Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
Bab 245


Setelah surat perjanjian ditandatangani oleh Irdina, Steven kemudian mengantarkan Irdina sendiri ke Bandung untuk meyakinkan dirinya bahwa Irdina selamat sampai di rumah kedua orang tuanya.


" Aku berdoa untuk keselamatanmu dan juga kebahagiaanmu di masa depan Ingatlah bahwa kita mempunyai perjanjian dan kau tidak boleh melupakan itu. Segeralah menikah supaya anakku tidak terlalu lama menunggu calon istrinya." Steven memberikan pesan terakhirnya sebelum mereka berpisah kepada Irdina.


Irdina berdecak lidah mendengar apa yang dikatakan oleh Steven yang seakan-akan ingin sekali dirinya segera menikah.


" jangan kau kira aku tidak tahu akal bulusmu dengan meminta surat perjanjian seperti ini kakak yakin kau hanya ingin untuk membuatku menyerah membunuh istri dan calon anak kamu bukan?" tanya Irdina yang seakan bisa membaca jalan pikiran Steven.


Steven tertawa mendengar apa yang dikatakan Irdina yang memang 100% benar. " Aku hanya menginginkanmu untuk berjalan di jalan yang benar dan mulailah melakukan sesuatu hal yang positif yang jauh lebih berguna dan memberikan manfaat ibadah untukmu dengan menjari seorang istri dan juga seorang ibu. Daripada kamu menjadi seorang pembunuh yang hanya akan membuatmu masuk ke penjara seperti Indrana yang sudah tersesat karena merasa cemburunya yang tidak pada tempatnya." Irdina menundukkan kepala merasa sedih ketika diingatkan tentang Indana sang kakak tercinta yang sekarang harus mendekam di penjara setelah persidangan yang begitu alot.


Irdina sebenarnya ingin sekali berada di Jakarta akan tetapi Steven menasehati erdinah untuk tidak melakukan itu karena dia khawatir kalau Imran akan berbuat sesuatu yang menyakiti hatinya.


" Indrana pasti merasa marah karena dirinya ditangkap gara-gara ponsel kamu yang kami baca dan kami gunakan untuk mencari informasi tentang dirinya dan rekannya sehingga kami bisa menemukan keberadaannya dan David!" Irdina cukup terkejut mendengar pernyataan dari Steven.


" Dari mana kamu mengetahui tentang David?" tanya Irdina yang benar-benar merasa heran dengan akal boros yang dilakukan oleh keluarga Prayoga untuk bisa mengungkap pembunuhan Andini.


" Dari ponselmu kami menggunakan ponselmu untuk berkomunikasi dengan kakaknya sehingga dia akhirnya memberikan alamat dan juga nomor telepon David!" Irdina terus menggelengkan kepala.


Ferdina benar-benar tidak mengerti Bagaimana mungkin keluarga Prayoga yang begitu mentereng harus menggunakan cara yang begitu licik untuk bisa menemukan keberadaan Kakak dan orang yang diperintahkan untuk membunuh Andini.


" Sudahlah kau sebaiknya di sini saja. Kau tidak usah pergi kemana-mana. Keselamatanmu di sini jauh lebih aman bersama dengan kedua orang tuamu. Fokuslah untuk segera mencari calon suami setelah itu kamu undanglah kami sekeluarga untuk hadir di acara pernikahan kamu. Bagaimanapun aku harus memastikan bahwa Putraku akan memiliki calon istri yang sehat mental dan jiwa raganya!" Irdina merasa kesal setiap kali Steven membicarakan tentang itu.


Steven kemudian berpamitan kepada Erna Setelah dia masuk ke dalam rumahnya karena dia merasa tidak enak kepada rasa setelah pergi meninggalkan istrinya begitu lama.


Irdina yang merasa bahagia karena satu mobil dan satu pesawat dengan Steven ketika Steven mengantarkan dirinya ke Bandung. Kini Irdina harus menatap kepergian Steven dengan perasaan sendu.


Irdina sangat tahu bahwa Stevan adalah seorang laki-laki yang baik oleh karena itu dia bahkan sampai rela mengantarkan dirinya ke Bandung hanya untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri keselamatan Irdina.


Indrana kelihatan menangis sedih setelah Steven menghilang dari ujung jalan rumahnya. Karena Steven yang sudah pergi jauh meninggalkan Bandung dan telah kembali kepada istri tercintanya yang telah dia perjuangkan keselamatannya.


