Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
152. Jasmine beraksi


Steven saat ini sedang menerima laporan dari detektif yang dia perintahkan untuk menyelidiki tentang Jasmine.


" Bagaimana hasil penyelidikan dari detektif yang kau kirim ke Bandung?" tanya Adrian kepada Steven yang saat ini masih membaca laporan dari anak buahnya tentang Jasmine.


Steven kemudian menyerahkan semua laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya melalui email kepada sang kakak tercinta.


" Bacalah sendiri! Nanti kalau aku yang menerangkannya kau tidak akan percaya bukan dengan apa yang kukatakan?" tanya Steven yang langsung menyerahkan notebooknya kepada sang kakak tercinta.


Adrian pun kemudian menerima notebook Milik Steven dan membaca email yang dikirimkan oleh detektif yang ada di Bandung.


Terlihat Adrian tersenyum begitu bahagia melihat laporan itu.


" Tampaknya Jasmine memang bukan mata-mata yang dikirimkan oleh Abraham untuk perusahaan kita." ucap Adrian sambil tersenyum kepada adiknya.


Steven tampak menggelengkan kepalanya sambil menepuk dahinya saat dia melihat kelakuan kakaknya.


" Sudahlah lakukan saja apapun yang kau mau. Pusing aku melihatmu!" ucap Steven yang akhirnya lebih memilih untuk kembali ke kamarnya dan mempersiapkan semua yang dia butuhkan untuk menyelidiki perusahaan yang akan diberikan investasi oleh Prayoga Group yang di wakili oleh mereka berdua.


Prayoga group memang terkenal sebagai perusahaan investasi yang prestasinya sudah tidak bisa diragukan lagi.


Reputasi Prayoga Group tidak bisa di jadikan mainan oleh siapapun. Insting bisnis Adrian maupun Steven sangat kuat dan mereka tidak bisa dipermainkan oleh pemain kecil seperti perusahaan yang saat ini sedang mengajukan tawaran bisnis kepada mereka berdua.


" Aku seneng kalau ternyata Jasmine memang benar-benar bukan mata-mata yang dikirimkan oleh Abraham ke perusahaan kami!" monolog Adrian tampak begitu bahagia ketika dia melihat dan membaca semua laporan yang diserahkan oleh detektif yang disewa oleh adiknya.


" Abraham benar-benar laki-laki yang tidak bermoral! Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu kepada ibunya Jasmine yang telah mendampingi dia untuk menuju puncak kesuksesan yang saat ini sedang diraih?" terlihat Adrian yang begitu geram membaca semua laporan yang ada di tangannya.


" Sejak dulu Jasmine memang selalu keren dengan keputusan hidupnya yang selalu berani melakukan apapun! Dia bahkan meninggalkan semua kemewahan yang diberikan oleh ayahnya hanya untuk kebebasannya." Adrian tampak tersenyum melihat foto Jasmine yang sedang bersama dengan ibunya. Entah dari mana sang detektif mendapatkan foto itu.


Terlihat sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Adrian.


" Kenapa Jasmine menelponku pada jam seperti ini?" tanya Adrian sambil melihat ponselnya yang ternyata masih jam 08.00 pagi.


Adrian pun kemudian mengangkat panggilan telepon dari Jasmine.


" Ada apa?" tanyanya ketus.


" Aiya!! Cepatlah kau datang ke perusahaan. Di sini aku sedang menyaksikan sesuatu yang pasti sangat kau butuhkan sebagai bahan pertimbanganmu untuk menerima proposal mereka atau menolaknya!" ucap Jasmine yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya karena dia tidak senang mendapatkan jawaban ketus dari Adrian.


Adrian sampai tidak bisa berkata-kata melihat kelakuan Jasmine yang langsung menutup panggilan teleponnya begitu saja.


" Ya ampun! Gadis kurang ajar memang!" ucap Adrian benar-benar tidak percaya dengan keberanian Jasmine yang menutup panggilan teleponnya begitu saja.


Akan tetapi Adrian pun merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Jasmine.


