
" Dasar perempuan tidak tahu malu! Kau sudah membunuh ibunya. Tetapi kau masih juga mau merayu anaknya. Siska! Jangan kau kira dengan wajah malaikatmu itu, serta merta akan membuat Farel percaya, kalau bukan kau yang telah membunuh ibunya." tiba-tiba Amora masuk ke dalam ruangan itu dengan mata berapi-api yang terasa begitu h menusuk hati Siska dengan tatapan membunuhnya.
Farel menatap Amora yang tiba-tiba saja hadir di antara mereka berdua.
" Mau apa kau datang kemari Amora? Tidak ada yang mengundangmu untuk datang ke mari dan mengunjungi istriku!" ucap Farel dengan mata berapi-api.
Bagaimanapun saat ini Farel tidak mau membuat Siska merasa drop. Ketika Siska melihat Amora yang kembali datang ke dalam hidupnya. Hanya untuk mengusut kasus pembunuhan ibunya Farel yang sekarang sudah ditangani oleh detektif dan juga kepolisian yang berwenang.
Siska hanya menatap Amora dengan mata tajam ada kebencian yang sangat besar terlihat di mata Siska.
Hal itu tidaklah aneh. Ketika Siska mengingat Amora yang langsung saja menuduh dan memfitnahnya sebagai pelaku pembunuhan Ibu mertuanya.
" Aku tidak mengerti kenapa di dunia ini ada wanita yang sangat tidak tahu malu sepertimu! Masih mengejar mantan pacar yang sudah punya anak istri. Apa kau tidak merasa malu dengan status keartisanmu?" tanya Siska dengan mata nyalang menatap Amora yang tampak terkejut mendengarkan perkataan Siska yang begitu menusuk hatinya dan membuat dia merasa malu sekali di hadapan Farel.
Amora mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk menghajar Siska. Akan tetapi Farel langsung menarik tangan Amora dan membawa Amora untuk keluar dari ruangan itu. Siska hanya menatapnya langkah kepergian suaminya.
Tampak bulir air mata mengalir di pipi Siska ketika melihat Farel yang pergi meninggalkan penjara bersama dengan Amora.
" Apakah kamu mempercayai berita di luar sana yang mengatakan bahwa aku yang telah membunuh ibumu?" tanya Siska dengan begitu sedih.
Siska tidak mengerti. Kenapa begitu banyak cobaan hidup yang terus datang silih berganti ke dalam hidupnya. Setelah dia mengenal sosok seorang Farel Handoyo.
" Ya Tuhan berilah petunjuk kepadaku Siapakah orang yang telah begitu tega membunuh ibu mertuaku?" tanya Siska merasa benar-benar Dilema dengan masalah yang hadir di dalam hidupnya.
Siska berusaha untuk menguatkan jiwa dan raganya. Agar kuat untuk menghadapi cobaan besar yang saat ini hadir di dalam hidupnya. Tuduhan sebagai pembunuh adalah hal paling gila yang pernah dihadapi oleh Siska seumur hidupnya.
" Ya Allah! Apakah aku akan berhasil melewati ujian terbesarmu ini? Tolong kuatkanlah iman dan takwaku, Ya Allah! Untuk selalu tetap berada di jalanmu dan selalu pasrah dengan kehendakmu!" ucap Siska sambil meraup wajahnya dan berusaha untuk pasrah dengan jalan kehidupan yang telah digariskan Tuhan kepadanya.
Ketika Siska bersiap untuk meninggalkan ruangan tempat menjenguk tahanan. Tiba-tiba saja matanya menangkap dua sosok tampan yang sangat dia rindukan. Steven dan Adrian dan seorang laki-laki berpakaian parlente yang mengikuti kedua pamannya yang sangat tampan.
" Assalamualaikum!" ucap Adrian sambil memeluk Siska yang terlihat begitu sedih.
" Waalaikumsalam, paman. Selamat datang!" ucap Siska sambil mencium kedua pipi Adrian dan Steven sejenak Siska memeluk keduanya dengan air mata yang menetes di kelopak matanya.
" Bagaimana dengan Aaron anakku? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Siska begitu khawatir dengan keadaan putranya yang saat ini berada di dalam pengasuhan Farel.
Siska tadi tidak sempat memikirkan tentang putranya ketika Farel datang menjenguknya.
Siska benar-benar ketakutan kalau sampai Farel terpengaruh dan ikut mengadili dirinya sebagai pembunuh ibu kandungnya.
Semua bukti-bukti yang ada di TKP, telah menunjukkan bahwa Siska lah pembunuh yang sesungguhnya. Siska benar-benar tidak mengerti. Bagaimana mungkin bukti-bukti semua hanya tertuju kepadanya.
" Kau tidak usah mengkhawatirkan Aaron. Dia aman bersama dengan Farel. Dia ayahnya dan pasti akan menyayangi anaknya." ucap Adrian berusaha untuk menghibur keponakannya yang tampak begitu kalut.
