulu? Waktu itu kami sekeluarga belum sempat bertemu dengan calon istriku, karena kakek keburu meninggal gara-gara stroke! Apa sebelumnya kakeknya Siska dan kakekku saling mengenal? Ya ampun! Kenapa banyak sekali masalah yang berkaitan satu sama lain?" tanya Farel sambil terus melihat kotak musik kuno yang ada di tangannya.
Farel kemudian mengambil sebuah liontin yang dulu diberikan oleh kakeknya kepada dirinya. Kakeknya bilang liontin itu adalah tanda perjodohan antara Farel dengan calon istrinya di masa kecil.
Farel terus menatap kedua benda yang ada di tangannya. Farel mencoba terus untuk mengingat-ingat, apa saja yang dikatakan oleh kakeknya sebelum dia meninggal.
" Jagalah calon istrimu baik-baik Jangan biarkan dia bersedih gara-gara kamu!" ucap sang kakek ketika berada di rumah sakit sehari sebelum meninggal.
Saat itu Farel masih lulus SMP, dan tidak terlalu menganggap serius apa yang dikatakan oleh kakeknya.
Lagi pula tidak mungkin seorang anak SMP seperti dia bisa menjaga seorang anak gadis yang asing, bahkan tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu Farel pun kemudian melupakan apa yang dikatakan oleh sang kakek dan bahkan dia tidak pernah melihat liontin yang dititipkan oleh kakeknya kepadanya.
Gara-gara kotak musik itu Farel menjadi ingat lagi tentang permintaan kakeknya untuk menikah dengan cucu dari sahabat Kakeknya.
" Besok aku akan pergi ke Bandung dan menunjukkan semua barang ini kepada kakeknya Siska!" Ucap Farel mengambil keputusan dengan mantap.
Farel terus berpikir sambil menatap langit-langit kamarnya. Setiap momen kebersamaan dengan Siska masih terngiang di dalam pikirannya.
" Untung saja gadis yang dijodohkan oleh kakekku adalah Siska. Kalau tidak, aku pasti akan dilema untuk memilih antara cinta dan juga baktiku sebagai cucu terkasoh dari Kakekku satu-satunya!" ucap Farel sambil tersenyum bahagia.
" Kalau misalkan Siska nanti menolak untuk berjodoh denganku. Maka aku akan menggunakan kedua benda ini untuk dapat memaksanya menjadi istriku. Bagaimanapun dia adalah keturunan Prayoga. Dia punya kewajiban untuk memenuhi janji kakeknya di masa lalu kepada keluargaku!" monolog Farel kepada dirinya sendiri.
Karena merasa senang dan juga sangat lelah, akhirnya Farel tanpa disadari malah tertidur dan di dalam mimpinya dia bertemu dengan kedua orang tua Siska.
" Farel! Apakah kau bisa menjaga dan juga membimbing Siska untuk menjadi seorang gadis yang dewasa dan bertanggung jawab dengan perusahaan keluarga kami?" tanya Ayahnya Siska yang tampak bersinar wajahnya sambil menatap tajam kepada Farel.
" Anak gadis kamu itu sangat urakan dan juga suka berbuat sesuatu sekehendaknya sendiri. Kau harus ekstra sabar untuk menghadapinya kalau kelak kalian sudah menjadi suami istri." pesan ibunya Siska sambil tersenyum kepada Farel yang tampaknya masih bingung dengan pesan dari mereka.
" Kalian juga khawatir aku pasti akan berusaha untuk menjaga Siska dan melindunginya! Aku juga akan berusaha untuk membimbing Siska sehingga dia bisa menjadi seorang CEO yang bertanggung jawab dengan perusahaan kalian!" setelah mengatakan itu Farel melihat kedua orang tua Siska kemudian tersenyum kepadanya dan menghilang dari pandangannya.
Farel seketika terperanjat dan membuka matanya.
