Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
108. Waktu


Sulastri seakan melihat masa lalunya yang kelam. Hatinya tiba-tiba merasa melow ketika dia kembali melihat kotak musik yang ada di tangan Siska. Farel dari tadi pun hanya menatapnya saja merasa bingung juga melihat ekspresi Sulastri yang tidak biasa.


" Bibi baik-baik saja kan? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apakah Bibi punya masalah jangan kesehatan?" tanya Siska.


Farel sejak tadi hanya memperhatikan saja Dia pun merasa heran dengan ekspresi Sulastri yang aneh ketika melihat kotak musik kakeknya.


" Apakah Bibi mengenal kotak musik ini?" tanya Farel penasaran juga.


Akan tetapi Sulastri malah meninggalkan mereka berdua. Sehingga membuat Siska dan Farel menjadi tidak nyaman.


" Aneh banget sih Mas? Kenapa Bi Sulastri tampak begitu kaget melihat kotak musik ini?" tanya Siska sambil menatap Farel yang hanya bisa mengedikkan bahunya.


" Tampaknya kita harus waspada kepada bi Sullastri. Sikapnya tadi benar-benar sangat mencurigakan. Aku tidak mau kalau sampai kejadian dulu terulang lagi!" Uca Farel sambil menggenggam telapak tangan istrinya yang mengangguk setuju.


" Aku akan bertanya ke paman Steven. Dari mana dia bertemu dengan Bi Sulastri, mungkin dari situ kita bisa mengetahui siapa dia yang sesungguhnya!" ucap Siska yang kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Steven.


" Maafkan aku Paman. Apakah aku boleh bertanya kepada paman?" tanya Siska ketika Steven menjawab panggilannya.


" Yah tentu saja. Memangnya ada apa?" tanya Steven di sebrang sana.


" Paman menemukan Bi Sulastri di mana? Apakah Paman tahu identitas dia yang sesungguhnya?" tanya Siska kepada Steven yang langsung mengerutkan keningnya karena bingung dengan maksud keponakan kesayangan nya.


" Paman menemukan bi Sulastri sedang mengemis di lampu merah. Dia sakit dan pingsan dihadapan Paman. Paman kasian sama dia. Kemudian Paman membawanya ke rumah sakit dan menyembuhkan penyakit. Di saat Paman bertanya tentang keluarganya, dia mengatakan bahwa dia hanya sebatang kara di dunia ini dan tidak memiliki sanak family. Oleh karena itu Paman merasa kasihan dengan dia Paman pun ingat kalau kau juga sedang mencari seorang baby sister. Oleh karena itu Paman menawarkan pekerjaan itu kepada dia. Memang ada masalah apa?" tany Steven heran.


" Ini paman, tadi kan aku dan Farel memegang kotak musik milik kakeknya yang sangat lama yang dulu ada di dalam kamar kedua orang tuaku. Tiba-tiba saja Bi Sulastri bereaksi aneh seperti mengenal kotak musik itu. Dan dia bercerita hal-hal yang aneh dan membuat kami menjadi bingung!" ucap Siska.


" Kapan Paman akan ke Bandung? Saya rencananya mau mengajak Bi Sulastri untuk bertemu dengan kakek. Karena dia merasa penasaran sekali tentang kotak musik yang ada pada kami!" ucap Siska menerangkan segalanya kepada Steven.


" Baiklah tidak masalah. Nanti Paman akan mengatur waktu agar kalian bisa pulang ke Bandung untuk bertemu dengan ayahku. kau tahu kan kakekmu itu selalu sibuk kalau kita tidak pintar-pintar mengejar waktunya akan sangat sulit untuk bertemu dengan dia!" ucap Steven menerangkan kepada keponakannya.


" Iya paman tidak apa-apa. Saya mengerti kok kalau kakek memang sangat sibuk. Aku yang merasa malu, masih muda tapi begitu bersantai di sini. Padahal aku juga punya kewajiban untuk memperjuangkan Prayoga group yang telah dipercayakan Ayahku kepadaku!" ucap Siska.


