
Meliana merasa senang dan terharu hatinya. Karena Siska dan Farel mau memaafkan kesalahan nya yang telah berusaha memisahkan mereka berdua.
" Apakah dia adalah cucuku?" tanya Meliana begitu excited melihat seorang bocah gembul yang sangat tampan itu.
Meliana sangat bahagia melihat cucunya yang begitu tampan tumbuh dengan sehat dan kuat.
" Sungguh tampan cucu Oma!" ucap Meliana tidak ada hentinya dia mencium dan mengecap Aaron yang sangat lucu dan menggemaskan.
" Untung saja dulu kalian bersikeras untuk mempertahankan pernikahan kalian berdua. Kalau tidak, Mama tidak akan punya kesempatan untuk mencium dan juga memeluknya. Terima kasih Siska karena kau sudah mempertahankan cucuku di dalam kandunganmu!" ucap Meiliana sangat terharu akan kekuatan cinta Farel dan Siska yang menggetarkan hatinya.
" Mah ayo kita ke apartemen kami saja. tidak baik kalau kita mengobrol di jalanan seperti ini!" ucap Siska sambil menggenggam telapak tangan mertuanya yang tersenyum kepadanya dengan lembut.
Hati Farel benar-benar sangat bahagia. Ketika melihat ibunya sekarang sudah mulai membuka pintu hatinya dan mau menerima keluarga kecilnya untuk menjadi bagian dari keluarga Handoyo.
Mereka pun kemudian pergi ke apartemen yang ditempati oleh Farel dan Siska.
Siska masih dalam cuti hamil oleh karena itu dia tidak berangkat ke kampusnya untuk kuliah.
" Bagaimana nanti kalau kau kuliah Siska siapa yang akan mengasuh Aaron?" tanya Meliana ketika mereka sudah berada di apartemen dan duduk bersama-sama sambil menonton televisi.
" Mungkin nanti kami akan mencari baby sister yang akan mengasuh Aaron ketika aku sudah mulai aktif kuliah lagi Mah!" ucap Siska.
" Tolong maafkan Mama ya, Siska. Ini hanya sebuah saran saja. Aemoga kamu tidak tersinggung dengan apa yang akan mama katakan padamu." Farel menatap ibunya dengan tajam Farel merasa was-was dan takut kalau ibunya akan mengatakan hal yang membuat Siska merasa tidak nyaman.
" Iya Mah katakan saja tidak masalah!" ucap Siska sambil tersenyum.
Selama ini Siska benar-benar sudah sukses menguatkan mental dan batinnya untuk menghadapi Meliana yang dia tahu tidak bisa menerima kehadirannya di dalam kehidupan Farel, sang suami tercinta.
" Bagaimana kalau kau pindah saja ke Indonesia? Kau bisa kuliah di sana. Supaya perusahaan pun bisa diurus oleh Farel. Kau tahu bukan? Mama ini sudah tua. Mama sudah tidak sanggup untuk mengurus perusahaan keluarga Handoyo yang begitu besar sendirian!" ucap Meliana canggung.
Farel mendengus kesal sekali. Ketika dia mendengarkan perkataan ibunya. Dia pikir Ibunya benar-benar sudah bertobat dan tidak akan memaksakan kehendaknya lagi kepada dirinya. Ternyata dia salah! Ibunya datang ke tempatnya dengan membawa misi untuk membawa dirinya kembali ke Indonesia dan mengurus perusahaan Handoyo group.
Farel hendak marah, tetapi tangannya segera digenggam oleh Siska. Sehingga membuat Farel mengurungkan niatnya.
" Maafkan Siska mah tetapi sekarang Mas Farel sudah merintis perusahaan sendiri bekerja sama dengan om Adrian dan Om Stevan sebagai investornya. Perusahaan itu baru merintis. Tetapi Alhamdulillah, sudah banyak klien yang sudah tersaring oleh Mas Farel dan saya optimis bahwa Mas Farel, pasti akan sukses dengan perusahaannya sendiri tanpa nama besar Handoyo grup sekalipun!" ucap Siska sambil tersenyum.
Meliana sangat kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Siska. Bagaikan di siram minyak rasanya. Tiba-tiba saja amarah Meliana berkobar mendapatkan penolakan dari Siska.
" Dengar ya Siska! Jangan mentang-mentang karena mama Datang kemari dan meminta maaf kepadamu, terus kamu merasa kalau kamu berada di atas angin!" ucapannya begitu pedes dan nyelekit hati Siska.
" Maafkan kalau apa yang saya katakan tadi membuat Mamah menjadi marah sama Siska. Tapi sungguh Mah. Siska hanya mengikuti keputusan dari Mas Farel saja!" ucap Siska berusaha untuk menyebarkan dirinya untuk menghadapi Meliana yang tampaknya masih belum berdamai dan belum menerima dirinya 100% sebagai menantunya.
