Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
Bab 248


Silvia yang merasa kesal kepada Rudi akhirnya memerintahkan kepada anak buahnya untuk menghabisi pemuda itu.


Setelah mendapatkan telepon dari mata-mata yang dia tanam di keluarga Handoyo, Silvia otomatis mengetahui siapa yang sudah mengirimkan surat kaleng kepada Siska yang menyuruh mereka untuk waspada dengan rencana pembunuhan yang sudah dia susun dengan rapi.


Silvia sangat ingat bahwa dirinya hanya membicarakan itu dengan Rudi. Bisa di pastikan bahwa pemuda itulah yang telah berkhianat kepadanya. " Dia harus kuberikan pelajaran karena sudah berani bermain-main denganku!" terlihat Silvia yang begitu marah.


Berkali-kali Silvia berusaha untuk menghubungi Rudi tetapi tidak bisa dia temukan. " Sialan! Apa dia sudah tahu tentang rencanaku yang akan segera menghabisi dia setelah berhasil melakukan tugas dia membunuh Siska?" tanya Silvia kepada dirinya sendiri. Silvia rupanya tidak tahu kalau sekarang Rudi sudah pergi ke Jakarta dan menghindari dirinya.


Rudi sudah di kasih tahu sama temannya yang tanpa sengaja mendengarkan perintah Silvia kepada rekannya untuk membunuh Rudi setelah berhasil membunuh Siska dan Farel. Rudi sangat murka ketika mendengar semua percakapan Silvia bersama dengan Albert yang diperintahkan untuk menghabisinya.


Silvia yang merasa kesal karena tidak berhasil menemukan Rudi akhirnya mengumpulkan para bodyguard yang selama ini dia pekerjaan untuk menjaga keamanan dirinya dan juga kesepian dirinya di kala butuh belaian.


Bodyguard yang dipilih oleh Silvia adalah para pemuda tampan mempesona yang selalu membuat matanya bersinar melihat mereka.


Silvia serasa menggenggam dunia karena di kelilingi oleh laki-laki tampan di sekitarnya yang siap mati untuk melindungi dirinya.


" Kalian cari Rudi secepatnya! Laki-laki brengsek itu sudah berani berkhianat terhadapku. Tangkap dia hidup atau mati. Aku akan memberikan imbalan besar kepada kalian yang berhasil membawanya ke hadapanku dalam keadaan hidup!" Silvia menatap satu persatu bodyguard yang dia pekerjakan di rumah mewahnya.


Mereka semua saling menatap satu sama lain karena sudah mulai persaingan yang terjadi di antara mereka. Akan tetapi laki-laki yang sudah membocorkan kepada Rudi tentang niat Silvia yang ingin membunuhnya. Pemuda itu berusaha untuk bersikap normal karena dia takut Silvia mengetahui apa yang sudah dia lakukan di belakang janda gatel itu yang suka memetik daun muda seperti mereka.


Bukan rahasia umum kalau Silvia sering mengambil para bodyguardnya ke kamar dan melakukan olah raga bersama di atas ranjang. hanya saja mereka yang memang sudah di wanti-wanti untuk merahasiakannya tidak ada yang berani mengaku kepada rekan lainnya.


Uang, fasilitas dan pengalaman bercinta membuat mereka tetap tutup mulut walaupun terkadang merasa tidak sreg dengan perlakuan Silvia kepada mereka.


Kesadaran diri bahwa mendapatkan pekerjaan dengan gaji dan bonus tinggi di ibukota sangat sulit membuat mereka akhirnya tetap pasrah dan patuh kepada wanita gila itu.


Setelah memberikan perintah kepada anak buahnya, Silvia pun langsung masuk ke dalam rumah. Karena dia harus bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta untuk mengambil USB yang telah dikirimkan oleh Rudi kepada Siska yang sekarang sudah diamankan oleh anak buahnya yang menyamar sebagai pembantu di kediaman Handoyo.


" Aku harus segera pergi ke Jakarta sebelum USB itu diketemukan oleh orang lain. Walaupun aku tidak tahu apa isi dari USB itu, tapi aku bisa menebak pasti itu adalah bukti-bukti kejahatanku selama ini yang dikantongi oleh Rudi. Dasar laki-laki bodoh!! Hanya karena aku yang tidak mau menikahinya dia menjadi tidak punya otak seperti itu." Silvia sepertinya lupa dengan dirinya hanya sendiri yang berniat untuk membunuh Rudi.


Setelah menyelesaikan beres-beresnya. Silvia pun kemudian tidur karena besok pagi dia harus segera berangkat ke Jakarta.


" Aku akan buat Siska dan Farel memberikan perusahaan mereka tanpa susah payah. Mungkin dengan cara menculik Aaron jauh lebih baik mereka berdua sangat menyayangi putranya itu." Silvia tersenyum bahagia dengan ide jahatnya yang ingin menculik Aaron.


