
Indrana masuk ke dalam ruangan tempat adiknya di rawat saat ini. " Irdina, kakak harus segera pulang ke Bandung. Ada keperluan mendesak. Ini adalah kartu yang bisa kau gunakan untuk membayar biaya rumah sakit kamu. Kaka pergi dulu!" Indrana langsung meninggalkan rumah sakit setelah memberikan pesan kepada adiknya.
Terlihat Indrana yang begitu buru-buru untuk segera keluar dari sana. Tidak lama setelah Indrana keluar dari rumah sakit, terlihat polisi yang berdatangan ke rumah sakit dan mulai menutup akses jalan keluar.
" Untung aku sudah keluar dari sana. Kalau tidak, aku pasti tidak akan bisa selamat. Adrian, kamu pria keji dan jahat. Kamu harus tahu bagaimana rasa sakit ditinggalkan oleh orang yang kamu cintai! Aku ingin melihat bagaimana wajah kamu, ketika melihat istri bodoh kamu itu sudah mati karena aku bunuh. Hahaha! Aku ingin melihat seberapa kuatnya dirimu menanggung Kehilangan wanita yang kau cintai!" terlihat mata Indrana yang memerah karena rasa benci yang begitu besar di dalam hatinya terhadap Adrian dan Andini yang telah menyakiti hatinya.
Indrana pun kemudian meninggalkan Rumah Sakit dengan menggunakan taksi. Indrana mengatakan kepada adiknya bahwa dia akan pulang ke Bandung tetapi pada kenyataannya, dia pergi ke Surabaya. Di mana dia telah mendapatkan tawaran pekerjaan di sana dari kawannya saat kuliah dulu.
Demi tidak meninggalkan jejak apapun, Indrana sengaja menggunakan mobil bus menuju Surabaya. Walaupun lama dan sangat melelahkan, tapi transportasi itu jauh lebih aman untuk dirinya yang sedang melakukan pelarian setelah membunuh Andini.
saat ini polisi masih belum menemukan pelaku dari kasis pembunuhan Andini. Karena mereka masih mendalami bukti-bukti yang mereka temukan di TKP dan juga memeriksa CCTV di rumah sakit pada saat kejadian.
Begitu sampai di Surabaya Indrana langsung mengganti semua identitasnya dengan bantuan seseorang yang sudah biasa melakukan hal itu. Dengan uang, semua bisa di selesaikan dengan mudah.
" Aku mulai sekarang harus berhati-hati. Aku tidak boleh berbuat sembrono. Kalau tidak, polisi pasti akan menangkap aku." Monolog Indrana saat dia mulai membereskan kontrakan barunya.
Karena terlalu lelah setelah perjalanan yang begitu jauh dan seharian dia juga terlihat membereskan kontrakan baru. Indrana pun kemudian tidur dengan begitu lelapnya.
***
Farel dan Steven saat ini sedang menunggu pihak kepolisian menyelidiki kasus pembunuhan Andini. Sementara Siska, Adrian dan Rosa saat ini sedang sibuk mengurus kepulangan jenazah Andini ke kediaman Prayoga.
Suasana kesedihan terasa begitu kentara. Semua orang yang hadir benar-benar tidak percaya nasib buruk terjadi kepada Andini yang selama ini merupakan sosok yang sangat baik dan tidak punya musuh.
" Apakah sudah ada kabar dari polisi?" tanya Siska pada Farel yang saat ini masih berada di rumah sakit bersama dengan Steven.
" Belum ada kabar apapun. Polisi sampai saat ini masih memeriksa CCTV di sekitar tempat kejadian. Kita berdoa semoga pelakunya segera tertangkap. Minimal diketahui siapa yang sudah begitu jahat dan tega melakukan pembunuhan ini." Farel terlihat begitu geram.
Siska menghela nafas berat. Dia benar-benar tidak tega kepada Adrian yang sedang sedih. baru saja pamannya itu merasakan sedikit kebahagiaan sekarang harus direnggut lagi.