Farel bangkit dari duduknya Karena dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi melihat tingkah ibunya yang benar-benar tidak menghargainya sebagai anaknya.
" Farel kira mama datang jauh-jauh ke Amerika, karena ingin berbaikan dengan kami dan ingin hidup berdampingan dengan kami. Tapi ternyata Farel salah besar!" Ucap Farel berusaha untuk menguatkan kesabaran di hatinya yang sejak tadi sangat emosi dengan ibunya sendiri.
" Farel Apakah salah permintaan Mama ini Nak? Kalau Mama memintamu untuk mengurus perusahaan keluarga kita? Keluarga Handoyo hanya tersisa kamu seorang Nak. Kalau bukan kamu yang akan meneruskan Perusahaan kita. Lalu siapa lagi?" tanya Meliana benar-benar sedih dengan anggapan negatifs putranya.
" Mas lebih baik memang dipikirkan lagi semua yang dikatakan oleh Mama. Ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Mama. Kamu itu adalah harapan satu-satunya keluarga Handoyo. Ribuan karyawanmu pasti sangat kehilangan sosok pemimpin untuk mengayomi mereka. Keluarga karyawanmu, mereka menggantungkan hidup dan harapan serta masa depan keluarga mereka berada di atas pundakmu. Kamu mempunyai kewajiban untuk mengembangkan perusahaan Handoyo yang menjadi tanggung jawab kamu!" ucap Siska berusaha untuk menasehati suaminya agar mau terbuka pikirannya dan menerima permintaan ibunya untuk kembali ke perusahaan dan memimpin perusahaan Handoyo group seperti dulu lagi.
Meliana terus menatap Siska yang sedang berusaha membantunya tapi entah kenapa hatinya masih belum plong dan masih belum menerima Siska 100% menjadi istri dari anaknya yang tersayang.
" Sejak aku datang kesini dan memutuskan untuk menetap di Amerika. Aku sudah keluar dari keluarga Handoyo. Bahkan sekarang aku tidak menggunakan lagi nama itu." ucap Farel sambil menatap ibunya yang begitu terkejut mendengarkan penuturannya.
" Aku akan membuktikan kepada Mama. Walaupun tanpa nama besar Handoyo group, Aku pasti bisa menjadi laki-laki yang sukses dan keluarga kami akan bahagia! Mama bisa lihat nanti Mah!" ucap Farel dengan mata berapi-api dan semangat yang membara.
" Lalu bagaimana dengan Handoyo group Farel? Mama tidak mungkin akan selamanya menghandle perusahaan itu sendiri!" ucap Meliana begitu putus asa karena sangat sulit untuk membujuk putranya yang sudah terlanjur sakit hati kepadanya.
" Mama serahkan saja kepada manajemen profesional. Tunjuklah orang-orang hebat dengan kemampuan yang bisa mama percaya untuk mengelola perusahaan itu!" ucap Farel dengan damai sentosa nyaris tanpa beban sama sekali.
Farel sendiri merasa bingung kenapa saat ini dia bisa melepaskan Handoyo group begitu mudah padahal dulu dia selalu mati-matian membela Handoyo group agar menjadi besar dan berkembang seperti saat ini.
Bahkan dirinya melakukan segala cara untuk bisa menjatuhkan perusahaan Prayoga milik orang tua Siska untuk menjadi milik mereka.
Hingga saat ini pikiran tentang apa yang pernah dilakukan oleh Farel di masa lalu kepada kedua orang tua Siska. Benar-benar sudah membuat hati Farel merasa tidak nyaman ketika bersama dengan istrinya.
Rahasia besar yang akan dibawa oleh Farel sampai mati. Bahwa dirinya lah yang telah memerintahkan asistennya untuk memotong rem mobil milik kedua orang tua Siska. Sehingga mengakibatkan kecelakaan dan membuat mereka mati mengenaskan.
Hingga saat ini Farel masih belum mampu untuk melupakan kejadian itu. Keserakahan yang telah membuatnya gelap mata. Membuat dirinya menghalalkan segala cara.
Bahkan tujuan awal dirinya mendekati Siska pun adalah demi menguasai Prayoga Group. Tetapi setelah merasakan kehilangan Siska, Farel benar-benar menyadari bahwa dia sangat mencintai Siska dan dia rela kehilangan apapun asal itu bukan Siska maupun anaknya.
" Kenapa kamu begitu tega sama mama Farel? Bagaimana mungkin Mamah akan menyerahkan Perusahaan kita ke tangan orang lain? Sementara Mama mempunyai anak yang begitu hebat seperti kamu?" tanya Meiliana merasa sedih luar biasa.
" Anak yang luar biasa Ini, hatinya telah disakiti oleh Mama hingga mati kering.Dia sudah tidak berminat lagi untuk mengelola Handoyo Group yang mama agungkan itu!" ucap Farel dengan nada sarkasme yang membuat ibunya menangis pilu.