" Sudahlah tidak masalah Siska. Jangan terlalu memikirkan hal-hal seperti itu. Kau masih muda Paman mengerti kesulitanmu! Untungnya manajemen yang Kita tunjuk benar-benar sangat solid dan mereka menjalankan tugas mereka dengan baik. Jadi kita hanya tinggal memeriksa pekerjaan mereka saja!" ucap Steven.


Suasana di dalam rumah terasa begitu sepi. Tidak biasanya mereka tidak mendengar suara Aaron yang bermain-main di ruang keluarga bersama Sulastri.


" Ya sudah Paman kami akan makan malam dulu." ucap Siska yang kemudian berpamitan kepada Steven.


Farel dan Siska pun kemudian keluar kamar dan mencari Putra mereka yang tadi dibawa keluar juga oleh Sulastri ketika dia keluar dari kamar mereka.


" Di mana Aaron dan juga Bi Sulastri?" tanya Farel hatinya sudah berdebar sangat kencang sejak tadi.


Pembantu yang saat itu sedang menyiapkan makan malam pun kemudian berhenti dan menjawab pertanyaan dari Farel.


" Bibi berada di kamarnya Tuan bersama dengan tuan muda Aaron. Katanya tadi dia sangat lelah jadi mengajak tuan muda untuk bermain di kamarnya saja sambil dia mau berbaring di sana!" ucap pembantu itu menerangkan kepada Farel dan Siska.


Farel dan Siska saling menatap satu sama lain kemudian mereka pergi ke kamar Sulastri yang ada di bagian belakang bersama dengan kamar-kamar para pekerja yang lain yang ada di rumah itu.


Farel memang menyediakan kamar tersendiri untuk orang-orang yang bekerja di kediamannya. Karena dia tidak tega kalau sampai mereka harus bersusah payah untuk mencari kontrakan ataupun rumah untuk mereka bisa beristirahat.


Sehingga mereka bisa bekerja dengan tenang dan fokus. Karena tidak perlu memikirkan apapun lagi karena hidup mereka semuanya ditanggung oleh Farel.


" Bi Sulastri di mana Aaron? Saya hendak menyuapinnya untuk makan malam!" ucap Siska sambil mengetuk pintu kamar pembantunya yang tertutup.


Jantung Farel dan Siska sudah berdegup sangat kencang. Karena mereka mengingat kembali ekspresi Sulastri ketika melihat kotak musik yang ada di tangan mereka.


Farel memeluk tubuh Siska dan mengelusnya dengan lembut.


" Tenanglah sayang. Aku yakin kok kalau Bibi Sulastri itu orang yang baik terlihat dari matanya yang begitu teduh!" ucap Farel berusaha untuk menenangkan Siska walaupun sebenarnya di dalam hatinya pun merasakan gemuruh yang begitu kencang.


Sungguh Farel benar-benar merasakan trauma yang sangat dalam masalah baby sister. Dia selama ini cukup selektif untuk memilih pembantu ataupun pekerja yang ada di rumahnya.


Farel pun kemudian membuka pintu kamar Sulastri. Karena sekitar 10 menit lebih mereka mengetuk pintu tapi tidak ada yang menyahut ataupun yang keluar dari sana.


" Aaron Ayo kita makan malam sayang!" ucap Farel ketika dia membuka kamar Sulastri dan melihat putranya dan juga pengasuhnya sedang tertidur pulas di atas kasur.


" Dia tidur sayang!" ucap Farel kepada Siska yang masih berdiri di luar kamar.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Farel. Siska pun kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil Aaron dari dalam pelukan Sulastri yang tidur begitu lelap.


" Biarkan saja dia tidur Mas tampaknya dia kelelahan!" ucap Siska Setelah dia berhasil mengambil Aron yang tidur di dalam pelukan Bi Sulastri yang tidak bergeming sama sekali.


