Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
176. Betul!!!


"Betul sekali, Paman!" Farel tersenyum kepada Steven yang tampaknya sudah mulai kelelahan dan akhirnya tertidur di sampingnya.


Siska sebenarnya sudah sadar. Tetapi, dia memang sengaja dibuat tidur oleh dokter agar bisa beristirahat dengan nyenyak, demi tubuhnya yang sedang kelelahan luar biasa.


Sementara itu, Andini yang saat ini sedang berada di ruangan VVIP untuk menjaga Adrian terlihat mengerutkan keningnya ketika melihat ponselnya berdering dari nomor asing.


"Siapa ini yang menelponku malam-malam begini? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak menerima panggilan telepon?" tanya Andini yang merasa kesal luar biasa karena malam-malam mendapat gangguan telepon dari nomor asing yang tidak dia kenal.


Andini lalu menonaktifkan ponselnya, karena dia tidak ingin pasien merasa terganggu dengan aktivitas telpon.


Setelah memastikan bahwa semua kebutuhan Adrian telah terpenuhi, Andini pun kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah dipesan oleh keluarga Adrian untuk tempat dia bisa beristirahat saat melakukan tugasnya di malam hari untuk menjaga Adrian.


Andini telah dikontrak oleh Steven dan Siska untuk menjaga Adrian selama 24 jam, sampai kakaknya sadarkan diri dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


Untuk saat ini, adik-adik Andini tinggal sendiri dan ditemani oleh seorang pembantu yang disewa oleh Andini untuk menjaga adik-adiknya selama dia bekerja di rumah sakit.


Keesokan paginya, Andini kaget saat mendengar percakapan antara Steven dan Farel di dekat Adrian.


"Perusahaan Mandalika Group benar-benar sudah lumpuh total, karena perbuatan hacker yang sudah menyerang server mereka dengan kejam. Sehingga data-data perusahaan mereka semuanya lenyap!" Farel, saat ini sedang membaca berita yang sedang viral di media sosial.


"Itu adalah hukum karma bagi mereka, karena sudah berani melawan Prayoga Group perusahaan milik keluarga kita, dan dia berani mengganggu rumah tangga kamu dengan Siska." Steven kesal saat ingat tentang Rosa Mandalika.


"Rosa Mandalika. Wanita tidak tahu malu itu!! Dia bahkan sampai menggodamu dan menginginkanmu menjadi istri keduanya. Aku sangat senang sekali melihat perusahaan mereka dihancurkan seperti itu. Sungguh, kalau aku bertemu dengan hacker itu, aku benar-benar akan berterima kasih kepadanya karena sudah membantu kita untuk menghukum perusahaan zalim itu!" terdengar bahwa Steven benar-benar tidak suka dengan perusahaan Mandalika Group.


"Paman, tahu dari mana soal Rosa Mandalika yang merayuku untuk menjadikannya istri keduaku?" Farel terlihat terkejut mendengarkan pengakuan dari Steven.


"Aku dan Siska berada di restoran yang sama ketika kamu berbicara dengan Rosa Mandalika kemarin siang!" Farel benar-benar terkejut mendengarkan hal itu.


"Ya Tuhan!! Apa karena itu Siska sakit? Dia pasti merasa tertekan setelah mengetahui kenyataan itu." Terlihat Farel merasa sedih dengan keadaan Siska.


Andini sebenarnya sudah bangun dari tadi. Dia terlihat berpura-pura masih tidur, dan asyik mendengarkan percakapan dua laki-laki tampan yang sedang bercakap-cakap tentang Rosa Mandalika.


"Jadi, Rosa Mandalika adalah musuh mereka berdua? Musuh perusahaan mereka?" monolog Andini.


