Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
157. Hidup baru


Jasmine berusaha untuk menghubungi ibunya yang sudah beberapa hari tidak menghubunginya. Jasmine khawatir kalau terjadi apa-apa dengan ibunya yang saat ini sedang mengurus perceraian bersama dengan ayahnya yang telah memiliki istri yang lain bahkan sudah mempunyai anak lelaki dari wanita yang dulunya merupakan sugar baby dari sang ayah.


" Ko aneh sekali ya, Mama sulit sekali di hubungin? Apa sebaiknya aku pulang saja? Eh tapi nggak enak juga sih. Masa baru 1 minggu bekerja sudah minta izin. Bisa jadi omongan orang sekantor nanti." Terlihat Jasmine benar-benar merasa frustasi dengan keadaan ibunya yang sejak kemarin sangat sulit dihubungi.


Jasmine pergi ke kantor dengan keadaan lesu sungguh bekerja dalam keadaan tidak senang itu membuat pikiran jadi tidak fokus.


Adrian bisa merasakan kalau Jasmine saat ini tidak konsentrasi dengan pekerjaannya. Sehingga banyak melakukan kesalahan di tempat kerja.


" Ada apa dengan Jasmine? Kenapa tumben-tumbennya dia hari ini performa kerjanya jelek sekali? Apa dia sedang ada masalah ya? Dari tadi pagi masuk kerja juga di terus melamun. Tar makan siang, akan kucoba tanyakan sama dia. Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu?" monolog Adrian merasa gak nyaman melihat Jasmine yang terus terlihat sedih.


Terlihat Amel yang mendekati Jasmine. " Eh! Ada apa denganmu? Dari tadi aku perhatikan kok lesu sekali sih?" tanya Amel yang sudah menjadi teman Jasmine.


Sejak perjalanan mereka di Purwokerto. Amel dan Jasmine sekarang sangat dekat.


Adrian tampak sengaja membuka pintu ruangan kerjanya, hanya ingin mendengarkan para wanita cantik di kantornya itu sedang sibuk ghibah, bukannya bekerja.


" Ibuku Mel. Dari kemarin aku mencoba untuk menghubungi Ibuku. Tapi sulit sekali Mel. Aku khawatir ada apa-apa dengannya. Kemarin Sewaktu aku pindah ke Jakarta Aku sudah meminta kepada Ibuku untuk mengurus surat perceraian dengan ayahku!" Amel cukup terkejut mendengarkan penjelasan dari Jasmine yang sangat menghawatirkan ibunya.


" Memangnya kenapa? Kk meminta ibumu untuk bercerai dengan ayahmu?" tanya Amel pada Jasmine yang akhirnya mulai mengalir menceritakan tentang kisah hidupnya yang mulai hancur berantakan setelah ayahnya membawa pulang seorang wanita dan juga anak lelakinya.


" Ayahku gak adil Mel. Dia bahkan tidak memperdulikan ibuku dia lagi senang berada di rumah istri mudanya bersama dengan anak lelaki yang sangat ingin dia milikku sejak dulu. Sungguh Mel. Aku ndak tahan melihat Mamaku yang selalu menangis setiap malam karena memikirkan tentang ayahku yang sudah tidak mencintainya lagi." Jasmine terlihat menelungkupkan wajahnya di meja.


Adrian kemudian memanggil Jasmine. melalui jaringan extension yang langsung tertuju ke meja sekretaris.


" Udah pergi gih! Tuh dipanggil sama wakil CEO kita. Nanti dia marah kalau menunggu lama!" Amel Kemudian berpamitan untuk membiarkan Jasmine memenuhi panggilan dari Adrian.


Seandainya Amel tahu bahwa sekarang Adrian sudah ditaklukkan. Karena sudah bertemu dengan pawangnya pasti Amel tidak akan mengatakan hal itu pada Jasmine.


Dengan lesu Jasmine pun kemudian mengetuk pintu ruangan Adrian yang tadi sedikit terbuka.


Tok tok tok


" Masuklah!" Adrian kemudian bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Jasmine ke dalam pelukannya.


Jasmine sedikit terkesiap mendapatkan perlakuan seperti itu dari Adrian. Adrian menutup pintu ruangannya dan menutup semua hordeng dari dalam.


Jasmine cukup bingung dengan apa yang di lakukan oleh Adrian.


" Kamu tenang aja. Aku sudah meminta kepada anak buahku yang ada di Bandung untuk menyelidiki tentang keadaan ibunya. Aku juga sudah meminta kepada mereka untuk segera membawa ibumu ke Jakarta kalau sudah menemukan keberadaannya. Jangan khawatir lagi, ya?" tanya Adrian yang memeluk Jasmine dengan erat.


Jasmine langsung menangis dalam pelukan Adrian. Adrian tahu bagaimana perasaan Jasmine saat ini.


" Maafkan aku kalau aku saat ini terlihat cengeng seperti ini. Aku hanya khawatir dengan keadaan ibuku. Aku takut terjadi apa-apa dengan ibuku. Aku sudah berusaha untuk menghubungi dia sejak kemarin. Tapi dia sangat sulit di hubungi. Biasanya Ibuku paling cepat kalau aku menghubungi atau minimal dia akan menghubungi kembali kepadaku setiap aku meneleponnya. Tapi ini?? Ga ada feedback sama sekali yang. Aku takut terjadi apa-apa sama ibuku!" Adrian kemudian meminta Jasmine untuk duduk di sofa sambil terus memeluknya dengan erat.