Farel dan Siska kemudian keluar dari kamar karena mereka tidak mau mengganggu orang yang sedang beristirahat.


Mereka tahu Bi Sulastri sudah lumayan tua. Fisiknya pasti tidak terlalu kuat seperti mereka berdua yang masih muda dan sehat. Menjaga Aaron seharian itu sangatlah melelahkan sekali.


Mereka pun kemudian memindahkan Aron untuk tidur di box bayi yang ada di kamar Aaron. Kemudian mereka makan malam berdua saja. Entahlah mereka merasa sesuatu yang aneh kenapa Aaron tidur begitu lama sampai mereka selesai makan malam tidak ada tanda-tanda Aaron maupun di Sulastri yang bangun dari tidur mereka.


Siska yang merasa terheran dengan keadaan putranya, kemudian dia memeriksa putranya di dalam kamar.


" Sayang, cobalah kau ke sini Kenapa aneh sekali dengan Aaron?" tanya Siska melihat tubuh Aaron yang mulai membiru.


Farel pun kemudian mendekati istri dan anaknya yang saat ini sedang begitu panik.


" Ada apa sayang?" tany Farel merasa heran melihat istrinya yang seperti hendak menangis ketika melihat Aaron yang ada di box bayinya.


" Sayang datanglah kemari. Lihatlah! Kenapa tubuh Aaron begitu biru?" tanya Siska menunjukkan keadaan putranya kepada suaminya.


Farel pun kemudian mengangkat tubuh putranya dan menaruh jari telunjuknya di bawah hidung putranya.


" Astaghfirullahaladzim sayang anak kita dalam bahaya!" Farel pun langsung mengangkat tubuh Aaron dan langsung membawanya ke rumah sakit.


Siska terkejut mendengarkan perkataan suaminya dan dia pun kemudian mengikuti Farel keluar dari kamar putranya.


" Sayang ada apa? Kenapa kau begitu panik?" tanya Siska yang merasa heran melihat suaminya langsung berlari menuju ke mobil.


" Kelihatannya anak kita keracunan! Sayang tolong kau bilang ke pembantu kita untuk memeriksa Bi Sulastri di kamar dia! Katakan kepada mereka kalau ada apa-apa dengan wanita itu untuk segera dibawa ke rumah sakit!" ucap Farel yang langsung menuju ke garasi mobil dan mengeluarkan mobilnya dari sana dengan sangat panik.


Sementara itu Siska mengikuti apa yang dikatakan oleh Farel dan dia pun langsung berlari ke depan untuk ikut dengan suaminya.


" Sayang ada apa lagi ini? Kenapa kita harus selalu menemukan hal-hal seperti ini? Ya Allah!" ucap Siska sambil mengelus dadanya yang terasa begitu sesak karena melihat putranya yang saat ini berada di dalam pelukan suaminya.


" Mang Cepatlah! Kenapa kau berkendara sangat lelet seperti ini Putraku saat ini dalam bahaya!" ucap Farel membentak sopir yang saat ini masih ngantuk-ngantuk dan dia minta untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


" Maafkan saya Tuan. iIni karena saya sangat mengantuk. Makanya saya jadi ketakutan untuk mengendarai mobil dengan mengebut!" ucap sopirnya Farel yang membuat Farel menjadi semakin was-was.


" Sayang kau gendong lah Aaron. Karena aku akan menggantikan supir kita untuk menyetir dulu. Tidak baik kalau menyetir sambil mengantuk!" ucap Farel yang kemudian menyerahkan putranya kepada Siska dan dia memerintah kepada sopirnya untuk berhenti agar dia bisa menggantikan posisinya dalam menyetir.


" Mang kau kembalilah saja ke rumah dengan taksi dan lihat apa yang terjadi kepada Bi Sulastri dan laporkan kepada saya keadaannya!" Ucap Farel memberikan perintah kepada sopirnya.