" Paman. Kalau melihat kasus yang sedang berjalan. Hatiku merasa ragu kalau Farel akan mengurus Aaron dan baik. Aku mohon paman, tolong jemput Aron dari kediaman Farel. Siska tidak mau Paman. Kalau suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan dan membuat Siska akan kesulitan untuk bertemu dengan anakku!" ucap Siska panik, sambil menggelengkan kepalanya terus menerus.
Adrian dan Steven saling menatap satu sama lain. Mereka benar-benar merasa prihatin dengan kehidupan Siska. Keponakan mereka tersayang yang baru saja mengecap sedikit kebahagiaan. Namun tiba-tiba saja sekarang dihempaskan lagi dengan masalah yang jauh lebih besar di dalam hidupnya.
" Nyonya Siska. Tolong ceritakan semuanya kepada saya dengan jujur. Agar saya bisa dengan mudah membantu kasus anda." ucap laki-laki yang datang bersama dengan Adrian dan Stevan yang ternyata adalah pengacara.
Pengacara yang telah di tunjuk oleh Farel untuk membantu istrinya yang sekarang sedang tersandung masalah hukum yaitu dituduh sebagai pembunuh Meiliana ibu kandung Farel Handoyo.
Siska menatap kepada Adrian dan Steven yang mengganggukan kepalanya kepada Siska.
" Dia adalah pengacara yang telah kami tunjuk untuk membantumu keluar dari kasus ini. Kau Tenanglah sayang. Dia dan team yang sudah di bentuk adalah para pengacara yang hebat dan pasti akan mampu untuk menolongmu melewati semua masalah ini!" ucap Adrian berusaha meyakinkan keponakannya untuk percaya kepada pengacara yang sekarang duduk di hadapannya dan menatapnya dengan tenang sekali.
Pengacara itu sudah mendapatkan pesan dari Farel untuk membantu istrinya sebaik mungkin. Agar bisa membantu Siska keluar dari masalah tersebut.
" Percayalah Nyonya. Saya dan tim Saya pasti akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk membebaskan Nyonya dari kasus ini!" ucap pengacara yang bernama Edward.
Siska kemudian menggangguk perlahan. Karena dia percaya dengan penilaian kedua pamannya yang pasti tidak akan mungkin mencelakainya.
Siska kemudian menceritakan semua yang terjadi ketika dia menemukan jenazah mertuanya di apartemen yang tidak diketahui oleh Siska milik siapa.
" Aku datang ke apartemen itu dengan undangan dari Amora. Aku sangat terkejut sekali. Ketika tiba-tiba saja aku masuk ke dalam apartemen itu dan mendapatkan tubuh ibu mertuaku yang sudah terbujur kaku di sana. Dia meminta tolong kepadaku untuk mengambil pisau yang tertancap di jantungnya. Oleh karena itu aku pun tanpa ragu mencabut pisau itu. Mungkin karena hal itulah mengakibatkan Sidik jariku berada di pisau itu. Pada saat aku hendak mengangkat tubuh mertuaku untuk membawa dia ke rumah sakit, tiba-tiba saja Amora datang dan dia langsung menuduhku sebagai pembunuh beliau! Aku sangat panik waktu itu dan akhirnya meninggalkan tubuh ibunya Farel di lantai begitu saja dan berbicara dengan Amora yang terus saja menuduhku sebagai pembunuh! Tiba-tiba saja reporter dan polisi datang dan akhirnya mereka menangkap aku. Paman Aku bersumpah! Aku tidak pernah membunuh ibunya Farel!" ucap Siska dengan tatapan berembun dan berderai air mata di pipinya yang terlihat pucat dan lesu.
Siska berada di dalam penjara sejak semalam dan sampai sekarang dia belum beristirahat sama sekali. Karena sejak dia datang ke penjara, team penyelidik terus mengintrogasi dirinya dan banyak pengunjung yang terus mendatanginya untuk bertanya tentang kasus pembunuhan yang Siska sendiri tidak tahu siapa pelaku yang sesungguhnya.
Sungguh hari itu adalah hari yang paling berat dalam hidup seorang Siska Handoyo. Siska yang dulu terkenal sebagai gadis urakan yang begitu mempesona. Sehingga berhasil membuat seorang Farel Handoyo jatuh cinta kepadanya dan rela meninggalkan segalanya untuk hidup bersama dengan Siska.
Sekarang yang tersisa adalah Siska yang begitu sayu dan tampak tidak bersemangat untuk menjalani kehidupannya. Setelah tuduhan sebagai pembunuh sang ibu mertua tersemat di dalam namanya.
" Paman tolong jaga Aaron. Tolong ambil Aaron dari Farel. Aku sangat khawatir kalau Farel akan melakukan sesuatu yang buruk pada anakku. Karena mungkin saja Farel berpikir kalau akulah yang telah membunuh ibu kandungnya. Aku mohon Paman!" pinta Siska histeris.