Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
163. Penghianat


Sejak saat itu hubungan antara Jasmine dan Abigail semakin memburuk bahkan Jasmine benar-benar menyesal memiliki sahabat seperti Abigail yang telah menghancurkan rumah tangga kedua orang tuanya.


Kebaikan keluarganya telah disalah artikan oleh Abigail yang ternyata malah mengincar ayahnya yang merupakan konglomerat di kota mereka tinggal. Air susu yang diberikan oleh keluarga Jasmine dibalas dengan air tuba yang begitu menyakitkan dan akhirnya membuat keluarga Jasmine tercerai-berai.


Setelah Abigail melahirkan anak laki-laki. Ayahnya Jasmine mulai menunjukkan perubahan sikap yang sangat kentara dan berlaku tidak adil terhadap ibunya dan juga Jasmine.


Bahkan Jasmine pun disuruh oleh ayahnya untuk menempati kamar utama yang selama ini selalu ditempati oleh ibunya dan juga sang ayah.


Secara tidak langsung sang ayah Jasmine sedang mengatakan bahwa Nyonya rumah di kediaman Abraham sekarang telah berganti dan ibunya hanyalah sebagai tamu di kediaman itu.


Semua barang-barang ibunya Jasmine dipindahkan ke kamar tamu. Hal itu telah benar-benar membuat Jasmine akhirnya mengamuk dan memilih untuk membawa ibunya pergi dari kediaman Abraham.


Lebih menyakitkan lagi. Ternyata ayahnya tidak pernah mencari keberadaan mereka sampai berbulan-bulan lamanya.


Ayahnya Jasmine terlalu euforia dengan kebahagiaan mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah sangat lama ditunggu oleh keluarga besarnya. Sehingga tidak memperdulikan lagi perasaan Jasmine dan juga ibunya Jasmine.


" Kau itu benar-benar tidak sopan sekali! Bagaimanapun statusku di sini adalah ibu tirimu Jasmine! Kau harus belajar untuk menghargaiku dan juga menghormatiku!" Abigail tampak berkacak pinggang di hadapan Jasmine yang benar-benar sangat marah dan muak kepada wanita itu.


" Apa kau melihat kaca yang ada di ruang IGD itu? Sana pergi lah untuk berkaca! Apakah Kau layak untuk dihormati dan dihargai sebagai seorang wanita?" tanya Jasmine dengan sinis dan amarah di hatinya.


Adrian yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Dia benar-benar terkesiap melihat amarah Jasmine yang benar-benar begitu Barbar ketika dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


' Wah amarah Jasmine benar-benar sangat menakutkan kelihatannya aku tidak boleh bermain-main dengan emosi dia!' monolog Adrian yang saat ini benar-benar sedang merasakan kebingungan berdiri diantara dua kubu yang saat ini sedang bertikai.


Abraham sejak tadi hanya menatap ke arah Adrian tanpa mengatakan apapun.


Adrian pun merasa sungkan dan canggung untuk sekedar menyapa kepada ayahnya Jasmine yang sejak tadi lebih memilih untuk diam dari pada ikut nimbrung dengan keributan Abigail dan Jasmine yang sepertinya tidak ada ujungnya.


Dua sahabat yang dulu begitu kental, yang dulu saling mendukung satu sama lain. Sekarang tidak ubahnya seperti musuh yang siap untuk saling menerkam satu sama lain.


Jasmine bahkan tidak sudi untuk melirik ke arah Abigail yang sejak tadi terus bergelayut manja di lengan sang ayah. Seakan sedang memperlihatkan kekuasaannya terhadap Abraham yang sejak tadi terus memeluknya dan juga mengurus punggungnya.


Abigail yang memang sangat pandai berakting sebagai korban di hadapan Abraham. Dia tampak tersenyum begitu bahagia. Ketika melihat Jasmine yang begitu kecut wajahnya karena melihat ayahnya yang begitu memperhatikan Abigail.


Adrian hanya bisa mengelus telapak tangan Jasmine untuk menenangkan kekasihnya. Agar tidak terlalu terbawa ataupun terpancing dengan apapun yang dilakukan oleh Abigail saat ini di hadapan mereka.


Adrian sebenarnya merasa sangat risih melihat perang di antara dua wanita itu yang sepertinya akan sulit untuk bisa ditenangkan walau hanya dengan kata-kata manis.


