Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
137. Pulang


Setelah Farel dan Alex keadaannya mulai membaik. Mereka pun kemudian kembali ke Indonesia.


" Rasanya rindu sekali dengan Aaron. Semoga saja Paman Adrian mengasuhnya dengan baik!" ucap Siska ketika mereka dalam perjalanan menuju Indonesia dengan menggunakan pesawat komersial karena jet pribadi milik Adrian sudah dijual untuk menutupi keuangan perusahaan Prayoga group yang telah dicuri oleh Abian dan sekarang dibawa kabur oleh Amora.


" Wah kita akhirnya mencicipi seperti orang kebanyakan!" ucap Siska yang begitu bahagia melakukan perjalanan itu bersama Farel.


Alex sudah kembali ke Indonesia bersama dengan Melinda 2 hari yang lalu. Karena luka-luka yang diterima oleh Alex tidak terlalu parah seperti Farel. Sehingga dia bisa pulang dengan lebih cepat.


" Maafkan aku sayang, karena aku terpaksa menjual jet pribadi milikmu untuk menutupi keuangan perusahaan." ucap Siska ketika mereka sudah berada di Indonesia.


Farel tersenyum kepada Siska Karena bagaimanapun dia merasa berterima kasih kepada Siska yang mau mengurus Handoyo Group di antara kesibukannya mengurus dirinya dan juga perusahaan Prayoga Group.


" Kamu tahu? Aku adalah laki-laki yang paling beruntung karena memiliki istri sepertimu yang tidak pernah keberatan untuk membantu suami kamu yang sedang berada dalam masalah," ucap Farel bahagia.


" Sudahlah Ayo sekarang kita beristirahat! Aku akan ke rumah Paman Steven dulu, karena saat ini Aaron bersama dengannya. Paman Adrian harus ke Bandung. Karena perusahaan milik kakek di sana bermasalah." ucap Siaka.


Siska kemudian mengantarkan Farel menuju kamar mereka untuk bisa beristirahat di sana sementara dirinya segera berangkat ke kediaman Steven yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


Farel hanya mengangguk saja karena dia pun sangat merindukan putranya setelah hampir dua minggu berpisah dengan Aaron.


" Rasanya rindu sekali dan rumah ini!" ucap Farel yang tiba-tiba saja matanya melihat ke arah kotak musik yang ditinggalkan oleh kakeknya.


Seketika Farel mengingat tentang bangalau yang diwariskan oleh kakeknya untuk dirinya dan Siska yang ada di Bali.


" Ya ampun! Bodohnya aku!! Kenapa aku lupa dengan tempat itu? Padahal mungkin aku bisa cek keuangan di sana. Mungkin saja bisa membantu keuangan perusahaan!" ucap Farel yang akhirnya mengambil kembali kotak musik unik yang khusus di desain itu.


Farel pun kemudian membuka kotak musik tersebut. Dan melihat isinya.


Setelah memastikan semuanya aman Farel pun kemudian kembali menyimpan kotak musik itu kembali di tempatnya.


Farel memutuskan untuk tidur karena tubuh yang terasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang begitu jauh.


Apalagi kondisi tubuhnya yang baru saja sehat setelah menjalani pengobatan yang sangat intensif di Amerika.


Sementara itu Siska yang sekarang berada di kediaman Steven merasa bahagia sekali melihat putranya yang tumbuh baik dan sehat.


Di kediaman Steven, Aaron benar-benar diperhatikan oleh pembantunya yang memang menyayangi Aaron. Maklum saja, wanita paruh baya itu tidak memiliki anak bahkan pernikahannya dengan suaminya pun harus berakhir karena dia yang mandul.


" Mama bagaimana keadaan Papa?" tanya Aaron pada Siska saat ibunya datang menjemput putranya.


" Alhamdulillah papa sekarang sudah sehat dan dia sangat merindukanmu Sayang. Ayo kita pulang! Paman, Terimakasih karena sudah menjaga Aaron dengan baik!" ucap Siska ketika berpamitan kepada Steven.


" Ya tidak apa! Justru kehadiran Aaron di sini, benar-benar sudah membuat rumah ini sangat bahagia. Karena tidak sepi lagi! Betul itu jagoan?" tanya Steven.


" Kakek tampan, segeralah menikah dan punya anak agar aku memiliki teman!" ucap Aaron dengan suara gemesnya.


" Kakek tampan masih belum menginginkan untuk menikah. Karena menikah hanya bikin kepala pusing!" ucap Steven sambil memukul kepala nya dengan pelan.


" Baiklah Paman Terima kasih banyak kami kembali dulu ke rumah!" Siska pun kemudian menggendong Aaron dan memasukkannya ke dalam mobil bersama dengan sopir pribadinya.


Setelah kepergian Aaron rumah pun terasa kembali lengang dan sepi Steven terlihat menatap kepergian mereka dengan sendu.


