Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
118. Memikirkan


Sepanjang malam Farel terus memikirkan tentang orang yang selama ini selalu mencari masalah dengan dia masalah warisan keluarga Handoyo.


Farel ingat beberapa hari lalu paman dia datang ke kantornya dan marah-marah karena anaknya yang diturunkan jabatan oleh Farel setelah melakukan korupsi di kantor.


Flash back on


" Farel! Apa-apa kau itu huh? Berani sekali kau menurunkan jabatan anakku!" ucap Paman Zaenal yang tinggal di Sumatra, dan mengurus cabang bisnis keluarga Handoyo yang ada di sana.


" Duduklah Paman! Kenapa datang-datang Paman langsung marah-marah seperti itu?" tanya Farel sambil tersenyum.


" Kamu tidak usah basa-basi cepat kan Katakan padaku Kenapa kau lancang sekali memecat Abian huh? Bahkan Papa kamu saja tidak pernah berani macam-macam dengan keluarga paman. Ingat Farel!!! keluarga Handoyo bukan hanya milikmu! Akan tetapi milik kami juga. Sebagai bagian dari keluarga Handoyo!" ucap Zaenal dengan amarah di hati yang besar luar biasa.


Farel kemudian menyerahkan berkas-berkas sebagai bukti penyelewengan dana yang dilakukan oleh Abian, sepupunya.


" Abian telah menyelewengkan dana lebih dari 200 miliar. Bagaimana menurut paman?" tanya Farel sambil menatap mata pamannya yang langsung melotot melihat semua bukti yang ada di depan matanya.


" Omong kosong! Bagaimana mungkin kau menyebut ini sebagai korupsi? Abian adalah bagian dari keluarga Handoyo. Apabila dia menjual sahamnya. Bukankah itu tidak masalah?" tanya Zaenal dengan suara bergetar dan gugup.


Farel terlihat tertawa merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh pamannya.


" Kenapa Paman mengira bahwa berkas itu tentang Abian yang menjual sahamnya?" tanya Farel sambil tersenyum miring kepada pamannya.


" Asal paman Tahu, Abian mengambil dana setiap bulan 50 Miliar, tanpa melalui tanda tanganku. Setiap kali bagian keuangan menolak keinginannya untuk mencairkan dana, dia pasti selalu mengancam mereka." ucap Farel sambil menyerahkan form pencairan dana yang selalu diajukan oleh Abian kepada bagian keuangan.


Zaenal membaca semua laporan-laporan yang diserahkan oleh Farel kepada pamannya yang merupakan adik satu-satunya ayahnya.


" Tapi tetap saja ini sangat keterlaluan kalau kau menganggap anakku sebagai koruptor di perusahaan keluarganya sendiri! Perusahaan Handoyo bukan hanya milikmu!" ucapnya gugup luar biasa.


" Memang perusahaan Handoyo bukan hanya milikku. Akan tetapi ayahku yang sudah membangunnya dan sekarang aku yang sudah dipercaya oleh semua dewan direksi dan juga pemegang saham untuk mengelola dan memanage perusahaan ini! Sebagai CEO, Aku memiliki hak dan kewajiban untuk menghukum siapapun orang yang sudah bertindak sesuai undang-undang dan mengancam kesejahteraan perusahaan ini! Paman Katakan padaku di mana kesalahan saya? Saya hanya melakukan tugas dan kewenangan saya sebagai seorang CEO di perusahaan ini untuk melindungi hak semua karyawan saya yang telah dicuri oleh anak paman!" ucap Farel tanpa rasa takut sama sekali kepada Zaenal sebagai pamannya.


" Kalau Paman ingin anak paman itu bisa mengambil uang semaunya. Kenapa Paman tidak membangun perusahaan paman sendiri saja? Sehingga anak paman bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Walaupun itu akan mengganggu stabilitas perusahaan!" ucap Farel tanpa merasa takut sama sekali kepada Zainal yang menurutnya selama ini terlalu bersikap sebagai pemilik dari perusahaan Handoyo yang dibangun oleh ayahnya dengan susah payah.