' Siapa laki-laki itu? Kenapa dia tampaknya begitu perhatian dan juga mencintai Jasmine? Aku heran sekali. Sebenarnya apa yang dimiliki oleh Jasmine? Kenapa dia selalu memiliki kehidupan yang sangat beruntung dengan dikelilingi oleh orang-orang hebat?' batin Abigail yang merasa cemburu melihat Adrian yang memperlakukan Jasmine dengan begitu mesra dan lembut.


Sementara itu Abraham langsung bangkit dari duduknya setelah melihat dokter yang keluar dari ruangan IGD.


" Dokter Bagaimana dengan kondisi istri saya? Dia baik-baik saja kan?" terlihat wajah penuh kekhawatiran yang diperlihatkan oleh Abraham yang justru membuat amarah di hati Jasmine semakin memuncak.


Akan tetapi Jasmine pun berusaha untuk menenangkan dirinya. Karena bagaimanapun dia tidak mungkin membuat keributan di rumah sakit sejak tadi Adrian terus menggenggam telapak tangan Yasmin dan berusaha untuk menenangkan wanitanya.


" Tenanglah Sayang. Kau jangan selalu tersulut emosi seperti itu. Mari kita dengar apa yang akan dikatakan oleh dokter tentang kondisi ibu kamu. Sehingga kita bisa mengambil keputusan yang tepat ke depannya untuk menjamin kebahagiaan dan juga kedamaian ibumu!" Adrian memeluk Jasmine.


Jasmine melirik ke arah Adrian yang berusaha dengan begitu baik untuk memberikan dukungan kepadanya. Sungguh! Jasmine benar-benar merasa beruntung dengan kehadiran Adrian saat ini di samping nya dan tidak 1 detik pun meninggalkannya sajak mereka datang ke Bandung.


" Alhamdulillah kami sudah berhasil untuk menyedot semua cairan pestisida yang berada di perut istri anda. Untuk sementara keadaan Nyonya Mesya sudah dalam keadaan aman dan terkendali. Kita akan tetap mengobservasi sampai 24 jam ke depan." Jasmine benar-benar merasa lega setelah mendengarkan keterangan dari Dokter.


Tak kalah dengan Jasmine. Abraham pun tampak menghela nafas dengan begitu senang sekali.


Dia merasa bahagia karena wanita yang berstatus sebagai istrinya yang sah ternyata bisa melewati masa kritis setelah melakukan usaha bunuh diri dengan menenggak satu botol cairan pestisida.


Abraham sebenarnya sampai saat ini masih bingung dari mana Mesya bisa mendapatkan cairan pestisida itu. Padahal seingatnya di kediaman utama keluarga Abraham tidak pernah menyediakan barang-barang seperti itu. Selalu tukang kebun yang menyimpannya dan itu pun tidak ditempatkan di kediaman utama yang mereka tempati.


Abraham akan menanyakan itu kepada Mesya Ketika istrinya nanti sudah bangun dari masa pengaruh obat biusnya.


" Dokter apakah kami bisa menemui ibuku!" tanya Jasmine yang benar-benar saat ini sedang merasa gelisah dengan keadaan ibunya sendiri.


" Saat ini nyonya Mesya kondisi mentalnya masih belum membaik. Ada baiknya kalau membiarkan dia untuk tetap beristirahat dulu. Nanti setelah kondisinya mulai stabil kalian bisa menemuinya!" ucap dokter kepada mereka semua.


Adrian terus menggenggam telapak tangan Jasmine yang tadi hampir saja terjatuh karena kakinya yang merasa begitu lemas mendengarkan kondisi ibunya.


" Biarkan Nyonya Mesya beristirahat dulu. Karena kalau terlalu banyak keributan juga tidak akan baik untuk kesehatan dia. kalian sebagai keluarga apabila masih menginginkan untuk rebut-ribut sebaiknya dilakukan di luar rumah sakit jangan mengganggu pasien lainnya!" tegur dokter kepada mereka semua yang saat ini hanya bisa menundukkan kepalanya.


Setelah menyampaikan pesan-pesannya kepada keluarganya Mesya. Dokter pun kemudian meninggalkan mereka dan kembali ke dalam ruangannya.


" Bawa istri muda Papa dari sini! Awas saja! Jangan sampai nanti Mamaku melihat dia ada di sini lalu drop lagi!" ucap Jasmine memberikan perintah kepada ayahnya agar segera membawa Abigail dari rumah sakit dan tidak mengizinkan wanita itu untuk menemui ibunya.


Abraham Hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam merasa sedih dengan semua yang terjadi pada keluarganya saat ini.