Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
119. Bertarung


Setelah kepergian Zainal. Farel kemudian menatap ruangan yang dulu ditempati oleh ayahnya.


Farel tahu bahwa ayahnya telah banyak mengalami kesulitan gara-gara laki-laki bernama Zainal itu dan juga keluarganya yang selalu banyak tingkah dan banyak gaya.


Mereka merasa sebagai pemilik dari perusahaan Handoyo. Sehingga mereka merasa mempunyai hak untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.


" Papa sekarang aku mengerti kesulitanmu untuk mengendalikan mereka semua. Orang-orang yang tidak tahu diri itu! Akan aku pastikan mereka belajar dan tahu tempat mereka di mana!" Ucap Farel mulai menatap foto ayahnya yang terpajang di hadapan Farel.


Suatu dilematis ketika harus berhadapan dengan keluarga sendiri yang banyak melakukan penyelewengan dana dan kekuasaan yang membahayakan perusahaan.


Flash back off


Farel merasa yakin pasti semua teror dan kesulitan yang dihadapi oleh keluarganya berhubungan dengan paman dan juga sepupunya yang nakal itu.


" Aku harus mulai menyelidiki mereka berdua. Jangan sampai mereka menimpakan kesulitan kepada keluargaku!" ucap Farel terus menatap langit malam yang begitu pekat dan gelap.


Ada begitu banyak kesedihan di hati Farel. Ketika mengingat tentang kedua orang tuanya yang telah berjuang membesarkan perusahaan Handoyo Group dengan sangat keras dan tanpa lelah.


Keluarga pamannya itu hanya pintar untuk mengambil dana milik perusahaan tanpa pernah berpikir tentang stabilitas perusahaan.


Dulu ayahnya tidak pernah berani menyentuh Abian maupun Zainal karena merasa tidak enak dengan keponakan dan juga adiknya.


" Sudah saatnya aku memberikan mereka pelajaran. Besok aku akan menyelidiki tentang Abian. Untuk apa uang 200 miliar itu dia gunakan aku harus tahu semuanya!" ucap Farel dengan mata berapi-api.


Tidak lama kemudian Siska masuk ke dalam kamar dan menemui Farel.


" Sayang, Kenapa kau malah melamun di luar? Bukankah itu dingin sekali? Kau bisa sakit terkena angin malam!" ucap Siska sambil memberikan selimut tebal ke tubuh Farel.


" Aku baik-baik saja sayang. Aku hanya sedang merenungkan apa yang kau katakan tadi. Mengenai orang yang memiliki kecenderungan untuk membuat keluarga kita celaka karena harta keluarga Handoyo!" ucap Farel menjelaskan keresahan hatinya terhadap Siska.


" Berbuatlah yang tegas tetapi tetap harus menjaga perasaan keluargamu. Jangan sampai nanti mereka menganggap kita terlalu sombong ataupun arogan dengan kekuasaan yang kita miliki!" ucap Siska.


" Apa kau tahu sayang? Akan sangat sulit untuk aku bisa menangani kasus ini tanpa dukunganmu. Suport aku terus sayang. k


Karena aku benar-benar membutuhkan suntikan semangat yang selalu kau berikan!" ucap Farel dengan senyum yang merekah pada sang istri tercinta.


Siska mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya yang memang semakin hari semakin banyak sekali tanggung jawab dan kewajibannya di perusahaan.


" Aku akan selalu mendukungmu apapun yang akan kau lakukan selama itu untuk kebaikan perusahaan dan juga keluarga kita!" ucap Siska sambil mencium bibir Farel yang sudah sangat dia rindukan selama beberapa hari ini.


Gara-gara teror yang selalu diberikan oleh orang yang sampai saat ini masih belum diketahui. Karena masih bersembunyi dalam gelap dan tidak pernah menunjukkan batang hidung mereka secara jelas.


Membuat mereka tidak ada waktu untuk memikirkan tentang kebersamaan ataupun kemesraan di antara mereka.


" Aku rindu sama kamu sayang!" ucap Siska yang matanya sudah mulai berkabut.


" Aku juga sangat merindukanmu sayang. Maafkan aku karena masalah ini yang sudah benar-benar menyita waktu dan juga pikiranku sehingga aku tidak memiliki waktu untuk mengingatmu!" ucap Farel yang kemudian menggendong Siska untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Malam itu, mereka mengarungi lautan cinta yang penuh dengan kerinduan akan satu sama lain. Semalaman mereka meluahkan perasaan cinta di antara keduanya.


" Nanti aku pasti akan membantu dengan menggunakan kekuatan dari Prayoga group untuk memberantas para koruptor yang ada di dalam perusahaan keluargamu!" ucap Siska kembali mencium bibir sang suami yang selalu menjadi candunya.