Akan tetapi ayahnya yang memiliki hati yang baik. Dia merekrut hampir semua keluarga Handoyo untuk masuk ke dalam perusahaan ayahnya dan diberikan beberapa saham untuk menunjang kehidupan mereka.


Banyak di antara mereka yang mengambil dana sesuka hati mereka tanpa kendali hanua untuk bermewah dan membanggakan diri sebagai anggota keluarga Handoyo.


" Jangan lancang kamu Farel! Kami juga membangun perusahaan Handoyo dengan jerih payah dan juga darah kami. Kami juga memiliki hak untuk ikut menikmati kejayaan ini!" ucap Zaenal tampak begitu marah kepada Farel.


" Paman. Kalau memang Paman merasa memiliki jerih payah di dalam perusahaan ini. Seharusnya Paman marah terhadap Anak paman yang saat ini sedang berusaha untuk menghancurkan dan menumbangkan kerja keras itu! Apa paman tahu? Gara-gara Abian yang melakukan itu, membuat kami jadi kesulitan bahkan untuk menggaji karyawan? Saya bisa menggaji karyawan bulan ini dengan menggunakan uang dari perusahaan Prayoga milik istri saya!" Uca Farel sambil memberikan berkas peminjaman dana ke perusahaan milik Siska.


" Ya ampun pelit sekali memberikan dana seperti ini aja harus pinjam dana?" tanya Zaenal sambil tersenyum miring mengejek Farel.


" Lalu anak paman mengambil dana perusahaan sebesar 200 miliar. Apakah harus saya berikan begitu saja tanpa embel-embel meminjam?" tanya Farel mulai kesal dengan pamannya yang sangat tidak tahu malu.


Terlihat Zaenal menatap tajam ke arah Farel ada ribuan kilat di matanya.


" Bukankah wajar kalau perusahaan istri mau membantu perusahaan suaminya ketika mengalami kesulitan?" tanya Zaenal yang mulai gugup.


" Ya kesulitan yang ditimbulkan oleh Anak paman yang kurang ajar itu. Percayalah Paman. Sebentar lagi saya akan melaporkan pencurian ini ke Kantor Polisi dan saya pasti akan memenjarakan Abian kalau dia tidak mengembalikan Dana yang sudah diambil dari perusahaan!" ucap Farel sambil menatap tajam kepada pamannya yang melotot.


" Jangan keterlaluan kamu Farel! Kau bukan pemilik sesungguhnya dari Handoyo Group!" ucap Zaenal yang semakin naik pitam.


Farel tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan dari pamannya yang sangat absurd dan tidak masuk akal baginya.


" Lalu menurut Paman Handoyo group ini milik siapa?" tanya Farel sambil menopangkan kakinya dan kemudian menatap pamannya dengan lekat.


" Ayahmu yang membangun Handoyo group dan kami semua bekerja dan membangun bersama jadi perusahaan ini milik keluarga kita!" ucap Zaenal tanpa berkedip sama sekali maupun merasa bersalah sama sekali.


" Ayahku yang membangun Handoyo group dengan uang milik ibuku. Karena dia merasa kasihan melihat saudara-saudaranya yang tidak punya pekerjaan, akhirnya Ayahku memberikan kalian pekerjaan dan jabatan sebagai bagian dari keluarga Handoyo. Akan tetapi kalian banyak yang suka membuat banyak tingkah dengan menyelewengkan dana-dana perusahaan untuk kepentingan kalian sendiri!" ucap Farel.


" Saya akan memberikan waktu 2 minggu untuk Abian mengembalikan uang yang sudah dicuri dari perusahaan. Sebelum saya melaporkannya ke kantor polisi!" ucap Farel yang kemudian menyuruh pamannya untuk keluar dari kantor karena dia harus menyelesaikan banyak pekerjaan.


" Maafkan saya Paman. Bisakah Paman meninggalkan kantor ini? Saat ini saya sedang sibuk sekali dan waktu saya sudah terbuang banyak sekali untuk melayani semua kemanjaan paman!" ucap Farel sambil membuka pintu ruangannya dan meminta kepada pamannya untuk keluar.


"Berani sekali Kamu mengusir saya Farel padahal ayahmu saja tidak pernah berani melakukan itu!" sengit Zaenal.