
Rossa dan Andini tersenyum melihat ibu dan anak itu sekarang sudah mulai akur lagi dan mau saling memaafkan satu sama lain.
" Syukurlah kalau sekarang mereka sudah bisa saling memaafkan dan saling menerima keberadaan satu dengan yang lainnya." Rosa bermonolog dengan dirinya sendiri.
Andini yang sejak tadi hanya diam saja dan menjadi pendengar setia juga merasakan kebahagiaan yang sama seperti Rossa.
' Syukurlah ya Allah karena Engkau sudah membukakan pintu hati ibunya Mas Adrian.' bathin Andini dengan perasaan begitu gembira.
Setelah pelukan penuh kebahagiaan dan rasa haru di antara mereka bertiga, Silvia kemudian meminta kepada kedua putranya untuk duduk di sampingnya.
" Apa yang akan kalian lakukan, kalau mama tidak merestui pernikahan kalian berempat?" tanya Silvia menatap kepada Rosa dan Andini satu persatu.
Steven terlihat hendak protes kepada ibunya tetapi Adrian langsung menggelengkan kepalanya untuk menghentikan sang adik mendebat ibu mereka.
" Aku akan berjuang untuk mendapatkan restumu. Percayalah kalau aku benar-benar mencintai putra Tante!" Rossa tersenyum dengan begitu percaya diri.
Rosa percaya bahwa ibunya Steven pasti akan merestui hubungan mereka.
Apalagi Rossa melihat ibunya Steven yang tadi begitu terkejut ketika mendengar dia menyebutkan nama Mandalika sebagai nama keluarganya.
Rossa sangat tahu kekuatan Mandalika group di dunia bisnis. Oleh karena itu dia begitu percaya diri dengan Restu yang akan diberikan oleh Silvia kepadanya.
" Lalu, bagaimana denganmu? Aku lihat dari tadi kau hanya tertunduk saja dan tidak mengatakan apapun." Silvia menatap tajam kepada Andini yang sekarang begitu terkejut mendengar perkataan dari Silvia yang saat ini sedang berbicara dengannya.
Adrian tersenyum kepada Andini dan menganggukan kepala kepada kekasihnya untuk memberikan semangat dan motivasi kepada Andini.
" Perkenalkan namaku Andini. Aku adalah kekasih dari Adrian." Andini kemudian duduk kembali setelah mengatakan itu kepada Silvia.
" Di mana kedua orang tuamu?" tanya Silvia dengan tatapan tajam menusuk dan mengintimidasi siapapun yang ada di hadapannya saat ini.
Hilang sudah Silvia yang tadi begitu lembut ketika berbicara dengan kedua anaknya setelah mereka saling memaafkan.
Saat ini tersisa Silvia yang sedang berhadapan dengan calon menantunya yang kelak akan mendampingi putranya dalam menghadapi hari-hari mereka di masa yang akan datang.
Bagaimanapun juga Silvia tidak mau kalau sampai Putranya mendapatkan pasangan yang salah yang akan membuat hidup mereka tidak bahagia.
" Aku adalah anak yatim piatu yang sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuaku. Sekarang Aku hanya tinggal bersama dua saudaraku yang lainnya yang masih duduk di bangku sekolah SD dan juga SMP." Andini berusaha sebaik mungkin untuk menjabarkan tentang dirinya dan juga identitasnya kepada calon ibu mertuanya.
Silvia menatap kepada Adrian yang sejak tadi berusaha untuk memberikan semangat kepada Andini yang begitu terlihat insecure dan merasa rendah diri dihadapan ibunya.
" Kelihatannya Kau bukanlah dari keluarga berada seperti Rosa. Bagaimana caranya kau bisa berkenalan dengan Putraku?" tanya Silvia ya begitu penasaran dengan kisah cinta putranya yang selama ini sangat sulit untuk ditaklukan oleh siapapun.
Andini kemudian menceritakan semuanya kepada Silvia tentang dirinya yang bekerja sebagai suster yang merawat Adrian ketika dia koma selama beberapa bulan di rumah sakit.
