
Adrian yang kondisinya semakin membaik. Akhirnya sudah mulai bisa menggerakkan jari jemarinya tangan dan kakinya. Hal itu benar-benar sangat membuat gembira Steven, Siska dan Farel.
" Terima kasih Andini atas semua usahamu selama ini, kami benar-benar berterima kasih sekali!" ucap Farel saat melihat Adrian yang sudah mulai bisa membukakan matanya. Siuman juga akhirnya.
" Sama-sama Pak. Semua ini adalah kerja keras kita bersama. Pak Adrian yang juga mau bekerja sama dengan kita sehingga memudahkan pekerjaan saya." Andini menundukkan kepalanya.
Andini merasa malu karena dia pernah berusaha untuk menghancurkan perusahaan Prayoga Group milik keluarga Prayoga yang sekarang memberikan pekerjaan yang begitu menyenangkan untuknya.
Apalagi selama dia bekerja bersama mereka Steven Siska maupun Farel tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.
Oleh karena itu Andini langsung memblokir nomor Rosa Mandalika. Walaupun dia berkali-kali berusaha untuk menghubungi dengan nomor yang berbeda.
" Pamanku memang membutuhkan seorang suster sepertimu yang berdedikasi sangat luar biasa," Siska yang baru saja keluar dari rumah sakit, merasa sangat bahagia sekali melihat pamannya sekarang sudah bisa membuka matanya. Walaupun belum bisa mengatakan apa-apa.
Saat ini Adrian masih menggunakan bahasa isyarat dengan mata dan juga telapak tangannya. Karena kondisinya belum stabil. Adrian belum bisa bicara secara normal.
" Pamanku mengucapkan terima kasih padamu," Siska melihat Adrian yang tersenyum kepada mereka semua.
Andini merasa pekerjaannya diapresiasi dengan baik oleh pihak keluarga pasien. Sehingga dia merasa dihargai dan merasa bahwa kerja kerasnya tidaklah sia-sia.
Andini sudah banyak pengalaman bekerja bersama orang-orang kaya lainnya. Tapi mereka rata-rata selalu menghina dan tidak menghargai pekerjaan seorang suster seperti yang dia lakukan.
Oleh karena itu Andini benar-benar sangat senang melihat apresiasi yang diberikan oleh keluarga Prayoga group.
' Tenanglah aku pasti akan membahaskan dendam kalian kepada Mandalika Group yang selalu merencanakan hal-hal buruk pada perusahaan kalian!' bathin Andini.
Andini bisa mengetahui itu semua karena dialah yang telah mencuri semua file-file perusahaan milik Mandalika group. banyak hal-hal kotor yang dilakukan oleh perusahaan itu yang membuat Andini merasa geram dan tidak menyesal sama sekali sudah menghancurkannya.
Apalagi wanita seperti Rosa Mandalika yang bahkan mengganggu Farel yang sudah beristri benar-benar menbenci type wanita seperti itu.
" Baiklah Nyonya dan Tuan. Saya akan minta izin dulu untuk pulang ke rumah saya. Karena selama beberapa minggu ini saya hanya fokus menguru Tuan Adrian dan belum pulang ke rumah saya sama sekali. Di rumah saya, saya meninggalkan dua orang adik yang masih kecil dan saya serahkan pengawasan mereka kepada pembantu. Setidaknya saya ingin mengecek mereka dulu. Sebentar saja. Setelah saya memastikan bahwa mereka aman Saya akan kembali!" Andini meminta izin kepada mereka untuk bisa diperbolehkan pulang ke rumahnya.
Siska melirik ke arah Steven dan Seven mengerti arti dari tatapan keponakannya.
" Mari saya antarkan kau ke rumahmu. Supaya mudah untuk kau kembali lagi," Andini cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Steven.
Hal itu benar-benar di luar ekspektasinya.
" Sudahlah tidak apa-apa. Ayo diantarkan oleh Paman tampanku. Lagi pula kau sudah beberapa minggu ini hanya mengurusi paman Adrian kami. Anggaplah ini sebagai rasa terima kasih kami kepadamu." Siska kemudian mendorong Steven dan Andini untuk keluar dari ruangan Adrian.
Andini yang merasa tidak enak akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Siska.
Steven cukup terperanjat melihat rumah kontrakan biasa saja yang ditempati oleh Andini dan keluarganya.
