Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
25. Masa sih?


Siska gelagapan mendengarkan pertanyaan Farel yang mengatakan bahwa dia sedang cemburu kepada laki-laki itu melihatnya dikerumuni oleh teman-temannya ketika Tadi mereka berada di sekolahan Siska.


" Ayolah tidak usah terlalu narsis jadi orang!" ucap Siska merasa kesal sekali ketika dia melihat Farel yang malah meringis ke arahnya.


Siska kemudian meninggalkan area sekolahan Karena dia sudah tidak tahan melihat teman-temannya yang terus saja berusaha meringsek untuk mendekati Farel.


" Aku pergi dulu kalau kau masih betah bersama gadis-gadis itu!" ucap Siska melambaikan tangannya kepada Farel yang langsung mengejarnya.


Begitu Farel mendekati Siska dia langsung merangkul bahu Siska dengan begitu erat dan posesif. Sehingga membuat para gadis-gadis yang ada di belakang Mereka pun akhirnya menjerit histeri karena merasa cemburu.


" Lepaskan! Apa kau sengaja membuat aku untuk dimusuhi oleh fans-fans mu itu?" tanya Siska sambil menatap tajam kepada Farel yang malah meringis kepadanya.


" Ayolah Siska kok jangan seperti itu bukan salahku kalau aku memiliki penggemar. Aku juga tidak bisa menolak anugerah Tuhan yang memberikan wajah tampan ini kepadaku!" ucap Farel dengan tersenyum kepada Siska dengan wajah tengilnya yang membuat Siska menjadi ilfil dan gemes.


Siska berusaha untuk melepaskan diri dari rangkulan Farel. Sampai akhirnya mereka sampai di mobil yang diparkirkan oleh Farel di area parkiran sekolahannya.


" Kau benar-benar narsis!" ucap Siska sambil melirik sinis kepada Farel yang sejak tadi terus saja membuatnya kehilangan kontrol.


Jantungnya benar-benar berdegup sangat kencang kupu-kupu yang ada di perutnya seakan hendak terbang.


Bagaimana tidak? Diantara ratusan para siswi cantik yang ada di sekolahan itu, sekarang Farel malah lebih memilih untuk merangkul dirinya dan membawanya keluar dari sekolahan dengan begitu romantis.


" Sudahlah kau tidak usah senyum-senyum seperti itu. Aku tahu kalau kau sangat bahagia karena aku lebih memilihmu daripada gadis-gadis labil itu!" ucap Farel sambil tersenyum kepada Siska yang langsung mengalihkan pandangannya.


Siska merasa terkejut ketika dia melihat keluar jendela dia melihat Andika yang menatapnya dengan begitu tajam dari kejauhan.


Siska pun sontak menutup kaca jendela karena dia tidak mau Andika terus memperhatikan mereka berdua.


" Ada apa?" tanya Farel merasa heran dengan ekspresi Siska.


Siska hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian Dia menyuruh Farel untuk segera meninggalkan sekolahan. Karena dia sudah tidak tahan berlama-lama di sekolahan itu untuk mendengarkan histeris dan teriakan teman-temannya yang berada di luar mobil mereka.


' Gila ya! Ini benar-benar sangat luar biasa! Polaritasnya mengalahkan para artis yang pernah datang ke sekolahan ini!' batin Siska sambil melirik kepada Farel yang masih fokus menyetir mobilnya untuk keluar dari sekolahan Siska.


Farel datang ke sekolahan itu sebetulnya untuk menyerahkan sumbangannya kepada sekolahan untuk membangun sebuah lapangan basket agar para siswa bisa bermain basket secara leluasa.


Siapa yang menyangka kalau ternyata Siska pun berangkat ke sekolahan itu dan membuatnya menjadi ingin menggoda Siska.


Hati Farel tergelitik untuk mengetahui. Bagaimanakah sebenarnya perasaan Siska kepadanya?


Apalagi pihak keluarga besar mereka berdua sudah mendorong mereka untuk segera melakukan pertunangan resmi.


Sementara Siska masih belum memberikan jawaban pasti apakah akan menerima Perjodohan itu ataukah menolaknya.


Masalah kedatangan mantan pacar Farel kemaren, mantan kekasihnya pernah bertemu dengan Siska benar-benar membuat Siska merasa ragu untuk melanjutkan rencana pertunangan mereka berdua.


Siska ingin mengajukan pembatalan pertolongan itu tetapi Adrian dan Steven melarangnya karena melihat kesehatan ayahnya saat ini masih drop dan belum stabil.


