
" Lalu bagaimana dengan paman?" tanya Siska kepada Adrian yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya.
Adrian menatap semua orang yang ada di wajah itu dan berusaha untuk menjelaskan permasalahannya bersama Indrana yang sekarang terlihat begitu marah kepada dirinya setelah dirinya menikah dengan Andini.
" Kau tahu sendiri kan sifat Indrana seperti apa? Setiap kali bertemu denganku, dia selalu menggoda dan mengundangku untuk mencicipi daging mentahnya. Aku merasa sangat ilfil setiap kali dia mendekatiku dan meminta melakukan hal itu. Kau tahu bukan?? Paman berusaha semampunya untuk menghindari hubungan zina semacam itu. Walaupun di luar sana Paman terkenal sebagai seorang Playboy, tapi sampai saat paman menikah kemarin, paman masih perjaka!" Adrian menundukkan kepalanya karena merasa malu ketika mengatakan tentang masa lalunya bersama Indrana.
" Paman sudah meminta berpisah kepadanya. Sewaktu paman bersama dengan Jasmine, Indrana juga berulah dan mengganggu hubungan kami. Tapi, setelah dia mengetahui pamanmu ini menikah tingkah dia semakin keterlaluan. Paman sudah tidak bisa mentolerir semua itu lagi!" Adrian terlihat geram dan juga marah pada Indrana yang sudah membuat istrinya masuk rumah sakit.
Farel terlihat mengelus dadanya. " Sayang, aku bisa mengerti. Bagaimana perasaan kedua paman kita. Karena hal itu pun terjadi kepadaku. Amora juga melakukan hal yang sama seperti mereka yang tidak rela aku tinggalkan dengan menikahimu." Farel menggenggam telapak tangan Siska yang berada di atas meja.
Siska menatap kepada Farel dan berusaha untuk meyakinkan suaminya bahwa dia akan selalu ada di sampingnya apapun yang terjadi di masa yang akan datang.
" Semoga saja Indrana dan Irdina tidak sama frontalnya seperti Amora yang menghalalkan segala cara hanya untuk memaksakan hubungan dengan Farel. Bahkan sampai membunuh Tante hanya untuk memasukkan Siska ke dalam penjara." Rosa cukup terkejut mendengar fakta tersebut.
" Siska pernah masuk penjara?" tanya Rosa cukup terkejut mendengar pernyataan itu.
" Ya, karena Amora yang memfitnah istriku dengan membuat sebuah skenario bahwa dia telah membunuh ibuku! Untungnya aku mendapatkan bukti untuk bisa membebaskan istriku dari penjara!" Farel terlihat begitu sedih karena kembali mengingat kejadian terburuk dalam hidupnya di saat Ibunya yang meninggal karena dibunuh oleh Amora.
Steven dan Adrian merasa bersalah karena sudah mengingatkan kembali Farel dengan kenangan buruk itu.
" Sudahlah sayang jangan ingat lagi. Bagiku, yang penting semuanya sudah berlalu dan sekarang keluarga kita telah berbahagia tanpa gangguan dari Amora lagi." Siska menggenggam telapak tangan suaminya yang terasa begitu dingin.
" Tapi sampai saat ini kita belum menemukan keberadaan Amora. Aku tidak bisa tenang kalau sampai dia belum dipenjara lagi untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya yang sudah membunuh ibuku!" Farel terlihat begitu murka ketika dia mengingat tentang Amora yang sudah begitu tega membunuh ibunya dengan begitu sadis.
Suasana di cafe terasa begitu mencekam. Semua orang merasa sesak dadanya melihat Farel yang saat ini sedang menangis pilu karena mengingat tentang ibunya yang sampai saat ini belum mendapatkan keadilan karena Amora yang masih bebas dan berkeliaran. Entah di mana sekarang masih belum jelas keberadaannya.
Rosa menatap Farel dengan lekat. Rossa tidak pernah mengetahui tentang kejadian tersebut pernah terjadi kepada Farel dan Siska.
' Aku tidak menyangka di balik kemesraan dan romantisnya cinta mereka selama ini, ternyata pernah ada hari yang begitu sulit yang menimpa mereka berdua. Sungguh hebat sekali mereka bisa melewati semua ujian cinta yang begitu berat karena mantan yang gagal move on. Apakah aku akan sanggup seperti Siska yang terus bertahan di samping suaminya walaupun begitu banyak cobaan yang mendera rumah tangga mereka?' batin Rosa merasa prihatin kepada Farel yang saat ini sepertinya sedang tetapkan hatinya ketika mengingat kembali tentang kematian ibunya.
' Aku mengira kisah cinta mereka begitu mulus dan begitu indah melihat hubungan mereka yang begitu mesra sekarang. Ternyata ada batu terjal yang pernah mengganjal dan menghalangi hubungan mereka. Ya Tuhan! Semoga aku diberikan kekuatan yang sama seperti Siska dalam menghadapi ujian dan cobaan rumah tangga karena mantan Steven yang sampai sekarang masih belum bisa move on setelah ditinggalkan olehnya.' Rosa menggenggam telapak tangan Steven dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
Steven tersenyum kepada istrinya yang terus menatap kepadanya dengan sendu dan perasaan sedih yang berkecamuk di hatinya.