" Baiklah kita akan lihat apa yang dia dapatkan dari aksi detektif yang sedang dia lakukan sekarang di perusahaan itu!" Adrian pun kemudian mengambil kunci mobilnya yang terpaksa dia beli dadakan di kota purwokerto demi memudahkan mobilitasnya selama berada di kota itu.


Walaupun Adrian masih bertanya-tanya dengan informasi yang diberikan oleh Jasmine. Tetapi dia percaya bahwa Jasmine tidak akan bermain-main dengannya kalau masalah pekerjaan.


Begitu sampai di perusahaan yang mengajukan proposal kepadanya tadi malam. Adrian tampak mengerutkan keningnya saat dia melihat begitu banyaknya para pendemonstrasi yang sedang demo di depan perusahaan itu.


" Ada apa ini?" Tanya Adrian merasa bingung dengan situasi yang sedang terjadi di hadapannya.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Adrian ketika dia hendak masuk ke dalam perusahaan itu dengan menerobos para pendemo.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Adrian ketika melihat Jasmine yang saat ini masih menggenggam telapak tangannya dan terus melihat ke arah para pendemo yang mulai bringas.


" Diamlah di sini kalau kau tidak mau menjadi sasaran amukan mereka semua!" bisik Jasmine di telinga Adrian.


" Para pendemo itu adalah pekerja di perusahaan ini yang sudah hampir 4 bulan tidak dibayarkan gajinya oleh pemilik perusahaan. Kemarin aku bertanya-tanya kepada salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan itu mereka mengatakan kalau anak pemilik perusahaan itu telah membawa lari uang perusahaan sampai 50 milyar. Hal itulah yang membuat akhirnya perusahaan menjadi collaps dan kesulitan untuk menggaji para karyawan mereka!" ucap Jasmine menerangkan semuanya kepada Adrian yang mulai mengerti apa yang sedang terjadi kepada perusahaan yang kemarin mengajukan proposal kepada mereka.


" Untung saja kemarin aku menolak untuk langsung menandatangani proposal perjanjian itu kalau tidak Perusahaan kita pasti akan mengalami kerugian besar!" Adrian benar-benar merasa bersyukur dengan keputusannya yang menunda untuk meng acc proposal mereka.


Jasmine kembali memperhatikan para pekerja yang masih demo di depan perusahaan itu.


" Mungkin kita bisa mengajukan pembelian perusahaan pada mereka. Kasihan para pekerja itu yang sudah bekerja 4 bulan tetapi tidak mendapatkan hak mereka." Adrian terkesiap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jasmine.


" Pada dasarnya perusahaan ini merupakan perusahaan yang baik dari segi manajemen maupun operasionalnya. Akan tetapi perusahaan ini menjadi colaps gara-gara perbuatan anak dari pemilik perusahaan yang sudah membawa kabur uang dari perusahaan sehingga membuat perusahaan ini kesulitan untuk mengoperasikan perusahaan mereka. Bahkan sampai tidak bisa menggaji karyawan mereka!" terlihat Jasmine yang tampak begitu sedih saat membicarakan tentang Nasib para pendemonstrasi yang saat ini sedang meminta hak mereka kepada perusahaan.


" Sungguh jahat sekali anak pemilik perusahaan itu yang begitu tega mencuri uang milik perusahaan ayahnya. Sepertinya apa yang terjadi kepada perusahaan Handoyo group juga dialami oleh mereka!" tampak Adrian yang begitu prihatin dengan nasib perusahaan tersebut.


" Emangnya apa yang terjadi dengan perusahaan Handoyo Group?" tanya Jasmine sambil menatap mata Adrian yang saat ini begitu dekat dengannya.


Adrian Sampai gugup ketika melihat Jasmine yang dengan mata bintangnya terus menatap ke arahnya.


" Apa kau tidak mendengar ataupun membaca berita tentang perusahaan Handoyo group yang hampir bangkrut gara-gara Abian yang membawa lari uang perusahaan sebesar 100 miliar?" tanya Adrian kepada Jasmine.


