
Setelah selesai pesta, Farel dan Siska kemudian kembali ke rumah bersama dengan Aaron, Putra mereka satu-satunya.
Anak kedua mereka masih di dalam kandungan Siska, belum lahir. Tetapi setelah menjalani pemeriksaan dari dokter anaknya sehat dan kuat.
" Hati-hati nyupirnya Pak. Karena di sini ada ibu hamil dan bayi yang harus kita jaga dengan baik." Perintah Farel kepada sopir pribadinya yang begitu berhati-hati dalam mengemudi sesuai dengan instruksi dari Farel yang khawatir dengan keadaan baik dan juga istrinya
" Kamu tidak boleh terlalu lelah, sayang. Usahakan untuk segera cuti dari kontor. Supaya kamu tidak terlalu memperorsir tenagamu. Ingatlah bahwa anak kita di dalam kandungan membutuhkan ibunya yang sehat dan kuat!" Farel memberikan nasehat kepada istrinya yang hanya mengangguk.
" Baiklah, sekarang kita pulang. Alhamdulillah semuanya sudah beres dan kita tinggal menemui Andreas suami dari Amora untuk memberikan hak dia dan anaknya." Farel kemudian mengajak Siska untuk pulang ke rumahnya.
Di perjalanan jalanan begitu macet, siapa yang menyayang kalau ada mobil hitam yang mencegah mobil mereka dan menyuruh mereka untuk turun.
Farel yang panik karena orang-orang berbaju hitam itu berusaha untuk menculik dirinya dan Siska.
Hari ini Farel memang tidak membawa bodyguard bersamanya karena dia pikir semua sudah aman setelah Indrana, Amora dan David ditangkap dan di penjara.
" Cepat buka pintunya!" terlihat mereka sangat bengis dan mengancam Farel yang masih berusaha untuk memerintahkan kepada sopirnya untuk segera menyalakan mesin mobil dan mengacuhkan mereka.
" Pak cepat jalan! Tidak usah peduli omongan mereka. Kalau kita sampai tertangkap mereka pasti mereka akan membunuh kita!" perintah Farel kepada sopir pribadinya yang terlihat sebentar dan ketakutan mendengar apa yang dia katakan Farel.
Sang sopir pun kemudian mulai menyalakan mesinnya dan menstarter dengan cepat mobil itu. setelah menyala dia langsung menggeber mobil dengan cepat tidak memperdulikan teriakan para penjahat yang ingin menculik mereka.
" Pak bagaimana ini? Kelihatannya mereka tidak mau menyera sebelum kita berhenti dan menurut sama mereka!" Farel yang saat ini benar-benar tidak ingin sampai berurusan dengan penjahat seperti mereka, dia terus menyemangati sopirnya.
" Cepatlah Pak! Bapak jangan takut saya ada di sini!" Farel terus menyemangati sang sopir yang terlihat ketakutan karena mobil mereka bahkan sekarang sudah diapit oleh mobil para penjahat itu.
Farel melihat sopir yang sudah paruh baya gemetar. " Pak cepat pindah ke kursi di sebelah! Biar saya yang akan menyetir!" Farel memberikan perintah kepada sang sopir yang sejak tadi benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk melawan para penjahat yang terus mendesak mereka.
Dengan gerakan cepat Farel pun langsung duduk di depan dan menggantikan sang sopir yang tadi menyetir mobil mereka.
Siska berusaha untuk tenang dan terus memeluk Aaron yang sejak tadi sudah menangis karena ketakutan melihat mobil-mobil itu yang terus mengejar mereka.
" Kencangkan sabuk pengaman kalian karena aku akan menyetir dengan kecepatan tinggi!" cara memberikan perintah kepada semua orang yang ada di dalam mobil karena situasi yang memang benar-benar mendesak.
Aksi kejar-kejaran mobil itu pun berlangsung begitu seru dan Sangat menegangkan benar-benar mengundang adrenalin super tinggi.
