
Adrian dan Steven kemudian memindahkan Rumah Sakit tempat Siska dan Farel dirawat.
" Semoga setelah semua ini selesai. Keluarga kita akan berbahagia. sungguh tidak sanggup lagi untuk melihat keluarga kita yang selalu bersedih," ucap Adrian ketika mereka sudah berhasil memindahkan Siska dan Farel.
" Paman Tolong jangan terlalu merisaukan tentang kondisi kami. Sebaiknya Paman berdua segera mengurus tentang pernikahan kalian berdua jangan sampai urusan kami menghalangi niat kalian untuk berumah tangga," Siska mengingatkan kepada Adrian dan Steven tentang rencana pernikahan mereka bersama kekasih masing-masing.
Adrian menghela nafas, kemudian melirik kepada Andini yang saat ini ada di sebelahnya.
" Andini ingin fokus untukmu menyekolahkan adik-adiknya," Adrian terlihat bersedih.
" Kenapa begitu kalian bisa mengurus sekolah adik-adiknya bersama. Andini Tolong kau tidak usah memikirkan tentang adik-adikmu dulu. Karena mereka akan mencari tanggung jawab kita bersama. saat ini yang terpenting adalah merealisasikan niat kalian untuk berumah tangga." ucap Farel yang cukup terkejut mendengar perkataan Adrian dia mengatakan bahwa Andini yang menunda rencana pernikahan mereka.
" Bagaimana dengan paman Steven?" tanya Siska menatap tajam kepada Rossa dan juga Steven yang saat ini saling menatap satu sama lain.
Sejujurnya di dalam hati Steven dia masih merasakan keraguan untuk mempersunting Rosa sebagai istrinya.
" Tolong kalian berempat sudah dewasa. Berpikirlah untuk masa depan kalian." terlihat Farel yang menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak keberatan masalah rencana pernikahan kami. Hanya saja aku menangkap bahwa Steven memang tidak terlalu serius untuk mempercayaiku sebagai calon istrinya. Apa kalian tahu menghilangnya kalian Steven kira akulah yang telah mencelakai kalian," terdengar suara Rossa yang bergetar karena merasakan kesedihan di hatinya.
Sesuatu yang sangat berat ketika orang yang kita cintai tidak mempercayai kita. Rasa sakit itulah yang dirasakan oleh Rossa terhadap Steven yang telah begitu tega menuduhnya sebagai otak dari menghilangnya Farel dan Siska tanpa berpikir panjang dulu.
" Aku tahu, sebelum ini aku telah melakukan banyak kesalahan. Tapi aku tidak mau kalau orang yang kucintai tidak mempercayaiku apalagi sampai menuduhku melakukan kejahatan terhadap keluarganya." Rossa terlihat berkaca-kaca matanya.
Steven melirik kepada Rossa dan merasa bersalah melihat kekasihnya yang mulai meneteskan air mata.
" Setiap hamba Allah yang memiliki niat untuk menjalankan syariat agama pasti akan selalu dihembuskan keragu-raguan dan juga ketakutan untuk melangkah ke jenjang itu. Percayalah akan jauh lebih banyak kebaikan. Setelah kalian resmi menikah dan menyempurnakan agama kalian dengan pernikahan yang suci," Nasehat Siska kepada mereka berempat yang sampai saat ini masih belum mempunyai kemantapan untuk menikahi orang yang berstatus sebagai kekasih mereka.
Mereka berempat saling menatap satu sama lain dan bisa merasakan kebenaran di dalam ucapan Siska.
" Baiklah Kami berempat akan istikharah untuk mendapatkan jawaban dari ragu-ragu yang ada di hati kami saat ini," ucap Andini yang tersenyum kepada Adrian.
Karena waktu yang sudah malam Steven pun kemudian mengantarkan Rossa untuk pulang ke rumahnya.
Sementara Adrian dan Andini memutuskan untuk menginap di rumah sakit menjaga mereka berdua.
" Paman Adrian sebaiknya pulang saja jagalah Putra kami baik-baik. Kami benar-benar merasa ketakutan kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Aaron," Siska memohon kepada pamannya.
" Benar Paman kami berdua baik-baik saja sini. Ada suster dan dokter yang menjaga kami. Tolong pastikan Aaron baik-baik saja." Adrian kemudian mengikuti apa yang diinginkan oleh Farel dan Siska.
Sampai saat ini mereka belum mengetahui siapa orang yang sudah menolong Siska dan Farel dari kecelakaan yang telah menewaskan sopir pribadi mereka.
***
Terlihat Steven dan Rossa saat ini sedang berada di pinggir pantai.
" Maafkan aku yang sudah asal menuduhmu. Rosa. Kau tahu pasti bahwa saat itu aku benar-benar sangat kalut dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku sadar kalau aku sudah keterlaluan padamu." ucap Steven.
Terlihat Steven yang sedang berusaha untuk meminta maaf kepada Rossa yang sampai saat ini masih menundukkan kepalanya dan tidak mau melihat kepada Steven, sang kekasih yang hampir selama 2 bulan lebih telah mengisi hatinya dengan cinta kasih yang tulus dan telah banyak berubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.
" Bicaralah sayang. Apa kau mau terus marah terhadapku?" tanya Steven Ya sudah mulai tersiksa melihat kekasihnya yang sejak tadi hanya diam saja dan tidak mau mengatakan apapun kepadanya.