" Aku tidak tega melihat Paman Adrian sejak tadi dia terus melamun dan tidak mau makan. Aku harus gimana sayang?" Siska terlihat pening kepalanya saat melihat Adrian yang masih membeku di depan jenazah Andini yang sedang di kafani.
' Siapa yang sudah begitu jahat kepada Andini? Dia tidak memiliki musuh. Kenapa ada orangnya begitu tega menyakiti dia?' Adrian terus bermonolog sendiri sambil menatap jenazah Andini yang sudah siap untuk dimakamkan.
Adrian kembali mengalami kesedihan dengan kehilangan wanita yang dia cintai. Saat Jasmine yang meninggal akibat kecelakaan karena dibunuh oleh ibu tirinya, saat itu Adrian sedang koma jadi dia tidak tahu soal kejadian itu secara langsung.
Waktu itu, Adrian hanya mendapatkan cerita dari Steven tentang kejadian kecelakaan yang mengakibatkan Jasmine meninggal di tempat secara garis besarnya saja.
Akan tetapi sekarang berbeda Adrian melihat dengan mata kepalanya sendiri di mana Andini meninggal karena di bunuh dengan begitu sadis dan mengerikan.
Tampaknya penjahat itu tahu kalau saat itu Andini masih dalam pengaruh obat bius dan tidak sadarkan diri. Sehingga penjahat itu bisa melancarkan aksinya tanpa hambatan sama sekali. Tidak ada jejak apapun di tempat kejadian pembunuhan yang bisa dijadikan acuan oleh Polisi tentang pelaku pembunuhan.
Sekarang polisi tinggal berharap untuk bisa menemukan pelaku melalui CCTV yang ada di rumah sakit dan sampai saat ini tim IT dari pihak kepolisian masih mendalami isi rekaman pada saat kejadian.
Adrian terlihat begitu lemas seharian Dia tidak makan sama sekali. Siska benar-benar mengkhawatirkan kondisi pamannya yang terlihat begitu terpukul karena harus kehilangan dua orang yang dia cintai sekaligus dalam satu waktu.
Adrian masih membeku di atas tanah merah yang sekarang telah menjadi tempat peristirahatan Andini dan calon bayi mereka untuk yang terakhir kali.
Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Adrian bahkan sampai pingsan karena sangking lelah dan juga lapar. Karena sejak kemarin, Adrian tidak makan, minum maupun tidur. Sehingga kesehatannya menjadi drop.
Steven yang benar-benar merasa prihatin dengan kondisi kakaknya yang terlihat amat menyedihkan. Akhirnya membawa Adrian untuk pulang ke rumah. Walaupun prosesi pemakaman belum selesai.
" Sayang ayo kita pulang duluan. Kamu sedang hamil jangan berlama-lama di pemakaman. Tidak baik untuk kandungan kamu." Steven berpamitan kepada Siska dan Farel yang masih berada di pemakaman mewakili keluarga besar mereka.
Terlihat Andi dan Anto yang sedang menangis sesegukan di atas pusara Andini. kedua pemuda tanggung itu begitu sedih melihat kakaknya yang sekarang sudah dimakamkan dan tidak akan pernah lagi berkumpul dengan mereka.
"Kak, sekarang kami harus bagaimana? Tidak ada lagi yang akan melindungi kami berdua karena Kakak sekarang sudah pergi." Farel ikut merasakan kesedihan mendengar semua yang dikatakan oleh kedua pemuda tangguh yang sedang berduka karena kakaknya meninggal secara tiba-tiba.
" Tenanglah kalian tidak sendirian ada keluarga Prayoga dan keluarga Handoyo yang akan selalu mendukung kalian berdua." Farel merangkul kedua pemuda itu dan memeluk mereka dengan lembut.
Farel tahu bagaimana perasaan mereka berdua yang pasti merasakan kesedihan luar biasa setelah Andini meninggal.
