
Farel sekarang berada di dalam kamarnya setelah menjalani prosesi pemakaman ayahnya yang penuh dengan air mata dan kesedihan dari keluarga besarnya.
Farel terlihat termenung seorang diri dia kembali mengingat apa yang dikatakan oleh ibunya di acara pemakaman tadi siang.
" Farel! Pokoknya kau harus segera membatalkan pernikahanmu dengan Siska. Mama tidak mau kau menikah dengan gadis pembawa sial itu. Lihatlah dia baru satu hari menikah denganmu. Sudah membawa bencana begini besar kepada keluarga kita!" ucap ibunya Farel dengan air mata yang terus berderai tidak mau berhenti.
Farel yang masih syok dan juga bingung tidak bisa mengatakan apapun dia hanya mampu menatap mata ibunya yang terlihat begitu sembab karena terlalu banyak menangis semenjak kematian ayahnya yang tiba-tiba.
Saat ini Farel sedang memegang ponselnya. Menatap foto pernikahannya dengan Siska yang begitu bahagia dan terasa sangat menggetarkan hatinya yang saat ini sedang merindukan sang istri.
Ketika Farel mengaktifkan aplikasi hijaunya dia melihat Siska yang saat ini sedang online tetapi dia tidak bisa mengirimkan pesan apapun kepada istrinya.
Siska pun sama sedang menunggu pesan dari Farel tetapi hingga tengah malam tidak ada pesan apapun yang masuk ke dalam ponselnya hingga akhirnya Siska pun menyerah dan lebih memilih untuk tidur.
" Lebih baik aku tidur saja. Besok aku harus segera kembali ke Amerika. Karena bagaimanapun aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan kuliahku!" karena merasa jengkel dan juga bosan Siska pun kemudian mematikan ponselnya dan lebih memilih untuk tidur dengan lelap.
Farel yang melihat ponsel Siska sekarang tidak aktif lagi akhirnya hanya bisa menaruh kembali ponselnya di atas nakas.
" Ya Tuhan aku tidak tahu cobaan apa yang sedang kau timpakan kepada keluargaku tetapi tolonglah agar kami bisa melewati semua ini dengan baik!" doa Farel ketika dia melihat nomor Siska sekarang tidak aktif lagi.
Walaupun sejak tadi Farel merasa penasaran dengan siapa gerangan istrinya sibuk berkirim pesan di aplikasi hijau.
" Ya sudahlah! Biarkan saja. Besok aku akan datang ke kediamannya dan menanyakan semua ini!" akhirnya Farel pun memutuskan untuk segera tidur dan melupakan masalah yang sama beberapa hari ini benar-benar membuat kepalanya hampir meledak.
Bagaimana tidak? Farel benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir sang ibu yang malah menyalahkan Siska atas semua masalah dan musibah yang sedang terjadi kepada keluarga mereka.
" Semoga hari esok akan jauh ebih baik dan semoga hati Ibuku akan lebih luluh dan menarik kembali permintaannya untuk aku segera membatalkan pernikahanku bersama dengan Siska! ucap Farel berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri ketika dia mensugesti hal-hal baik ke dalam otaknya.
Sama seperti Siska yang tidak bisa melepaskan ponselnya dari genggamannya. Karena sedang menunggu pesan yang akan diberikan oleh sang suami begitu pula dengan Farel yang juga menggenggam ponselnya di telapak tangannya karena dia pun sama sedang menunggu pesan yang diberikan oleh sang istri.
Entahlah dua pribadi yang saling mencintai itu sekarang tampak begitu canggung karena permintaan ibunya Farel yang menginginkan dirinya segera membatalkan pernikahannya dengan Siska.
