Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
232. Pelajaran


Adrian yang merasa kesal dan juga marah mendengar semua hinaan yang dikatakan oleh Irdina tentang dirinya maupun Istrinya yang sudah meninggal karena di bunuh oleh orang lain yang sampai saat ini masih belum diketahui karena masih dalam tahap penyelidikan.


" Tuan, ini adalah ponsel wanita bermulut jahat ini. Silahkan anda periksa, Tuan!" anak buah Adrian pun kemudian menyerahkan ponsel milik Irdina yang tadi mereka rebut darinya kepada Adrian yang merasa senang mendengarnya.


Karena di zaman sekarang sangat mudah untuk menyelidiki sesuatu dari ponsel yang digunakan oleh penjahat tersebut. Karena rata-rata kerjasama maupun perintah seorang pelaku kejahatan biasanya digunakan melalui ponsel.


" Tuan wanita ini sedang merencanakan untuk membunuh Nyonya Rossa!" Adrian terkejut bukan kepala pendengarkan apa yang dikatakan oleh anak buahnya.


Anak buah Adrian pun kemudian meminta kepada Adrian untuk membaca semua chatting yang ada di dalam aplikasi hijau milik Irdina yang sudah di baca semua olehnya.


" Saya sudah membaca semua chatting Dia dengan kakaknya yang sekarang ada di Surabaya, yang kita curigai sebagai pembunuh Nyonya Andini ternyata memang benar-benar dia yang telah membunuh Nyonya Andini." Adrian terkejut bukan kepala mendengarkan perkataannya.


Adrian kemudian bangkit dari duduknya dan segera membawa pergi ponsel milik Irdina untuk dia selidiki lebih lanjut. Tetapi Adrian kembali lagi masuk ke dalam gudang untuk memberikan pesan kepada anak buahnya untuk menjaga Irdina.


" Kalian jaga dia dan jangan biarkan dia kabur dari tempat ini. Pastikan bahwa dia baik-baik saja! Paham tidak?" tanya Adrian kepada anak buahnya yang langsung mengangguk patuh.


" Kalau dia berbuat macam-macam dan menghina kalian, sumpel saja mulutnya dan ikat kaki dan juga tangannya. Biarkan dia berpuasa dua atau tiga hari. Biarkan dia tahu apa artinya menurut kepada orang lain!" setelah mengatakan itu Adrian pun langsung keluar dan membawa ponsel milik Irdina.


" Aku ingin tahu sejahat apakah mereka berdua. Kalau benar, mereka yang sudah merencanakan pembunuhan istriku, maka, akan kupastikan mereka tidak akan pernah bisa menghirup udara di esok hari!" Adrian terlihat begitu murka.


Adrian meletakkan ponsel di dashboard mobilnya. Kemudian meninggalkan gudang untuk segera kembali ke kediamannya.


Begitu sampai di kediamannya, Adrian langsung mengambil ponsel Irdina. Adrian membaca semuanya hingga akhirnya dia paham bahwa memang Indranalah yang sudah membunuh istrinya. Bahkan sekarang mereka berdua sedang merencanakan untuk membunuh Rossa dalam rangka membalaskan dendam sakit hati mereka kepada kedua kakak adik yang telah menyakiti hati mereka dengan menikahi wanita lain.


" Mereka berdua benar-benar sangat keji dan tidak punya perasaan. Bagaimana mungkin mereka tidak menghargai nyawa orang lain?" Adrian segera memanggil Steven, Farel dan Siska serta Rosa untuk membahas apa yang baru saja dia ketahui melalui ponsel milik Irdina.


Mereka berempat terlihat bingung dengan apa yang dilakukan oleh Adrian yang tiba-tiba saja mengumpulkan mereka di tengah malam buta.


" Ada apa Paman? Kenapa malam-malam mengumpulkan kami semua di sini?" tanya Siska kepada Adrian yang langsung menyerahkan ponsel milik Irdina kepada Steven.


Steven menatap kakaknya. Dia masih belum mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Adrian kepadanya saat ini.


" Apa ini?" tanyanya bingung sambil menguap karena Steven yang terlihat masih mengantuk.


Terlihat yang lain juga terlihat masih mengantuk karena dibangunkan secara mendadak oleh pembantu yang diperintahkan Adrian.


" Ckckc!! Baca saja pesan yang ada di dalam ponsel itu. Nanti kau pasti akan mengerti." Adrian berdecak kesal karena Steven yang tidak mau berusaha sedikit untuk mengerti apa yang sekarang dia lakukan.


Sambil menguap terlihat Stefan mulai membaca pesan-pesan yang ada di dalam ponsel milik Irdina.


Steven seketika kehilangan rasa kantuknya ketika membaca semua pesan antara Irdina dan Indrana yang sedang merencanakan pembunuhan istrinya.


" Sungguh perempuan yang sangat keji! Lancang!!! Berani-beraninya dia merencanakan kejahatan seperti ini kepada istriku!" Rosa yang melihat emosi di wajah Steven. Rosa sontak penasaran kemudian mengambil ponsel yang ada di tangan suaminya.


