Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
184. Hidup baru


Andini mulai hari itu menjalani kehidupan barunya sebagai ketua tim IT perusahaan Prayoga Group. Setiap hari Andini berangkat bersama Adrian ke kantor Prayoga Group.


Andini bekerja sebagai ketua tim IT dan juga sebagai suster dari wakil CEO yang sekarang sudah mulai bisa melaksanakan tugasnya kembali. Walaupun belum secara maksimal tetapi Adrian tetap berusaha untuk membantu Siska dan Steven dalam mengurus perusahaan Prayoga Group.


Siska sengaja mengatur ruangan untuk Andini berada di dalam satu ruangan bersama dengan Adrian. Agar Andini bisa melaksanakan pekerjaan secara bersamaan tanpa hambatan berarti.


Siska bersyukur ternyata keputusannya bersama Steven mengangkat Andini sebagai ketua tim IT benar-benar berhasil dan berdampak sangat signifikan untuk perkembangan perusahaan.


Selain itu juga Adrian memiliki semangat besar untuk sembuh kembali. Setelah melihat keahlian dan juga kepintaran Andini dalam bekerja sebagai ketua tim IT di perusahaannya sedikit banyak telah membangkitkan getar asmara di hatinya.


Pada awal-awal Adrian sudah mulai sadar, Adrian terus sedih dengan berita meninggalnya Jasmine karena kelakuan ibu tirinya yang memerintahkan beberapa orang untuk membuat kecelakaan fatal itu kepada mereka berdua.


Setelah berjuang hampir 6 bulan lamanya. Untuk kesehatan dan juga patah hatinya. Adrian yang selama itu berusaha melupakan Jasmine. Akhirnya sekarang dia bisa melihat dunia yang baru dan hidup yang baru.


Siska dan Steven merasa senang sekali melihat perkembangan Adrian yang sangat signifikan dan sekarang sudah hampir 60% bisa melaksanakan tugasnya sebagai Wakil CEO.


" Kelihatannya rencana kita untuk membuat mereka dekat akan berhasil dengan cepat. Semoga saja dengan hati yang terisi kembali dengan cinta yang baru. Akan membuat Paman Adrian kembali bersemangat hidup dan segera sembuh lagi seperti dulu!" Siska terus memperhatikan interaksi antara Adrian dan Andini di dalam ruangannya melalui CCTV yang langsung tersambung ke dalam layar besar yang ada di dalam ruangannya.


Steven terlihat menatap dengan sendu kebersamaan mereka berdua. Tetapi Steven sadar bahwa itu adalah yang terbaik dengan memberikan ruang untuk sang kakak bisa merasakan cinta baru dalam hidupnya.


" Ya, semoga saja dengan ini mereka akan semakin dekat dan kakakku bisa sembuh seperti dulu," Siska mengerutkan telinga mendengar suara Steven yang terdengar begitu sedih dan bergetar.


Siska menatap Steven yang saat ini sedang menundukkan kepala seperti sedang menyembunyikan perasaannya sendiri.


" Apakah Paman juga mencintai Andini?" tanya Siska dengan hati-hati Karena bagaimanapun juga dia takut akan menyinggung perasaan Steven.


Steven terkejut mendengar pertanyaan tersebut Dia terlihat gugup. Karena rasa hatinya bisa terbaca begitu mudah oleh Siska.


" Tidak!! Maksudku, aku tidak Mencintainya aku senang kalau dia bisa membuat kakakku kembali bersemangat dalam hidup dan mempunyai alasan untuk kembali sembuh. Sehingga kita bisa sedikit bersantai untuk mengurus perusahaan ini!" ucapnya pelan.


Siska tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pamannya. Siska bisa melihat bahwa Steven saat ini sedang sedih.


Siska mendekati Steven dan menggenggam telapak tangan pamanmu kecilnya, " Paman, kalau Paman memang mencintai Andini. Mungkin kita bisa menghentikan rencana ini sebelum Paman Adrian mencintai Andini. Bagaimanapun Paman Steven tidak boleh berkorban untuk paman Adrian. Aku lihat, Paman Adrian saat ini belum mencintainya. Kita masih bisa menghentikannya," Siska menatap lekat sang paman yang langsung menggelengkan kepalanya.


" Ayolah Siska hentikan semua ini Aku tidak mau menyakiti kakakku. Aku tahu kalau Kak Adrian mempunyai ketertarikan terhadap Andini. Kalau tidak, dia tidak mungkin bersedia untuk berangkat ke kantor bersama Andini. Walaupun dalam kondisi yang hampir sembuh sekalipun." Siska cukup terkejut mendengarkan perkataan pamannya.


" Paman, dari mana paman Tahu kalau Paman Adrian mencintai Andini?" Siska masih ingin mencari kebenaran dari semua itu.


