Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
123. Usaha yang sia-sia


Alex begitu terlelap dalam tidurnya sampai dia tidak mendengarkan ponsel yang terus berdering dari sang kekasih tercinta.


" Ih, kemana sih nih Alex. Katanya mau hubungin kalau udah sampe Amerika. Nyebelin banget ih! boro-boro hubungin aku, ini ditelepon saja dari tadi tidak mau diangkat juga!" ucap Melinda begitu kesal sekali.


Karena kesibukan Alex sebagai asisten Farel, membuat Alex selalu mengesampingkan kepentingan Melinda.


" Awas saja kalau besok dia tidak minta maaf padaku. Lebih baik aku putus saja sama dia. Sudah cukup semua kesabaranku terhadap pria brengsek seperti Alex!" ucap Melinda begitu kesal.


Terlihat Melinda yang kemudian turun dari ranjangnya menuju balkon kamarnya menatap langit yang begitu indah pada hari itu. Melinda tidak tahu kalau saat ini Alex sedang terlelap dalam tidurnya karena kelelahan setelah bekerja seharian melayani semua kebutuhan Farel.


Melinda kemudian bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Walaupun sudah agak terlambat tetapi dia tidak perduli. Toh perusahaan milik keluarga sehingga dia tidak terlalu ambil pusing dengan jam kerjanya.


Ayahnya Melinda pun tidak pernah menegur putrinya yang suka berangkat kerja sesuka hatinya.


Setelah siap, Melinda kemudian langsung berangkat ke kantor dan melupakan tentang Alex yang sudah membuat dia sejak tadi uring-uringan.



Visualisasi kemesraan Alex dan Melinda.


Alex dan Melinda memang Saling mencintai satu sama lain sejak mereka masih duduk di bangku kuliah.


Sudah beberapa kali Alex berniat untuk melamar Melinda. Akan tetapi selalu saja gagal gara-gara Farel yang selalu saja memberikan begitu banyak tugas kepada Alex sang asisten perfect nya.


Bisa dikatakan Farel sangat mengandalkan Alex dalam setiap pekerjaannya.


" Oke Alex sayang. Aku akan menunggumu sampai sore ini. Kalau kau tidak menelponku juga dan meminta maaf padaku, maka kita end!" ucap Melinda benar-benar merasa kesal dengan tingkah Alex yang seperti tidak memperdulikannya.


Setelah sampai di kantornya. Melinda mulai fokus untuk bekerja dan melupakan tentang Alex yang hingga sore masih juga belum menghubunginya.


" Hmmm, terasa lelah sekali. Lebih baik aku pulang saja deh. Membosankan sekali! Semua rutinitas ini benar-benar membuatku muak!" ucap Melinda sambil bangkit dari kursi kerjaannya dan menguletkan tubuhnya untuk merilekskan otot-ototnya yang tegang.


Tiba-tiba saja pintu ruangan Melinda terbuka. Melinda yang saat ini sedang kesal hatinya sontak langsung melotot kepada orang yang masuk tanpa izin ke dalam kantornya.


" Romi! Apa kau tidak bisa belajar untuk mengetuk pintu kantor orang lain huh?" semprot Melinda sambil menatap tajam kepada adiknya yang selalu saja tidak sopan terhadapnya.


" Ya ampun kakakku yang cantik! Memangnya kau sedang melakukan apa sih? Sehingga membutuhkan segala formalitas yang sangat menyebalkan itu?" tanya Romi yang langsung duduk di hadapan Melinda.


Melinda hanya menunggu kesal melihat kelakuan adiknya yang seenak jidatnya langsung duduk di hadapannya tanpa permisi padanya.


" Kau itu calon CEO di kantor ini. Kapan kau akan belajar untuk menghormati kakak kamu?" tanya Melinda yang semakin kesal melihat kelakuan adiknya.


Romi hanya mengibaskan tangannya kemudian menetap kakaknya yang terlihat sedang bete.


" Ayo kita jalan Aku bete nih berada di kantor seharian! Kita makan bersama ya atau kita nonton bersama di bioskop? Katanya ada film yang bagus untuk hari ini!" ucap Romi dengan begitu bersemangat mengajak Melinda.



visualisasi Romi


" Ih jijay banget! Aku pergi sama kamu nanti dikira aku pacarmu lagi! Ogah! Mendingan aku pulang ke rumah dan tidur daripada harus dianggap sebagai pacarmu!" ucap Melinda sambil mengambil ponsel dan juga tasnya dan bersiap untuk pulang.


Romi hanya tertawa melihat kakaknya yang begitu antipati dengan pandangan orang lain.


Memang bukan sekali dua kali mereka selalu dianggap sebagai pasangan oleh orang yang melihat kebersamaan mereka berdua.


Kedua orang tua mereka yang menikah setelah bercerai dengan pasangan mereka masing-masing, membuat mereka harus menjadi saudara tiri.


" Memangnya kenapa sih kak? Kenapa kau begitu antipati untuk menjadi pacarku huh? Bukankah kau harusnya bangga dikira menjadi pacar dari Romi Kusuma?" tanya Romi dengan senyum tengilnya yang benar-benar membuat Melinda menjadi kesal.


