
Silvia mendengar semua yang dikatakan oleh putranya. Steven memang seorang anak yang berani mengatakan kebenaran yang ada di dalam hati dan tidak peduli walaupun ibunya akan marah kembali kepadanya setelah mendengar apa yang dia katakan tadi.
Bagaimanapun juga Steven mengetahui kalau Adrian sangat mencinta Andini dan Steven juga tahu kalau Andini adalah wanita yang baik.
" Mama sangat tahu bukan? Kalau sangat sulit untuk membuat Kak Adrian jatuh cinta kepada seorang wanita dan memutuskan untuk menikah. Selama ini berapa banyak wanita yang telah menjadi kekasih kakakku tetapi mereka semua gagal untuk menaklukkannya dan mau memutuskan untuk ke pelaminan. Mama seharusnya bersyukur kepada Andini yang sudah menaklukkan hati anak mama." ucap Steven sambil menatap wajah ibunya yang saat ini sedang kacau pikirannya.
" Kalian berdua sejak dulu selalu menjadi bahan pikiran dan kepusingan mama. entah apa yang membuat kalian begitu hobi untuk membuat kepala mama pusing tujuh keliling." Silvia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk meninggalkan ke dua putranya.
" Untuk malam ini kalian berempat menginaplah di sini. Besok pagi-pagi kita akan berangkat ke Jakarta untuk melamar Rosa kepada keluarganya. lalu kita akan membicarakan tentang rencana pernikahan kalian berempat yang akan Mama Satukan di dalam satu ballroom hotel." mereka berempat sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mereka.
" Apakah itu benar Mah? Mama merestui pernikahanku dengan Andini?" ada yang terlihat begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
" Mama terpaksa Merestui Pernikahan kalian karena mama tidak mau melihatmu menjadi Bujang Lapuk yang tidak laku apalagi sekarang usiamu sudah 35 tahun." Silvia bercak lidah kemudian meninggalkan mereka berempat yang tak aktif yang begitu bahagia karena usaha mereka jauh-jauh datang ke Bandung tidaklah sia-sia.
" Akhirnya Mama mau Merestui Pernikahan kita!" Steven dan Rossa saling berpelukan satu sama lain begitu pula dengan Adrian dan Andini yang merasakan kebahagiaan yang sama seperti mereka.
Ealaupun hati Andini sedikit kebas ketika mengingat penghinaan yang sudah diberikan Silvia kepadanya.
Adrian memeluk tubuh Andini yang tadi sempat tergetar karena tangis mendengar semua penghinaan ibunya ke atas dirinya.
" Tenanglah Sayang aku pasti akan berjuang untuk membuatmu bisa dicintai oleh ibuku." Adrian lalu mencium kening Andini.
Andini bisa merasakan cinta Adrian yang begitu besar untuk dirinya sehingga akhirnya dia pun memutuskan untuk melupakan penghinaan yang tadi diberikan oleh ibunya.
" Aku percaya bahwa kau mencintaiku dan aku juga percaya bahwa kau pasti akan melindungiku dari ibumu yang pasti Merasa tidak senang kepadaku setelah mengetahui aku hanyalah garis biasa yang tidak memiliki apapun." suara Andini masih bergetar karena tangis dan juga kesedihan.
Adrian memeluk tubuh kekasihnya dengan berat dan berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi.
" Mamaku memang seperti itu. Dia terlihat keras dan juga kasar. Tetapi setelah kalian saling mengenal aku yakin kalian bisa saling menyayangi satu sama lain." Adrian berusaha untuk menyemangati kekasihnya agar mau terus berjuang dan bersemangat untuk menaklukkan hati ibunya.
Mereka berempat pun kemudian memutuskan untuk tinggal di kediaman Prayoga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ibu mereka.
" Selamat malam. Aku harap kalian berdua tidak merasa terbebani untuk tinggal di rumah ini. Kami kembali ke kamar kami dulu." setelah mengatakan itu Adrian dan Steven pun kemudian meninggalkan kekasih mereka masing-masing di kamar yang sudah disediakan oleh pembantu.