Rencana pembunuhan yang sudah disusun dengan rapih olehnya sudah berantakan dengan peringatan yang diberikan oleh Rudi kepada Farel dan Siska. Sehingga membuat Silvia tidak bisa mengeksekusi keputusan itu. Apalagi sekarang Rudi yang menghilang entah ke mana. Sehingga membuat Silvia harus memutar otak untuk membuat rencana lain untuk bisa menguasai Prayoga Group dan Handoyo group yang di pimpin oleh Siska dan Farel.


Setelah memantapkan rencana yang akan dia buat selama dirinya ada di Jakarta. Silvia pun kemudian tidur. Hatinya merasa senang karena dalam sekejap saja, dia sudah bisa membuat rencana untuk menculik Aaron yang akan dia gunakan untuk mengancam Farel dan Siska agar mau menandatangani surat penyerahan perusahaan milik mereka berdua ke tangannya.


Keesokan paginya Selvia langsung bersiap untuk pergi ke Jakarta dengan membawa 6 orang Bodyguard yang akan mengawal kepergian dirinya.


Silvia rupanya sudah benar-benar digelapkan oleh keserakahan yang ada di dalam hatinya. Dia sama sekali sudah tidak memandang apapun lagi. Saat ini di dalam otaknya hanya menginginkan harta dan kekayaan untuk kesenangan dirinya.


Selama perjalanan mereka terus menyusun rencana untuk segera menculik Aaron tanpa menimbulkan kecurigaan siapapun.


" Ingat kalian harus membawa anak itu ke gudang milik Prayoga group yang sudah lama tidak digunakan." perintah Silvia pada anak buahnya.


" Siap Nyonya!" ucap mereka serempak dan kompak.


Silvia terlihat begitu bahagia karena anak buahnya yang begitu menurut terhadapnya untuk melakukan semua perintah yang diberikan kepada mereka.


Malam itu Silvia bersenang-senang dengan anak buahnya yang paling tampan bernama Albert yang sudah lama membuat Silvia kesulitan tidur. Karena sulit sekali untuk menaklukkannya.


Albert cukup pintar untuk bisa berkelit dari ajakan maksiat Silvia. Malam itu, saat mereka berhenti di sebuah hotel untuk istirahat, Silvia berhasil menjebak Albert dengan membuat pemuda itu mabuk dan dia berikan obat perangsang. Silvia pun akhirnya malam itu mendapatkan apa yang dia mau dari pemuda itu yang akhirnya menangis kejer ketika Keesokan paginya dia terbangun di pelukan Silvia.


***


Gudang yang di perintahkan oleh Silvia untuk mengurung Aaron adalah gudang yang sama yang pernah digunakan oleh Adrian untuk menyekap Irdina di sana. Sehingga akhirnya Steven berhasil menyelesaikan masalahnya dengan Irdina dengan melakukan surat perjanjian pernikahan antara anak mereka berdua, pada usia anak Irdina masuk angka 20 tahun yang akan di lamar untuk anaknya Steven yang masih dalam kandungan Rosa.


Entah apa yang dipikirkan oleh Steven sehingga memunculkan ide gila seperti itu untuk bisa menghentikan semua kegilaan Irdian.


Di pengadilan, terlihat semua orang sudah hadir. Hari ini adalah pembacaan keputusan pengadilan untuk mereka berdua yang sudah melakukan banyak kejahatan kepada keluarga Prayoga Group.


Siska dan Farel sejak tadi saling berpegangan tangan karena akhirnya masalah itu bisa diselesaikan dengan baik. Dua orang yang selama ini selalu membuat mereka tidak bisa tidur akhirnya akan segera mendapatkan ganjaran untuk semua perbuatan jahat mereka kepada keluarganya.


Indrana dan Amora sekarang akan masuk ke dalam penjara. Setelah pengadilan memutuskan untuk mendapatkan hukuman penjara kepada mereka berdua selama 15 tahun.


Farel, Siska, Steven, dan Adrian Cukup puas dengan keputusan hakim yang memberikan hukuman kepada mereka berdua dengan hukuman penjara selama 15 tahun.


Andi dan Anto bahkan sampai menangis begitu terharu karena akhirnya sang kakak yang meninggal bisa beristirahat dengan tenang di alam sana. Karena pembunuhnya sudah tertangkap dan di hukum setimpal dengan perbuatan mereka.


Siska terlihat murung dan meneteskan air matanya ketika mendengarkan keputusan pengadilan yang memberikan hukuman kepada Amora dan Indrana.


" Kapankah aku bisa mewujudkan untuk memberikan hukuman yang setimpal kepada pembunuh kedua orang tuaku? Aku benar-benar seorang anak yang durhaka karena sampai 10 tahun lebih kematian kedua orang tuaku masih belum juga mendapatkan titik terang." Farel dan Steven hanya saling menatap satu sama lain.


Steven bahkan kesulitan menelan salivanya sendiri melihat Siska yang begitu sedih memikirkan tentang pembunuh kedua orang tuanya.


' Maafkan Paman, Siska. Karena sampai saat ini, Paman masih belum tega untuk melaporkan ibuku sendiri yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuamu dengan begitu jahat dan juga sangat keji!' batin Steven merasa tersiksa. Sambil menatap Silvia yang saat ini sedang ikut menghadiri persidangan kasus pembunuhan Andini.