
" Ada telepon dari dokter. Sebentar aku angkat dulu." Steven kemudian meninggalkan mereka untuk menjawab telepon tersebut.
Tidak lama kemudian Steven mendatangi mereka dengan senyum yang begitu bahagia.
" Syukurlah Farel dan Siska sekarang sudah siuman. Ayo kita kembali ke rumah sakit." mereka semua benar-benar bahagia atas kabar tersebut.
Akan tetapi Adrian benar-benar khawatir tentang mental Siska yang pasti akan terganggu. Setelah mengetahui anak yang ada di dalam kandungannya sudah gugur.
Adrian sangat tahu kalau Siska sangat menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya. Mereka bahkan sudah membeli dan menyiapkan semua perlengkapan untuk bayi perempuan mereka.
Akan tetapi sekarang bayi itu sudah kembali kepada penciptanya.
" Aku berharap Siska bisa kuat menerima kenyataan ini. Sungguh aku benar-benar tidak sanggup melihat kesedihan Siska." Adrian wajahnya sampai pucat karena terlalu khawatir dengan Siska dan Farel setelah mengetahui anak mereka yang telah gugur.
" Aku yakin Siska pasti bisa menerima kenyataan itu. Sekarang yang penting kita semua harus kuat agar mereka juga bisa menanggubg penderitaan ini dengan lebih baik." Mereka pun kemudian kembali ke rumah sakit untuk menemui tim dokter yang saat ini masih berada di dalam ruangan Siska dan Farel.
" Bagaimana keadaan mereka dokter?" tanya Adrian yang merasa khawatir.
Dokter kemudian menjelaskan semua kondisi mereka berdua sampai keluarganya mengerti.
" Tenanglah semuanya baik-baik saja dan dalam kondisi yang stabil akan tetapi kami masih harus mengobservasi kondisi mereka lebih lanjut karena kami takut kalau ada efek samping dari kecelakaan tersebut." setelah mengatakan itu dokter pun kemudian meninggalkan mereka untuk kembali menemui pasien-pasien lainnya.
Adrian dan Seven mendekati Siska dan Farel yang terlihat masih bingung dan tidak mengerti dengan kondisi mereka sendiri.
" Siska Bagaimana keadaanmu?" Adrian benar-benar mengkhawatirkan keponakannya.
" Tubuhku semuanya terasa sakit paman. Bagaimana dengan sopir kami?" tanya Siska dengan suara yang begitu pelan dan susah payah dia mengucapkannya.
" Sopir kalian sudah meninggal satu hari setelah kecelakaan itu." Siska merasa sedih mendengar kabar itu.
" Semua ini kesalahan kami yang tidak sabar untuk segera pulang sehingga memaksa sopir untuk mengebut. Aku bersalah kepada keluarganya di kampung." Siska sedih sekali dengan tragedi yang sudah menimpa keluarganya.
Adrian menasehati kepada Siska agar tidak terlalu memikirkan masalah itu. Bagaimana pun kesehatannya sekarang sangat penting.
" Farel Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Farel yang meneteskan air mata seperti Siska yang amat bersedih dengan berita itu.
" Paman Kenapa aku tidak merasakan anakku di dalam kandunganku?" tanya Siska yang terlihat begitu panik saat menyadari. Kalau tidak ada pergerakan di dalam perutnya.
Adrian dan Stevan hanya bisa saling menatap satu sama lain.
" Sabarlah Siska semua ini adalah ujian dari Allah." Andini berusaha untuk menghibur Siska yang pasti akan merasa sangat berat setelah mengetahui kenyataan anaknya sekarang sudah meninggal di dalam kandungan akibat kecelakaan itu.
Siska menangis sejadinya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Andini. Adrian sebenarnya belum berniat untuk memberitahukan itu kepada Siska mengingat kondisinya yang masih belum stabil.
" Semoga Allah menempatkannya di tempat yang terbaik dan kelak akan menyelamatkan kita di hari kiamat di saat kita hendak tergelincir ke neraka. Sayang ikhlaskanlah anak kita. Karena sesungguhnya Tuhan adalah pemilik segalanya dan kita sebagai makhlukNya hanya diberikan titipan saja." Farel berusaha untuk menghibur istrinya yang sampai saat ini masih menangis tergugu.
Steven kemudian memanggil dokter. Karena sungguh sangat berbahaya untuk kondisi Siska kalau dia terus menangis seperti itu.
" Sabarlah Siska. Paman mohon kau seperti ini hanya akan memperburuk kondisimu." ucap Adrian yang terus menggenggam telapak tangan Siska yang masih gemetar tubuhnya karena tangis pilunya.
