
Dokter Andrew yang hari ini datang bersama dengan Edward yang awalnya berniat Ingin melamar Siska. Tetapi dia mendapatkan kekecewaan ketika dia melihat Farel yang sekarang berada di samping wanita pujaannya dengan senyum sumringahnya.
Celakanya Farel malah mengulurkan telapak tangannya dan mengajak dokter Andrew untuk bersalaman seakan Farel memberikan persahabatan kepada dirinya.
" Terima kasih banyak dokter karena anda dan ayah anda selalu menjaga istri dan juga anakku Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk aku bisa membalas kebaikan kalian!" ucap Farel dengan tulus kepada Andrew yang langsung tersenyum masam mendengarkan semua perkataan Farel.
Edward yang melihat putranya saat ini sedang tertekan dan juga merasa kecewa Dia kemudian menjawab perkataan Farel.
" Tidak apa-apa Tuan. Lagi pula Siska adalah teman lama kami yang sudah lama sekali tidak bertemu kami. Jadi sangat wajar kalau kami memperhatikan dia lebih ekstra lagi. Apalagi dia sedang hamil dan seorang diri pula berada di Amerika!" ucap Edward mengulas senyum kepada Farel.
Farel tidak terkejut sama sekali ketika dia mendengarkan perkataan Edward yang mengatakan bahwa Siska adalah teman lama mereka. Karena Farel pun mengetahui bahwa Siska dulu pernah meminta kepada Edward untuk menikah dengannya.
" Saya merasa bersyukur sekali kalau istri saya ada yang memperhatikan dan juga menyayanginya!" Siska kesulitan menelan salivanya sendiri ketika dia melihat interaksi antara Farel, dokter Endro dan dokter Edward yang terlihat seperti biasa-biasa saja.
Entah kenapa Siska merasa seperti sedang melihat sebuah bom waktu yang menunggu untuk meledak.
Siska mengenal karakter Farel yang sangat posesif dan paling tidak menyukai dirinya bergaul akrab dengan laki-laki selain dia.
" Aku akan menemui baik kalian di ruang bayi. Apakah kau ingin aku membawa bayimu kemari Siska?" tanya Adrian sambil menetap keponakannya yang dari tadi matanya terus memperhatikan Andrewa dan Farel yang tampak begitu akrab di depan mereka.
Siska hanya merasa, bahwa dirinya sedang melihat ketenangan yang sangat menakutkan. Seakan sebuah badai akan segera menimpa dirinya setelah keterangan itu habis.
" Bawalah Putra kami kemari paman. Karena aku ingin menyusuinya!" ucap Siska meminta tolong kepada Adrian.
Steven yang saat ini sedang duduk di sofa dan tampak sibuk mempersiapkan makanan yang tadi dia bawa dari luar bersama dengan Adrian tentu saja.
Di mana Adrian berada, di situ pasti ada Steven pula. mereka berdua selalu saling mendukung satu sama lain dan tidak pernah meninggalkan satu sama lain.
" Adrian kau pergilah sendiri dulu ke kamar bayinya. Aku akan mengurus makanan Siska dulu. Tampaknya Farel masih bersitegang dengan dokter Andrew!" Farel terkejut mendengarkan perkataan Steven yang sedang mengatakan perihal dirinya.
Farel pun kemudian mendekati Steven dan mengambil alih makanan yang berada di tangan Paman Siska.
" Pergilah kalau Paman ingin menemani paman Adrian ke kamar bayi. Aku yang akan menyuapi Siska untuk makan!" Farel pun kemudian mengambil alih piring yang ada di tangan Steven.
Steven tersenyum kepada Farel kemudian dia pun mengikuti Adrian untuk pergi ke ruangan bayi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruangan Siska saat ini.
" Setelah aku bertemu dengan bayimu kami akan kembali ks ruangan kami!" ucap dokter Andrew sambil mengulas senyum kepada Siska yang mengangguk kepadanya.
Dokter Edward menggenggam telapak tangan Siska kemudian dia menciumnya dengan begitu lembut.
" Selamat ya sayangku. Atas kelahiran putra kalian. Paman berdoa semoga kalian akan selalu bahagia. Semoga putramu akan selalu memberikan kebahagiaan untukmu dan juga keluargamu!" ucap dokter Edward dengan tulus kepada Siska.
Dokter Edward sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Dia tidak mau kalau sampai Siska menderita gara-gara hal yang tidak diinginkan olehnya terjadi dalam hidup nya.
Sekitar 10 menit kemudian Adrian dan Steven masuk dengan wajah penuh dengan binar kebahagiaan dengan membawa seorang bayi kecil mungil yang sangat tampan.