"Ya ampun, ternyata itu semua adalah ulah dan pekerjaan mereka berdua, dan aku telah jatuh ke dalam perangkap mereka. Aneh juga memang, kenapa Rosa Mandalika tiba-tiba membatalkan misi yang sudah dia perintahkan kepadaku saat sedang beraksi dan hanya menunggu untuk sukses. Ternyata, aku bodoh!" batin Andini yang entah kenapa dia malah merasa senang dikerjai oleh Steven seperti itu, alih-alih marah kepada Siska dan Steven yang telah mengerjainya mentah-mentah.


Andini memang memiliki hobi menjadi seorang hacker, dan dia mendapatkan banyak uang dari hobinya tersebut. Akan tetapi, hobi tersebut hanya dia gunakan sebagai sampingan saja, dan tidak ada siapapun yang mengetahui tentang profesi sampingannya itu. Karena Andini selama ini sangat pintar menyembunyikan identitas hackernya dari semua pelanggan yang menggunakan jasanya, yang selalu sukses 100%.


"Aku akan mengurus agar Siska bisa dirawat di sini juga. Bagaimanapun rasanya lelah sekali untuk berlari kesana kemari dan mengurus 2 orang di rumah sakit!" ucap Farel pada Steven.


Steven terlihat menggelengkan kepalanya karena tidak setuju.


"Bukankah dokter bilang kalau Siska sudah diperbolehkan turun kalau infusnya sudah habis? Siska bisa dirawat di rumah, dan kau tidak usah lelah untuk bolak-balik kesana kemari. Kau bisa fokus mengurus Siska di rumah. Biarkan Kak Adrian menjadi tanggung jawabku bersama suster Andini." Farel akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Steven.


"Baiklah, Paman, aku akan segera mengurus kepulangan Siska. Aku harap Paman bisa menjaga Paman Adrian. Semoga saja dia bisa segera siuman dan membantu Paman di perusahaan. Aku benar-benar tidak tega melihat pamannya bekerja keras sendirian mengurus Prayoga Group. Aku harap, Rossa Mandalika tidak membuat ulah lagi dengan perusahaan Prayoga Group." Andini yang saat ini masih berpura-pura tidur akhirnya menggeliatkan tubuhnya.


"Maafkan saya, bangun terlambat!" Andini mengerjapkan matanya karena masih silau dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang tadi dibuka oleh Steven.


Steven dan Farel yang melihat Andini baru saja bangun hanya menganggukkan kepala mereka.


"Baiklah, Paman, aku keluar dulu!" Farel kemudian berpamitan kepada mereka berdua dan kembali ke kamar Siska yang sekarang sudah mulai bangun.


"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Farel saat melihat Siska tersenyum kepadanya ketika masuk ke ruangan tempat dirinya dirawat.


"Maaf, sayang. Aku tega menempatkanmu di kamar biasa seperti ini karena kamar VVIP telah penuh. Tadi malam aku lupa menempatkanmu di kamar VVIP bersama Paman Adrian karena terlalu panik melihatmu pingsan dan mendadak demam tinggi di kamar kita!" Farel berusaha menjelaskan kronologis kejadian agar Siska tidak salah paham.


Siska hanya tersenyum mendengarkan penjelasan suaminya. "Tidak apa-apa, sayang. Bagiku yang penting kamu di sini. Aku tidak keberatan ditempatkan di mana saja," kata Siska sambil meminta Farel memeluknya.


Farel senang melihat istrinya berangsur sembuh dan langsung mendekati dan memberikan pelukan hangat, serta mencium bibirnya dengan lembut.


"Sayang, kapan aku bisa pulang? Aku tidak suka tinggal di rumah sakit," tanya Siska setelah mereka saling berpelukan.


"Dokter bilang kalau inpusmu sudah habis, kamu bisa pulang. Lihatlah, hampir habis. Aku akan mengurus kepulanganmu hari ini juga. Tunggu aku di sini dulu, ya. Aku akan mengurus administrasinya," janji Farel.


Sejak dulu, Siska memang tidak suka tinggal di rumah sakit. Karena itu, Farel meminta dokter untuk membiarkan istrinya dirawat di rumah dan mengirim seorang perawat yang akan menjaga kondisi Siska hingga sembuh.