Steven langsung menggelengkan kepalanya Karena bagaimanapun dia tidak mau melihat dosa yang bersedih seperti itu.
" Percayalah aku tidak mungkin berpikir seperti itu. Aku benar-benar merasa bersalah dan aku tahu kalau aku memang berdosa terhadapmu karena sudah berpikir buruk tentangmu." Steven menggenggam telapak tangan Rossa yang terasa begitu dingin.
" Bagaimana kalau besok aku akan menemui orang tuamu untuk membicarakan tentang pernikahan kita?" tanya Steven sambil menatap wajah Rossa yang masih terlihat sedih dan pilu.
Rossa benar-benar mencintai Steven yang sudah berhasil mengalihkan dunianya dari sosok Farel yang selama beberapa bulan telah membuatnya hampir gila karena selalu menolak dirinya untuk menjadikan dirinya sebagai istri keduanya.
" Aku benar-benar berterima kasih padamu yang sudah merubahku menjadi diriku saat ini. Sungguh Steven! Aku tidak pernah memiliki pikiran jahat kepada keluargamu. Aku menyayangi mereka seperti kau juga menyayanginya." Steven langsung menyambar bibir Rosa dan meluahkan segala perasaan cinta yang ada di dalam hatinya.
Rosa yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Steven hanya bisa memasarkan diri dan mempercayakan segalanya kepada sang kekasih tercinta.
Jantung ke dua insan yang saat ini sedang dimabuk cinta terlihat berdebar sangat kencang. Darah berdesir lebih cepat dari biasanya. Tubuh Rosa seakan lemas seketika karena apa yang dilakukan oleh Steven terhadapnya.
Nafas keduanya memburu karena hampir di kuasai oleh birahi. Untung saja Steven masih memiliki kekuatan iman yang kuat sehingga dia tidak melanjutkan apa yang sempat terlintas di pikirannya.
" Aku akan segera menemui kedua orang tuamu dan kita akan mengatur pernikahan kita secepatnya." Steven kemudian merangkul bahu Rosa yang terasa bergetar karena menahan isak nangisnya.
" Kenapa?" tanya Steven bingung.
" Aku merasa terharu dengan usahamu yang menghargaiku sebagai Kekasihmu. Kau tahu? Mungkin laki-laki lain kalau berada di posisi kamu saat ini, dia pasti akan melakukan hal yang lebih daripada itu!" ucap Rosa yang sukses membuat wajah Steven merona.
Stefan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sejujurnya hampir saja kebablasan. Tetapi dia ingat dengan pesan ayahnya untuk selalu menjaga wanita yang dicintainya.
" Aku hanya tidak mau merusakmu. Aku takut kalau suatu saat aku memiliki seorang putri dan menjadi korban laki-laki b******* seperti itu. jadi aku akan berusaha untuk selalu menjagamu sampai kita resmi menikah nanti!" Steven kemudian mencium kening Rossa yang benar-benar merasa terharu dengan apa yang dikatakan calon suaminya.
" Terimakasih!" ucap Rosa yang saat ini sedang memeluk Steven dengan erat.
Mereka berdua menatap langit dan juga ombak yang begitu menenangkan hati mereka yang saat ini tengah dipenuhi oleh perasaan cinta yang menggebu di hati mereka berdua.
" Kita pulang ya? Aku takut kalau orang tuamu mencarimu." Steven kemudian menggandeng telapak tangan Rossa dan membawanya ke mobil dan bersiap-siap Untuk mengantarkan kekasihnya ke kediaman Mandalika.
Rosa Mandalika yang selama ini selalu dianggap jahat oleh orang sekitarnya merasa begitu bahagia mendapatkan cinta dari seorang Steven yang telah menghargai seseorang pribadi yang baru.
" Katakan padaku karena aku benar-benar sangat penasaran!" Rosa Mandalika menatap Steven yang sedang bersiap-siap untuk menyalakan mesin mobil mereka.
" Apa?"
" Kenapa kau memilihku untuk menjadi calon istrimu?" tanya Rosa yang sejujurnya sampai saat ini belum mengerti dengan keputusan Steven.
" Selama ini mereka selalu menganggapku sebagai wanita yang jahat dan selalu menghindariku. Lalu, kenapa kau malah memilihku? Apa kau tidak takut kalau suatu saat aku akan menghancurkan hidupmu?" Steven menatap Rossa dan menggenggam telapak tangannya dengan erat.
" Dengarlah sayang! Setiap manusia terlahir adalah suci. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan suatu dosa ataupun kesalahan dalam hidupnya. Bagiku saat ini yang terpenting adalah apakah dia mau berubah dan memperbaiki dirinya menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi sesama nya." Steven meyakinkan Rosa bahwa dirinya menerima sang kekasih apa adanya.
" Selama kita bergaul beberapa bulan ini, aku bisa merasakan kalau kau sudah berusaha sangat keras untuk memperbaiki dirimu dan aku mengapresiasi itu semua." Rosa merasa terharu mendengar semua yang dikatakan oleh Steven tentang dirinya.
" Baiklah Ayo kita temui kedua orang tuaku!" Steven merasa bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Rossa yang akhirnya mengizinkannya untuk bertemu kedua orang tuanya yang sudah lama ingin dia temui sejak mereka dekat.