Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
211. Haruskah?


Farel merasa cemburu melihat Siska yang menggenggam telapak tangan Andika dan keluar dari ruangannya.


Farel segera mengejar mereka berdua. Karena Farel tidak rela melihat istrinya bersama dengan Andika yang dia tahu sampai saat ini masih mencintai Siska.


" Sayang. Kalian mau ke mana?" tanya Farel benar-benar merasa tidak nyaman melihat istrinya pergi bersama dengan Andika.


Siska tersenyum kemudian Dia mendekati Farel yang terlihat begitu khawatir dan tidak rela melepaskannya bersama Andika.


" Aku tidak pergi kemana-mana kok sayang. Cuma di lobby kantor ini saja. Sarapanlah dulu nanti susul aku di sana ya?" tanya Siska sambil kembali mencium bibir Farel dengan lembut dan mesra sekali.


Andika benar-benar merasakan hatinya sangat panas, melihat semua adegan yang ada di depan matanya.


Farel bahagia sekali. Dia pun kemudian mengangguk dan kembali ke dalam ruangannya dan bergegas menghabiskan sarapan yang tadi dibawa oleh Siska untuk dirinya. Farel ingin segera menyusul istrinya yang ada di lobby. Karena Farel tidak rela Andika bersama dengan istrinya terlalu lama.


Sementara itu Siska sekarang berhadapan dengan Andika yang menatapnya dengan penuh Kerinduan.


" Katakan padaku! Kenapa Bapak tiba-tiba datang kemari?" tanya Siska to the point karena tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama bersama dengan Andika.


Siska sangat tahu bahwa suaminya tidak menyukai dirinya berdekatan dengan Andika. Farel selalu cemburu apabila melihat dirinya dekat dengan Andika yang merupakan saingan cinta yang abadi.


" Aku kan tadi sudah bilang, kalau aku tidak sengaja lewat kemari dan hanya mampir untuk menyapa sepupuku. Kenapa kau tidak mempercayainya Siska?" tanya Andika berusaha untuk bersikap lembut kepada Siska yang sekarang semakin cantik dan semakin dewasa penampilannya.


Andika hampir benar-benar pangling dan tidak mengenali Siska lagi ketika tadi Siska berada di hadapannya. Kalau bukan karena Siska mendekati Farel, Andika pasti tidak ngeh sama sekali bahwa wanita yang ada di sana adalah Siska.


" Kau benar-benar sudah berubah banyak. Sekarang penampilanmu jauh lebih elegan dan tidak urakan lagi seperti saat kau masih SMA dulu. Tapi Siska, Apa kau tahu aku jauh lebih menyukaimu dengan penampilan urakan kamu di masa lalu. Jauh lebih cantik dan murni!" Andika matanya berbinar ketika menceritakan masa lalu Siska.


Siska hanya tersenyum miring mendengarkan semua yang dikatakan oleh Andika yang tampaknya memang belum move on seperti yang dikatakan oleh Farel.


" Hidup manusia itu harus terus berkembang bukan stagnan di tempat. Itu namanya hidup dengan dinasmis. Katakan Bapak mau apa datang kemari?" Siska benar-benar sudah tidak sabar ingin mengetahui alasan gurunya, oh bukan, mantan gurunya itu sampai datang ke ruangan suaminya dan mengoceh hal hal gila di hadapannya.


Andika mendekati Siska dan berusaha untuk menggenggam telapak tangannya.


Akan tetapi Siska langsung menepisnya begitu saja tanpa tedeng aling-aling.


" Jaga sikap Bapak! Aku adalah istri dari sepupumu dan kita saat ini sedang ada di area publik. Jangan coba-coba kau untuk menghancurkan Citra dan reputasiku di kantor suamiku sendiri!" Siska tanpa melotot kepada Andika yang hanya tertawa simpul mendengar semua ucapan Siska.


Andika pun kemudian mengurungkan niatnya dan kembali duduk di tempatnya semula.


Andika menghela nafas berkali-kali dan terus memperhatikan Siska yang semakin menarik dan membuatnya sulit untuk berpaling dari menatap wajahnya.


" Siska. Apakah kita bisa pergi makan siang bersama. Aku benar-benar merindukan momen kita bersama seperti dulu. Apakah bisa?" Andika terlihat begitu memelas di hadapan Siska saat ini sehingga membuat Siska menjadi gugup.


Siska melirik sekilas kepada Andika yang saat ini sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan hendak menangis.


" Katakan saja apa yang mau kau katakan tidak usah banyak basa-basi!" Siska berusaha untuk menjaga jarak dengan Andika Karena bagaimanapun ada sebuah hati yang harus dia jaga dan dia tidak mau menyakiti hati suaminya yang sangat mencintainya.


" Aku benar-benar merindukanmu dan aku ingin kita bersama selama seharian ini. Aku mohon Siska. Walaupun hanya sebentar, tetapi bagiku, itu cukup untuk membuat hatiku bahagia." Andika seketika merasa sedih ketika dia mengingat tentang dirinya yang saat ini sedang sekarat karena penyakit leukimia yang dia derita.


Siska menggerakan keningnya melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Andika yang benar-benar membingungkannya.


Hilang sudah Andika yang arogan dan sombong. Kini yang tersisa hanyalah wanita yang rapuh dan juga sedang menderita.


Andika sebenarnya ingin menghentikan langkah Siska yang akan meninggalkan dirinya di sana. Akan tetapi dia melihat Farel yang berjalan ke arahnya dengan begitu tergesa dan mata memerah karena amarah.


Siska langsung menyongsong kedatangan Farel dengan memeluk suaminya yang saat ini sedang mengepalkan Kedua telapak tangannya karena sedang menahan emosi yang sejak tadi bergejolak di dadanya.