" Pasti yang sudah membunuh Kakak kita adalah wanita gila yang pernah menyerang dia di restoran itu. Kak Andini bilang padaku, saat dia siuman, perempuan itu sangat membencinya bahkan pernah mengancam akan membunuhnya. Aku yakin sekali kalau perempuan jahat itulah yang sudah membunuh kakak kita. Dia rasa cemburu melihat Kakak kita yang begitu dicintai oleh kak Adrian." Andi terlihat begitu marah.
" Aku juga yakin, kalau perempuan gila itu yang sudah membunuh Kakak kita. Kak Farel! Tolong segera tangkap perempuan itu sebelum dia pergi jauh dari Jakarta!" Anto langsung menggenggam telapak tangan Farel dan memohon kepadanya.
Para petakziah lainnya sudah pulang semua. Kini hanya tinggal mereka berempat yang ada di sana. Siska dah Farel cukup terkejut mendengarkan analisis yang disampaikan oleh Andi dan Anto tentang meninggalnya Andini yang sangat tiba-tiba.
Farel dan Siska saling menatap satu sama lain. " Sayang, Aku juga berpikir, kemungkinan Indrana yang sudah membunuh Bibi Andini. Kamu Ingatkan sayang? Kejadian sewaktu Irdina marah di depan kamar perawatan Bibi Andini pada Steven? Sebelum kita pergi ke cafe. Dia begitu marah dan kesal sewaktu membawa adiknya ke ruang UGD." tanya Siska kepada Farel yang terus menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan istrinya.
" Aku yakin polisi juga pasti sekarang sudah menemukan rekaman CCTV ketika Irdina dan Indrana mengamuk di depan kamar Bibi Andini." Farel menarik nafas berat. Terlihat sedih sekali. Terlihat mata Farel terus saja memperhatikan Andi dan Anto yang masih lemas dan tak bersemangat.
" Kalian berdua sekarang akan menjadi tanggung jawab Kami semua. Jangan Khawatir dengan apapun. Kalau kalian memiliki kebutuhan apapun katakanlah kepada kami kami pasti akan selalu memenuhi semuanya!" Farel merangkul bahu kedua pemuda itu yang sontak memeluk Farel untuk melampiaskan kesedihan di hati mereka karena kehilangan seorang kakak yang selama ini melindungi dan menjaga mereka dengan tulus.
" Tolong bantu kami untuk mencari pembunuh kakakku. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas kejahatannya!" Pinta Andi dengan berlinang air mata sambil menatap Farel dengan lekat.
Farel menganggukan kepala dan menyanggupi apa yang dipinta oleh Andi.
" Tenanglah kami semua saat ini sedang berusaha untuk mencari pembunuhnya bahkan polisi dan detektif sudah kami kerahkan untuk segera menangkap pembunuh Bibi Andini. Sekarang kita semua sebaiknya pulang karena hari sudah semakin sore. Dari tadi cuaca sudah sangat mendung kelihatannya akan segera hujan." Ucap Farel yang kemudian menggiring kedua pemuda tanggung itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
Siska benar-benar merasa ibah kepada dua anak yatim piatu yang ada di kursi belakang.
" Mama, apakah Bibi Andini sekarang sudah masuk ke surga?" tanya Aaron yang sejak tadi tidak mau melepaskan genggaman tangan kecilnya dari Siska.
Aaron selama ini sangat menyayangi Adrian. Jadi Aaron juga merasa sedih melihat kakek tampannya tadi pingsan dan sampai sekarang masih belum sadar.
" Insyaallah sayang. Kita harus selalu mendoakan agar Allah mengampuni dosa-dosa Bibi Andini dan menerima semua amal kebaikannya selama hidup di dunia dan ditempatkan di sisi Allah di tempat yang terbaik!" Siska memeluk tubuh putranya yang sangat dia sayangi.
Farel langsung mengendarai mobilnya untuk menuju ke kediaman Prayoga dimana sekarang seluruh keluarga besar berkumpul di sana untuk memberikan dukungan kepada Adrian yang saat ini sedang mengalami musibah yang sangat besar dan berat.