
Setelah mendengarkan semua penjelasan dokter Andrew. Siska akhirnya memutuskan untuk ikut bersama dengan Farel pulang ke Indonesia dan membatalkan beasiswa yang telah diterima di Universitas tempatnya belajar saat ini.
" Aku senang akhirnya kau mau ikut denganku untuk kembalikan ke Indonesia dan merajut pernikahan kita berdua!" ucap Farel dengan senyum yang terus merekah di bibirnya.
Siska hanya bisa tersenyum getir karena memikirkan bahwa dia harus kehilangan impiannya untuk menjadi seorang seniman. Bahkan dia harus melepaskan beasiswanya yang diimpikan oleh banyak orang.
Farel merasa tidak nyaman ketika melihat Siska yang seharian itu terus saja termenung dan melamun di depan jendela tanpa mau berbicara dengannya.
Entah kenapa hati Farel merasa sakit melihat calon istrinya yang sepertinya tidak bahagia ketika memutuskan pernikahan dengannya.
" Seharusnya orang yang memutuskan untuk menikah itu terlihat bahagia wajahnya. Entah kenapa kau seakan hendak masuk ke dalam kuburan saja. Aku tidak melihat ada sebuah kebahagiaan di wajahmu sayang," tanya Farel berusaha untuk menggenggam telapak tangan Siska.
Siska pun kemudian mendekati Farel dan duduk di sampingnya sehingga Farel bisa meraih telapak tangannya dan menciumnya dengan penuh hikmat.
" Tolong kau beri aku waktu untuk bisa mengikhlaskan cita-citaku ini. Apakah kau pikir begitu mudah untuk melepaskan beasiswa yang diimpikan oleh banyak orang? Sementara aku mendapatkannya dengan begitu mudah dan melepaskan dengan begitu mudah juga, huh!" keluh Siska yang tiba-tiba saja merasakan dadanya begitu sakit.
Farel menjadi tidak enak karena sudah menjadi penyebab dari Siska yang berniat melepaskan semua impiannya demi dirinya.
" Sayang, bagaimana kalau kau tetap kuliah saja. Nanti kita pindahkan lokasi pernikahan kita di sini. Aku akan meminta kepada kedua orang tuaku untuk memindah tugaskan aku bekerja di perusahaan cabang yang ada di sini. Jadi kita tidak usah berpisah dan kau juga masih tetap bisa kuliah dan mewujudkan impian dan cita-citamu!" ucap Farel sambil menatap Siska yang seakan tidak percaya mendengarkan perkataan itu dari Farel.
" Are you serius?" tanya Siska dengan wajah berbinar dan seketika langsung memeluk Farel dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan. Sehingga membuat Farel menjadi hilang kata-kata melihat Siska yang begitu senang dengan keputusannya.
" Apakah kau sesenang itu sayang?" tanya Farel sambil mengecup kening Siska yang saat ini berada di dalam pelukannya.
Siska langsung mengangguk dengan pasti dan kemudian langsung mengecup pipi Farel dengan sangat bahagia.
Farel terus menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tidak berhenti mekar di bibirnya yang tampan karena dia sangat bahagia melihat kebahagiaan Siska saat ini.
" Tapi kamu harus janji padaku sayang. Kau harus jauh dari laki-laki yang bernama Matteo itu. Karena aku tidak suka kau berdekatan dengannya!" ucap Farel memberikan syarat kepada Siska.
" Kenapa?" tanya Siska mengerutkan keningnya karena tidak paham maksud Farel.
" Aku cemburu, oke? Ketika melihatmu dekat dengan Mateo!" ucap Farel kesal lagi.
Siska tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Farel yang sangat lucu ketika dia sedang kumat lagi penyakit cemburunya.
" Matteo itu adiknya tunangan dari Paman Adrianku yang tersayang. Kami tidak ada hubungan apapun sayang. Lagi pula Matteo juga sudah memiliki tunangan sendiri, akan tetapi kekasihnya masih kuliah di tempat yang lain!" ucap Siska akhirnya menceritakan kebenaran tentang sosok Matteo yang dari kemarin selalu membuat Farel menggila.
