Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
219. Pindah


Pada saat makan malam tiba, kebetulan Adrian dan Andiniakan bersama mereka. Anto dan Andi pun kemudian menyampaikan maksud dan keinginan mereka untuk kembali pindah ke apartemen.


" Maafkan kami ya Kak. Kami berniat untuk kembali ke apartemen lama kita. Karena mansion ini terlalu jauh dari sekolahan. Kami masih anak baru, kalau terlambat terus. Jelas sekali itu tidak baik untuk kami. Kami juga sering ketiduran di kelas karena ngantuk." Ucap Anto mencoba untuk jujur kepada kakaknya agar tidak merasa tersinggung dengan permintaan mereka berdua.


" Kenapa kamu sering ketiduran di kelas, karena mengantuk? Memangnya kamu kalau malam tidak bisa tidur?" tanya Andini pada Anto yang sedang menundukkan kepalanya tidak berani menatap kakaknya.


Anto menatap Andi yang saat ini sedang makan dengan tenang. " Kalau malam selalu terdengar suara-suara aneh di rumah ini. Sehingga membuatku takut. Makanya aku jadi sulit tidur." ucap Anto hanya bisa mengatakan hal demikian karena bagaimanapun dia merasa tidak enak kalau mengatakan hal yang jujur kepada kakaknya.


Bahwa aktivitas kemesraan mereka yang tak kenal waktu dan tempat, sudah mengganggu kewarasan otak mereka sebagai remaja tanggung yang sedang bertumbuh.


Andini menatap Adrian yang masih fokus dengan makanannya. Karena sebenarnya Andini bisa mengerti apa yang sedang dikeluhkan oleh adiknya.


" Baiklah nanti akan Kakak diskusikan dengan Mas Adrian. Sekarang kalau sudah selesai makan, kalian kembali ke kamar dan beristirahatlah." perintah Andini kepada kedua adiknya yang sudah bersiap-siap untuk kembali ke kamar mereka.


Setelah kepergian Andi dan Anto, Andini menatap tajam kepada Adrian. Jelas kalau dia sedang marah kepada suaminya.


" Lihatlah hasil dari semangatmu untuk kita bisa segera punya Adrian junior! Kedua adikku yang masih remaja merasa terganggu. Bahkan mereka merasa tidak bisa hidup normal seperti dulu. Sekarang mereka malah minta pindah dari sini. Apa sekarang Mas puas?" tanya Andini dengan mata yang berkaca-kaca.


Adrian bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan istrinya agar masuk ke dalam kamar mereka.


" Ayo kita bicarakan di kamar saja sayang. Tidak enak kalau ada yang mendengarkan pembicaraan kita." ucap Adrian dengan tetap tenang dan berusaha untuk sabar menghadapi istrinya yang saat ini sedang galau karena adiknya minta pindah.


Andini mengikuti apa yang dikatakan Adrian. Di dalam kamar, Adrian kemudian mengutarakan apa yang akan dia sampaikan kepada istrinya.


" Sebenarnya tidak masalah kalau mereka ingin kembali ke apartemen. Karena mereka memang sudah terbiasa hidup bebas tanpa kekangan dan aturan ini dan itu. Apalagi mansion ini memang letaknya terlalu jauh dari sekolahan mereka. Nanti aku akan belikan mobil khusus untuk mereka berdua dan memberikan seorang supir dan juga pembantu untuk mengurus mereka di apartemen kalian. Bagaimana?" tanya Adrian kepada Andini yang malah menangis pilu.


" Mereka berdua adalah keluargaku yang tersisa di dunia ini. Bagaimana mungkin aku begitu tega membiarkan mereka hidup tanpa aku di luar sana?" tanya Andini sedih.


Adrian berusaha untuk menenangkan istrinya yang sedang sedih.