" Selamat tinggal Steven. Sungguh beruntung sekali wanita yang menjadi istrimu karena kau memberikan seluruh hidupmu untuk kebahagiaannya!" setetes boleh air mata jatuh di kelopak mata Irdina karena menyesali masa lalu yang telah membuat dirinya kehilangan laki-laki sebaik Steven sebagai calon suaminya.


Steven menghela nafas lega, ya lega sekali. Setidaknya satu masalah telah terangkat dari bahunya yang terasa begitu lelah dan berat dengan masalah yang berdatangan bertubi-tubi di dalam keluarga besar dan juga hidupnya.


Steven tahu, setelah dia kembali ke Jakarta akan menghadapi banyak masalah. Steven juga tahu kalau dirinya sampai ke rumah pasti akan kena semprot boleh Rossa yang merasa marah karena tindakan sembrononya yang membuat surat perjanjian konyol bersama Irdina.


" Ah, Steven!! Kau memang bodoh Steven! Tingkat kebodohan yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin Rossa mau menerima menantu dari anak mantan kekasihmu sendiri yang pernah berniat untuk membunuh dia. Ah!!! Steven, kau benar-benar sudah mengundang racun ke dalam hidupmu sendiri!" Steven terlihat begitu prestasi dengan apa yang dia lakukan bersama Irdina.


Begitu sampai di Jakarta Steven tampak begitu lesu karena dia memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menyampaikan kepada istrinya tentang surat perjanjian yang dia lakukan bersama dengan Irdina hanya untuk membuat wanita itu menurunkan niatnya untuk membunuh istrinya.


Rosa pasti merasa cemburu karena dirinya pergi menuju Bandung hanya untuk mengantarkan Irdina.


" Assalamualaikum!" Sapa Steven begitu dirinya sampai di dalam kediaman Prayoga yang terasa ramai karena Siska dan Farel juga sudah sampai di rumah itu. Terlihat Adrian juga sudah berada di ruang tamu keluarga Prayoga yang amat luas.


" Waalaikumsalam!" jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu menyambut kedatangan Steven.


Steven tersenyum kepada Rossa yang datang menyambutnya. Steven sungguh tidak berani untuk menatap mata istrinya yang seperti menusuk jantungnya dengan laser.


' Aiya!! Apakah istriku ini masih menyambutku Setelah dia mengetahui tentang Perjanjian konyol itu? Aduh gimana ini?? Kalau sampai Rossa tidak setuju dengan surat perjanjian itu, bagaimana aku harus memenuhi perjanjian dengan Irdina? Aduh!!! Mati aku!! Bagaimana mungkin seorang laki-laki sejati tidak memenuhi janjinya? Apalagi perjanjian yang ditandatangani di atas materai!' Steven terlihat begitu lemas dan memulai ketika duduk di sofa dan bergabung dengan seluruh keluarga besarnya yang terlihat sedang berdiskusi sesuatu hal yang penting.


" Kak, Ada apa ini kenapa kalian seperti sedang membicarakan sesuatu yang teramat penting?" tante Steven dengan raut wajah penasaran dan juga lelah yang luar biasa.


" Ini tadi ada surat kaleng yang datang ke kediaman kita. Meminta kepada kita untuk berhati-hati karena ada orang yang sedang berusaha untuk membunuh Farel dan Siska. Kakak jadi bingung sekali. Kenapa di luar sana begitu banyak yang membenci keluarga kita lalu saja mengincar nyawa dan keselamatan kita? Padahal selama ini kita sudah berusaha untuk menjalani kehidupan yang baik." Adrian terlihat begitu sedih memikirkan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup keluarga mereka.


Farel dan Siska yang sekarang dijadikan target pembunuhan terlihat berusaha untuk tenang.


Siska saat ini baru pulang dari rumah sakit wajahnya pun masih terlihat pucat karena memang belum terlalu stabil dalam keadaannya.


Farel sengaja membawa pulang Siska ke rumah untuk menjaga istrinya agar lebih aman. Keamanan di kediaman Prayoga memang jauh lebih ketat. Bodyguard di sini 24 jam akan mengawasi keselamatan para penghuni rumah.


Oleh karena itu, mereka berkumpul di sana dan berusaha untuk saling melindungi satu sama lain. Steven melirik sekilas pada Rosa yang sejak tadi hanya diam saja.