
Farel segera menggendong Siska ala bridal style dan membawa dia ke rumah sakit.
Saat ini Farel benar-benar sangat khawatir dengan kondisi istrinya yang tiba-tiba saja demam. Padahal saat ini Siska dalam keadaan hamil muda.
" Bertahanlah sayang!! Aku mohon padamu!! Maafkan aku sayang. Pasti ini semua gara-gara aku yang telalu bersemangat bercinta dengan kamu. aku lupa kalau kau saat ini sedang hamil muda. Oh sayang!! Tolong kau maafkan aku!!" ucap Farel di sepanjang perjalanan menuju garasi mobilnya.
Pembantu dan juga sopir yang bekerja di mansion mereka, merasa heran ketika mereka melihat Farel yang begitu gugup menggotong Siska. Mereka pun akhirnya bertanya kepada Farel tentang apa yang saat ini sedang terjadi.
" Ada apa ini Tuan Farel?? Kenapa dengan Nyonya Siska?" tanya sopir yang juga khawatir dengan keadaan Siska yang masih tidak sadarkan diri.
" Cepat siapkan mobilnya Mang. Kita ke rumah sakit sekarang juga!! Bi cepat siapkan pakaian dan juga hal-hal yang dibutuhkan untuk berada di rumah sakit!" perintah Farah kepada Mamang Sukir dan juga bibi pembantu yang bekerja di rumahnya.
Sementara dirinya fokus untuk menggendong Siska menuju mobil yang sedang disiapkan oleh sopir mereka.
Setelah semuanya siap Mereka pun langsung menuju ke rumah sakit.
Steven yang kebetulan baru datang juga ke rumah sakit merasa heran melihat Farel yang menggendong Siska dengan wajah yang begitu khawatir dan cemas.
" Ada apa ini Farel? Tadi ketika menemuiku dia baik-baik saja!" tanya Steven yang merasa heran melihat Siska tiba-tiba saja masuk rumah sakit.
" Entahlah Paman. Saya juga tidak mengerti. Biarkan dokter yang memeriksanya!" Farel pun kemudian memasukkan Siska ke ruangan UGD dan langsung ditangani oleh dokter jaga yang ada di sana.
Steven benar-benar tidak mengerti kenapa keluarga mereka selalu ditimpa bencana dan juga kemalangan yang tidak ada habisnya.
Adrian saja sampai sekarang belum sadarkan diri dan sekarang Ditambah lagi dengan Siska yang juga masuk ke UGD.
Kepala Steven benar-benar sudah pusing dibuatnya. Para pucuk pimpinan Prayoga group sekarang semuanya ada di rumah sakit dalam keadaan kritis maka itu artinya semua tanggung jawab itu sekarang ada di bahunya.
Steven benar-benar tidak mampu untuk melakukan itu semua. Karena selama ini dia hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh Adrian maupun Siska. Bisa dikatakan Steven lebih senang menjadi eksekutor daripada menjadi pemikir yang harus memikirkan segala rencana dan ***** bengeknya yang sangat membuat pening kepalanya.
Dua laki-laki tampan itu saat ini sedang mondar-mandir di depan pintu UGD.
Untung saja sekarang Adrian sudah ditangani oleh suster Andini yang memiliki kualifikasi sebagai suster yang baik sehingga Steven bisa mempercayakan kakaknya kepada gadis cantik yang sangat bagus pekerjaannya dinilai oleh Steven.
***
Sementara itu Rossa Mandalika saat ini sedang marah luar biasa. Ketika dia melihat perusahaan ayahnya sekarang dalam keadaan lumpuh total.
Sementara dia untuk menghubungi hacker yang dulu pernah dia suruh untuk melumpuhkan perusahaan Prayoga group, tidak bisa dia lakukan. Karena dia kehilangan ponselnya. Hacker itu hanya bisa dihubungi melalui ponsel. Karena tidak diketahui siapa orangnya. Karena dia selalu menyembunyikan identitas aslinya di dunia nyata.
Rosa Mandalika saat ini sedang mondar-mandir di depan ruangan sang ayah karena ayahnya sedang marah kepadanya.
Rosa Mandalika sangat senang sekali. Setelah dia mendatangi perusahaan telekomunikasi. Dia pun akhirnya mendapatkan informasi dan bisa menemukan ponselnya kembali yang ternyata berada di restoran saat pertama kali dia bertemu dengan Steven.
