Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
21. Sadarlah


Siska berusaha untuk membantu Farel yang tampak sedang tertekan hatinya setelah bertemu dengan Amora mantan kekasihnya yang dulu sangat dia cintai.


" Sudah tidurlah! Kau jangan meminum alkohol lagi. Ok? Alkohol itu tidak baik untuk kesehatanmu Farel!" ucap Siska berusaha untuk menasehati Farel yang sudah mulai mabuk dan tampak kehilangan kesadaran.


Dengan sangat telaten Siska mengurus semua keperluan Farel. Dia bahkan mengelap tubuh Farel yang bau alkohol dengan lap basah.


" Oskar kau pulanglah. Kau pasti sudah lelah setelah seharian menjaga dia. Aku akan menunggu dia di sini sampai dia tidur. Setelah itu aku akan pulang ke rumahku!" ucap Siska kepada Oskar yang sudah oktori terus memperhatikan interaksinya dengan Farel.


Oskar merasa lega karena setelah kedatangan Siska, Farel sudah mulai bisa dikendalikan dan menurut untuk tidak mengkonsumsi alkohol lagi. Bahkan sekarang Farel sudah mau berbaring di kasurnya dengan anteng tanpa banyak memberontak.


" Baiklah non Siska. Terima kasih atas bantuannya. Saya permisi dulu. Kalau terjadi apa-apa dengan Tuan Farel, tolong hubungi saya. Saya pasti akan segera datang kemari!" ucap Oskar berpesan kepada Siska sebelum dia meninggalkan apartemen Farel.


Setelah Oskar pergi Siska kemudian pergi ke dapur dan menyiapkan makanan untuk Farel yang sejak tadi hanya mengkonsumsi alkohol.


" Ya ampun aku sudah seperti istrinya saja. Karena mengurusi Dia mabuk seperti ini! Ckck!" ucap Siska merasa heran kepada dirinya sendiri yang mau dengan telaten mengurus Farel yang saat ini sedang drop dan down total gara-gara bertemu kembali dengan mantan kekasihnya.


" Kenapa aku harus hadir lagi dalam hidupku setelah susah payah aku melupakanmu Kenapa? Apa kau tidak pernah memikirkan tentang perasaanku? Apa kau tidak pernah mencintaiku?" begitu banyak pertanyaan Farel yang membuat Siska merasa sangat kasihan terhadapnya.


Siska yang hanya bisa mendengarkan ocehan Farel dalam mabuk dia sekarang mulai fokus untuk membereskan semua kekacauan yang diakibatkan oleh Farel.


Siska membuang botol-botol alkohol yang berserakan di lantai kamar milik Farel.


Tiba-tiba saja Farel membuka matanya dan dia melihat ada seseorang dalam kamarnya yang sedang membereskan kamarnya yang berantakan.


" Tolong kau jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Sayang, kenapa kau harus menolak lamaranku? Kenapa kau harus pergi meninggalkan aku?" tanya Farel sampai memeluk Siska dari belakang.


Sementara itu Siska merasakan hatinya bagai diremas-remas. Ketika dia mendengarkan semua ocehan Farel yang sedang menangis dan menyesali hubungannya yang kandas bersama dengan Amora.


" Kenapa kau harus kembali lagi? Susah payah aku melupakanmu. Bertahun-tahun aku telah menutup pintu hatiku untuk wanita lain. Sekarang ada seorang wanita yang mampu membuatku merasa jatuh cinta dan kau seenaknya saja datang dalam hidupku dan mengatakan ingin kembali lagi padaku. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Katakanlah Amora!" ucap Farel sambil mengecup bibir Siska dengan penuh amarah dan juga gairah yang terdorong oleh alkohol yang mulai menguasai jalan pikirannya.


Siska seketika menangis melihat perlakuan Farel terhadapnya yang menganggap dirinya sebagai Amora.


" Ya Tuhan bisa-bisanya ciuman pertamaku dicuri oleh orang yang sedang patah hati terhadap perempuan lain. Oh Tuhanku! Betapa malangnya nasibku!" tidak ada habisnya Siska terus merutuki nasib buruknya malam ini. Gara-gara Farel yang sudah membuat hatinya berdegup sangat kencang.


