
" Memangnya ada apa dengan mereka berdua? Apakah ada masalah dengan hubungan mereka? Kenapa Farel tiba-tiba saja meminta untuk mempercepat rencana pernikahan mereka berdua?" tanya Steven merasa bingung.
" Saya sendiri tidak tahu. Makanya saya ingin mengkonfirmasi semuanya kepada Anda. Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Farel dan Siska? Sehingga menjadi pemicu kepada Putraku untuk meminta pernikahannya segera dipercepat." tanya ibunya Farel kepada Steven yang juga bingung tidak tahu harus menjawab apa kepada nya.
Steven melihat ke arah Andrian lagi. Karena dia berharap untuk bertanya kepada Adrian keputusan apa yang harus dia ambil untuk pertanyaan ibunya Farel.
Seingatnya terakhir kali dia bertemu dengan Farel adalah ketika mereka berdua menghajar Farel habis-habisan karena sudah membuat Siska bersedih hatinya.
' Ini sangat ganjil sekali. Bagaimana mungkin Farel bisa mengetahui keberadaan Siska sekarang? Dari mana laki-laki itu mengetahui tentang Siska yang sekarang berada di luar negeri untuk kuliah di sana?' bathin Steven benar-benar merasa pening kepalanya.
" Bagaimana anak Stevan? Apakah rencana pernikahan itu akan dipercepat ataukah harus dibatalkan saja?" tanyanya lagi.
" Nanti saya akan menghubungi Anda kembali setelah saya berdiskusi dengan kakak dan juga ayahku. Nanti aku juga akan mencoba untuk menghubungi Siska. Aku akan bertanya tentang semua yang terjadi saat ini yang benar-benar sangat membingungkan sekali!" ucap Steven pada akhirnya.
Terdengar ibunya Farel menghembuskan nafasnya dengan begitu berat.
Begitupun dengan Steven merasa sangat tertekan dengan masalah Siska dan Farel yang sejak kemarin selalu membuat mereka berdua naik darah gara-gara perbuatan Farel.
" Baiklah Bu selamat malam!" ucap Steven berpamitan kepada ibunya Farel. Sampai kemudian dia pun mendekati Adrian yang masih fokus dengan laptopnya.
Adrian sadar bahwa saat ini adiknya berada di dekatnya dan sedang membutuhkan sesuatu darinya.
" Katakan saja apa yang kau butuhkan?" tanya Adrian tanpa melirik kepada Steven yang saat ini sedang menyentuh hidungnya dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Untuk beberapa saat lamanya Steven tetap terdiam. Karena dia sendiri bingung untuk mengatur kata-kata kepada kakaknya yang dia tahu berpikiran sangat kolot dan juga begitu mencintai dan menyayangi Siska sebagai keponakan mereka berdua.
" Apa kau masih mau memendam apa yang ingin kau tanyakan kepadaku? Kalau tidak aku akan tidur sekarang karena aku sudah pusing kepalanya!" setelah selesaikan dengan semua pekerjaannya. Adrian pun kemudian menutup laptopnya dan bersiap untuk masuk ke dalam kamar miliknya yang berada di dalam mansion keluarga Siska.
Mansion keluarga Prayogo, memang sangat bagus dan juga sangat indah. Terlihat begitu sangat mewah dengan desain Eropa yang begitu mempesona dan memanjakan mata.
Setelah melihat Adrian menutup laptopnya Steven pun kemudian mendekati sang kakak.
" Tadi Ibunya Steven menghubungiku tentang rencana pernikahan yang diminta untuk segera dipercepat oleh Farel. Dia meminta pendapatku tentang hal itu!" ucap Steven pada akhirnya.
Adrian sejenak menguletkan tubuhnya yang terasa begitu kaku karena telah berjam-jam dia berkutat dengan laptop dan juga tugas kantornya yang terpaksa dia pulang karena begitu menumpuk di kantor.
Sekarang Adrian memiliki dua tugas di kantor. Selain menjadi seorang komisaris dia pun harus mau menggantikan tugas Siska sebagai CEO di kantor Prayoga grup.
