
Keesokan paginya ibunya Farel langsung mencari putranya. Karena dia ingin menegaskan dengan keputusan putranya untuk menceraikan atau membatalkan pernikahannya Farel dan Siska.
Ibunya Farel benar-benar tidak menyukai pernikahan putranya dengan Siska yang sudah membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah suaminya meninggal dia berpikir bahwa Siska adalah pembawa sial dan dia tidak mau menerima Siska sebagai menantu.
" Farel bangunlah! Cepat katakan sama Mama apa keputusanmu?" tanya ibunya yang duduk di sebelah putranya yang masih terlelap.
Tadi malam Farel tidur hampir subuh. Jadi wajar kalau sekarang Farel masih merasa ngantuk dan sulit bangun.
" Farel Handoyo!" ibunya hilang sabar membangunkan putranya yang membuat dirinya naik darah saat ini.
Farel yang terkejut mendengarkan panggilan ibunya. Dia pun akhirnya menggeliatkan tubuhnya dan mencoba untuk membuka mata walaupun terasa begitu berat.
" Ada apa sih mah malam-malam kau berteriak begitu?" tanya Farel yang masih memejamkan matanya dan tidak ada niat untuk bangun.
" Malam-malam kepalamu? Ini sudah jam 08.00 pagi. Ayo cepat bangun! Kita harus segera ke pengadilan agama. Untuk segera membatalkan pernikahanmu dengan Siska!" Farel auto melotot mendengarkan perkataan ibunya yang menurutnya benar-benar sangat tidak perasaan.
Dengan malas-malasan Farel bangun kemudian duduk sambil menyandarkan tubuhnya di dasbor ranjang.
Farel masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya yang tiba-tiba tertarik ke dalam nyata saat dia tertidur pulas dan di bangunkan paksa oleh sang ibu.
" Cepat Mama akan menemanimu untuk ke pengadilan dan membatalkan pernikahan kamu dengan Siska. Pokoknya mama tidak mau mempunyai menantu seperti dia!" ucap sang ibu dengan mata melotot sempurna menatap putranya yang tampak masih ragu-ragu untuk mengikuti keinginannya.
Farel terus menetap ibunya dia benar-benar tidak percaya bahwa ibunya ternyata tidak pernah memikirkan kebahagiaannya.
" Setelah membatalkan pernikahan bodoh itu, langsung ke daftarkan rencana pernikahanmu dengan Amora. Mama akan menyiapkan semuanya dan kau tinggal melaksanakan saja!" ucapnya lagi.
Akan tetapi Farel masih membeku di tempatnya. Dia belum juga mau beranjak dari ranjangnya. Karena saat ini dia masih belum bisa memutuskan apakah akan membatalkan pernikahannya dengan Siska dan menikah dengan Amora sesuai imstruksi sang ibu.
" Farel tidak akan pernah membatalkan pernikahan dan selalu juga tidak akan pernah menikahi Amora!" ucap Farel sambil menundukkan wajahnya. Karena dia tidak mampu menatap sang ibu yang langsung mendekatinya dengan penuh amarah.
Ibunya Farel langsung mengguncangkan tubuh Farel dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya yang mulai tua.
" Kamu berani menantang keinginan Mama kamu? Farel! Kamu sudah berubah semenjak kau bersama dengan perempuan pembawa sial itu! Mama gak sudi menjadikan dia menantu Mama! Kenapa sulit sekali kau untuk memahami kata-kata mama?" ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.
Farel mengacak rambutnya dengan frustasi. Bagaimanapun saat ini dia disuruh memilih untuk meninggalkan istri yang dia cintai ataukah menyakiti hati ibunya yang telah melahirkan dan merawatnya hingga besar?
Farel tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba Ibunya beranggapan bahwa Siska adalah pembawa sial? Siapa yang sudah mencuci otak ibunya yang baik hati itu? Hingga mempunyai perangai buruk seperti sekarang?
" Maafkanlah tapi Farel benar-benar tidak bisa membatalkan pernikahan itu karena Farel sama cinta Siska. Kalau mama tidak bisa menerima pernikahan kami berdua, biarlah Farel yang akan keluar dari keluarga Handoyo dan Farel akan hidup bersama dengan Siska di Amerika!" ucap Farel dengan penuh Kemantapan hati dan tanpa keraguan.
Tiba-tiba saja ibunya Farel mengambil pisau buah yang berada di atas nakas di samping ranjang Farel.
" Lakukanlah apa yang mau kau lakukan! Percayalah Farel! Maka kau akan melihat jenazah ibumu di dalam rumah ini! Hiks hiks!" ucap ibunya sambil mengarahkan pisau buah itu ke nadinya dan bersiap untuk memotong.