" Bukankah itu terlihat jelas sekali?" tanya Steven sambil menatap lekat ke arah Siska yang saat ini semakin dekat dengannya.


Saat mereka begitu serius membicarakan tentang kedekatan Adrian dan Andini tiba-tiba saja Farel masuk ke dalam ruangan Siska.


" Ada apa?" tanya Siska yang kemudian bangkit dan mengikuti suaminya yang seperti merasa cemburu dengan kedekatan Steven dan Siska yang amat dekat.


" Kalian berdua sedang apa?" tanya Farel berusaha untuk menentramkan hatinya sendiri yang saat ini sedang tidak baik-baik saja melihat kebersamaan Siska dan Steven.


" Kami sedang berdiskusi tentang Paman Adrian dan Andini yang kelihatannya memiliki perasaan satu sama lain. Sayang! Ayo kita makan siang bersama. Aku sudah lapar sekali. Paman, apakah Paman mau ikut dengan kami?" tanya Siska sambil melihat ke arah Steven yang langsung menggelengkan lalu pergi begitu saja dari ruangan Siska tanpa mengatakan apapun.


" Aneh sekali. Ada apa dengan paman Steven? Tadi baik-baik saja," Siska sampai menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti dengan tingkah Steven dan Farel yang agak aneh menurutnya.


Farel hanya melihat sekilas kepada Steven ketika meninggalkan ruangan Siska.


" Ayo kita makan siang. Apa kau mau kita ke sekolah Aaron dulu?? Mungkin dia sudah pulang dari sekolahannya," Siska terlihat sumringah mendengar pertanyaan dari suaminya.


" Ayo! Aku juga sudah rindu dengan Aaron. Semoga saja dia sudah pulang ya, jadi kita bisa makan siang bersama!" Siska dan Farel kemudian berjalan beriringan menuju ke parkiran.


Di sana Mereka melihat Steven yang saat ini sedang memperhatikan Andini dan Adrian yang sepertinya hendak pergi untuk makan siang bersama.


Dengan begitu telaten Andini memapah Adrian yang masih belum sanggup untuk berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan tongkat. Steven terlihat berkaca-kaca matanya saat melihat mereka berdua.


Apalagi ketika Adrian yang tiba-tiba saja hampir jatuh dan Andini dengan sikap menolongnya. Bahkan mereka hampir saja berciuman saat Andini tanpa sengaja malah kepleset saat mau menarik tubuh Adrian.


Hati Steven yang melihat adegan itu seperti terlihat Sembilu.


Farel dan Siska saling menatap satu sama lain. Melihat ketiga orang itu yang sampai saat ini masih belum mengetahui perasaan mereka masing-masing.


" Aku merasa kasihan kepada Paman Steven. Tampaknya dia juga mencintai Andini. Akan tetapi dia memilih untuk mengalah karena melihat Paman Adrian juga memiliki perasaan yang sama terhadap Andini. Ih rumit banget! Aku seharian ini pusing sekali memikirkan mereka bertiga!" Siska kemudian memilih untuk masuk ke dalam mobil bersama dengan Steven.


Mendengar semua yang dikatakan oleh istrinya. Membuat Farel merasa lega sekali. Karena ternyata Steven mencintai Andini. Dia tampaknya harus menepis perasaan cemburu yang tanpa alasan hubungan yang terlalu dekat antara Steven dan Siska.


" Apakah kau yakin kalau Paman Steven mencintai Andini? Mungkin kita bisa membantunya untuk bisa mewujudkan cinta itu," ucap Farel sambil mulai melajukan kendaraannya.


" Paman Steven bilang, kita tidak usah melakukan itu. Karena dia juga tidak mau menyakiti hati Paman Adrian. Paman Steven ingin memperhatikan. Apa yang akan terjadi kepada mereka berdua. Baru dia akan bertindak dan memutuskan apa yang akan dia lakukan ke depannya." Siska tersenyum kepada Farel yang mengangguk paham.


" Sungguh rumit perjalanan cinta kedua pamanmu. Kenapa sangat sulit sekali mereka untuk menemukan tambatan hati? Padahal mereka termasuk kaya dan juga tampan rupawan," Siska tergelak mendengarkan ucapan dari Farel mengenai kedua paman tampannya.


" Apa kau tahu sayang? Ketika aku masih sekolah dulu. Setiap hari teman-temanku pasti selalu mengantri di depan gerbang sekolah, hanya untuk bisa bertemu atau melihat mereka berdua yang mengantar aku ke sekolah. Ya ampun!! Aku sampai tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi mereka semua yang setiap hari selalu mengganggu aku hanya untuk bertanya tentang kedua pamanku yang tampan itu!" Siska tergelak ketika dia mengingat tentang segala kenangan saat dulu dirinya tinggal di Bandung bersama dengan kakeknya.


Farel bisa merasakan kedekatan Siska dengan kedua pamannya sudah terjalin sejak lama sekali.