
Pada saat itu Adrian tiba-tiba ingat tentang Stefani dan iseng-iseng dia pun mengirimkan pesan kepada gadis itu.
Message mode on
" Apa kau sudah tidur?"
Dengan berdebar-debar Adrian menunggu jawaban dari Stefani yang lama. Ada hampir 10 menit gadis itu baru menjawabnya.
Karena merasa kesal Adrian pun kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas dan memutuskan untuk tidur saja.
Tapi, bertepatan dengan Adrian yang hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja ada notif di ponselnya Adrian.
Dengan cekatan Adrian pun kemudian mengambil ponselnya dan memeriksa pesan.
" Aku udah tidur, gara-gara tahu aku jadi terbangun sekarang. Ada apa?" tanya Stefani.
Adrian jadi tidak enak hati dengan jawaban tersebut. Kemudian dia pun memutuskan untuk mematikan datanya dan kemudian tidur dengan hati yang gelisah.
Stefani tambang mengurutkan keningnya setelah dia menunggu hampir setengah jam tetapi Adrian tidak juga mengirimkan jawaban dari pesan miliknya.
" Ih, apaan ini orang? Aneh banget!" dengan kesal Stefani pun kemudian menaruh ponselnya di atas nakas dan kemudian kembali tidur.
Sebenarnya Stefani berniat untuk mengetok apartemen milik Adriana yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena Adrian sudah pindah di apartemen milik ayahnya yang bersebelahan dengan dirinya.
" Ah kesel, awas saja! Besok akan aku ketok kepalanya. Sudah mengganggu tidurku, malah pergi begitu saja! menyebalkan!" ujar Stefani penuh dengan kekesalan.
Karena sudah terbangun, Stefani pun mengalami kesulitan untuk tidur lagi.
" Aaaaa, Adrian brengsek!" teriak Stefani frustasi. Akan tetapi Adrian yang apartemen miliknya bersebelahan. Dia sama sekali tidak mendengarkan teriakan Stefani. Karena apartemen mereka memiliki sistem kedap suara sehingga tidak terdengar keributan di apartemen satu sama lainnya.
Dengan susah payah, sekitar pukul 03.00 pagi. Stefani baru bisa memejamkan matanya karena sudah lelah luar biasa.
Sekitar pukul 07.00 Stefani baru bangun. Stefani jengkel luar biasa terhadap Adrian yang sudah membuatnya menjadi kesiangan.
" Adrian!!!! Gara-gara kau aku jadi terlambat!" kesal sekali Stefani. Dengan terburu-buru Stefani pun kemudian mandi dan segera bersiap untuk pergi ke tempat pernikahan saudarinya, untuk mengecek segala kesiapan nya karena besok pestanya sudah mau di gelar di sebuah ballroom yang ada di sebuah hotel ternama di Bandung.
Tepat ketika Stefani sudah berada di lift, Adrian pun keluar dari apartemen dia dan bersiap ke kantornya juga.
" Awas saja! Aku akan kasih dia pelajaran. Karena sudah membuat aku terbangun tengah malam tapi dia malah tidak perduli denganku. Dasar menyebalkan!" ucap Stefani.
Melihat pintu lift yang segera tertutup. Adrian pun berlari dan menghentikannya. Stefani pun Kemudian berinisiatif untuk membuka kembali pintu agar Adrian bisa masuk.
" Terimakasih!" ucap Adrian merasa berterima kasih dengan bantuan Stefani.
Akan tetapi Adrian yang saat ini sedang fokus dengan sarapannya. Dia tidak melihat siapa orang yang satu lift dengan dirinya.
" Eh, kau itu ya!! Kenapa malah makan di jalan sih? Bukannya makan di rumah!" protes Stefani kesal.
Ya Stefani kesal karena Adrian yang tidak memperhatikan dirinya.
" Kamu?" tanya Adrian kaget.
Adrian pun kemudian menyelesaikan sarapannya. Setelah itu dia pun menghadap kepada Stefani yang masih cemberut kepadanya.
" Kamu tinggal di sini?" tanya Adrian terkejut.
Karena sejujurnya Adrian memang tidak tahu kalau Stefani sudah tinggal di apartemennya.
" Kenapa kau tadi malam menghubungiku dan membuat aku jadi terbangun? Tapi setelah itu kau malah mengabaikan aku? Hmmm? Kenapa?" tanya Stefani kesal bukan kepalang.
Entah kenapa Adrian selalu mati gaya kalau sudah berhadapan dengan Stefani.
" Kamu kenapa sih? Masih pagi sudah mengamuk kaya singa!" ucap Adrian acuh.
Demi mendengar perkataan dari Adrian. Stefani pun sampai melotot matanya. Aiya! Jangankan minta maaf, Adrian bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Setelah membuat dirinya tidak bisa tidur semaleman.
Adrian kemudian berpikir. Terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu.