Kedua paman tampan Siska meminta Siska untuk bersabar sampai kesehatan ayahnya kembali pulih.


Tetapi saat ini Siska sedang tidak punya energi untuk melakukan itu.


Entahlah perasaan Siska merasa senang ketika melihat Farel yang lebih memilih menggenggam tangannya daripada melayani gadis-gadis SMA yang begitu girang melihatnya berada di sekolahan mereka.


Bahkan sahabat Siska, Brina dan beberapa teman yang lainnya, mereka tampak begitu antusias menyambut kedatangan Farel yang tidak diduga sama sekali.


" Nggak usah terlalu narsis jadi orang tahu nggak? Laki-laki tampan dan ganteng di dunia itu banyak sekali! Bukan hanya kamu tahu nggak sih?" ucap Siska sengit sambil melirik sinis kepada Farel yang malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan perkataannya.


Siska merasa jengkel melihat Farel yang seakan sedang mengejeknya saat ini.


" Bisakah Kau turunkan aku di mall itu karena aku hendak membeli sesuatu!" perintah Siska kepada Farel.


Farel hanya mengikuti keinginan Siska tanpa banyak bertanya.


" Aku mau pergi berbelanja dulu. Dan kau, pulanglah sana!" ucap Siska ketika dia membuka pintu mobilnya.


" Eh? Kenapa kau tidak membuka pintu ini bagaimana caranya aku keluar kalau pintunya kau kunci?" tanya Siska dengan wajah penuh pertanyaan menatap Farel.


Tiba-tiba saja Farel mendekati Siska dan menatap wajahnya dengan lekat. Mengikis jarak di antara mereka berdua.


" Apa yang hendak kau lakukan? Cepat kau pergi menjauh dariku!" ucap Siska dengan gugup ketika melihat Farel yang semakin mendekat ke arahnya.


Ketika Siska hendak berkata lagi tiba-tiba saja Farel sudah mencium bibir ranumnya sehingga Siska tidak bisa berkata-kata lagi.


Setelah selesai mencium Siska, Farel pun kemudian mengusap bibir Siska dengan lembut.


" Kalau kau ingin berbelanja, pergilah Aku ada urusan sebentar yang harus aku urus. Karena asistenku menelepon bahwa ada pertemuan yang harus aku datangi. Kau gunakanlah ini untuk membayar semua belanjaanmu!" ucap Farel sambil menyerahkan Black card ke tangan Siska tetapi Siska langsung menolaknya.


" Kenapa kau menolak ini? Aku memberikan ini karena kau adalah calon tunanganku!" ucap Farel sambil mengerutkan keningnya.


" Masih calon kan? Bukan benar-benar sudah menjadi tunanganmu. Sudahlah aku punya uang kok untuk belanja sendiri. Aku tidak membutuhkan uangmu hanya untuk membeli keperluanku. Aku tidak semiskin itu ya untuk menerima sedekahmu!" ucap Siska yang meminta kepada Farel untuk segera membukakan pintu mobil agar dia bisa keluar dari sana.


Farel merasa terkesiap ketika mendengarkan perkataan Siska.


' Ya ampun gadis ini benar-benar berbeda. Ketika hampir banyak perempuan yang mendatangiku demi fasilitas Black card yang aku miliki. Tetapi dia tanpa berpikir sama sekali langsung menolaknya dalam detik pertama! Sungguh benar-benar seorang gadis yang luar biasa. Aku tidak boleh kehilangan dia Aku harus memastikan bahwa dia harus menjadi istriku!' batin Farel sambil menatap Siska dengan penuh kagum.


" Eh cepat kebuka pintunya! Kenapa kau malah melamun sih?" ucap Siska sambil menjentikkan jari-jarinya di hadapan Farel untuk menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.


Farel pun tertawa seperti orang bodoh ketika dia menyadari bahwa dia terpesona kepada Siska begitu banyak sehingga membuatnya menjadi bengong dalam lamunannya.


" Telepon aku kalau kau sudah selesai belanja! Ingat kau harus menelponku Kalau tidak besok-besok aku tidak akan melepaskanmu dari tanganku!" ancam Farel ketika Siska turun dari mobilnya.


" Bodo! Emang gue pikirin!" ucap Siska sambil memeletkan lidahnya kepada Farel kemudian dia langsung berlari ke arah mall untuk berbelanja kebutuhannya.


Sejak kedua orang tuanya meninggal, Siska memang mengurus semua kebutuhannya sendiri dia tidak membiarkan pembantunya untuk berbelanja kebutuhannya sendiri.