" Tenanglah sayang! Kita berdua pasti bisa melalui semua ini bersama. Aku janji padamu. Aku tidak akan pernah membiarkan Indrana ataupun Indrana mengganggu rumah tangga kita. Sama seperti Kak Adrian yang tidak akan membiarkan Indrana menyakiti Kak Andini." Steven berjanji kepada Rossa.
Rosa mengangguk dengan pasti. " Aku percaya denganmu dan aku yakin kita pasti bisa melewati semuanya dengan baik." Rosa menghela nafas lega karena tahu dengan jelas isi hati suaminya.
" Baiklah Ayo kita kembali ke rumah sakit sudah terlalu lama kita meninggalkan Bibi Andini!" Siska dan Farel kemudian bangkit.
Mereka pun kemudian langsung berlari dan mendekati dokter yang tadi keluar dari kamar Andini dengan begitu panik.
" Ada apa dokter?" tanya Adrian yang merasa khawatir dengan kondisi Andini.
" Maafkan kami Tuan Adrian. Ada seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan istrimu dan dia menusuk istrimu hingga tewas." Dokter terlihat begitu sedih dan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Andini dan juga anaknya.
" Apa?" Adrian langsung berlari masuk ke dalam ruangan istrinya.
Adrian terasa lemas tubuhnya ketika melihat Andini yang sudah tertutup seluruh tubuhnya.
" Maafkan saya Tuan Adrian. Tadi saya cuma meninggalkannya sebentar. Karena ada pasien yang gawat darurat di ruangan UGD dan dokter membutuhkan bantuan saya. Saya tidak tahu siapa yang sudah berbuat jahat kepada Andini. Saat saya datang kemari, dia sudah meninggal dengan luka tusukan yang banyak di sekitar perut. Tampaknya orang itu memang benar-benar berniat membunuhnya." ucap Suster merasa bersalah kepada Adrian karena sudah lalai dalam menjaga Andini yang ketika dia pergi sedang tertidur pulas karena pengaruh obat bius yang diberikan oleh dokter.
Adrian langsung menubruk tabung istrinya dan melihat keadaan Andini yang sudah pucat wajahnya. " Sayang!! Bangunlah! Aku mohon. Kau sudah janji padaku kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku. Aku mohon sayang!" Adrian menangis sejatinya melihat jenazah Andini dengan luka tusukan di sejukur tubuhnya.
Melihat keadaan Andini saat ini, hal itu sontak mengingatkan Farel ketika dulu ibunya meninggal dengan cara yang sama.
" Innalillahi wainna ilaihi rojiun! Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya!" ucap Siska lirih ketika melihat Andini yang sudah terbujur kaku.
" Kapan diperkirakan Andini meninggal?" tanya Adrian yang tidak terima istrinya meninggal begitu saja.
" Sekitar 5 menit yang lalu." ucap suster dengan tubuh gemetar karena ketakutan mendapatkan amarah dari Adrian yang saat ini sedang bersedih hatinya melihat istrinya yang meninggal.
" Aku akan memerintahkan kepada team keamanan rumah sakit untuk menutup semua akses keluar agar penjahatnya tidak keluar dari rumah sakit. Sehingga kita bisa menangkapnya segera!" ucap Farel yang kemudian langsung menghubungi asistennya agar segera datang ke rumah sakit.
" Apa kalian sudah menelepon kantor polisi?" tanya Siska yang tubuhnya seketika lemas ketika melihat kejadian itu.
Siska seakan merasakan Dejavu ketika dulu dia melihat jenazah Ibu mertuanya yang dibunuh oleh Amora.
" Sayang. Kenapa luka tusukan itu sama persis seperti waktu ibumu dulu meninggal?" tanya Siska yang sekujur tubuhnya merasakan lemas dan sesak nafas.
Siska yang merasa trauma dengan pembunuhan akhirnya disuruh untuk duduk oleh Farel di sofa.
" Sayang, duduklah dulu. Rosa! Tolong temani dulu istriku. Aku akan berbicara dengan pihak polisi agar kita bisa menangkap penjahat itu." Farel bergerak cepat untuk menghubungi pihak rumah sakit dan juga pihak keamanan agar bisa menangkap penjahat yang sudah membunuh Andini dan juga calon anaknya.
Dengan gerak cepat polisi dan juga tim keamanan langsung mengamankan rumah sakit. Sekitar 50 anggota kepolisian dan satuan keamanan rumah sakit telah dikerahkan untuk bisa menangkap penjahat yang sudah membunuh Andini dengan begitu keji dan sadis. Kalau melihat dari luka tusukannya terlihat dia begitu membenci Andini dan memang menargetkan untuk membunuh Andini dan juga calon bayinya.