" Lancang!! Bagaimana mungkin seorang suster berani sekali mendekati Putraku?" Silvia menatap tajam kepada Andini dan juga Adrian.
Adrian langsung mendekati Andini yang tampak begitu ketakutan melihat wajah ibunya yang sekarang sedang melotot padanya. Adrian tidak mau kalau sampai Andini berubah pikiran untuk menikah dengannya hanya gara-gara ibunya yang saat ini sedang mengamuk dan menghina Andini.
" Adrian Bagaimana mungkin kamu melakukan ini kepada Mama? Begitu banyak wanita kaya raya yang mendekatimu dan ingin menjadi istrimu. Semuanya kau tolak dan sekarang kau malah membawa seorang suster untuk menjadi istrimu ke hadapan mama? Apa kau sedang bercanda dengan hidupmu sendiri?" tanya Silvia yang kembali emosi dengan kelakuan Adrian yang sepertinya tidak pernah memandang kekayaan di dalam hidupnya.
Silvia paling tahu seperti apa karakter Adrian. Putra sulungnya yang selama ini selalu dia banggakan sebagai anak yang terbaik dan selalu menurut kepadanya.
" Mama! Tidak semua hal harus dipandang dengan harta dan tidak semua orang harus menuruti apapun yang Mama inginkan. Ingatlah kesombongan itu adalah penyakitnya setan dan tidak akan pernah membuat Mama menjadi siapapun!" Adrian menggenggam telapak tangan Andini yang kelihatan sedang menangis setelah melihat kemarahan Silvia kepadanya.
" Jangan pernah melihat masa lalu seseorang karena orang yang dulu memusuhi agama Allah sekarang telah menjadi pedangnya Allah. Jangan pernah memandang seseorang dari kekayaan karena sepatu milik Firaun sekarang berada di neraka sementara sandal jepit milik Bilal suaranya sudah terdengar sampai ke surga!" ucap Adrian berusaha untuk menasehati ibunya yang benar-benar keras kepala dan sangat sulit untuk di bujuk dan di yakinkan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Adrian sontak Silvia lemas tubuhnya. Seakan dirinya kembali mengingat tentang dirinya sendiri.
Silvia mengingat tentang kehidupannya di masa lalu di mana ketika suaminya memungut dirinya di club malam dan menjadikan dirinya sebagai Nyonya Prayoga.
" Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada mama? Apakah kau sengaja ingin menyakiti hati mamamu?" terlihat Silvia yang mulai emosi lagi kepada Adrian.
Adrian mendekati ibunya dan berusaha untuk menenangkannya kembali.
" Mah! Adrian mohon dengan sangat. Tolong hentikanlah semua ini. Kami datang kemari dengan harapan Mamah akan Merestui Pernikahan kami. Mah! kami berdoa saling mencintai dan Kami tidak akan pernah mau berpisah lagi!" Adrian kemudian menggenggam telapak tangan Andini dan berniat untuk meninggalkan kediaman Prayoga.
Bagaimanapun juga ada yang tidak mau kalau sampai mental Andini terjatuh karena mendengar semua hinaan ibunya.
" Mama tahu bukan? Betapa sulitnya Adrian untuk menemukan seorang wanita yang bisa menaklukkan hatiku untuk membuatku yakin dan melangkah menuju jenjang pernikahan. Apakah mama benar-benar tidak ingin aku berbahagia dengan istri dan juga anak-anakku di masa depan?" tanya Adrian sebelum dia meninggalkan kediaman Prayoga.
' Baiklah wanita itu tidak terlalu buruk lagi pula sekarang ada yang sudah 35 tahun. Aku tidak mau kalau sampai Putraku menjadi Bujang Lapuk karena tidak juga mau menikah. Tidak ada salahnya aku mencoba untuk menyetujui pernikahan mereka. Aku akan lihat sepenting apakah wanita yang sudah membuat Putraku jatuh cinta kepadanya!' bathin Silvia ketika dia melihat Adrian dan Andini yang sudah melangkahkan kakinya dan bersiap untuk meninggalkan kediaman Prayoga Group.