" Kau tahu kan selama ini aku hanya sibuk untuk melawan Ayahku? Aku tidak punya waktu untuk mencari tahu tentang urusan orang lain!" ucap Jasmine sambil meringis ke arah Adrian yang langsung menjitak kepalanya dengan jarinya.


" Sakit tahu!" protes Jasmine sambil melotot ke arah Adrian yang malah tersenyum kepadanya.


" Aiya! Rupanya kau sudah mulai kehilangan akal gara-gara melihat para pendemonstrasi itu!" ucap Jasmine sambil melotot ke arah Adrian yang hanya tersenyum kepadanya.


Jasmine kemudian melihat ke arah para pendemonstrasi dan mengacuhkan Adrian.


" Sampai sekarang rupanya kau masih belum berubah dengan kelakuanmu itu yang suka menjitak kepalaku!" protes Jasmine kepada Adrian yang akhirnya kembali fokus kepada para pendemonstrasi yang mulai anarkis.


" Cepatlah ambil keputusan apakah kau mau membeli perusahaan ini atau tidak sebelum mereka menghancurkan perusahaan itu karena amarah mereka!" ucap Jasmine sambil menetap ke arah Adrian.


" Apa kau pikir membeli perusahaan itu seperti memberi beras di pasar? Kami membutuhkan riset pasar dan juga riset management agar tidak terjadi kesalahan saat membeli perusahaan itu. Kalau sampai perusahaan itu mengalami kerugian. Maka aku yang akan disalahkan oleh dewan direksi!" ucap Adrian sambil melipat kedua tangannya di hadapan Jasmine.


" Kau selalu saja mementingkan bisnis di atas segalanya. Apa kau tidak bisa melihat para pendemonstrasi itu yang begitu putus asa memperjuangkan hak mereka demi sesuap nasi untuk keluarga mereka!" tanya Jasmine menatap tajam ke arah Adrian.


Adrian benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan dari Jasmine saat ini.


Gadis manja yang selama ini dia kenal ternyata sudah pergi jauh entah ke mana sekarang Adrian melihat Jasmine yang begitu dewasa dan memperdulikan kesejahteraan orang lain.


Terlihat Adrian memeriksa suhu tubuh Jasmine dengan meletakan tangan di kening Jasmine dan hal itu membuat Jasmine menjadi bingung dengan perbuatannya.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Jasmine sambil mengerutkan keningnya dan menghempaskan tangan Adrian dari keningnya yang tidak panas sama sekali.


Adrian tersenyum melihat kelakuan Jasmine yang sampai saat ini masih belum berubah.


" Aku hanya ingin memeriksa Apakah kau sehat ataukah sedang sakit!" Jasmine sampai melotot mendengarkan ucapan Adrian yang benar-benar membuat dia jengkel Setengah Mati.


" Apa Kau pikir aku sedang melindur? Apa kau pikir aku sakit?" tanya Jasmine sampai melotot ke arah Adrian yang hanya bisa meringis kepadanya.


" Kalau tidak mau membeli perusahaan itu tidak apa-apa tetapi kau tidak boleh sembarangan menilai orang lain begitu!" protes Jasmine menatap tajam ke arah Adrian yang sejak tadi hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


" Ayolah Jasmine aku hanya sedang memastikan kalau kau baik-baik saja dan tidak sedang sakit! Aku tidak memiliki tendensi buruk denganmu!" ucap Adrian sambil tersenyum ke arah.


" Aish! Tampaknya kota Purwokerto sudah membuatmu kehilangan akal! sejak tadi perilakumu benar-benar sangat aneh dan sangat ganjil!" ucap Jasmine sambil berdecak lidah karena kesal pada Adrian yang sejak tadi terus saja tersenyum ke arahnya dan membuat Jasmine merinding ketakutan.


Sejujurnya Adrian sangat bahagia sekali melihat Jasmine yang sekarang sudah banyak berubah menjadi lebih baik dari terakhir kali mereka berpisah dulu. Dan yang lebih penting lagi, Jasmine tidak memiliki tendensi buruk terhadap perusahaannya maupun dirinya secara pribadi.