Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
28. Aneh


" Ah sebenarnya mau apa wanita itu datang menemuiku?" monolog Siska ketika dia sudah menjauh dari Amora.


Tak lama kemudian telepon Siska kembali berbunyi, " Ya halo paman, ada apa?" tanya Siska lesu.


" Kamu tadi kenapa? Jawab telpon pakai sayang, sayang segala!" protes Steven kepada Siska. Siska hanya meringis mendengarkan teguran dari pamannya.


" Tidak apa-apa Paman. Tadi kebetulan ada mantan pacarnya Farel di dekat Siska, dia mengajak Siska ketemu. Siska males Paman ketemuan sama dia. Takutnya dia nanti mengatakan hal-hal yang malah menyakiti hati Siska. Makanya tadi Siska akting aja gitu di hadapannya pura-pura lagi dapat telepon dari Farel!" ucap Siska sambil tersenyum.


" Oh jadi kayak gitu ceritanya Paman kira kamu kesambet manggil Paman sayang-sayang segala! Hahaha! Paman sampai GR loh!" ucap Steven tertawa.


" Ih Paman ada-ada aja sih! Pakai gr gr segala, orang sama paman sendiri kan gak apa-apa panggil sayang." ucap Siska sambil cemberut.


Terdengar suara tawa Steven di seberang sana yang membuat Siska menjadi bad mood.


" Ada apa paman menelponku?" tanya Siska penasaran. Soalnya selama ini pamannya itu kalau menghubungi dia, pasti kalau ada keperluan saja.


" Ini kakekmu menyuruh kamu untuk datang ke Bandung bersama dengan Farel. Karena kakek ingin diskusikan tentang rencana pertunangan kalian." Steven menyampaikan pesan dari ayahnya untuk Siska.


Siska tampak terdiam ketika dia mendengarkan pesan tersebut.


" Paman. Apakah kita harus melakukan pertunangan itu? Aku benar-benar ingin membatalkannya saja paman." ucap Siska terlihat lesu.


" Emangnya kenapa? Tiba-tiba kau ingin membatalkannya? Bukan kah kau sangat beruntung karena bertunangan dengan seorang Farel Handoyo? Di luar sana banyak loh gadis-gadis yang memimpikan untuk bersanding dengan Farel." ucap Steven sambil memperbaiki duduknya.


" Ya sudahlah Paman. Biarkan saja nanti Siska akan berdiskusi lagi dengan kakek. Nanti Siska akan datang ke Bandung sendiri tidak perlu bersama dengan Farel," ucap Siska kemudian menutup panggilan telepon tersebut.


Tiba-tiba saja Farel sudah berada di ruangan itu dan mengejutkan Siska.


" Kau tadi Bicara apa?" tanya Farel langsung menghujam Siska dengan tatapan elangnya.


Siska kesulitan dalam sendiri karena melihat Farel yang sekarang berada di hadapannya sambil melotot tajam ke arahnya.


" Tidak, tidak apa-apa ko! Mau apa kau datang ke sini?" tanya Siska dengan gugup. Karena dia khawatir kalau sampai Farel Handoyo mendengarkan semua pembicaraannya bersama dengan Steven.


Farel duduk di hadapan Siska matanya terus menelisik gadis itu membuat Siska menjadi tidak nyaman dan salah tingkah dibuatnya.


" Ada apa kau datang kemari? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Siska mulai gugup.


" Ayo cepat ngaku tadi kau bicara apa dengan pamanmu? Sebelum nanti aku bertanya sendiri kepada Stevan!" Ucap Farel sampai menatap tajam kepada Siska.


Farel kemudian mengejar Siska karena dia benar-benar penasaran dengan isi percakapan Siska dan Steven yang tadi samar-samar dia dengarkan bicara mengenai pertunangan mereka berdua.


" Ayo katakan apa isi pembicaraanmu dengan pamanmu?" Ucap Farel menarik tangan Siska.


" Aku kan tadi sudah jawab. Bukan apa-apa kok!" ucap Siska berusaha untuk menghindari Farel.


Tetapi bukanlah hal yang mudah untuk tidak berurusan dengan seorang Farel Handoyo.


" Tku tadi mendengar kau ingin membatalkan rencana pertunangan kita. Apakah itu betul?" tanya Farel kepada Siska.