" Ya Allah Siska keponakanku benar-benar sangat tampan sekali! Aku jadi tidak sabar untuk memiliki anak juga tampaknya setelah ini aku akan melamar Kekasihku!" ucap Steven dengan binar penuh berbahagiaan di wajahnya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun sontak tertawa bahagia melihat tingkah konyol Steven yang begitu mengagumi bayi tampan yang ada di tangannya.
" Memangnya Paman Steven punya kekasih? Sejak kapan? Kenapa selama ini Siska tidak pernah tahu kalau Paman tersayangku ini mempunyai seorang kekasih?" tanya Siska dengan wajah yang begitu kocak sehingga mengundang tawa semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Steven pun merasa bahagia karena akhirnya dia bisa melihat kembali senyum dan juga kebahagiaan di wajah Siska yang selama ini selalu bersedih setelah ditinggalkan oleh Farel sekian lamanya.
" Kau tidak percaya kalau Paman mempunyai kekasih huh? Baiklah nanti malam Paman pasti akan membawanya kemari dan segera memperkenalkannya kepada kalian semua!" ucap Steven dengan nada jumawa yang malah membuat semua orang kembali tertawa dengan aksi kocaknya.
Adrian tampak begitu bahagia melihat adiknya sekarang pun mulai bisa bercanda lagi setelah selama beberapa waktu lalu Steven selalu bersedih karena keadaan Siska yang benar-benar memprihatinkan.
Setelah melihat bayi mungil itu yang sangat tampan dan juga menggemaskan. Edward dan dokter Andrew kemudian berpamitan kepada mereka semua untuk kembali bertugas sebagai seorang dokter di rumah sakit milik keluarga mereka.
"Bagaimana Siska sayang? aApakah kau ingin kita segera pulang ataukah masih ingin menginap di rumah sakit ini?" tanya Adrian sambil memberikan bayi tampan itu ke tangan Siska untuk disusui.
Ketika dokter Andrew dan dokter Edward di ruangan itu. Siska tidak berani untuk memberikan susunya kepada sang bayi yang tampak begitu lapar. Bagaimanapun dia merasa malu dan canggung kepada mereka berdua yang notabene adalah orang luar.
Setelah memberikan ASI kepada anaknya. Siska kemudian meminta kepada Farel untuk segera mengurus kepulangan dirinya Karena dia sudah sangat merindukan apartemennya.
" Kita akan kembali ke apartemen yang dulu pernah aku persiapkan untuk pernikahan kita berdua sayang. Tadi aku sudah meminta kepada pembantu untuk membereskan kembali apartemen itu. Aetelah sekian lama tidak pernah ditempati!" ucap Farel sambil tersenyum kepada Siska yang merasa bahagia akhirnya keluarganya kembali utuh dengan kembalinya sang suami ke sisinya.
Siska tidak mau mengingat lagi masa lalu yang begitu menyakitkan dia tidak peduli apapun yang terjadi di belakang sana ketika mereka berdua berpisah karena ibu mertuanya yang membenci dirinya.
Bagi Siska sekarang yang penting adalah Farel sekarang berada bersama dengan dirinya dan tersenyum hanya untuknya.
Tidak ada yang lebih membahagiakan hati Siska selain kehadiran Farel ketika dia benar-benar sangat membutuhkan laki-laki itu untuk memberikan support terbesarnya kepada dirinya saat melahirkan Putra mereka.
" Baiklah terserah apa yang ingin kau lakukan aku akan selalu menuruti apapun yang kau mau!" ucap Siska tersenyum pada Farel.
Farel sangat bahagia sekali mendengarkan perkataan Siska. Hatinya benar-benar tersentuh melihat Siska yang sepertinya tidak merasakan dendam ataupun kemarahan kepadanya. Setelah semua yang terjadi di masa lalu yang begitu sangat menyakitkan semua orang.
Walaupun sebenarnya di dalam hati Farel, dia bisa merasakan penderitaan Siska selama perpisahan mereka selama ini yang diakibatkan oleh ibunya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
" Baiklah kalian lebih baik beres-beres aja semua barang-barang ini. Biar kami yang akan mengurus proses keluarnya Siska dan DeBay dari rumah sakit!" ucap Adrian tersenyum kepada Siska yang sangat bahagia melihat pengertian dari pamannya.
Adrian sangat tahu bahwa Siska saat ini sangat membutuhkan banyak waktu untuk bisa bercengkrama dengan Farel yang sudah lama sekali berpisah dengannya.
Sejak pesta pernikahan Siska dan Farel dulu selesai. Mereka yang dipaksa berpisah oleh ibu mertuanya Siska yang marah dan selalu menganggap Siska sebagai pembawa sial setelah kecelakaan yang menimpa mereka sekelurga setelah pulang dari menghadiri pesta pernikahan mereka berdua di Amerika.