
" Baiklah!!" ucap Alex yang hanya bisa mengangguk menanggapi perintah dari Farel.
Alex bisa merasakan sakit hati yang saat ini sedang diderita oleh Farel. Karena orang-orang yang selalu saja mencari masalah dengannya. Padahal selama ini Farel selalu berusaha untuk bersikap baik kepada siapapun. Prinsip hidup Farel adalah tidak pernah mengganggu siapapun tapi kenapa dia hidupnya selalu saja diberikan kesulitan oleh mereka?
" Bos sebentar lagi kita akan mendarat di Amerika. Bos ingin saya ikut juga atau saya kembali ke Indonesia?" tanya Alex pada Farel.
Farel menatap Alex dengan lekat. Banyak sekali pertanyaan di dalam hati Farel tentang Alex yang Farel rasa seakan menyimpan sebuah misteri yang sangat sulit di pecahkan.
" Kau ikutlah denganku. Aku tidak bisa sendirian saja untuk menghadapi orang licik seperti Abian!" ucap Farel sambil menatap Alex yang langsung mengangguk.
Kedua pria tampan itu pun kemudian masuk ke apartemen yang dimiliki oleh Farel ketika dulu dia menetap di Amerika bersama dengan Siska dan Aaron.
" Rindu juga aku dengan apartemen ini. Ya Allah, rupanya Aku sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. Siska pasti akan senang sekali kalau aku mengajaknya kemari untuk bernostalgia!" ucap Farel sambil melihat ke sekeliling apartemennya.
" Tuan Farel Saya akan pergi ke supermarket dulu untuk membeli kebutuhan kita selama berada di Amerika. Saya juga harus membeli beberapa pakaian karena saya tidak membawa apa-apa kemari." ucap Alex dengan datar saja.
Farel hanya mengganggukan kepala dan kemudian memberikan uang kepada Alex untuk membeli kebutuhan mereka selama berada di Amerika.
" Sekalian belilah makan malam untuk kita berdua. Aku ingin tidur dulu karena sangat lelah sekali!" ucap Farel yang kemudian menuju ke kamarnya yang dulu ditempati bersama Siska.
Tidak terasa sudah hampir 2 tahun Farel meninggalkan Amerika dan menetap di Indonesia bersama dengan Siska. Mulai fokus mengurus perusahaan Handoyo dan Perusahaan Proyoga yang diwariskan oleh ayahnya Siska sebelum meninggal.
Kakeknya Siska sekarang sudah meninggal dan dimakamkan di Bandung. Farel dan Siska tidak bisa bertanya apa-apa lagi kepada Kakeknya Siska tentang kotak musik yang penuh dengan misteri.
Farel kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket setelah seharian berada di jalanan.
" Semoga saja urusanku untuk mencari Abian dilancarkan dan bisa segera kembali berkumpul dengan Siska dan Aaron. Aku tahu kalau ini tidak mudah. Tapi aku yakin sekali bahwa semua pasti akan baik-baik saja!" ucap Farel sambil berendam di air hangat.
Farel benar-benar membutuhkan tubuhnya untuk rileks dan otaknya untuk berpikir jernih.
Abian dan Amora benar-benar telah membuat Farel hampir gila dibuatnya.
" Aku bersumpah tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Setelah menemukan mereka!" ucap Farel sambil meremas gelas wine yang ada di tangannya.
Setelah menyelesaikan acara mandi dan berendam. Farel kemudian mengganti pakaian yang ada di lemarinya yang dulu sengaja dia tinggalkan beberapa lembar.
" Wah! Aku tidak menyangka kalau aku benar-benar akan menggunakan pakaian ini lagi!" ucap Farel dengan sumringah.
Setelah menggunakan pakaian Farel pun kemudian membaringkan tubuhnya sambil menunggu kedatangan Alex yang saat ini sedang berada di luar untuk membeli kebutuhan mereka selama berada di Amerika.
Karena tubuh yang begitu lelah Farel pun tertidur tanpa dia sadari.
***
Sementara itu Alex yang sekarang berada di sebuah mall. Dia sedang membeli semua kebutuhan mereka dan dia juga memberi beberapa lembar pakaian untuk dirinya dan Farel. Alex tahu kalau Farel sudah membawa satu koper kecil pakaian untuk dirinya tetapi Alex hanya berjaga-jaga saja siapa tahu Farel membutuhkannya.
" Kasihan juga Tuan Farel sampai sejauh ini mengejar penjahat seperti Abian dan Amora. Mereka benar-benar tidak tahu diri sekali! Makhluk-makhluk seperti mereka layak untuk dibunuh hanguskan dari bumi ini!" ucap Alex sangat kesal luar biasa.
Bagaimana Alex tidak kesal? Dia terpaksa harus menemani Farel ke Amerika. Padahal dia ada rencana untuk melamar kekasihnya. Akan tetapi harus di urungkan kembali. Karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Alex sudah tiga kali mengurungkan rencananya untuk melamar Melinda kekasih hatinya.