" Ya Allah apa sebenarnya yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar telah jatuh cinta kepada Siska. Aku tidak mungkin begitu bodoh melepas cintaku untuk Siska hanya karena mendengarkan perkataan ibuku yang menginginkan kami untuk membatalkan semuanya," Farel kemudian langsung tertidur karena dia tidak bisa untuk berpikir lebih lama lagi mengingat kepalanya yang terasa begitu pusing dan pening
Kesehatan Farel beberapa hari ini memang benar-benar terganggu. Tetapi dia pun tidak bisa mengatakan kepada ibunya perihal sakitnya dia takut kalau sampai nanti ibunya akan kembali menuduh sang istri sebagai pembawa sial yang harus dibasmi dari keluarga Dirgantara.
Entahlah melihat Siska yang begitu usil dan urakan, Farel tidak percaya bahwa istrinya adalah pembawa sial seperti yang dikatakan oleh ibunya.
' Pada dasarnya musibah dan masalah di dalam kehidupan ini semuanya adalah digariskan Allah yang sudah mengaturnya dengan baik sesuai dengan porsi kemampuan masing-masing!' bathin Farel.
Farel benar-benar tidak bisa mempercayai dirinya sendiri karena ternyata dirinya diam saja Ketika sang istri dihina oleh ibunya sebagai wanita pembawa sial yang telah mengakibatkan ayahnya meninggal.
Sungguh Farel benar-benar merasa bahwa dia telah menjadi seorang suami yang buruk untuk Siska. Tetapi dia pun harus menjaga hati ibunya yang sedang terpuruk dan sedih karena meninggalnya sang ayah.
Farel sebenarnya berniat untuk pergi ke Amerika tetapi sekali lagi Ibunya memanggilnya dan harus segera datang ke kediaman Handoyo.
Farel kemudian pergi ke rumah yang selama ini dia tempati. Di sana dia bertemu dengan ibunya yang selalu saja dicekoki oleh Amora yang dipikir oleh ibunya sebagai wanita paling sempurna yang layak untuk menjadi istri Farel.
Farel benar-benar tidak habis pikir dengan Amora yang begitu diam dan tidak mau mengungkapkan hal yang sebenarnya kepada ibunya Farel bahwa mereka sudah putus.
Bagaimanapun juga Farel tidak mau menggantikan Siska sebagai istrinya dengan Amora yang selama ini sudah banyak membohonginya.
" Pergi dari rumahku sekarang juga Amora! Karena aku tidak menyambut Kehadiranmu!" ucap Farel benar-benar hilang kesabaran ketika dia melihat Amora yang semakin meringsek sedih dan mendekatinya tanpa merasa canggung maupun malu kepada semua orang yang menjadi penonton.
" Farel kau benar-benar keterlaluan. Aku di sini juga atas undangan dari ibumu! Kenapa kau begitu keras terhadapku!?" ucap Amora dengan mulai berakting sebagai orang yang teraniaya.
Selama ini ketika Amora melakukan hal itu Farel pasti akan langsung bertekuk lutut kepadanya dan mengabulkan semua hal yang dia inginkan.
" Sadarlah jangan membuang-buang waktumu terhadap diriku karena aku sudah tidak pernah mencintaimu lagi!" ucap Farel sambil tersenyum kepada Amora yang sangat terkejut dengan pengakuan fenomenal seorang Farel yang begitu sempurna di mata siapapun yang melihatnya.
" Jangan bilang begitu Farel, aku hanya mencintai kamu," ucap Amora dengan air mata mengalir di pipinya.
" Pulanglah Amora!" peringatan terakhir dari Farel setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.
Farel paling tidak suka keributan apalagi ribut dengan seorang perempuan tetapi dia pun tidak bisa membiarkan Amora terus berada di dalam hidupnya yang sudah beristri sekarang.
Hingga tengah malam Farel masih tidak bisa memejamkan matanya. Karena besok dirinya di suruh untuk ambil keputusan untuk segera bercerai dengan Siska atau membatalkan rencana pernikahan mereka berdua.
Farel benar-benar sangat sulit sekali mengambil keputusan itu karena baginya. Siska adalah hidupnya. Siska adalah segalanya. Tetapi dia pun harus menjaga perasaan ibunya yang saat ini sedang sedih setelah meninggal sang ayah.