Hati ibu manakah yang tidak akan sedih mendengar kabar anaknya yang belum pernah melihat dunia sekarang sudah harus kembali ke penciptanya.
" Sabarlah Siska. Aku mohon!" ucap Farel untuk terus menyebarkan hati istrinya.
Dokter pun kemudian datang dan memberikan obat tidur kepada Siska agar bisa tertidur dan beristirahat. Karena sesungguhnya kondisi seperti itu sangat berbahaya bagi Siska.
Apalagi Siska yang baru saja mengalami kecelakaan dan juga keguguran. Mentalnya saat ini sedang jatuh sampai ke dasar. Mereka semua harus saling membantu untuk menguatkan Siska dan Farel yang baru saja kecelakaan.
Setelah Siska tertidur Farel pun kemudian memanggil Adrian.
" Tanyakanlah kepada pihak rumah sakit di mana sopir kami dimakamkan dan beri kabar kepada pihak keluarganya tentang kejadian ini. Aku khawatir kalau keluarganya tidak mengetahui kalau suami dan ayah mereka sudah meninggal. Berikanlah santunan yang besar kepada mereka untuk bisa dijadikan modal usaha bagi keluarganya. Oh ya, Paman. Pastikan Perusahaan Handoyo memberikan beasiswa untuk anak-anaknya sampai kuliah selesai." Adrian langsung mengangguk menyanggupi apa yang diminta oleh Farel.
Adrian kemudian langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk menanyakan tentang makam sopir pribadi Farel yang meninggal pada hari kecelakaan.
" Kami tidak tahu di mana persisnya makam Sopir itu. Karena semua yang mengurus pemakaman dia adalah penolong mereka. Nanti Saya akan meminta kepada pihak administrasi untuk menghubungi penolong itu dan meminta alamat makamnya," Adrian berterima kasih kepada dokter karena sudah mau membantu tugasnya.
" Dokter siapakah yang sudah menolong keponakanku? Aku benar-benar ingin berterima kasih kepadanya yang sudah menyelamatkan dan membawa mereka semua ke rumah sakit." mendengar itu, dokter menggelengkan kepalanya. Karena dia sudah mendapatkan pesan dari Amora untuk merahasiakan identitasnya kepada pihak keluarga pasien yang sudah dia tolong.
" Maafkan saya tuan Adrian tetapi penolong itu sudah mewanti-wanti kepada saya untuk tidak membocorkan identitasnya. Dia menolong hanya karena kasihan saja kepada mereka yang tanpa sengaja mereka temukan di jalan saat mereka dalam perjalanan. Sekarang mereka sudah kembali ke luar negeri untuk pulang ke rumah mereka!" Adrian merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh dokter yang merahasiakan identitas mereka.
" Apakah Dokter sudah mendapatkan alamat pemakaman sopir kami dari penolong keponakanku?" tanya Adrian saat menatap dokter yang kemudian memberikan sebuah kertas yang berisi alamat makam sopir pribadinya Farel.
Setelah mendapatkan alamat tersebut Adrian pun kemudian menghubungi sekretarisnya untuk mengurus segala hal berkaitan tentang keluarga almarhum.
" Tolong semuanya pastikan mereka mendapatkan tunjangan yang sudah aku siapkan untuk keluarganya. Kau siapkan juga beasiswa untuk anak-anaknya agar bisa kuliah tanpa harus memikirkan biaya lagi hingga kuliah." Perintah Adrian kepada sekretarisnya yang segera melaksanakan perintah tersebut tanpa banyak bertanya lagi.
Setelah semuanya beres Adrian pun kemudian menemui Siska dan Farel.
" Bagaimana Kak?" tanya Steven kepada Adrian yang mengangguk lalu mendekati Farel yang masih terjaga.
" Paman sudah mengatur semuanya sesuai dengan instruksimu. Sekarang kau beristirahatlah agar kita bisa segera pulang. Bagaimanapun juga kita tetap harus mendatangi pihak keluarga untuk berbela sungkawa kepada mereka." Adrian menepuk bahu Farah yang masih berusaha untuk tegar menghadapi semua itu.
" Ya Paman. Setelah kami keluar dari rumah sakit kami pasti akan langsung menghubungi pihak keluarga. Tolong sampaikan rasa belasungkawa dan juga Maaf kami kepada mereka!" Farel terlihat begitu menyesali kejadian buruk yang sudah menimpa mereka bertiga.