Rosa Mandalika jadi merasa malu karena dia telah menuduh Steven mencuri ponselnya.
" Aku harus meminta maaf kepada laki-laki itu karena ternyata dia tidak mencuri ponselku. Akan tetapi aku yang lupa dan teledor karena tidak membawanya di restoran ini." Rosa Mandalika bermonolog kepada dirinya sendiri.
Rosa Mandalika kemudian berpamitan kepada pihak pengelola restoran yang telah berbaik hati mau menyimpan ponsel yang ditemukan oleh karyawan mereka saat bersih-bersih.
" Baiklah aku harus mencari laki-laki itu dan meminta maaf kepadanya!" Rosa Mandalika yang tidak mengetahui identitas Steven yang sesungguhnya. Akhirnya hanya bisa menunggu Steven kembali ke gedung apartemen yang waktu itu mereka bertemu.
Akan tetapi sampai malam Steven tidak kembali ke gedung apartemennya sama sekali. Karena Steven sedang sibuk untuk menjaga Siska dan juga Adrian di rumah sakit Stevan yang sekarang menjadi penanggung jawab perusahaan Prayoga Group untuk menggantikan Siska dan Adrian. Steven benar-benar dibuat kelimpungan karena harus berada di dua tempat dalam satu hari.
Farel yang merasa kasihan melihat Steven yang tampak begitu kelelahan akhirnya menyuruh pamannya untuk pulang dan beristirahat di rumah.
" Pulanglah Paman. Biarkan aku sendiri di sini saja. Tidak apa-apa kok!! Paman sudah kelihatan lelah sekali." Farel mencoba menasehati Steven agar mau pulang ke apartemennya dan beristirahat di sana.
" Aku akan tidur di ruangan kakakku saja. Setidaknya di sana ada ranjang yang bisa aku tiduri." akan tetapi Farel melarang Steven untuk melakukan itu.
" Kenapa?"
" Apakah Paman lupa? Kalau sekarang di sana ada perawat Paman Adrian yang 24jam terus stand by bersamanya?" tanya Farel mengingatkan Steven tentang kenyataan itu.
Steven hanya bisa menepuk jidatnya karena melupakan tentang Andini yang sekarang menempati kasur itu untuk dia beristirahat selama menjaga kakaknya.
" Baiklah aku akan tidur di sini saja bersamamu. Kau tidak keberatan kan?" tanya Steven pada Farel yang tentu saja tidak keberatan dengan hal itu. akan tetapi Farel merasa kasihan kepada Steven kalau harus tidur di lantai hanya dengan beralaskan tikar yang dibiasanya di gunakan oleh bibi pembantu ketika dia berada di ruangan itu.
" Apa Paman tidak masalah kalau tidur di lantai, hanya beralaskan tikar saja?" tanya Farel seakan ragu dengan kemampuan Steven hidup dalam keterbatasan.
Saat ini Siska berada di ruangan biasa karena ruangan VVIP semuanya sudah habis digunakan. Apalagi mereka hanya sebentar di rumah sakit. Jadi Farel tidak merasa keberatan dengan hal tersebut.
Siska mengalami kelelahan ekstrem yang luar biasa. Karena sejak Adrian kecelakaan dan koma, Siska selalu kekurangan tidur dan juga terlalu memposir tenaganya untuk bekerja. Apalagi saat ini dia sedang hamil muda sehingga akhirnya dia jatuh dan drop.
Dokter memerintahkan kepada Siska untuk bedrest total di rumah sakit. Setidaknya sampai infusnya habis baru Siska akan diperbolehkan untuk pulang dan setelah itu harus beristirahat di rumah dan tidak diperbolehkan untuk bekerja keras sampai kondisinya stabil kembali.
Akhirnya aku 2 laki-laki tampan itu pun tidur di lantai dengan beralaskan tikar dan juga bantal rumah sakit yang sederhana.
" Ternyata tidur seperti ini ada enaknya juga ya? Kita jadi bisa merasakan bagaimana menjadi orang biasa yang tidak bisa membayar ruangan VVIP yang mewah dan mahal!" ucap Steven yang saat ini sedang melawan jauh sambil menatap atap rumah sakit.