
Karina langsung masuk ke dalam kamar karena dia tidak mau ribut dengan Andrew ataupun Edward.
Karina hanya ingin hidupnya tenang. Tanpa harus mengalami perselisihan dengan siapa pun juga.
Karina hanya mencoba untuk mengerti bahwa memang di dalam kehidupan setiap orang pasti memiliki masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Begitupun dengan dia yang sangat sulit untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya tentang Heru dan Amelia.
Dengan keyakinan itulah. Karina akhirnya bisa berdamai dengan semua yang terjadi di dalam rumah tangganya bersama Andrew.
" Sayang kita mau makan malam di luar atau mau di rumah aja?" tanya Andrew ketika dia pulang dari rumah sakit.
Karina memang diminta oleh Andrew untuk sementara beristirahat dulu. Sambil mereka menyiapkan diri untuk melakukan perawatan dalam rangka menyembuhkan penyakit Karina agar mereka bisa dengan mudah memiliki anak.
" Terserah padamu aku ikut aja!" ucap Karina yang dengan malas-malasan kemudian bangkit menyambut suaminya yang kini sedang tersenyum melihat istrinya.
" Kenapa kau begitu bahagia? Apakah ada sesuatu yang menyenangkan di rumah sakit?" tanya Karina dengan wajah penuh pertanyaan.
Andrew langsung memeluk Karina kemudian mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
" Aku hanya merasa bahagia. Karena kau menuruti keinginanku untuk beristirahat beberapa waktu dulu. Sambil kita mengobati penyakitmu," ucap Andrew sambil meletakkan tas kerjanya yang berisi laptop dan beberapa file yang harus dia pelajari sebelum dia melakukan operasi pasiennya.
" Tidak masalah. Satu atau dua bulan aku beristirahat di rumah. Toh itu juga untuk kebaikan kita berdua. Akan tetapi kau harus janji padaku. Setelah 2 bulan dan kita tidak mendapatkan kabar berita apapun, kalau tidak boleh marah ketika aku kembali bekerja!" ucap Karina sambil menatap Andrew yang langsung mengiyakan dan setuju dengan keinginannya.
" Baiklah aku akan mandi dulu. Setelah itu kita akan makan malam di luar. Semoga saja dengan perasaan bahagia yang kau rasakan, hal itu akan membuat tubuhmu menjadi lebih rileks dan menerima respon obat dengan baik. Sehingga kesehatan kamu pulih lagi dan syukur-syukur kita akan segera mendapat momongan!" ucap Andrew dengan binar penuh kebahagiaan di wajahnya.
" Ya ampun sayang. Bahkan pernikahan kita belum masuk angka 1 bulan. Akan tetapi kau sudah mengejar-ngejar aku untuk segera memiliki anak!" ucap Karina merasa frustasi sekali dengan kelakuan Andrew.
Andrew hanya tersenyum simpul ketika dia mendengarkan penuturan dari istrinya yang hanya lirih saja tetapi bisa dia dengarkan.
" Kita ini bisa dikatakan terlambat menikah. Kalau tidak bergegas untuk memiliki anak, kita pasti akan kesulitan untuk mendapatkan keturunan!" ucap Andrew dari kamar mandi.
" Itu kan gara-gara kau yang hidupmu hanya terpesona kepada Siska dan tidak pernah melihat ada wanita cantik aku yang selalu mendambakanmu untuk menjadi suamiku!" protes Karina yang saat ini sedang sibuk untuk menyiapkan pakaian dan juga keperluan Andrew setelah mandi dan pulang dari bekerja.
Tidak lama kemudian Andrew keluar dari kamar mandi dan menatap Karina yang masih cemberut kepada Andrew.
" Walaupun terlambat. Bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali?" tanya Andrew sambil mencium bibir istrinya yang terlihat begitu menggemaskan ketika cemberut begitu.
" Dasar mesum!" protes Karina yang langsung melemparkan bantal ke arah Andrew.
Sejujurnya Karina memang sedang merasa tidak bahagia hatinya. Setelah kembali mengingat apa yang dikatakan Edward tentang Siska.
" Katakan padaku! Apakah hingga saat ini kau masih mencintai Siska?" tanya Karina menetap lekat ke manik mata Andrew.
Andrew malah tertawa terbahak mendengarkan pertanyaan istrinya yang konyol baginya.
" Kalau aku masih mencintai Siska. Aku tidak akan mungkin berada di sini bersama denganmu sayang!" ucap Andrew yang langsung memeluk Siska dengan posesif.
Akhirnya mereka berdua membatalkan rencana untuk makan malam di restoran. Mereka terlalu sibuk di atas ranjang untuk mewujudkan keinginan Andrew untuk segera punya momongan.
" Sekarang kau percaya kan sayang? Kalau aku mencintaimu?" tanya Andrew sambil mencium kening Karina yang ada di dalam pelukannya sekarang.
Karina hanya menganggukkan kepala kemudian membenamkan kepalanya di dalam pelukan Andrew.
" Tunggu sebentar sayang. Aku akan meminta pembantu untuk membawa makanan kita kemari saja. Aku yakin Papa pasti sudah selesai makan malam juga. Karena sekarang sudah lewat waktu makan malam!" ucap Andrew sambil meringis kepada istrinya.
Andrew hanya tertawa mendengarkan istrinya yang terus protes kepadanya sejak tadi. Amdrew kemudian keluar kamar untuk mencari pembantu agar membawa makanan untuk mereka berdua yang sudah kelaparan.
