
Indrana bersama dengan Melissa terlihat mendekati Adrian yang saat ini sedang bersama dengan Stefani.
" Ih, tuh benar kan Tante?? Mereka berdua itu berselingkuh dari Aku! Lihatlah Tante!! Dari tadi mereka terus bergandengan tangan. Bahkan Adrian memeluknya terus!" terlihat Indrana begitu marah dan juga kesal melihat kejadian itu yang terjadi tepat di hadapannya.
Melisa menatap putranya dengan lekat terus menggelengkan kepala.
" Dia siapa Adrian?" tanya Melisa kepada putranya yang terus menggenggam telapak tangan Stefani yang sejak tadi terus diam karena merasa gak nyaman dengan situasi yang ada di hadapan nya.
Tiba-tiba saja Stefani merasa menyesal karena sudah mengikuti Adrian ke kantornya.
" Dia kekasihku Mah!" ucap Adrian dengan suara datar dan mengejutkan Melisa bersama dengan Indrana yang langsung mendekat ke arah mereka berdua.
Indrana yang terkejut mendengarkan ucapan Adrian dia menatap lekat wajah Adrian. Berusaha untuk melihat kejujuran di matanya.
" Kau jangan berbohong Adrian! Aku tidak percaya kalau dia ada Kekasihmu!" ucap Indrana yang perasaannya saat ini sedang kacau luar biasa.
" Aku benar-benar berpacaran dengannya. Bahkan sebentar lagi kami akan bertunangan. Kalau kau tidak percaya, datanglah besok ke hotel Alexis. Aku akan melamar dia langsung di hadapan kedua orang tuanya di sana!" ucap Adrian dengan begitu santai dan damai sentosa nyaris tanpa beban.
Stefani yang mendengarkan ucapan Adrian hanya bisa melotot dan menggenggam telapak tangan Adrian semakin kencang dan berusaha untuk mencari kebenaran atas semua ucapan pria itu.
" Kamu bohong Adrian! Itu tidak mungkin. Kalian akan bertunangan? Bukankah kalian sudah lama putus dan kita juga belum berakhir hubungannya Adrian. Kamu jangan jadi bajingan kayak gini Adrian!" ucap Indrana benar-benar Terpukul dengan kenyataan itu.
Melisa sejak tadi hanya memperhatikan interaksi mereka bertiga. Dia terus melihat ke arah Stefani yang sejak tadi hanya diam dan menatap kepada Adrian. Seakan tidak percaya dengan semua yang dilakukan oleh pemuda itu kepada Stefani dan Indrana.
Sungguh Melisa tidak pernah menduga kalau ternyata putranya begitu brengsek. Sehingga begitu tega mempermainkan hati dua orang gadis dalam satu waktu.
" Kamu, temui Mama di kantor!" ucap Melisa sambil menunjuk Adrian yang terlihat hanya cuek saja menanggapi perkataan ibunya.
Stefani menyuruh Adrian untuk menemui ibunya yang membuat Adrian akhirnya mau mengikuti Melisa ke kantor sang ibu.
Adrian langsung duduk di kursi dan menatap ibunya dengan wajah menyebalkan sekali bagi Melisa. Entahlah kenapa sejak ibunya menyuruh Adrian untuk merebut perusahaan Prayoga yang ada di Jakarta dari Siska, sontak membuat respect Adrian terhadap sang Ibu menjadi hancur lebur.
" Adrian apa sebenarnya yang kau lakukan terhadap dua gadis itu?" tanya Melisa Merasa tidak senang melihat anaknya yang mempermainkan hati wanita.
" Itu urusan hidupku! Mama tidak usah ikut campur Mama urus saja kehidupan Mama sendiri!" setelah mengatakan itu Adrian pun kemudian langsung keluar dari ruangan Melisa dan menemui Stefani.
Adrian langsung meraih tangan Stefani dan menggenggamnya dengan begitu erat. Adrian memasukkan tangan mereka ke kantong celananya. Membuat Indrana benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
" Jelaskan semua ini padaku Adrian! Kenapa kau tega begini padaku?" tanya Indrana dengan air mata yang meleleh di pipinya.
" Hari ini kita putus dan kau tidak usah datang lagi untuk mencariku. Karena aku sudah akan segera menikah dengan Stefani!" setelah mengatakan itu pada Indrana, Adrian pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke kantornya yang ada di lantai 15. lantai tertinggi gedung itu.
Mereka masuk melalui lift eksekutife yang akan langsung membawa mereka ke ruangan Adrian.
Stefani terus menatap kepada Adrian yang sampai ke dalam ruangannya pun dia masih tetap diam seribu bahasa.
Stefany tidak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh Adrian di dalam ruangannya baginya yang penting saat ini dia ingin melihat sisi kehidupan Adrian yang lain yang selama ini belum pernah dia lihat.
Dahulu ketika mereka masih berhubungan Stefani masihlah seorang remaja dan hampir bisa dikatakan Dia jarang mengunjungi kantor Adrian. Karena dia terlalu sibuk dengan sekolah dan kegiatan ekstra kulikulernya.
" Wah ternyata kantor kekasihku sangat bagus!" puji Stefani yang kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Adrian.