Farel sangat terkejut mendengarkan ancaman dari ibunya. Fatel berusaha untuk membujuk sang ibu agar melepaskan pisau buah itu dan tidak bermain-main dengan nyawanya.
Ibunya menangis sesegukan dan sangat sedih membuat hati Farel terhiris merasakan kepedihan yang sama.
" Baiklah Mah. Farel tidak akan bertemu lagi dengan Siska sampai mama bisa memaafkan dan menerima dia sebagai menantu Mama. Tetapi Maafkan Farel Mah, Farel tidak bisa membatalkan pernikahanku dengan Siska karena Farel sangat mencintainya. Biarlah Farel hidup di dalam penderitaan karena jauh dengan wanita yang kucintai. Kalau itu yang ingin mama lihat dan membuat mama bahagia!" Ucap Farel dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan suara yang bergetar.
Farel langsung pergi ke kamar mandi dan sudah tidak memperdulikan lagi Ibunya yang masih bengong terlongong di tempat.
" Farel bukan seperti itu yang Mama inginkan. Ayo cepat sekarang juga kita ke pengadilan dan batalkan pernikahanmu dengan Siska setelah itu kau menikah dengan Amora!" ucap ibunya sambil terus mengejar Farel ke kamar mandi dan berusaha untuk membujuk Farel untuk membuka pintu. Karena dia ingin bicara dengannya.
Akan tetapi, selama satu jam lebih Farel tidak juga mau membuka pintu kamar mandinya. Sehingga membuat ibunya Farel akhirnya menyerah dan meninggalkan Farel sendirian di sana dengan kesedihan yang luar biasa.
" Baiklah Mama akan keluar dari sini. Setelah kau berfikir dengan jernih temuin Mama lagi di luar!" ucap ibunya Farel akhirnya memilih keluar dari kamar Farel dan menuju ke ruang tamu di mana Amora sudah menunggunya.
Sementara itu Farel yang sekarang berada di dalam kamar mandi. Dia tampak sedang menangis dan bersedih. Karena harus berpisah dengan wanita yang dia cintai demi untuk membahagiakan ibunya.
" Aku sangat merindukanmu Siska. Aku sangat mencintaimu. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu di sisiku?" Farel terus menatap foto Siska yang ada di dalam ponselnya, lalu dia terus saja menciumnya berulang-ulang seakan ingin memasukkan Siska ke dalam hatinya dan tidak boleh keluar lagi dari sana.
Hati Farel saat ini benar-benar sangat sakit. Karena harus dipisahkan dengan wanita yang dia cintai setelah pernikahannya yang baru berusia kurang dari sebulan.
Mereka berdua bahkan belum melakukan malam pernikahan. Bagaimana mungkin sekarang harus dipisahkan begitu saja, demi membahagiakan sang ibu yang tidak bisa menerima pernikahannya dengan Siska?
Setelah merasa lebih baik, Farel kemudian keluar dari kamarnya dan dia mendapatkan Amora yang berbaring di kasurnya dengan begitu sensual dan menggoda iman Farel.
Amora langsung bangkit dan tersenyum, ketika dia melihat kedatangan Farel dengan hanya menggunakan handuknya saja yang melilit sempurna di pinggangnya.
" Apa yang sedang kau lakukan? Cepat keluar dari kamarku!" perintah Farel tanpa melihat sekilas pun kepada Amora yang bahkan sekarang begitu berani melepaskan jaketnya di hadapan Farel.
Amora langsung memeluk tubuh Farel yang sudah lama sekali dia rindukan.
" Aku mohon Farel jangan terlalu keras kepadaku. Aku benar-benar sangat merindukanmu sayang." ucap Amora sambil berusaha untuk mencium bibir Farel yang terus mendorong tubuhnya untuk menjauh darinya.
Akan tetapi Amora tetap tidak mau menyerah dan dia terus berusaha untuk menaklukkan seorang Farel.
Amora merasa percaya diri bahwa dia bisa kembali mendapatkan Farel setelah ibunya sekarang begitu membenci Siska dan tidak ada kesempatan untuk Siska kembali ke dalam kehidupan Farel.
" Keluar dari kamarku sekarang juga Amora! Kau jangan menguji kesabaranku!" Ucap Farel dengan mata berapi-api sambil mendorong tubuh Amora yang sekarang malah menangis terisak di ranjang Farel.
Farel yang merasa tidak enak, melihat Amora yang menangis tersedu. Dia pun kemudian mendekati wanita itu dan memeluknya.
Pada saat itu ibunya Farel langsung memotret gambaran itu dan langsung mengirimnya kepada Siska.
" Cepat ajukan pembatalan pernikahan kalian berdua. Karena Putraku sebentar lagi akan menikah dengan Amora!" setelah wanita paruh baya itu mengetikkan pesan itu, dia pun langsung mengirimkannya kepada Siska yang sekarang berada di Amerika.