" Sudah selesai makannya? Cepat sekali!" Siska tersenyum menggoda suaminya yang hanya bisa berdetak lidah melihat kelakuan istrinya yang selalu membuat dia gemes dan gregetan dengan kelakuannya saat ini.


" Aku makan dengan cepat sayang. Karena aku tidak lelah melihatmu bersama dengan laki-laki b******* itu!" Sengit Farel seperti anak remaja yang baru mengenal cinta dan sedang dimabuk asmara.


Siska tertawa melihat suaminya yang amat menggemaskan sekali baginya. " Sayang, bagaimana kalau kau hari ini libur bekerja saja? Kita akan berjalan-jalan seharian. Mungkin kita akan memesan hotel mewah dan bercinta seharian di sana.Bagaimana?" bisik Siska di telinga Farel yang sontak membuat Farel terkejut bukan kepalang.


" Kau?? Apakah serius mengatakannya atau hanya bercanda saja karena ada Andika di sini?" tanya Farel mencoba mengkonfirmasi kebenaran dari semua hal yang dikatakan oleh Siska kepadanya.


Siska tersenyum dan melirik ke arah Andika yang tampak begitu menyedihkan wajahnya. Hati Andika sakit sekali melihat kemesraan mereka berdua yang seperti tidak memikirkan perasaannya saat ini yang hancur lebur menjadi butiran debu.


" Aku serius bukankah tadi malam kau yang memintanya untuk kita berbulan madu? Kita akan berusaha untuk memiliki anak lagi. Tapi kalau untuk melakukan perjalanan jauh aku memang tidak mampu. Tapi sayang, kita bisa menyewa hotel di dalam kota dan berbulan madu di sana. Kita akan memadu cinta seharian sampai kau puas." Bisikan Siska di telinga Farel benar-benar membuat Andika sangat murka.


Siska seperti yang sengaja sekali melakukan semua itu di hadapan Andika. Siska sedang menunjukkan identitas dirinya sebagai Nyonya Handoyo di hadapannya. Andika merasa semua yang dilakukan oleh Siska begitu konyol karena sedang berusaha membuatnya cemburu.


' Siska! Tanpa kau melakukan semua kemesraan itu dihadapanku pun, hatiku sudah berdarah karena melihat kebahagiaanmu dan juga kemesraanmu bersama Farel yang telah merebutmu dari tanganku!' bathin Andika yang saat ini berusaha untuk tegar.


Andika memutuskan untuk merahasiakan segala penyakitnya dari siapapun. Andika hanya ingin menemui orang-orang yang pernah hadir di dalam hidupnya di masa lalu sebelum kematian menjemputnya.


Andika tidak ingin membuat masalah untuk siapapun. Karena bagaimanapun dia memang mencintai Siska dengan tulus. Bahkan sampai saat ini Andika belum pernah menikahi wanita manapun.


Sonya yang dulu pernah jadi tunangannya telah dia tinggalkan sejak lama. Andika benar-benar tidak bisa melupakan rasa cintanya untuk Siska. Sejak Siska pergi meninggalkannya setelah perpisahan sekolah pada waktu itu.


Andika pun kemudian mengundurkan diri dan memilih untuk bekerja bersama dengan ayahnya dan membantu perusahaan keluarga dengan harapan akan kembali bertemu dengan Siska di dunia bisnis secara profesional.


Akan tetapi tiba-tiba saja Andika mengalami kecelakaan mobil dan akhirnya dia pun dirawat beberapa hari di rumah sakit. Akan tetapi, akibat dari kecelakaan itu, membuat Andika akhirnya mengetahui bahwa ada sebuah penyakit mematikan yang bersarang di tubuhnya. Sesuai hasil pemeriksaan dokter secara menyeluruh ke atas tubuhnya.


Oleh karena itu Andika memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan tanpa sepengetahuan siapapun juga. Termasuk seluruh keluarga besarnya tidak ada yang mengetahui tentang kepergian Andika untuk perawatan penyakitnya.


Andika benar-benar pintar menutupi rahasia besarnya dari semua orang yang mengenal dirinya. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak ada yang mencurigai kepergian Andika ke luar negeri yang katanya ingin melanjutkan kuliah di sana.


" Baiklah Siska dan Farel Aku akan pergi dari kantor ini. Jaga dirimu Siska, selamat siang." Andika pun kemudian keluar dari kantor Farel dengan lunglai dan lemas sekujur tubuhnya.


Bukan hanya sekedar karena penyakitnya yang sedang kambuh. Akan tetapi karena mentalnya yang saat ini benar-benar sedang jatuh. Setelah melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Siska di hadapannya bersama Farel yang Sekarang telah menjadi suaminya.


Andika bahkan sudah mendengar dari ibunya bahwa mereka sudah memiliki seorang anak yang sangat tampan bernama Aaron Handoyo. Andika akhirnya memilih untuk meninggalkan kota Jakarta dan kembali fokus untuk penyembuhan penyakitnya di luar negeri. Kali ini dengan membawa luka yang begitu besar di dalam hatinya.


" Ya Allah kalau sekiranya masih kau panjangkan umurku Berikan aku kesempatan untuk sedikit berbahagia dengan wanita yang aku cintai!" doa suci meluncur begitu saja dari mulut Andika yang saat ini sedang bergetar karena menahan isak tangis dan kesedihan yang ada di hatinya karena harus kembali meninggalkan tanah airnya.


Andika sebenarnya sudah tidak mampu lagi bertahan dengan terus berpura-pura sehat hanya untuk menyembunyikan penyakitnya dari keluarganya.