Sepanjang perjalanan Siska terus menyentuh dadanya yang terus berdebar-debar gara-gara ciuman Farel yang begitu mendadak.


" Oh ya Tuhan! Ada apa dengan diriku kenapa aku harus seperti ini? Ah kurang ajar! Kenapa dia menciumku sambil menyebut nama orang lain?" ucap Siska sambil memukul kedua pipinya dengan kedua tangannya. Hati Siska kesal sekali ketika dia mengingat kembali Farel memanggil nama Amora ketika dia mencium dirinya.


" Dasar b******* ! Bisa-bisanya dia dengan mudah menciumku sambil menyebut nama orang lain. Aku tidak mau bertemu dia lagi! Aku akan meminta kepada kakek. Untuk membatalkan rencana perjodohan kami berdua. Karena aku tidak mau hidup bersama laki-laki yang masih menyimpan nama mantan pacarnya di dalam hatinya!" ucap Siska mengambil keputusan.


Setelah sampai di apartemennya Siska langsung menghubungi Andi Prayoga.


" Ada apa kok malam-malam menelpon kakek? Apa tidak bisa kalau besok saja? ini jam istirahat Siska!" ucap Andi merasa tidak senang dengan telepon dari Siska.


Bagaimana tidak Dia sedang tertidur lelap tiba-tiba dapat panggilan telepon yang tidak mau berhenti berdering sehingga memaksanya untuk bangun.


Ketika dia lihat nama yang tertera di layat ponselnya, ternyata itu adalah dari cucunya sendiri. Karena merasa khawatir kalau ada hal yang penting oleh karena itu dia pun mengangkat panggilan tersebut.


" Siska ingin kita membatalkan rencana perjodohanku dengan Farel!" ucap Siska dengan suara tegas.


Andi tampak menarik nafasnya dalam-dalam dia sudah frustasi untuk membujuk cucunya itu agar mau menerima perjodohan yang sudah diatur oleh almarhum putranya untuk sang cucu dengan Farel.


Sejujurnya Andi Prayoga pun merasa heran tentang keinginan putranya yang ingin menjodohkan Siska dengan Farel. Padahal berdasarkan penyelidikannya, Dia pun tahu bahwa Farel memiliki andil besar dalam kesulitan yang saat ini sedang dialami oleh perusahaan Prayoga group milik Sang putra yang kini sudah meninggal.


" Sudahlah kau tidur sana! Besok kita bicarakan lagi hal itu. Kakek sangat ngantuk dan ingin tidur sekarang!" ucap Andi yang langsung menutup panggilan telepon tersebut tanpa menunggu jawaban dari Siska.


Siska pun kemudian merasa kecewa dengan kakeknya yang tidak memperdulikan keinginannya malah terdengar seperti marah kepadanya.


" Aku harus bisa membujuk Paman Adrian dan juga Paman Steven agar membantuku untuk membujuk kakek Untuk membatalkan Perjodohan itu. Bagaimana mungkin aku bisa menikahi orang yang sudah memberikan kehancuran kepada perusahaan ayahku? Walaupun tampangnya dia baik, tapi tetap saja, hatiku tidak bisa menerima kenyataan itu. Apalagi sekarang aku tahu kalau dia sudah memiliki orang lain di hatinya. Aku tidak mau hidup menjadi bayang-bayang seseorang di dalam hati suamiku!" ucap Siska memutuskan bahwa dia benar-benar final akan menolak perjodohannya dengan Farel.


" Seenak jidatnya saja dia menciumku sambil menyebut nama wanita lain. Aku tidak mau kalau nanti sampai kami menikah dan kami berhubungan badan, ternyata yang dia bayangkan adalah wanita yang dia cintai tetapi tidak bisa dia miliki. Aku tidak mau menjadi wanita menyedihkan seperti itu. Lebih baik biarkan saja dia menikahi wanita yang benar-benar dia cintai. Toh aku juga tidak punya perasaan apapun kepadanya!" setelah mantap dengan keputusannya Siska pun kemudian segera mengambil selimutnya dan pergi tidur.