" Ada apa sih?? Kok pada tegang kayak gini?" tanya Rossa yang akhirnya ikut membaca apa yang ditulis oleh irdina dan Indrana.


" Rupanya dia benar-benar belum move on darimu, sayang. Sehingga mereka mulai merencanakan pembalasan dendam kepada keluarga kita." Rosa tampak tidak gentar sama sekali dengan kedua adik kakak yang jahat itu.


Siska mengingat kejadian ketika dirinya mengungkapkan kasus hacker yang dilakukan oleh Rossa.


Siska kemudian mengambil ponsel milik Irdina yang ada di tangan Rosa. Siska membaca semuanya dengan seksama.


Tiba-tiba saja ada pesan masuk dari Indrana. "Aku sudah menghubungi orang yang akan mengeksekusi Rossa. Kamu siapakah saja uangnya dan tinggal terima beres." Siska menunjukkan pesan itu kepada semua orang yang ada di dalam ruang tamu.


Rosa tampak gemetar ketika melihat namanya dijadikan target pembunuhan berikutnya oleh Indrana atas perintah Irdina.


" Apa yang harus kulakukan setelah orang itu selesai mengeksekusi Rosa?" tanya Siska yang berpura-pura menjadi Irdina.


" Dia akan menemuimu. Aku sudah memberikan alamat kontrakan kamu yang baru. Dia akan datang ke sana untuk mengambil bayarannya." Siska mengerutkan keningnya karena dia tidak tahu di mana kontrakan Irdina yang baru.


" Kaka, alamat mana yang kau berikan kepadanya karena aku berkali-kali pindah kontrakan gara-gara polisi yang terus mencari Keberadaanmu sehingga aku juga di kejar sama mereka." Siska mencoba mengetahui alamat Irdina yang baru melalui Indrana.


Mereka perlu mengetahui alamat titik pertemuan itu untuk bisa menangkap orang yang sudah membunuh Andini atas perintah Indrana.


Setelah menangkap orang itu akan sangat mudah untuk mendapatkan bukti bahwa Indrana lah yang sudah memerintahkan dia untuk membunuh Andini.


" Tapi untuk orang itu datang ke lokasi pertemuan yang sudah mereka sepakati, dia harus sukses dulu untuk membunuh Rossa. Bagaimana ini?" tanya Steven yang menatap sendu kepada Rossa.


Steven benar-benar merasa sedih walaupun itu baru Sekedar membayangkannya saja.


Steven sudah melihat kehancuran yang dirasakan oleh Adrian ketika Andini meninggal secara mengenaskan sekali.


" Tenanglah kita akan mencari cara untuk membuat pembunuh itu datang. Walaupun dia belum selesai dengan tugasnya." Ucap Farel menimpali apa yang dikatakan oleh Steven.


Semua orang mendadak tidak mengantuk lagi pada dini hari itu. Setelah mendapatkan berita yang begitu menggemparkan di mana saat ini sedang ada rencana pembunuhan yang lain kepada anggota keluarga mereka yang tercinta.


Steven terus menggenggam telapak tangan Rossa seakan sangat takut kalau harus melepaskannya dan Rosa telah pergi meninggalkan dia, seperti Andini ya sekarang telah pergi meninggalkan kakaknya dalam duka dan air mata yang tak berkesudahan.


" Siska mintalah nomor telepon pembunuh itu agar bisa kita hubungi dia secara langsung dan kita bisa menjalankan rencana kita dengan lebih leluasa!" perintah Steven kepada Siska yang masih sibuk chatting dengan Indrana.


Siska pun kemudian mengikuti apa yang dikatakan oleh Steven. " Paman apakah kita tidak menangkap Indrana juga? Kita bisa menanyakan sekarang alamatnya dia ada di mana. Kita serahkan alamat itu kepada polisi agar bisa menangkap dia." Siska menatap Adrian yang masih memijat pelipisnya yang terasa begitu sakit memikirkan semua masalah yang tidak ada akhirnya di dalam keluarga mereka.


" Entah kita memiliki dosa apa di masa lalu, sampai harus menanggung semua penderitaan ini yang jelas-jelas tidak pernah berhenti. Sungguh! Aku tidak mampu lagi untuk menanggung semua ini." terlihat Adrian yang menangis terisak ketika mengingat betapa tragisnya Andini meninggal.


Siska memeluk Adrian yang saat ini benar-benar sedang lemah dan butuh dukungan dari semua anggota keluarga.


" Tenanglah paman kita semua sedang berusaha untuk menangkap pembunuh itu dan memberikan keadilan kepada Bibi Andini!" Siska meletakkan ponsel Irdina di meja. Karena Siska sedang menunggu jawaban dari Indrana tentang alamat dan juga nomor ponsel orang suruhan Indrana yang telah mengeksekusi Andini ketika membunuhnya di rumah sakit.