" Ya ampun Apa itu tadi ya? Apakah aku bermimpi? tapi kenapa rasanya begitu nyata? Aku bisa merasakan kalau mereka berdua tadi benar-benar ada di sini." Farel pun kemudian melirik ke jendela yang tadi dia saksikan kedua orang tuanya Siska melintasi jendela itu dan kemudian menghilang dari pandangannya.
Tubuh Farel auto merinding seketika. Author juga we.. merinding juga. Malam- malam begini malahan ketik cerita horor kayak gini.
" Ya ampun! Apakah tadi arwah kedua orang tua Siska yang mendatangiku? Berarti memang benar, kalau Siska adalah jodoh masa kecilku yang sudah dipersiapkan oleh almarhum kakekku. Baiklah besok aku harus datang ke Bandung dan bertanya kepada kakeknya Siska untuk lebih jelasnya lagi!" Farel pun kemudian mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat isya yang tadi kelupaan karena dia tertidur pulas karena kelelahan yang sangat.
Setelah selesai melaksanakan salat Isya Farel pun kemudian mengirimkan al-fatihah untuk kedua orang tua Siska yang sudah meninggal.
" Maafkan saya yang selama kalian hidup sudah memberikan banyak kesulitan dengan selalu menargetkan perusahaan kalian sebagai saingan perusahaanku. Aku janji aku akan membimbing Siska untuk menjadi CEO yang hebat dan mengembalikan semua saham yang sudah aku beli dari perusahaan kalian!" janji Farel setelah dia selesai mendoakan kedua orang tua Siska yang meninggal dalam kecelakaan.
Polisi mengatakan bahwa mobil yang mereka tumpangi, sengaja ada yang sengaja memotong remnya sehingga mengalami blonk. Sehingga suami istri itu mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam jurang dan meninggal di tempat karena luka-luka yang sangat fatal pada tubuh mereka.
Sampai sekarang polisi belum berhasil menyelidiki kasus meninggalnya kedua orang tua Siska.
Sebenarnya Siska pernah mencurigai Farel sebagai salah satu dari tersangka yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Akan tetapi setelah melihat pesan terakhir yang diberikan oleh ayahnya melalui pesan whatsapp yang meminta agar dia menikah dengan Farel seketika dugaan itu pun ditepiskan oleh Siska.
Akan tetapi Adrian dan Steven masih mengerahkan anak buah mereka untuk menyelidiki tentang kasus tersebut.
Sampai saat ini kasus itu masih menjadi sebuah misteri tanpa titik terang sama sekali.
Black box yang ada di mobil orang tuanya Siska hancur berantakan. Sehingga penyelidik kesulitan untuk menyelidikinya.
Sementara itu Siska yang saat ini masih menjalani private dari kedua pamannya yang tampan, sudah mulai menguap karena mengantuk setelah 3 jam lamanya mendapatkan pelajaran berharga tentang manajemen bisnis yang diajarkan oleh kedua pamannya secara bergantian.
Steven dan Adrian memang mendapatkan tugas dari ayahnya untuk bisa membimbing Siska agar secara mandiri bisa mengurus perusahaan ayahnya yang telah meninggal.
Setelah Siska berhasil dan bisa memimpin perusahaan ayahnya sendiri, maka Steven dan Adrian akan kembali ke Bandung dan fokus untuk membantu ayah mereka yang sudah tua untuk mengurus perusahaan dan perkebunan teh keluarga mereka di sana.
" Ya sudah kau pergi tidur sana. Paman juga sudah mengantuk! Mau istrahat juga!" ucap Adrian pada akhirnya menutup buku pelajaran yang tadi digunakan untuk mengajari Siska.
" Ya sudah Pamanku yang tampan dan kece badai! Aku tidur dulu ya? Selamat malam!" ucap Siska sambil mencium pipi kedua pamannya sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.
Entah kenapa tiba-tiba saja bulu kuduk Siska merinding ketika dia masuk ke dalam kamarnya. Siska auto lari dan menemui kedua pamannya yang sedang bersiap untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
" Paman tunggu dulu!" panggil Siska sambil berlari ke arah mereka yang tampak bengong.