" Kenapa waktu itu kau mengatakan bahwa Matteo adalah Kekasihmu? Huh?" tanya Farel benar-benar penasaran dengan kenakalan kekasihnya yang telah sukses membuat darahnya mendidih. Karena rasa cemburu dan ketakutan kehilangan Siska.
Tampak Siska tertawa terbahak-bahak ketika dia melihat ekspresi Farel yang sangat lucu.
" Kan kemarin aku sudah bilang, kalau aku hanya ingin menggodamu saja sayang. Siapa suruh Kau terlalu mudah untuk dibohongi, hmmm?" tanya Siska sambil mengecup bibir Farel lagi karena gemes dengan kekasihnya yang sangat lucu dan imut ketika dia marah dan cemburu begitu.
" Nakal ya, sudah berani menggodaku, hmm? Aku harus kasih hukuman pokoknya buat kamu!" ucap Farel yang terus menggelitiki pinggang Siska yang saat inu duduk di sebelahnya di atas bed rumah sakit.
" Cukup sayang, ini geli tahu!" pinta Siska yang gak sanggup lagi menahan kegelian yang dia rasakan gara-gara Farel yang terus saja menggelitiki dirinya.
" Makanya jangan usil dan jahil lagi sama aku, jangan pernah ngerjain aku dengan kamu mengenalkan laki-laki lain sebagai Kekasihmu kepadaku, paham? Hmm?" tanya Farel berusaha mencium bibir Siska yang sudah menjadi candu baginya.
" Iyq, aku janji! Udah dong jangan gelitiki aku lagi!" pinta Siska memohon. Hingga akhirnya Farel menarik Siska ke dalam pelukannya dan mencium keningnya dengan lembut.
" I love you hubby!" ucap Siska berbisik di telinga Farel yang membuat Farel menjadi sangat bahagia sekali mendengar kata-kata cinta dari Siska yang terdengar begitu syahdu baginya.
" Love you more wife!" jawab Farel sambil menarik Siska agar lebih dekat lagi dengan nya dan mengajak Siska untuk tidur bersama dengannya di bed yang sama.
" Nanti suster dan dokter akan marah Farel, kalau melihat kita seperti ini di sini. Aku akan tidur di sofa saja!" ucap Siska mencoba membujuk Farel agar tidak memaksanya tidur bersamanya di dalam satu bed yang sempit itu.
" Ini sudah malam, Sayang. Tidak akan ada suster ataupun dokter yang masuk ke dalam ruangan ini. Sudahlah sayang! Ayolah kau tidur saja dengan ku di sini. Tolong sayang. Menurut kepadaku kalau kau tidak ingin aku marah lagi!" pinta Farel mulai dengan wajah seriusnya lagi membuat Siska menjadi salah tingkah dibuatnya.
Waktu yang sudah semakin malam yang membuat Farel akhirnya mengantuk dan mau tidak mau Siska pun menuruti keinginan Farel untuk tidur bersamanya.
Mereka berdua kemudian mulai lelap karena memang sudah sangat mengantuk dan Siska pun sudah tidak punya tenaga untuk menolak keinginan calon suaminya yang selalu keras kepala dan tidak bisa dibantah siapapun.
Sementara itu di depan pintu rumah sakit, di depan pintu kamar Farel, terlihat dokter Andrew yang terus saja memperhatikan interaksi antara Farel dan Siska melalui kaca yang ada pada pintu ruangan itu.
Entah kenapa dokter Andrew merasa hatinya seakan tercubit ketika dia melihat kemesraan mereka berdua yang begitu romantis dan penuh dengan cinta.
" Aku harap kamu bahagia Siska. Walaupun kau sudah melupakanku, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu!" ucap Dokter Andrew dengan mata berkaca-kaca.