" Duduklah dulu sayang. Ayo kita bicarakan di sana. Oh ya! Bagaimana kalau sekarang kita pergi maka siang bersama saja?? Bukankah sebentar lagi jam makan siang?" tanya Adrian sambil menangkup wajah Jasmine dengan kedua tangannya yang terlihat sedih dan pucat.


Adrian mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya, kemudian dia menarik tangan Jasmine untuk ikut bersamanya.


" Ayo kita makan enak. Aku lapar!" ajak Adrian sambil menggenggam telapak tangan Jasmin dan keluar dari ruangannya.


Akan tetapi Jasmine langsung melepaskan telapak tangannya dari Adrian.


" Kenapa??"


" Aku tidak enak kalau teman-teman nantinya melihatmu memperlakukanku begini baik. Bagaimanapun ini adalah kantor yang. Seharusnya kita bersikap profesional dalam bekerja!" Jasmine berusaha menjelaskan alasannya kepada Adrian akan tetapi Adrian tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh Jasmine.


Adrian menarik telapak tangan Jasmine dan menggengamnya semakin erat.


" Ih, susah di bilangin!" protes Jasmine sambil misuh-misuh. Akan tetapi Adrian malah mengecup bibir Jasmin sekilas. Sehingva membuat Jasmine langsung tersipu dan celingukan melihat sekitar. Jasmine takut kalau ada yang melihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya tadi.


Jasmine memukul dada pejal Adrian. " Aw, sakit sayang!" Ucapan Adrian membuat Jasmine gemes bukan main.


Interaksi antara Adrian dan Jasmine sejak tadi terus diperhatikan oleh Siska dan juga Steven yang saat ini sedang berjalan menuju lift untuk pergi makan siang bersama.


" Apakah Paman Adrian kembali berhubungan dengan Jasmine?" tanya Siska sambil melirik sekilas kepada mereka berdua yang saat ini sedang menuju lift tempat mereka berdua berdiri sekarang.


Steven kemudian menceritakan kepada jika tentang semua yang terjadi di purwokerto yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk kembali bersama.


" Jadi mereka sudah berbaikan? Syukurlah kalau begitu. Paman tahu bukan? Kalau Paman Adrian tampaknya sangat sulit untuk bisa melepaskan Jasmine yang merupakan Cinta Pertamanya. Selama ini banyak wanita yang hadir dalam kehidupan Paman Adrian. Akan tetapi satu demi satu sudah berganti dan menghilang tanpa jejak. Kasihan juga Paman Adrian yang harus selalu mengalami patah hati karena wanita." Steven tampak menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Siska.


" Paman. Lalu bagaimana dengan paman sendiri? Aku perhatikan Paman juga lumayan dekat dengan Amel." Siska melirik kepada pamannya yang terlihat salah tingkah di hadapan Siska.


Siska tahu ada yang sedang disembunyikan oleh Steven karena tidak biasanya sang Paman bertingkah aneh seperti itu.


" Aku akan merasa sangat bahagia sekali kalau kedua Paman tercintaku bisa menemukan kebahagiaannya dan segera membangun rumah tangga yang bahagia. Apa paman tahu?? Setiap malam aku selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian berdua!" Steven merasa terharu dengan perhatian keponakannya yang selama ini selalu mereka manjakan dan selalu mereka anggap seperti anak sendiri.


Steven hanya sedikit bercerita tentang hubungannya bersama Amel yang saat ini masih dalam tahap mendekati gadis itu.


Walaupun Amel sudah beberapa tahun bekerja sebagai sekretarisnya. Akan tetapi selama ini Steven tidak pernah memperhatikannya sebagai seorang wanita pada umumnya.


" Doakan saja yang terbaik untuk kami berdua. Dan semoga kami bisa segera menemukan tambatan hati yang akan membuat kami bisa saling memiliki satu sama lain. Aku tidak mau bertindak gegabah dengan mengambil kesimpulan dari sesuatu yang belum pasti!" Siska paling mengerti dengan pola pikir Steven yang pada dasarnya sangat serius dalam segala hal.


Walaupun selama ini terlihat Steven Selalu cuek dan tidak memperdulikan tentang hubungan dengan seorang wanita. Tapi Siska tahu kalau paman tampannya itu selama ini selalu merasakan kesepian Dan berharap bisa bertemu dengan seorang wanita yang akan membuatnya bisa menambahkan hatinya.


" Ayo Paman! Teleponlah Amel dan ajak makan siang bersama kita. Katakanlah kalau aku ingin bertanya sesuatu tentang pekerjaan kalian. Aku akan melihat.Apakah Amel cukup berharga untuk mendapatkan Pamanku yang tampan ini?" Siska tersenyum kepada Steven yang sontak langsung tersipu.


Steven mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Siska yang pasti tidak menginginkan pamannya berhubungan dengan wanita yang salah.


" Tapi aku takut, kalau nanti Amel mensalah pahami apa yang kita lakukan sekarang." Steven seperti yang ragu.