Steven sebenarnya sudah pernah melamar kekasihnya tetapi kekasihnya meno lak dan malah sekarang meninggalkannya.


" Sudahlah hidup sendiri itu jauh lebih bahagia!" ucap Steven yang akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan kembali memeriksa pekerjaan tadi siang yang masih belum dia selesaikan.


Sejak Aaron tinggal di kediamannya. Seven lebih senang pulang cepat dan memilih pekerjaannya untuk dia bawa ke dalam rumah setelah bermain dengan Aaron dan bocah itu tidur pulas di kamar nya.


Sungguh hidup bersama dengan Aaron selama beberapa hari, benar-benar sudah membuat Steven sangat bahagia.


" Kalau saja kekasihku mau aku lamaran. Mungkin aku pun bisa memiliki anak setampan Aron tapi sayang dia lebih memilih karirnya daripada menjadi istriku!" monolog Steven yang melihat foto kebersamaannya dengan sang kekasih yang sejujurnya sampai saat ini masih dia cintai.


Akan tetapi Steven pun tidak mau untuk memaksakan perasaannya kepada perempuan itu dan akhirnya memilih untuk melupakannya saja dari pada membuat hatinya merasa sedih.


" Ada kalanya hati merasa kesepian setelah malam berganti," ucap Steven saat dia memilih untuk duduk di balkon kamarnya sambil menyesap wine kesukaannya.


Steven kemudian masuk ke dalam kamar Setelah dia menyelesaikan tugas-tugasnya yang tadi sempat dia tunda hanya karena ingin pulang cepat untuk bisa bermain dengan Aaron.


" Ah, menyebalkan!" tutuk Steven saat tiba-tiba saja main dia ada di gelasnya tumpah ke file yang baru saja dia kerjakan.


Mau tidak mau Steven pun kemudian mengeprint ulang file yang besok akan dia gunakan untuk bertemu dengan klien barunya yang datang dari Surabaya.


" Ah sudahlah besok saja!" ucap Steven karena dia sudah merasa mengantuk setelah bekerja seharian.


Steven pun kemudian membereskan file yang tadi baru saja dia printer ulang untuk besok kembali dia cek kelengkapannya sebelum di bawa ke meeting bersama kliennya.


Pada saat Stevan sudah mulai memejamkan matanya tiba-tiba saja Adrian menelponnya.


" Ada apa Kak? Ini sudah malam. Apa kau tidak ada kerjaan huh? Ya ampun! Kenapa kau menelpon orang pada jam segini?" tanya Steven sambil menguap karena sudah tidak kuasa menahan rasa kantuknya.


" Maaf kau kan tahu, kalau siang aku sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Aku baru ada waktu untuk menghubungimu pada jam segini doang! Oh ya, gimana dengan Farel? Kondisinya sudah lebih baik kan?" tanya Adrian merasa khawatir.


" Ya ampun Kak! Kau kan bisa menghubungi Siska kenapa malah menghubungi aku sih? Aku saja belum bertemu dengan Farel. Tadi cuma bertemu dengan Siska. Itu pun hanya mengambil Aaron doang, cuma bentar doang. Nggak bicara apapun soal Farel. Jadi aku belum tahu bagaimana kondisi Farel yang terbaru!" ucap Steven sambil terus menguap.


" Dari tadi aku sudah mencoba untuk menghubungi Siska tapi tidak diangkat sama dia!" ucap Adrian kesal.


" Ya elah Kak. Bener lah nggak diangkat! Pasti sudah tidurlah. Emang ini jam berapa Kak? Kau ini ada-ada saja! Mereka pasti kelelahan setelah penerbangan Amerika Indonesia. Apalagi hanya menggunakan penerbangan pesawat komersial biasa pasti mereka sangat lelah sekali. Mereka akan selama ini selalu dimanjakan dengan chat pribadi milik Prayoga Group. Pasti mereka belum terbiasa setelah jet pribadi itu dijual untuk menutupi krisis keuangan Prayoga group gara-gara dananya yang dikorupsi oleh Abian. Ah udah deh kak! Besok lagi ngobrolnya ya? Kak, aku bener-bener sudah sangat mengantuk!" ucap Steven yang akhirnya menyerah untuk mengobrol bersama kakaknya yang sebetulnya sedang gabut banget pada malam itu dan membutuhkan seseorang untuk bicara dengannya.


" Baiklah tidurlah besok pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor Aku akan kembali menghubungi!" ucap Adrian.


Belum selesai kata-kata Adrian, Steven sudah menutupnya begitu saja.


" Ah dasar adik durhaka! Masa diajak ngobrol segitu aja udah kabur sih?" kesal Adrian Karena pada saat dirinya benar-benar Butuh seseorang tidak ada siapapun yang mau bersedia untuk menemaninya.