" Siapa yang kekasihmu kau Jangan geer ya!" ucap Adrian dengan menatap sengit kepada Stefani yang langsung melotot kepadanya.
" Dengarkanlah sendiri. Itu adalah bukti yang tidak bisa kau ganggu gugat!" ucap Stefani dengan senyum kemenangannya.
Adrian memutar bola matanya dengan malas. Merasa sudah terjebak dalam situasi yang dia ciptakan sendiri.
" Aku melakukan itu hanya untuk mengusir Indrana dari hidupku. Aku sudah kehabisan cara untuk membuat dia tidak mengganggu hidupku lagi!" ucap Adrian merasa frustasi.
" Jadi kau hanya sedang bermain-main denganku saja?" tanya Stefani merasa resah.
Kebahagiaan yang dirasakan olehnya ketika mendengarkan Adrian mengakui tentang hubungannya bersama dengan dirinya. Hal itu ternyata hanya kebahagiaan semu yang telah diciptakan oleh Adrian untuk mengusir Indrana dari hidupnya.
" Baiklah kalau itu memang hanya sebuah permainan. Aku akan menemani permainan kamu hingga akhir!" ucap Stefani yang sejujur nya saja merasa tersinggung dan sakit hati dengan kelakuan Adrian yang sangat lancang terhadapnya karena berani mempermainkan dirinya yang mencintai Adrian dengan tulus.
Dengan emosi dan air mata yang mulai menetes di kelopak matanya, Stefani kemudian meninggalkan kantor Adrian yang menurutnya sangat kurang ajar karena sudah berani mempermainkan perasaannya.
Setelah kepergian Stephanie terlihat Adrian menghempaskan tubuhnya di sofa dengan begitu lunglai dan lemas tak berdaya.
Berkali-kali Adrian menghela nafas dengan berat. " Fix Adrian! Kamu itu laki-laki b******* karena kau sudah mempermainkan hati seorang wanita dengan tanpa perasaan!" monolog Adrian pada dirinya sendiri.
Adrian berusaha untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya hari ini tetapi begitu sangat sulit untuk melakukannya.
Tatapan Stefani saat keluar dari ruangan nya tadi, benar-benar sudah membuat hatinya sangat terganggu.
" Apakah aku benar-benar jahat karena sudah menyakiti hati Stefani?" tanya Adrian pada dirinya sendiri.
Melisa yang melihat putranya saat ini tampak begitu tidak konsentrasi dalam bekerja dia pun kemudian masuk ke dalam kantor Sang putra kesayangan.
" Jangan kau melakukan hal seperti itu lagi Adrian! Karena menyakiti hati seorang wanita tidak akan ada baiknya untuk masa depanmu sendiri! Kamu akan kena karma sendiri karena doa mereka yang teraniaya!" Melisa berusaha untuk menasehati ada yang agar tidak melanjutkan perbuatan buruknya terhadap Indrana maupun Stefani.
" Mama tidak usah ikut campur urusanku! Urus aja urusan buat mama sendiri!" ucap Adrian kesel bukan main.
Melisa langsung menggeplak kepala putranya sangking gemesnya.
" Dasar anak durhaka! Kau pikir kau itu siapa? Sudah berani lancang terhadap mamamu! Ingat ini Adrian! Bagigi-begini, Aku adalah mamamu yang sudah melahirkan kamu!" ucap Melisa sambil menatap tajam ke arah Adrian yang benar-benar membuat hatinya sangat kesal bukan kepalang.
Adrian kemudian memilih untuk pergi dan meninggalkan ibunya di dalam ruangannya. Karena bagaimanapun dia tidak mau mencari masalah dengan ibunya yang tampaknya sedang jengkel terhadapnya.
Adrian menyadari bahwa dia memang sangat kurang ajar dan tidak sopan terhadap ibunya. Karena perasaan respecknya yang sudah hilang terhadap sang ibu.
" Apa kamu sudah tidak menganggapku sebagai ibumu lagi Adrian? Kau bahkan tidak mau untuk berbicara denganku lagi?" tanya Melisa yang mulai merasa pilu hatinya dengan kelakuan Adrian yang benar-benar sudah kelewat batas kesabaran nya.
Adrian hanya menatap Melisa sekilas kemudian dia pergi menuju rootrof perusahaannya yang selama ini membuat Adrian merasa nyaman tinggal di sana.
Adrian tau hidupnya sekarang tidak sama lagi seperti ketika Ayahnya masih hidup.
Beban sebagai seorang pewaris dari perusahaan keluarga benar-benar membuat Adrian kesulitan untuk bernafas.
Adrian tahu karena status itulah, yang telah membuat begitu banyak wanita yang selalu mendekatinya demi harta, kekayaan dan juga ketenaran yang ingin diraih oleh mereka dengan hidup bersamanya dan menjadi pasangannya.
Adrian benar-benar tidak menginginkan hubungan Toxic semacam itu tidak ingin bertemu dengan seorang wanita yang tulus mencintainya tanpa memandang dirinya yang seorang pewaris dari keluarga Prayoga.
Selama ini Adrian terus berusaha untuk mencari dan menemukan wanita tersebut. Akan tetapi hingga saat ini, masih belum menemui kecocokan di dalam hatinya yang terus saja gampang dan galau.