Steven dan Rossa sejak tadi saling menatap satu sama lain dan sudah bangkit juga dari dulu mereka bersiap untuk menyusul Adrian dan Andini.
" Tunggu! Kenapa kalian berdua anak muda begitu cepat sekali emosi? Baiklah Adrian Mama tidak masalah kalau kau ingin menikahi wanita itu sebagai istrimu. Tetapi dia harus memastikan dirinya untuk bisa memberikan keturunan untukmu. Karena bagaimanapun juga kau adalah anak sulung dari keluarga ini. Ketika Mama meninggal kaulah yang akan memimpin Prayoga group yang ada di Bandung yang sekarang mama pegang kepemimpinannya." Adrian benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan ibunya.
" Apakah mama serius?" Adrian mencoba untuk mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh ibunya tadi.
Adrian hanya takut kalau dia salah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya tadi.
" Apakah mama harus berteriak sehingga kau bisa mendengar apa yang Mama katakan padamu?" tanya Silvia sambil melotot kepada putranya yang auto berlari dan memeluknya.
Andini merasa bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya.
Untuk masalah keturunan Andini hanya menyerahkan kepada Allah yang memiliki kuasa atas segalanya di dalam kehidupan ini untuk kehidupan setiap makhluk yang ada di atas muka bumi.
" Tetapi kalau istrimu tidak bisa memberikan keturunan kau harus bersiap untuk menikahi wanita yang akan Mama sediakan untuk melahirkan anakmu. Istrimu harus mendatangi surat perjanjian di atas materai untuk meyakinkan Mama. Bahwa kelak dia tidak akan mangkir dari perjanjian itu." Adrian dan Andini terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Silvia.
Begitu pula dengan Steven dan Rossa yang merasa gemas mendengar perkataan Silvia yang seperti merendahkan Andini di hadapan Adrian.
Tubuh Andini gemetar mendengar apa dikatakan Silvia. Andini merasa bahwa dirinya tidak dihargai sebagai seorang wanita oleh calon ibu mertuanya.
" Adrian Lebih baik aku mundur dari pernikahan ini kalau Mamamu mau minta hal yang demikian. kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan dengan pernikahan kita berdua. Sejujurnya aku pun merasa ragu dengan kemampuan diriku sendiri. Aku takut kalau suatu saat kita tidak diberikan rezeki untuk memberikan keturunan seperti keinginan ibumu. Karena sesungguhnya semua itu adalah keputusan dari Allah. Dzat yang menguasai seluruh alam semesta dan juga seluruh makhluk yang ada di atas dunia ini!" dengan susah payah Andini mengucapkan semua kata-kata itu dengan suara yang bergetar dan juga air mata yang mulai menetes di pipinya.
Adrian menggenggam telapak tangan Andini dan berusaha untuk menenangkan kekasihnya yang saat ini sepertinya sedang merasa tertekan mendengar semua perkataan ibunya yang sangat keterlaluan.
" Kami berdua akan menikah tanpa surat perjanjian yang diinginkan oleh Mama. Adrian tidak peduli Apakah Mama akan Merestui Pernikahan kami atau tidak. Mama jangan pernah berpikir untuk menghancurkan pernikahan kami! Karena Adrian sangat mencinta Andini. Adrian siap menanggung apapun resikonya di kemudian hari." Andri nih benar-benar terharu melihat perjuangan Adrian yang saat ini sedang berjuang untuk mereka berdoa bisa menapaki kehidupan baru di dalam pernikahan.
" Kamu keras kepala!" Silvia terlihat geram dengan semua yang dikatakan oleh putranya.
" Mamah sebaiknya tidak usah mempersulit mereka berdua kalau mama menginginkan Kakakku untuk menikah!" ucap Steven membujuk ibunya.