" Pakailah dulu pakaianmu sayang! Ya ampun!! Apa kau mau menggoda pembantu kita? Awas saja ya, kalau kau berani macam-macam!!" ancam Karina ketika melihat Andrew yang mau keluar dari kamarnya hanya memakai boxer saja.
Andrew pun kemudian menyambar kemeja nya dan menggunakan secara sembarangan. Hanya untuk menutupi six pack di perutnya saja. Yang dipastikan bisa menggoda iman seseorang ketika melihatnya.
" Dasar!! Begini rasanya ternyata mempunyai suami kelewat tampan seperti dia!" ucap Karina yang memilih untuk kembali tidur lagi.
Andrew hanya tersenyum melihat istrinya yang sekarang sudah mulai posesif terhadap dirinya.
Yah kecemburuan adalah bagian daripada cinta dan dia menikmati semua itu.
Ketika Andrew menemui pembantunya yang saat ini masih sibuk di dapur karena membereskan peralatan bekas memasak makan malam.
" Tolong antar makan malam kami ke kamar ya!" ucap Andrew kepada pembantunya.
Setelah itu Andrew langsung mau kembali ke kamar. Tetapi dia melihat ayahnya yang saat ini masih sibuk di ruang kerjanya.
" Papa belum tidur?" tanya Andrew ketika melihat ayahnya yang begitu serius melihat sebuah file yang ada di hadapannya.
" Kemarilah nak Papa ingin berbicara denganmu!" Andrew kemudian duduk di hadapan ayahnya.
" Dari tadi papa melihat dan memperhatikan berkas-berkas istrimu. Tampaknya akan sulit untuk Karina bisa hamil," ucap Edward sambil memijat pelipisnya yang terasa begitu sakit memikirkan tentang keadaan menantunya yang mengalami kesulitan untuk memberikan keturunan kepadanya.
" Tenanglah Pak. Andrew pasti akan berusaha untuk menyembuhkan Karina. Sekarang yang terpenting kita harus membuat Karina merasa bahagia. Jangan sampai fisik maupun mentalnya lemah atau pun merasa tertekan. Karena hal itu akan sangat buruk untuk psikologisnya dan kesehatan fisiologisnya. Tenanglah Pah. Andrew pasti akan segera memberikan cucu untuk Papa!" setelah mengatakan itu Andrew pun kemudian meninggalkan Edward yang menatap putranya dengan lekat.
Wajar kalau Edward merasa kesulitan bernafas, ketika dia mengetahui tentang kondisi tubuh menantunya yang akan sulit untuk melahirkan karena kesehatan fisiknya yang tidak memadainya.
" Andrew adalah penerus keluarga kami. Kalau sampai dia tidak memiliki anak, maka punah lah sudah keluarga kami dari muka bumi ini!" ucap Edward pelan yang langsung merasa sedih sekali.
Sementara itu Karina yang tadi sempat mendengarkan pembicaraan Edward dan Andrew. Dia pun langsung berlari menuju ke kamarnya ketika dia melihat suaminya yang sedang keluar dari ruangan itu.
Setelah berada di dalam kamarnya tanpa karena mulai merenung apa yang tadi dia dengarkan di ruangan kerja milik Edward.
Karina bisa mengerti perasaan mertuanya saat ini yang merasa terancam tidak akan memiliki keturunan karena melihat laporan kesehatan yang dia miliki yang sudah sejak lama dia ketahui.
Tiba-tiba saja Karina merasa bersalah karena dia tidak membuka terus terang mengenai kesehatannya ketika Andrew dulu melamar dirinya. Kalau waktu itu Karina berterus terang mungkin sekarang mereka tidak akan berada di titik saat ini merasa bingung dan bimbang untuk mengambil keputusan dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua.
" Ya Tuhan apakah aku egois kalau aku ingin menahan Andrew disampingku. Sementara aku tahu bahwa aku tidak akan mampu memberikan apa yang diinginkan olehnya dan juga ayahnya. Keturunan Jhanson akan punah dari muka bumi ini gara-gara aku yang tidak bisa melestarikan keturunan mereka. Karena kesehatanku yang saat ini tidak memungkinkan untuk mengandung dan melahirkan!" Karina terus bermonolog kepada dirinya sendiri sambil memeluk kakinya yang dia tekuk di depan dadanya.
Sungguh Karina pun sebenarnya merasa bersalah karena dia tidak jujur dengan kondisi dirinya disaat pernikahan mereka dulu.
Rasa cintanya kepada Andrew terlalu besar sehingga membuat dia tidak mampu untuk membuka mulutnya agar bisa dan mampu memberitahukan kelemahannya yang ada dalam dirinya. Sayangnya kelemahan itu adalah sesuatu yang sangat fatal untuk keberlangsungan keluarga sang suami.
Ketika Andrew masuk ke dalam kamar. Karina pun langsung menghapus air mata yang sejak tadi terus mengalir di pipinya tanpa bisa dia kendalikan.
" Sayang? Apakah Kau menangis? Kenapa sayang? Oh kau jangan membuat aku takut! Apakah ada masalah?" tanya Andrew yang merasa begitu panik melihat istrinya yang matanya sembab bahkan hidungnya memerah karena menangis sejak tadi.
Karina langsung tersenyum kepada Andrew dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
" Sudahlah lupakan saja sayang. Aku saat ini baik-baik saja kok. Apakah Papa sudah tidur?" tanya Karina menyambut kedatangan Suaminya ke dalam kamar mereka.