Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
198. Bertemu Silvia


Silvia terus menatap kepada mereka berempat yang saat ini sedang menatap ke arahnya dengan tatapan heran, ketakutan dan penuh kecemasan.


' Mau apa mereka datang kemari? Biasanya mereka tidak mempedulikan kehadiranku.' batin Silvia yang merasa tidak nyaman melihat kedatangan mereka berempat ke rumahnya.


Selama ini Silvia sudah terlalu terbiasa dengan kesepiannya di kediaman Prayoga setelah kematian suaminya yang telah mengakibatkan kedua anaknya akhirnya Pergi meninggalkannya.


Silvia benar-benar merasa jengkel melihat anaknya yang begitu pasrah dengan perintah ayahnya sendiri untuk membantu Siska alih-alih merebut kekuasaan di Prayoga Group yang seharusnya putranyalah yang menjadi pewarisnya.


Karena itulah yang selama ini telah dicita-citakan oleh Silvia ketika dia merebut suaminya dari istri pertama.


Tetapi semua cita-citanya hancur karena Adrian maupun Steven tidak ada yang mau mengikuti apa yang dia inginkan.


" Mau apa kalian datang kemari? Bukankah kalian sudah terlalu betah dan terlalu bahagia menjadi anjing dari Siska?" tanya Silvia dengan suara ketus dan juga jengkel terhadap mereka.


" Kami datang kemari karena ingin restu dari mama karena kau adalah mama kami berdua." ucap Steven dengan suara gemetar.


Bagaimanapun Stevan masih mengingat apa yang dikatakan oleh Silvia kepadanya ketika dia mengabarkan tentang keadaan Adrian yang sedang koma di rumah sakit.


Sampai saat ini perasaan Steven masih merasakan sakit luar biasa dengan kejadian itu di mana ibunya menolak untuk menemui Adrian dan mengatakan bahwa mereka sudah terputus hubungan.


Adrian menatap adiknya yang terlihat begitu menderita ketika berbicara dengan ibunya yang menatap mereka berdua dengan sinis.


" Untuk apa kalian berdua meminta Restu dariku? Bukankah aku ini bukan ibu kalian dan kalian tidak pernah menganggapku sebagai ibu kandung kalian lagi?" Adrian dan Steven bisa menangkap kemarahan dari suara Ibu mereka yang saat ini sedang begitu marah kepada mereka.


Hampir saja Steven bangkit dan berniat untuk pergi dari kediaman Prayoga. Bagaimanapun Steven merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


" Apakah mama serius tidak menganggap kami sebagai Anakmu lagi? walaupun Mama selama ini selalu kasar dan selalu mengusir kami tetapi dalam hati kami Mama tetaplah Mama kami." terdengar suara Steven yang begitu serak dan menahan tangis.


Adrian bisa merasakan kesedihan adiknya. Walaupun dia secara gamblang tidak terlalu memahami. Kenapa adiknya begitu tertekan ketika berhadapan dengan ibunya.


Silvia merasakan hatinya seperti tercubit dengan apa yang dikatakan oleh Steven.


" Bukankah itu semua adalah kesalahan kalian yang selalu membantah Apapun yang aku katakan? Apakah di dalam hati kalian selalu menganggap aku sebagai ibu kalian? Kalian hendak menikah dan sekarang baru ingat bahwa kalian punya ibu?" Andini dan Rossa dari tadi tidak berani berkata-kata karena tidak memahami masalah mereka bertiga tetapi dari suara dan juga pembicaraan mereka. Andini dan Rossa sedikit banyak bisa mengerti apa yang saat ini sedang terjadi.


Sekilas mereka bisa tahu kalau ada masalah besar di antara ibu dan anak yang saat ini sedang bersitegang.


" Maafkan saya Tante, kalau saya menyala pembicaraan kalian. Apakah tante tahu kalau selama ini Steven dan Adrian begitu sedih melihat tante yang tidak memperdulikan Mereka lagi? Bahkan mereka sakit pun tante tidak pernah mau menjenguk ataupun menanyakan keadaan mereka." Rossa terlihat begitu Tegar ketika berhadapan dengan Silvia yang begitu angkuh dan juga arogan.