" Apa yang sudah aku lakukan emangnya? Sehingga membuatmu menjadi marah seperti itu?" tanya Adrian bingung.
Akhirnya Stefani pun menyerah. Daripada dia menjadi gila gara-gara Adrian. Akhirnya Dia memutuskan untuk melupakan masalah itu. Ya! Demi kewarasan otaknya tentu saja.
" Baiklah, lupakan!! Oh ya, kau mau datang ke pernikahan saudariku atau tidak? Acaranya besok!" ucap Stefani ingin mengkonfirmasi tentang Adrian.
" Kelihatannya Aku tidak akan datang. Lagi pula untuk apa aku datang ke sana? Sebagai apa? Aku bahkan tidak kenal kedua orang tuamu, maupun saudaramu ataupun mempelai pria nya." ucap Adrian merasa santai saja.
Stephanie yang mendengarkan itu pun merasa kesal luar biasa dengan kelakuan Adrian yang selalu saja membuat dia kalang kabut.
" Kemarin kan kau sudah janji, kalau kau akan datang ke sana. Setidaknya datang sebagai kekasihku. Kau perlu buktikan? Kalau orang yang ada di dalam fotomu itu adalah saudariku, bukan diriku!" ucap Stefani dengan penuh penekanan dalam setiap kata-katanya.
" Kekasih kamu? Memangnya Sejak kapan kita punya kesepakatan sebagai sepasang kekasih?" tanya Adrian dengan wajah polos.
" Sejak sekarang!" ucap Stefani sambil mengecup bibir Adrian dengan lembut yang seketika membeku di tempat.
" Mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih. Kau sudah menerima ciuman dariku! Jadi kau tidak boleh mengelak sebagai kekasih aku!" ucap Stefani dengan menatap tajam ke arah Adrian yang masih belum bisa berkata-kata gara-gara perbuatan gadis itu.
Ketika pintu lift terbuka, Stefani pun kemudian menggenggam telapak tangan Adrian dan melangkah bersamanya.
Sampai saat ini Adrian masih terdiam dan menatap Stefani dengan bingung.
" Kamu kenapa sih? Kok seperti orang kena sawan begitu?" tanya Stefani keheranan.
Adrian hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia pun masuk ke dalam mobilnya.
" Aku akan ikut ke kantor kamu!" ucap Stefani yang dengan begitu santainya masuk ke dalam mobil Adrian.
" Mau apa kau ikut ke kantorku?" tanya Adrian merasa bingung dengan Stefani.
" Aku cuma mau lihat aja. Bukannya selama ini aku ga pernah datang lagi ke kantor kamu?" Tanya Stefani sambil tersenyum pada Adrian yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Stefani yang suka berbuat sukaannya.
" Kamu aneh banget!" ucap Adrian gak bisa berkata-kata.
Akan tetapi jantung Adrian yang saat ini berdetak sangat cepat mengingat tentang tadi malam. Kenekatan apa yang sudah dia lakukan pada dini hari.
' Lihatlah Adrian kecerobohan apa yang sudah kau perbuat! Sekarang kau jadi terjebak dengan gadis ini!' bathin Adrian merotoki kebodohannya yang sudah sembrono mengundang Stefani kembali dalam hidupnya hanya gara-gara kegabutan dia tadi malam.
Akan tetapi Adrian pun sudah tidak bisa mundur lagi. Dia pun akhirnya hanya mampu membiarkan Gadis itu duduk di sampingnya.
" Aku sudah sampe. Kamu setelah ini mau pergi ke mana?" tanya Adrian pada Stefani.
" Ayolah Adrian! Aku ingin berkunjung ke kantormu sebentar saja. Setelah itu aku akan ke ballroom pernikahan saudariku untuk mengecek persiapan acara besok!" ucap Stefani dengan santai sambil tersenyum pada Adrian yang hanya bisa pasrah saja padanya.
Adrian pun kemudian keluar dari mobilnya dan menuju ke kantor miliknya.
Stefani menggenggam telapak tangan Adrian ketika dia masuk ke kantornya.
" Apaan?" protes Adrian berusaha melepaskan tangannya dari Stefani.
Akan tetapi Stefhani hanya tersenyum dan tidak terlalu menanggapinya. Adrian hendak protes lagi, namun dari kejauhan Adrian melihat ibunya berjalan bersama Indrana ke arah dirinya.
" Ah mau apa lagi perempuan itu?" keluh Adrian saat mereka semakin dekat padanya.
" Kenapa?" tanya Stefani bingung.
Adrian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian menggenggam telapak tangan Stefani lebih erat lagi dan memeluk pinggang gadis itu dengan erat.
Untuk beberapa saat lamanya, terlihat Stefani yang bingung dengan kelakuan Adrian yang tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi sama sekali.
" Kamu baik-baik aja kan?" tanya Stefani agak bingung dengan kelakuan Adrian yang membingungkan dirinya.