Setelah merasa semua kebutuhannya sudah terbeli Alex kemudian kembali ke apartemen.
Alex mengetuk pintu kamar Farel beberapa kali. Akan tetapi tidak ada respon maupun jawaban. Sehingga dia pun kemudian membuka pintu itu dan melihat Farel yang sedang terlelap dalam tidurnya.
" Tuan, ayo kita makan dulu!" ucap Alex berusaha untuk membangunkan Farel yang begitu terlelap dalam tidurnya.
Terlihat Farel yang sudah mulai mengulet dan mengerjapkan matanya.
" Kau sudah datang?" tanya Farel sambil menguap karena menahan rasa kantuk.
" Sudah Tuan. Ini saya tadi membeli beberapa pakaian dalam dan juga pakaian santai untuk digunakan tuan selama berada di rumah! kemarin waktu membereskan barang-barang Tuan Saya melihat tuhan hanya membawa pakaian formal untuk di luar rumah saja!" ucap Alex sambil menyerahkan Tote bags kepada Farel.
Farel menerima pemberian dari Alex kemudian berterima kasih.
" Aku akan mencobanya nanti. Sekarang Ayo kita makan dulu karena perutku sangat lapar sekali." ucap Farel sambil meletakan totenbag itu di kasurnya.
Alex hanya menganggukan kepala kemudian keluar dengan diikuti oleh Farel.
Kedua laki-laki tampan itu pun menghabiskan makan malam mereka dengan ketenangan. Bagaimanapun mereka malam ini akan beristirahat dengan tenang. Menyiapkan energi yang banyak. Karena besok mereka harus menguber Abian yang telah membuat kepusingan bagi mereka berdua.
Setelah selesai makan malam Alex langsung mencuci semua perlengkapan makan yang tadi mereka gunakan.
Sementara Farel sibuk di ruangan kerjaannya memeriksa file-file yang dikirimkan oleh detektifnya yang dia perintahkan untuk terus mengawasi Abian.
" Hmmm rupanya b******* itu benar-benar nekat Dia tidak memiliki rasa takut sama sekali!" ucap Farel sambil terus menatap dan mempelajari file-file yang berisi informasi tentang Abian dan Amora.
Abian dan Amora sekarang sudah menikah. Mereka berdua membeli satu buah mansion di Texas dan hidup dengan bergelimang harta yang dicuri dari perusahaan Handoyo.
" Dasar parasit! Dia bahkan tidak memikirkan nasib ayahnya yang saat ini sedang di rumah sakit. Gara-gara memikirkan tentang dia yang telah berbuat semena-mena terhadap perusahaan keluarga!" ucap Farel yang begitu gemas melihat Abian dan Amora yang saat ini sedang dia tatap fotonya karena dikirimkan oleh detektif melalui surel milik Farel.
" Tuan saya akan tidur dulu. Nanti kalau Tuan butuh sesuatu bangunkan lah saya!" ucap Alex menyimpulkan kepalanya di pintu berpamitan kepada Farel untuk beristirahat.
" Yah Tidurlah Alex. Aku tadi sudah tidur lumayan lama. Sekarang aku akan bekerja untuk mempersiapkan amunisi kita. Agar besok kita bisa berhadapan dengan Abian!" ucap Farel sambil tersenyum kepada Alex.
" Baiklah Tuan selamat bekerja saya istirahat dulu!" ucap Alex sambil menutup pintu ruangan kerja Farel.
Saat Alex sudah bersiap untuk masuk ke dalam kamarnya. Alex mengingat kalau dia belum membuatkan kopi dan menyediakan camilan malam untuk Farel. Makanan ringan yang bisa di gunakan sebagai teman dalam pekerjaan Farel.
Alex kemudian pergi ke dapur dan bersiap untuk membuatkan kopi untuk Farel. Alex bahkan membuka camilan yang tadi dia beli di supermarket yang dia letakan di dalam toples kecil.
Setelah semuanya siap Alex kemudian menyerahkan kopi dan camilan itu kepada Farel.
" Bukankah tadi kau sudah berpamitan untuk tidur?" tanya Farel kepada Alex.
" Iya Tuan Tadi saya sudah siap untuk tidur tapi saya lupa kalau saya belum membuatkan kopi untuk Anda dan menyediakan camilan untuk teman Anda bekerja!" ucap Alex sambil tersenyum kepada Farel.
" Terima kasih Alex karena kau sudah menjamin semua kebutuhanku di sini! Sekarang kau Istirahatlah dengan baik. Karena besok kita akan menghadapi hari yang berat untuk menghadapi Abian dan Amora!" Ucap Farel sambil tersenyum kepada Alex.
" Baiklah Tuan saya permisi dulu dan selamat bekerja!" Alex pun kemudian menutup kembali ruangan kerja Farel dan masuk ke dalam kamarnya lalu tidur dengan nyenyak.
Sangking lelahnya Alex sampai lupa untuk menghubungi kekasihnya. Padahal dia sudah berjanji kepada Melinda bahwa dia akan menghubungi setelah sampai di Amerika.