Sementara Andini sampai saat ini masih menundukkan kepalanya. Karena tidak berani untuk menatap mata Silvia yang begitu tajam dan membunuh. Andini melihat di mata Silvia penuh dengan aura kebencian di matanya.


" Lancang!! Siapa kau? Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu padaku! Apakah kau sudah bosan hidup?" tanya Silvia menatap tajam kepada Rossa yang sejak tadi tidak merasakan takut sama sekali terhadapnya.


Rosa kemudian bangkit untuk bersalaman dengan Silvia dan memperkenalkan namanya.


" Perkenalkan tante. Namaku adalah Rosa Mandalika. Aku adalah kekasih Steven yang sekaligus tunangannya. Kami datang kemari untuk meminta restu dari Tante agar kami bisa segera menikah sesuai dengan instruksi dari kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku menginginkan restu dari tante untuk pernikahan kami berdua." Silvia terkejut mendengarkan nama keluarga Rossa.


" Jadi kamu yang bernama Rossa Mandalika? wanita yang sudah berani sekali berurusan dengan keluarga Prayoga dengan membuat kekacauan di kantor pusat dengan mengirimkan seorang hacker untuk menghancurkan server dan juga data-data perusahaan kami?" rasa cukup terkejut mendengar perkataan dari Silvia mengenai masa lalunya.


Steven hanya menatap ibunya yang saat ini sedang memojokkan Rosa dengan masa lalunya yang dulu pernah berniat untuk menghancurkan Prayoga Group.


" Apa sebenarnya maunya Mama? Kenapa dari tadi kelihatannya begitu menyulitkan Kami berempat?" tanya Adrian yang sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan ibunya yang seperti tidak menghargai mereka berdua sebagai anak kandungnya sendiri sehingga begitu mempermalukan mereka di hadapan kekasih yang mereka cintai.


Akan tetapi Adrian mengingat pesan Siska dan Farel untuk selalu bersikap tenang dan juga sabar menghadapi Ibu mereka yang mereka kenal keras kepala dan juga arogan.


" Pergi saja dari rumah ini. Kalau kalian tidak tahan dengan sikapku. Kalian juga selama ini sudah menganggapku mati, bukan?" tanya Silvia begitu gemas dengan kelakuan kedua putranya yang seperti tidak menganggap dirinya sebagai ibu mereka.


Sekeras apapun hatinya sebagai seorang wanita. Tetap saja sebagai seorang Ibu Silvia merasa merindukan putra-putranya yang telah begitu banyak mengecewakan dirinya dengan menolak semua yang dia inginkan dari mereka. Silvia benar-benar kecewa melihat perilaku mereka yang tidak mau untuk merebut hak kekuasaan di dalam Prayoga Group yang seharusnya dimiliki oleh mereka.


Silvia Menutup Mata bahwa Prayoga Group dulu dibangun oleh ayahnya Siska yang kemudian dikembangkan dengan membangun cabang-cabang yang diberikan kepada ayahnya dan juga saudara yang lain karena kebaikan hati ayahnya Siska.


Akan tetapi dalam perkembangannya ayahnya Siska yang sekarang sudah meninggal telah menemui begitu banyak kesulitan dengan para bawahannya yang korupsi dan juga memiliki musuh yang sangat kuat yaitu Handoyo group yang dipimpin oleh Farel.


Dahulu, Farel sebelum mencintai Siska adalah musuh besar Prayoga group yang selalu menjegal proyek-proyek yang mereka incar. Farel juga menanamkan mata-matanya di dalam perusahaan Prayoga group yang dipimpin oleh ayahnya Siska yang berpusat di Jakarta.


Itulah yang menjadi penyebab jatuhnya proyaga group pada masa kepemimpinan ayahnya Siska.


Kepiawaian sang kakek dalam mengelola cabang perusahaan Prayoga group yang ada di Bandung membuat perusahaan itu terus berkembang dan lebih maju dari perusahaan pusat yang dikendalikan oleh ayahnya Siska.