" Mohon maaf lahir dan batin ya Adikku Sayang aku sudah memiliki kekasih setampan Alex dan aku tidak membutuhkanmu sebagai kekasih pura-pura aku!" ucap Melinda dengan bergaya elegan di hadapan Romi yang hanya tertawa terbahak melihat kelakuan kakaknya yang ajaib baginya


Romi kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Melinda yang akan pulang ke apartemen pribadinya.


Melinda memang tidak senang kalau harus tinggal bersama dengan ayah tirinya yang itu artinya dia akan tinggal se atap dengan Romi.


Tidak tahu kenapa. Sejak dulu Melinda tidak pernah menyukai Romi. Padahal Romi adalah adik yang baik dan selalu menganggapnya sebagai kakak kandung.


Romi adalah anak tunggal dari keluarga Kusuma. Oleh karena itu dia merasa sangat bahagia dengan kehadiran Melinda sebagai saudaranya.


Walaupun ibu kandungnya memiliki anak yang lain dari suami barunya. Akan tetapi Romi tidak merasa terlalu dekat dengan saudara tirinya.


Mungkin karena mereka jarang bertemu dan jarang berkumpul membuat perasaan itu menjadi sedikit Canggung bagi Romi.


" Kak, Bagaimana hubunganmu dengan Alex? Perasaan waktu itu Alex pernah mendatangi aku dan mengatakan bahwa dia akan segera melamarmu. Apa dia belum juga melakukan hal itu?" tanya Romi kepada Melinda.


Melinda menghentikan langkahnya demi mendengarkan perkataan dari Romi tentang rencana Alex yang akan melamarnya.


" Apa kau bilang?" tanya Melinda begitu kaget dan excited dengan berita rencana lamaran sang kekasih yang diceritakan oleh Romi.


Romi tersenyum melihat tingkah saudaranya yang begitu lucu dan juga konyol. Romi paling mengetahui bagaimana cara untuk membuat Melinda berpaling kepadanya.


Pembicaraan tentang Alex selalu berhasil membuat Melinda menatap matanya. Romi tahu bagaimana Melinda sangat mencintai Alex. Oleh karena itu Romi selalu saja menggunakan percakapan tentang Alex untuk mengundang pembicaraan bersama dengan Melinda, sang kakak tirinya yang jutek dan judes sekali padanya.


" Ayo kita makan malam dulu sambil aku menceritakan semua yang kami bicarakan pada minggu lalu!" ucap Romi sambil menggenggam telapak tangan Melinda dengan erat yang tidak bisa berkutik dengan tembakan dari Romi.


Melinda sebenarnya mau protes. Tetapi dia tidak enak melihat semua orang yang sekarang memperhatikan mereka.


" Baiklah untuk kali ini aku mengizinkanmu untuk memegang tanganku Awas saja kalau yang kamu ceritakan itu adalah kebohongan!" ancam Melinda pada adik dirinya yang jahil dan usil luar biasa


Romi walaupun pewaris satu-satunya dari keluarga Kusuma Tetapi dia selalu bersikap santai dan tidak terlalu mengagungkan statusnya itu di hadapan siapapun.


" Tenang saja kak kakak pasti akan merasa senang mendengarkan apa yang aku katakan padamu!" ucap Romi dengan senyum tengilnya yang benar-benar sukses membuat Melinda menjadi semakin kesal.


Apalagi saat mereka sudah sampai di lobby perusahaan kedua orang tuanya dengan mata semua karyawan yang tertuju kepada mereka berdua yang tampak begitu mengganggu bagu Melinda yang selalu sensitif dengan tatapan mereka.


Padahal para karyawan itu hanya merasa takjub dengan ketampanan Romi dan kecantikan Melinda.


Mereka semua merasa senang dengan keakuran Romi dan Melinda. Walaupun mereka dikenal sebagai saudara tiri.


Bahkan ayahnya Romi, Wijaya Kusuma sangat bangga kalau sudah melihat mereka berdua akrab seperti itu.


Tidak banyak saudara tiri yang bisa akur seperti mereka berdua di hadapan publik. Kebanyakan pasti selalu gontok-gontokan mengenai status maupun hak dalam keluarga yang pasti berbeda satu sama lain.


Seandainya Wijaya melihat Melinda dan Romi ketika di dalam ruangan yang sudah seperti tikus dan kucing yang selalu saling menggigit satu sama lain. Pasti semua kebanggaan dan kebahagiaan itu sirna seketika.


Romi yang sangat pandai mengatur ritme perasaan Melinda yang selalu berhasil menciptakan mereka berdua sebagai saudara yang akur dan harmonis di depan publik.


Walaupun Melinda selalu berusaha untuk menghindari hubungan semacam itu tetapi tetap saja dia tidak bisa untuk melawan Aura kekuasaan yang dimiliki oleh Romi yang begitu kuat dan melekat di tubuhnya.


Romi sejak kecil sudah dididik oleh Wijaya untuk menjadi pewaris keluarga besarnya. Tidak heran kalau pemuda itu menjadi sosok yang begitu disegani dan dihormati oleh karyawan di perusahaan ayahnya yang besar.