" Ini benar-benar tempat tinggalmu?" tanya Steven yang benar-benar tidak percaya bahwa ternyata dibalik sifat ceria Andini ternyata dia menyimpan kesedihan yang hanya dia sendiri yang tahu.
Andini kemudian mempersilahkan Steven untuk masuk ke dalam rumahnya.
Adik Andini langsung berlari menyambut kakaknya ketika melihat Andini yang pulang.
" Ih Kakak pulang!! Ya ampun senangnya!" dua bocah itu pun langsung berlari ke pelukan Andini dengan penuh perasaan Haru dan gembira.
Stevan bisa melihat kebahagiaan di mata mereka yang sudah 2 Minggu lamanya ditinggalkan untuk menjaga kakaknya.
" Ya ampun Kakak kami rindu sekali denganmu. Kenapa kau baru kembali Kak?? Biasanya satu minggu sekali kau selalu pulang kalau dapat tugas spesial seperti itu," protes adik bungsu Andini kepada kakaknya.
Steven kesulitan menelan salivanya sendiri mendengarkan pertanyaan dari adik bungsunya Andini.
Steven inget bahwa dirinyalah yang selalu membuat Andini selalu stand by di rumah sakit. Karena dia begitu banyak pekerjaan di kantor. Sehingga dia tidak bisa menjaga kakaknya dengan baik. Bahkan weekend pun Andini masih bekerja.
Hal itu dikarenakan Steven yang selalu melakukan meeting ke luar kota setiap kali weekend bersama Siska.
" Begini saja Andini. Supaya kau juga merasa tenang meninggalkan adik-adikmu. Bagaimana kalau mereka tinggal saja di mension milik keluargaku?? Di sana ada tiga orang pembantuku yang bisa membantu untuk menjaga adikmu dan di sana juga lingkungannya jauh lebih sehat dan aman. Kemungkinan kalau misalkan Kakakku bisa sehat lebih cepat kita nanti bisa berkumpul di mansion itu dan kau bisa bekerja dengan lebih baik karena tidak perlu memikirkan tentang adikmu lagi." ucap Steven sambil menatap Andini.
" Tidak usah Pak. Saya tidak mau merepotkan Bapak. Adik saya adalah tanggung jawab saya. Sampai sejauh ini kami di sini baik-baik saja," Andini benar-benar tidak mau berhutang Budi kepada siapapun. Oleh karena itu dia menolak tawaran dari Steven.
Andini merasa khawatir kalau suatu saat nanti Steven ataupun Siska mengetahui bahwa dirinya pernah bekerja sama dengan Rosa Mandalika untuk menghancurkan Prayoga Group. Dia pasti tidak akan bisa menghadapi mereka lagi.
" Ayolah Andini! Aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Mansion milik keluarga Prayoga sekarang memang kosong. Hanya ditempati oleh pembantu dan sopir kami yang menjaga mansion itu. Kau lihat sendiri bukan?? Kakakku sekarang tinggal rumah sakit. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kantor dan juga apartemen. Sementara Siska keponakanku sekarang tinggal di rumah suaminya di mansion keluarga Handoyo." Andini benar-benar pening memikirkan tentang hal tersebut.
" Ayolah Kak. Biarkan kami untuk tinggal di sana walaupun sementara waktu sampai kau menyelesaikan tugas Kakak!! Bukankah begitu menyenangkan untuk mencicipi tinggal di rumahnya orang kaya?" tanya adiknya Andini yang terlihat bahagia sekali.
Andini hanya bisa menggeplak kepala adiknya yang asal bicara saja membuat dia malu di hadapan Steven.
" Tidak usah Pak Terima kasih banyak! Saya benar-benar tidak mau merepotkan keluarga bapak!" Steven benar-benar kehabisan akal untuk bisa membujuk Andini agar membiarkan adik-adiknya tinggal di mansion milik Prayoga Group.
Akhirnya Steven pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi, selain hanya menganggukkan kepala. Karena dia pun tidak mau menyinggung perasaan Andini dengan memaksakan kehendaknya terhadap gadis itu.
Setelah memastikan semua kebutuhan adik-adiknya terpenuhi dan dia juga telah memberikan pesan-pesan kepada pembantunya. Andini dan Steven pun kembali lagi ke rumah sakit untuk bertugas kembali menjaga Adrian yang sampai saat ini masih belum diperbolehkan pulang oleh dokter dikarenakan kondisinya yang masih membutuhkan alat-alat penunjang kehidupan.