Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
135. Kesal luar biasa


Keesokan paginya begitu bangun dari tempat tidurnya. Stefani langsung membawa Aply kontrak apartemen dan juga kunci yang akan dia serahkan kepada Adrian.


Stefani tampak begitu bahagia membayang kan dirinya akan tinggal satu gedung bersama dengan Adrian dan setiap hari mereka bisa bertemu.


Dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan terlihat Stefani yang mengambil kunci mobilnya dan bersiap untuk mengunjungi perusahaan milik keluarga Adrian.


Dulu ketika dirinya masih menjadi kekasih Adrian. Hampir setiap jam pulang sekolah pasti dia akan mengunjungi Adrian di kantor miliknya.


Siang itu dengan membawa bekal makan siang yang dia beli di tempat restoran yang dulu menjadi tempat favorit mereka berdua ketika masih bersama. Dengan langkah ringan dan penuh kebahagiaan Stefani melangkahkan kakinya menuju perusahaan Prayoga group yang ada di Bandung.


Stefani mengerutkan keningnya ketika dia melihat di dalam ruangan Adrian ada seorang wanita lain yang sedang bersama dengan Adrian.


Tungkai Stefani tiba-tiba merasa lemas dan lunglai, hampir saja Stefani jatuh kalau dia tidak memegang dinding yang ada di samping nya. "Apakah wanita itu yang dikatakan oleh Adrian tadi malam sebagai kekasihnya?" monolog Stefani yang mendadak merasa sangat sakit hatinya.


Bagaimanapun sampai saat ini Stefani masih mencintai Adrian dan tidak ingin kehilangan pemuda itu. Akan tetapi untuk masuk ke dalam ruangan itu pun harga diri Stefani rasanya terinjak dan tidak mampu untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Adrian.


Ketika Stephanie sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan Adrian. Tiba-tiba saja telinga Stefani menangkap sesuatu yang menarik hatinya.


" Aku mohon Indrana! Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita! Aku sudah tidak memiliki perasaan padamu!" ucap Adrian dengan nada dingin dan terkesan begitu tidak berprasaan.


Hati Stefani tiba-tiba merasa menghangat dan bahagia mendengarkan perkataan Adrian kepada Indrana yang sebenarnya masih temannya ketika dulu di sekolah.


Stefani tidak mengetahui bagaimana proses seorang Indrana bisa menjadi kekasih Adrian.


" Sayang, aku membawa makan siang buat kamu!" dengan penuh keyakinan Stefani pun mendorong pintu ruangan Adrian.


Indrana melotot sempurna melihat gadis itu yang memanggil sayang kepada Adrian.


" Stefani Apa maksudmu?" tanya Indrana dengan mata nyalang seakan tidak percaya bahwa Stefani berada di sana.


" Maksudmu bagaimana? Aku datang ke kantor kekasihku. Memangnya salah ya?" tanya Stefani yang langsung mendekati Adrian dan mencium bibirnya dengan lembut.


Adrian masih terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Stefani terhadapnya.


Akan tetapi untuk menolak pun dia tidak bisa melakukan itu. Karena saat ini Indrana sedang memperhatikannya.


Hingga akhirnya untuk melengkapi dan menyempurnakan sandiwara tersebut Adrian pun mengikuti sandiwara yang telah dibangun oleh Stefani di hadapan Indrana. Adrian tampak membalas ciuman Stefani dengan tidak kalah bersemangat. Aih, mereka seakan kembali ke masa lalu di mana mereka dulu masih berhubungan dengan baik.


Tungkai Stefani sampai lemas gara-gara Adrian yang kini malah lebih bersemangat mencium bibirnya. Indrana yang melihat kejadian itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.


" Kalian? Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Indrana tampak begitu marah melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Mendengar suara Indrana yang menggelegar seketika menyadarkan keduanya dalam hipnotis cinta masa lalu yang tiba-tiba merasuk di dalam diri mereka.


Nafas Adrian dan Stefani tampak memburu. Ada debaran hati yang tidak mampu mereka cari jawabannya.


" Aku mencintai kamu Adrian!" bisik Stefani di telinga pemuda itu yang sontak langsung menarik tengkuk Stefani dan kembali mencium gadis itu yang selama ini memang sangat dia rindukan.


Melihat hal itu terjadi di depan matanya Indrana sampai marah luar biasa.


" Kalian berdua benar-benar brengsek! Tega kalian sama aku!" umpat Indrana yang merasakan hatinya begitu terhiris melihat kekejaman Adrian dan Stefani.


Setelah Indrana meninggalkan kantor terlihat Adrian yang melepaskan diri dari Stefani.


Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Adrian Stefani sampai melotot sempurna tidak mengerti dengan maksud pemuda itu.