" Mah Papa benar-benar sangat keren Aron suatu saat juga akan menjadi seorang pembalap seperti papa!" bocah kecil itu terlihat begitu membanggakan kehebatan ayahnya dalam balapan dengan ketiga mobil penjahat yang sejak tadi terus mengejar dan mendesak mobil mereka untuk segera berhenti.
Ketika mobil sudah keluar dari jalan tol Farel pun kemudian langsung mengarahkan mobilnya ke area penduduk ramai agar mobil itu tidak berani untuk mengikutinya.
" Pah cepet bawa mobilnya ke kantor polisi mereka pasti akan langsung mundur setelah kita mengunjungi kantor polisi!" Siska memberikan peringatan kepada Farel.
Farel langsung mengangguk dan benar-benar mengikuti apa yang diperintahkan oleh Siska. Dia segera mencari Kantor Polisi terdekat yang bisa dia datangi. Farel ingin mencari perlindungan dari petugas polisi untuk bisa melindungi keluarganya dari penjahat yang ingin menculik mereka.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Siska para penjahat itu auto mundur. Setelah melihat mereka yang berhenti di depan kantor polisi.
Setelah melihat para penjahat itu mundur. Farel kemudian keluar dari kantor polisi dan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah mau menerima mereka di sana untuk melindungi keluarganya.
" Tenanglah kami akan mengawal Pak Farel dan keluarga sampai ke kediaman kalian. Kami harap tidak akan ada kejahatan lagi di dalam keluarga kalian!" Farel merasa berterima kasih sekali kepada sang komandan yang sangat pengertian dan mau mengawal mereka sampai ke Mansion keluarga Handoyo.
Komandan itu merasa khawatir melihat Siska yang sedang hamil dan terlihat begitu khawatir dengan keselamatan mereka.
" Tenanglah nyonya. Kami pasti akan menjaga dan memastikan keselamatan kalian! Apakah kalian bisa memberikan kisi-kisi. Siapa yang menginginkan nyawa kalian?" sang komandan menatap kepada Farel yang sangat tegar dalam menghadapi masalah yang terjadi kepada keluarganya.
Sekitar dua mobil patroli akhirnya mengikuti kendaraan Farel menuju kediaman Handoyo.
Lara penjahat yang melihat Farel dikawal oleh Polisi akhirnya menyerah dan menghubungi orang yang memerintahkannya untuk menculik Farel dan keluarganya.
" Maafkan kami Bos. Kami gagal untuk menangkap mereka. Karena mereka berlindung di bawah kekuasaan polisi. Kami tidak mau kalau sampai ditangkap oleh mereka!" terlihat Abian begitu marah dengan laporan yang diberikan oleh anak buahnya yang dia nilai begitu bodoh karena tidak mampu membawa Farel dan keluarga Farel ke dalam gudang yanga ada di belakang rumahnya.
" Kalian mengaku sebagai seorang penjahat disuruh untuk menculik orang seperti itu saja kalian tidak mampu? Benar-benar sangat memalukan dan tidak layak menjadi seorang penjahat!" terlihat Abian yang sengaja melecehkan dan juga menghina mereka.
Abian sengaja melakukan itu untuk membuat para penjahat itu marah dan kemudian kembali melanjutkan rencana mereka untuk membawa Farel dan Siska ke tempat yang sudah ditentukan oleh Abian.
Lama tidak terdengar sahutan di seberang sana." Aku pokoknya tidak mau tahu! Kalian harus bisa membawa Farel dan seluruh keluarganya ke gudang yang sudah aku bilang kepada kalian. Bila perlu para pembantunya pun bisa kalian bawa semuanya!" perintah Abian kepada orang suruhannya yang sudah dia bayar mahal sekali untuk menurut kepadanya selama satu hari itu.
Abian benar-benar menginginkan keluarga Farel ada di genggaman telapak tangannya.
" Bawah mereka ke gudang yang sudah Aku perintahkan. Aku tidak mau mendengarkan alasan apapun dari kalian!" Abian kemudian menutup panggilan telepon tersebut dan tidak mempedulikan apapun yang dikatakan oleh anak buahnya.