Farel paling tahu istrinya kalau sudah melakukan itu, pasti karena ingin menambah lagi porsi percintaan mereka berdua.


Akan tetapi Farel yang saat ini sedang dalam kondisi lelah lahir dan batin hanya bisa meminta maaf kepada istrinya.


" Maafkan aku sayang. Bisakah kita tidur saja? besok pagi Banyak sekali hal yang harus aku urus untuk melaporkan penjahat itu agar dia bisa kapok dan tidak mengulangi lagi semua perbuatannya!" Ucap Farel meminta pengertian dari Siska.


Siska nampak kecewa mendapatkan jawaban seperti itu dari suaminya. akan tetapi Siska tahu bahwa beban dan juga tanggung jawab suaminya sangatlah besar di dalam grup Handoyo milik keluarga suaminya.


" Baiklah sayang. Aku tidak masalah. Ayo kita tidur!" ucap Siska sambil tersenyum kepada Farel berusaha mengatakan kepada suaminya bahwa dia baik-baik saja.


Perusahaan grup Handoyo saat ini sedang dirongrong dari luar maupun dalam. Hal itu yang membuat Farel harus ekstra memutar otak untuk membuat perusahaan itu agar tetap eksis hingga sekarang.


" Selamat malam sayang!" ucap Farel sambil mencium kening Siska.


" Mimpi indah sayang!" ucap Siska tersenyum pada suaminya yang merasa bersalah karena tadi menolak keinginan Siska untuk bercinta.


***


Sementara itu Abian yang saat ini sedang berdiskusi dengan ayahnya. Dia tampak mondar-mandir di ruangan kerja ayahnya.


" Bagaimana ini Pah Farel memberikan waktu Sampai besok untuk kita mengembalikan uang yang sudah aku ambil .Uang itu sudah habis Aku mainkan judi dan tidak bersisa. Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Abian dengan wajah gugup dan ketakutan menatap ayahnya yang saat ini sedang melotot kepadanya.


" Kau benar-benar laki-laki bodoh yang tidak punya otak! Bagaimana bisa kau mengambil uang perusahaan segitu besar hanya untuk bermain judi?" tanya Zaenal dengan amarah yang memuncak di dadanya.


Abian hanya bisa menentukan kepalanya dia tidak berani menatap ayahnya. Dia sangat tahu kalau jabatan ayahnya pun saat ini sedang dipertaruhkan.


Farel sudah mengancam keluarga mereka. Farel akan menarik semua fasilitas kalau sampai Abian tidak juga mengembalikan uang yang sudah dia curi dari perusahaan Handoyo Group.


" Kita akan mencari solusi untuk masalah ini semua. Papah juga tidak rela harus tunduk selamanya kepada anak ingusan itu yang sangat sombong hanya karena menjadi CEO dari Handoyo Group." ucap Zaenal dengan mata berapi-api.


Abian merasa senang melihat ayahnya yang terlihat begitu membenci Farel itu menjadi kesempatan untuk dia bisa menggosok sang ayah untuk bertarung melawan Farel.


Abian sangat senang kalau sampai ayahnya melawan Farel untuk membela dirinya yang saat ini sedang terancam masuk penjara setelah mencuri uang sebanyak 200 miliar dari perusahaan Handoyo Group.


Sebenarnya Abian tidak terlalu 100% jujur kepada ayahnya. Dia tidak menghabiskan semua uang itu di meja judi. Tetapi dia telah membangun sebuah perusahaan kecil atas namanya sendiri. Alan tetapi dia tidak mau jujur terhadap ayahnya. Abian takut kalau nanti ayahnya akan membujuknya untuk mengambil kembali uang itu dan diserahkan kepada Farel untuk dikembalikan kepada grup keluarga Handoyo.


" Tenanglah Papa pasti akan memikirkan cara untuk membuat Farel tidak jadi melaporkan mau ke kantor polisi! Tetapi kau harus memiliki bukti-bukti bahwa kau tidak bersalah soal pencairan itu!" ucap Zainal sambil menatap putranya yang langsung menundukkan kepalanya.


" Semua bukti-bukti sudah ada di tangan Farah aku sudah tidak bisa berkutik untuk melawan itu Pah!" ucap Abian tampak begitu putus asa di hadapan Zainal.


Zaenal hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Melihat kelakuan putranya yang sampai sebesar itu masih memberikan masalah kepadanya.


" Entah sampai kapan kau akan membuat papamu ini bisa bernafas dengan lega, dengan semua kelakuan burukmu itu!" ucap Zainal benar-benar merasa kesal kepada putranya sendiri yang selalu melimpahkan aib ke mukanya.


Bagaimanapun Zaenal benar-benar merasa malu karena dia harus menundukkan kepalanya di hadapan keponakannya sendiri, gara-gara kesalahan anaknya yang sudah mencuri uang milik perusahaan.