" Hubungi saja Siska dulu. Kita tidak boleh mengambil keputusan sendiri karena mereka nanti yang akan menjalaninya dan jangan sampai kita terkesan memaksa dia untuk menikahi Farel!" ucap Adrian mengulas senyum kepadaa Steven.
Terlihat Steven menganggukan kepalanya dan setuju dengan Adrian.
Melihat kakaknya yang begitu lelah akhirnya Steven pun membiarkan Adrian ntuk pergi ke kamarnya dan tidur di sana.
Sementara Steven kemudian mengambil ponselnya dia berniat untuk menghubungi Siska yang sekarang berada di luar negeri sedang kuliah.
Akan tetapi Stevan merasa kesal sekali karena ponselnya sejak tadi tidak juga diangkat oleh Siska.
" Kenapa ini teleponnya tidak diangkat-angkat sih?" tanya Steven benar-benar frustasi.
Setelah merasa lelah karena teleponnya sejak tadi tidak juga diangkat oleh Siska. Steven pun kemudian masuk ke dalam kamarnya dan memilih untuk tidur juga.
Setelah terlelap dalam tidurnya. Steven pun bisa melupakan masalah yang terjadi kepada Siska gara-gara perbuatan Farel yang telah membuat keponakannya merasa patah hati dan akhirnya memutuskan untuk kuliah di luar negeri.
Sementara itu Siska yang begitu lelap dalam tidurnya. Dia tidak mengetahui ketika Farel yang saat ini sudah memeriksa ponselnya.
Farel memblokir nomor telepon Mateo dan kemudian menghapus nomor Meteo di dalam ponsel kekasihnya.
" Beres! Sekarang aku bisa dengan tenang meninggalkan Siska di sini untuk kuliah dan aku yang akan mempersiapkan semuanya untuk acara pernikahan kami!" Ucap Farel dengan begitu bangga akan dirinya sendiri.
Setelah melakukan apa yang harus dia lakukan di dalam ponsel Siska. Farel pun kemudian mengembalikan ponsel Siska ke dalam tas miliknya yang tadi telah diletakkan di atas meja oleh Siska.
Farel pum kemudian mencium kening Siska yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Walaupun wajah Siska terlihat begitu kelelahan tetapi Siska tetaplah menjadi wanita tercantik di mata Farel.
Farel sadar bahwa dirinya saat ini telah benar-benar telah jatuh dalam pesona seorang Siska dan sangat sulit untuk bisa keluar begitu saja.
Hati Farel yang kembali sedih dan marah saat dia mengingat tentang Matteo yang saat ini masih berstatus sebagai kekasih Siska.
" Oh ****!" Farel benar-benar terganggu dengan fakta tentang Matteo yang berstatus sebagai kekasih Siska sekarang.
Walaupun Siska sudah menjelaskan semua kepada dirinya bahwa Metteo hanyalah bahan candaan dirinya untuk membuat dia bisa melupakan Farel tetapi tetap saja Farel tidak mau percaya begitu saja.
Apalagi ketika Farel melihat Matteo yang dengan begitu setia tetap menunggu Siska walaupun beberapa jam dia tahan terus untuk tidak menemui Matteo.
" Sudahlah! Besok sebaiknya aku kembali ke Indonesia saja dan mempersiapkan rencana pernikahan kami. Aku tidak mau kalau sampai nanti Siska berubah kembali pikirannya dan menolak untuk menikah denganku!" ucap Farel memutuskan bahwa dia akan segera kembali ke Indonesia.
Bagaimanapun saat ini Farel dalam posisi tidak ingin kehilangan Siska menjadi calon istrinya. Farel benar-benar telah jatuh cinta kepada Siska dan dia menyadari hal itu dengan baik.
Terlihat dari dia yang selalu mengamuk setiap kali Siska menyebut nama Matteo. Rasa cemburu dan rasa takut kehilangan sudah membuat Farel benar-benar di amuk oleh amarahnya sendiri sehingga membuat dia tidak bisa berpikir jernih.
Farel pun merasa bingung dengan dirinya sendiri kenapa dia begitu labil kalau sudah berurusan dengan Siska.