" Sandiwara?" tanya Stefani seperti orang linglung.


Adrian tampak tertawa melihat Stefani yang saat ini sedang menatap ke arahnya dengan penuh pertanyaan.


" Ayolah Stefani Jangan Katakan padaku kalau kau berfikir bahwa itu semua adalah benar!" ucap Adrian sambil tertawa di hadapan Stefani.


" Maksudnya?" tanya Stefani dengan bingung.


Tiba-tiba saja ruangan itu terasa begitu menyesakkan dada untuk Stefani.


" Sebenarnya apa maksud perkataanmu Adrian?" tanya Stefani berusaha untuk bisa mengerti apa maksud dari pria itu. Pria yang tadi telah mencium bibirnya dengan begitu lembut dan penuh cinta.


Stefani bisa merasakan semoga getaran yang dikirimkan oleh Adrian melalui ciuman mereka berdua. Cinta dendam dan kerinduan yang begitu besar di dalam hati keduanya yang telah terwakili melalui ciuman tadi.


" Sudahlah Stefani. Silakan kau keluar dari kantorku. Saat ini banyak sekali pekerjaan yang tertunda gara-gara perbuatan kalian berdua yang sudah menghabiskan banyak waktuku!" ucap Adrian seperti tidak Perasaan.


Hati Stefani benar-benar merasa sakit mendengar perkataan dari Adrian yang seperti seorang b******* yang melarikan diri setelah mengambil sesuatu yang paling berharga dari dirinya.


Perasaan bahagia yang tadi begitu membuncah di hatinya. Tiba-tiba seakan dihempaskan ke dasar yang paling dalam dengan sikap dan perkataan dari Adrian.


" Apakah kau serius dengan perkataanmu Adrian?" tante Stefani dengan air mata yang mulai menetes di kelopak matanya.


Adrian tanpa kesulitan menelan salivanya sendiri. Melihat air mata Stefani yang mulai mengalir sejujurnya membuat hati Adrian terhiris oleh Sembilu.


Akan tetapi Adrian pun tidak mau sampai terjerumus ke dalam cinta yang dulu pernah hadir tetapi harus kandas karena Stefani yang meminta putus dengannya dengan alasan ingin kuliah di luar negeri.


Padahal sekitar dua bulan kemudian, ketika Stefani sudah berada di luar negeri. Adrian yang merindukan Stefani dan masih berharap hubungannya masih bisa diselamatkan. Dengan kebahagian yang ada di hatinya, Adrian pun menyusul Stefani dan dia melihat Stefani yang sedang bermesraan dengan laki-laki lain.


Seketika Adrian menyadari bahwa putus hubungan yang diinginkan oleh Stefani adalah karena dia sudah memiliki laki-laki lain di dalam hidupnya. Pria itu pula yang menjadi alasan Stefani ingin kuliah di luar negeri dan meninggalkannya.


" Sudahlah Stefani! Kau tidak usah syuting di hadapanku! Kejarlah laki-laki yang kau cintai selama kau berada di Australia! aku sudah muak melihat air mata buayamu itu! Segera tinggalkan ruangan ini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" ucap Adrian dengan mata melotot penuh amarah kepada Stefani.


Mendengarkan perkataan Adrian Stefani mengerti bahwa saat ini Adrian pasti sedang salah paham terhadapnya.


" Apa maksud kamu sebenarnya? Laki-laki mana yang kau maksud Adrian?" Tanya Stefani yang merasa begitu bingung dengan perkataan dari laki-laki yang dia cintai.


Adrian yang sudah merasa malas untuk berhadapan dengan Stefani dia pun kemudian langsung melemparkan foto-foto yang dulu dia ambil ketika dia pergi mengunjungi Stefani di Australia.


Stefani pun kemudian mengambil foto-foto itu dan melihatnya dengan seksama.


" Ya ampun jadi kau marah padaku selama ini gara-gara foto ini?" tanya Stefani kepada Adrian yang matanya sampai melotot melihat Stefani yang malah tertawa.


" Apa kau tiba-tiba menjadi gila? Kenapa kau tertawa seperti itu? Padahal baru saja kau menangis seperti orang yang mau mati!" tanya Adrian merasa bingung dengan kelakuan Stefani yang benar-benar di luar ekspektasinya sama sekali.


' Apa gadis ini telah menjadi gila? Karena perasaannya yang telah aku permainkan? Aku hanya ingin membalaskan rasa sakit hatiku karena dia telah mempermainkan perasaanku begitu lama!' bathin Adrian merasa kesal sekali kepada Stefani yang sekarang malah medekati dirinya.


Adrian sudah kesulitan menelan salivanya sendiri melihat gadis itu yang sekarang malah tersenyum kepadanya dan duduk di pangkuannya.