" Sudahlah Mah! Adrian minta tolong sama Mama! Tolong hentikan semua perdebatan yang tidak penting ini! Bagaimanapun Kami adalah anak-anakmu. walaupun Mama tidak mengakui kami sebagai anak mama tetapi darah yang mengalir di tubuh kami adalah darah Mama dan Papa." Adrian bahkan sampai meneteskan air matanya ketika mengatakan hal tersebut.


" Kalian selama ini yang sudah sangat mengecewakan Mama dengan tidak pernah menganggap Mama sebagai ibu kandung kalian. Kalian membenci mama hanya karena mama meminta kepada kalian untuk merebut hak kalian kepada Siska. Padahal semua yang Mama Lakukan semuanya adalah demi kebaikan kalian. Tapi apa? Kalian membenci Mama bahkan tidak pernah mau datang kemari lagi ataupun sekedar menghubungi Mama. Apa kalian berdua tahu? Sebesar apa kesedihan yang mama tanggung selama ini?" Siska mulai meneteskan air mata kesedihan ketika dia mengingat hari-harinya yang begitu sunyi dan juga sepi tanpa kedua putranya.


" Setiap malam Mama selalu menangis dan berdoa untuk kedatangan kalian yang meminta maaf kepada Mama karena kalian sudah bersikap tidak baik dengan selalu membangkang dengan apapun yang mama katakan kepada kalian. Mama tidak benar-benar meminta kalian untuk memberontak kepada Siska dan merebut Tahta Prayoga Group darinya. Tapi kalian sudah menganggap Mama seperti seorang penjahat yang tidak layak untuk dikenal lagi oleh kalian." Silvia menangis terseduh ketika mengingat semua yang sudah dia lalui ketika kedua putranya lebih memilih untuk tinggal di Jakarta dan meninggalkan dirinya sendirian di Bandung dengan segala permasalahan yang ada di perusahaan dan juga kehidupan pribadinya yang begitu rumit dan sunyi.


Adrian dan Steven tersentak mendengar semua perkataan ibunya. Hati mereka benar-benar tidak percaya bahwa Ibunya bisa mengatakan hal itu.


" Apakah benar Mama merindukan kami? Dan mama mau memaafkan kami. Kalau kami minta maaf sama mama?" tanya Steven yang seakan tidak percaya mendengar semua perkataan ibunya tadi.


Silvia menatap satu persatu wajah Adrian dan Steven dengan penuh Kerinduan.


" Kalian adalah Anakku yang terlahir dari rahimku. Mama begitu menyayangi kalian dengan seluruh jiwa raga Mama. Bagaimana mungkin Mama tidak pernah bisa memaafkan kalian? Kalian adalah seluruh hidup Mama. Tapi kalian yang selama ini menolak kehadiran Mama di dalam hidup kalian. Mama sangat sedih setiap mengingat semua yang kalian katakan kepada Mama." tangisan Silvia Semakin menjadi ketika mengingat semuanya.


Steven dan Adrian langsung berlari ke dalam pelukan ibu mereka. mereka berdua tidak menyangka kalau ternyata sang ibu menyimpan begitu banyak luka dengan sikap mereka selama ini.


" Maafkan kami berdua mah yang sudah salah paham kepada Mama. Kami tidak tahu kalau mama juga menyayangi kami. Selama ini Mama selalu memusuhi kami dan selalu berkata kasar dan juga ketus. Kami berdua benar-benar tidak berani untuk berhadapan dengan Mama. itulah yang menjadi alasan Kami jarang untuk menemui mama ataupun menghubungi Mama di sini!" Adrian langsung memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat.


Steven pun tidak kalah seperti sang kakak yang saat ini sedang menangis dipelukan sang ibu tercinta yang sudah sangat lama dia rindukan.


" Maafkan Steven mah kalau sudah menyakiti hati Mama selama ini!" ucap Steven dengan air mata yang menetes di kelopak matanya.