" Ya gimana lagi kemarin itu kamu sampai hancur sehancurnya gara-gara ketemu lagi dengan mantan pacarmu. Apa kau lupa kalau kemarin kau sampai mabok?" tanya Siska serak.


" Aku waktu itu cuma kaget saja. Karena tiba-tiba saja dia datang. Tapi sekarang aku sudah bisa mengatasi perasaan itu. Kamu tidak usah khawatir. Aku sudah berusaha untuk melupakan perempuan itu. Sekarang dalam pikiranku hanya ada kamu. Kita bisa melanjutkan pertunangan kita tanpa perlu diganggu oleh apapun!" Ucap Farel dengan penuh keyakinan.


Siska kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


" Aku tidak yakin kalau kau benar-benar bisa melupakan mantan kekasihmu. Apalagi sekarang wanita itu sedang berjuang untuk mendapatkanmu kembali. Farel, yang aku khawatirkan kalau nanti di tengah jalan ternyata hatimu goyah dan kau lebih memilih dia, kemudian kau meninggalkan aku, setelah tujuanmu tercapai!" ucap Siska menatap tajam kepada Farel.


" Tujuan apa yang ingin aku capai?" tanya Farel tampak bingung.


" Tujuan untuk menguasai perusahaan Prayoga. Bukankah selama ini kau selalu mengincar perusahaan ayahku? Bahkan kau telah mengerahkan banyak sumber daya hanya untuk membuat kondisi perusahaan Ayahku pada titik saat ini. Sehingga membuat Ayahku sampai frustasi dan akhirnya harus meminta tolong kepada kakekku untuk menyelamatkannya. Pada hari itu kalau Ayah tidak pergi ke Bandung tidak akan mungkin kecelakaan itu terjadi. Kaulah orangnya yang sudah mendorong Ayahku pada posisi putus asa. Sekarang katakan padaku! Apakah aku bisa menikah dengan orang yang sudah menjadi penyebab dari meninggalnya kedua orang tuaku?" tanya Siska menatap tajam Farel yang terkejut mendengarkan ucapannya.


" Itu adalah aku di masa lalu yang memang secara membabi buta menginginkan untuk menguasai Prayoga Group. Aku akui! Aku telah melakukan banyak hal buruk untuk bisa mewujudkannya. Tapi Siska, setelah aku mengenalmu, aku sadar bahwa itu semua adalah kesalahan dan aku ingin memperbaiki itu. Tolong beri aku kesempatan satu kali saja untuk membuktikan bahwa aku pasti bisa menyelamatkan perusahaan ayahmu dan mengembalikannya kepadamu." ucap Farel sambil menggenggam kedua tangan Siska yang sekarang berada di dalam pangkuannya.


Siska menarik tangannya kemudian dia bangkit dari duduknya.


" Tolonglah aku mohon! Kau jangan seperti ini sayang. Bagaimanapun rencana pernikahan kita sudah dipersiapkan oleh dua keluarga. Akan sangat memalukan untuk keluarga kita kalau sampai pertunangan kita dibatalkan tanpa alasan. Ingatlah pertunangan kita tinggal satu minggu lagi kau jangan membuat masalah dengan membatalkannya!" ucap Farel sambil memeluk Siska dari belakang.


" Maafkan aku tapi aku tidak mau mengambil resiko untuk masa depanku sendiri. Bagaimana kalau ternyata kamu masih belum bisa melupakan mantan kekasihmu yang cantik jelita itu? Seorang model internasional. Dia jauh lebih baik daripada aku kan?" tanya Siska dengan suara yang gemetar.


Entah kenapa Siska merasa dirinya sangat kecil ketika berhadapan dengan Amora yang begitu sempurna sebagai seorang wanita.


Siska sangat ingat ketika kedua orang tuanya masih hidup mereka selalu mengeluhkan dirinya yang seorang gadis urakan dan tidak pernah memperhatikan penampilan dirinya.


" Kau adalah seorang bisnis man, seorang eksekutif. Akan sangat memalukan kalau kau memiliki seorang istri sepertiku! Seorang gadis urakan yang tidak bisa menjaga diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa memberikan kehormatan untukmu sebagai seorang suami?" ucap Siska merasa minder dengan dirinya sendiri ketika dia harus disandingkan dengan Farel Handoyo.