Adrian menatap semua foto-foto dan juga segala hal yang ada di dalam kamarnya jangan sampai saat ini masih belum berubah sejak terakhir kali dia meninggalkan kamar itu dalam keadaan marah kepada sang ibu.
Adrian sadar bahwa selama ini dirinya telah menjadi anak yang buruk karena selalu bersikap kasar terhadap ibunya hanya karena sang ibu yang memintanya untuk mengambil alih perusahaan Prayoga group dari Siska.
" Mama ternyata mencintaiku dan juga menyayangiku!" Adrian mengambil sebuah catatan yang ada di atas nakas yang ada di samping ranjangnya.
Adrian membaca apa yang ditulis oleh ibunya di kertas itu.
" Mama maafkan aku yang selama ini selalu mengecewakanmu!" Adrian memeluk catatan yang ada di telapak tangannya dan membacanya berulang-ulang untuk mengingatnya di dalam otaknya yang cerdas.
" Adrian apapun yang terjadi kau tetap anakku paling aku sayangi di atas dunia ini. Walaupun kau membenci Mama, tetapi Mama selalu mencintai dan menyayangimu. Maafkan mama yang bahkan sampai saat ini masih belum bisa mengirim langkahkan kaki Mama untuk mendatangimu karena mama yang terlalu malu untuk melepaskan ego dan juga Ambisi Di hati Mama." Adrian sampai menangis membaca catatan kecil yang ada di dalam kertas itu.
Sepanjang malam Adrian terus menatap catatan kecil yang ditinggalkan ibunya yang Kelihatannya sudah lama tersimpan di kamarnya.
" Baiklah mah tidak masalah kalau misalkan mama melakukan semua tekanan itu kepada kami. tapi aku yakin kalau Andi Ini suatu saat pasti akan memberikan keturunan untukku dan membuatmu berbangga." Adrian kemudian memutuskan untuk tidur Dan tidak mau lagi mengotori hatinya untuk membenci sang ibu.
" Ternyata selama ini Mama memang benar-benar mencintai dan menyayangiku. Mungkin itu semua karena aku yang selalu berpikir negatif kepadanya. Sehingga tidak merasakan ataupun menemukan cinta di balik semua yang dilakukan Mamaku terhadap kami." hati Adrian benar-benar bahagia setelah mengetahui kenyataan itu.
Adrian pun kemudian tertidur dengan perasaan bahagia.
Keesokan paginya mereka berempat pun kemudian diundang untuk sarapan bersama di ruang makan yang ada di kediaman.
Terlihat Silvia yang berdandan rapih dan bersiap untuk pergi ke Jakarta bersama dengan mereka berempat.
" Ayo semua! Makanlah biar nanti kita punya tenaga ketika melakukan perjalanan jauh." Silvia melirik sekilas kepada Andini yang masih belum mau untuk menatapnya.
" Tenanglah Mama tidak akan menyulitkan pernikahan kalian berdua. rumah sadar kalau selama ini Mama sudah memberikan begitu banyak tekanan dan juga kesulitan kepada kalian. Jadi Mama akan berusaha dan berjuang untuk kebahagiaan kalian berdua." Silvia kemudian memeluk kedua putranya kembali melampiaskan kasih sayangnya kepada mereka.
" Terima kasih karena kalian sudah datang kembali dan minta restu kepada Mama. Mama berharap pernikahan kalian akan bahagia dan selalu langgeng. Mama juga berdoa semoga kalian cepat diberikan momongan untuk membelikan keturunan bagi keluarga Prayoga yang sekarang sudah semakin sedikit. Ingatlah bahwa cinta kalian suatu saat pasti akan indah. Mama akan mendoakan yang terbaik untuk kalian!" Silvia kemudian meminta kepada kedua putranya untuk makan bersama dengan mereka.
Sepanjang acara makan pagi di antara mereka berlema semuanya tampak terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.