" Bukan begitu maksudku, sayang. Aku hanya ingin memberikan lingkungan yang sehat untuk mereka. kau harus ingat sayang. Bahwa mereka memang sudah terbiasa hidup hanya berdua. Bukankah selama ini kau lebih sibuk di rumah sakit? Mereka sudah terbiasa bebas di sana. Mau melakukan apapun semua sekehendak hati. Tidak ada yang melarang ataupun memarahi mereka." Adrian berusaha memberikan pengertian kepada istrinya agar bisa paham apa yang saat ini sedang dirasakan oleh kedua adiknya.


Walaupun jauh di lubuk hati Adrian. Dia pun tahu kalau sebagian besar ketidaknyamanan kedua remaja tanggung itu berasal dari dirinya yang selalu mengumbar kemesraan di manapun. Maklumlah selama ini Adrian terbiasa hidup sendiri dan sudah terbiasa melakukan segala sesuatu bebas tanpa tekanan siapapun.


Jadi pada intinya mereka sama-sama belum saling memahami dan masih butuh waktu untuk bisa saling mengenal satu sama lain.


" Ini semua pasti gara-gara kita kalau malam suka aneh-aneh!" Adrian tersenyum mendengar apa yang dikatakan istrinya.


" Suka aneh-aneh gimana sayang?" tanya Adrian sambil menatap istrinya yang merasa gemas kepada suami tercintanya. Karena di saat seperti itu masih sempat-sempatnya bercanda dengannya.


" Sudah enggak usah sok polos!" Ucap Andini sambil misuh-misuh dan terus cemberut.


" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan mereka tuh anak laki-laki yang hebat dan juga kuat aku yakin mereka tidak masalah untuk tinggal di apartemen itu. Aku akan memberikan pembantu dan juga supir untuk mereka berdua. Jangan khawatir sayang. Aku janji, kehidupan mereka tidak akan terbengkalai walaupun tidak dekat sama kita." Adrian barjanji kepada istrinya.


Andini sedikit banyak bisa merasa lega mendengar apa yang dikatakan suaminya.


Adrian memeluk istrinya dengan lembut. Andini bisa merasakan bahwa suaminya sangat mencintainya," Tenanglah Sayang apartemen itu sangat aman dan juga terlindungi kita bisa tenang meninggalkan mereka di sana." Andin mengangguk pelan.


Saat suaminya memperlihatkan gelagat Ingin bercinta, Andini menolaknya. " Sudahlah kita libur dulu. Tunggu kedua adikku pindah saja. Apa kau tahu? Gara-gara Kau yang setiap malam selalu beraktivitas begitu, membuat adik-adikku menjadi merasa terganggu dan tidak bisa tidur!" Andini langsung membaringkan tubuhnya dan memunggungi Adrian yang cemberut karena keinginannya tidak dikabulkan oleh istrinya.


" Baiklah, kita libur dulu, gpp. Tolong jangan memunggungiku begitu. Bagaimana aku bisa tidur kalau tidak bisa memeluk dan mencium kamu?" tanya Adrian yang mulai merajuk dan menggunakan senjata rahasianya.


" Sebelum menikah juga kau tidur sendiri dan masih bisa tidur nyenyak!" ucap Andini berusaha acuh kepada Adrian.


" Jelas itu berbeda dong, sayang! Sekarang aku punya istri yang bisa aku peluk dan aku cium tiap malam. Masa iya aku harus tidur sendirian hanya di temani punggung kamu saja?" tanya Adrian yang mulai mahir merayu istrinya yangs saat ini sedang merajut.


" Gak mau! Soalnya Mas suka aneh! Setiap bersentuhan, pasti ujung-ujungnya kayak gitu. Ih sebel deh! Kasihan kan adik-adikku yang masih remaja dan belum waktunya tahu tentang hal beginian. Kamu tidak memikirkan kesehatan mental mereka?" tanya Andini mulai kesal lagi kepada Adrian.


" Besok aku akan membuat kamar ini menjadi kedap suara. Jadi apapun yang terjadi di sini, tidak akan ada yang denger keluar sana. Kita bebas mau ngapain juga!" Adrian tersenyum dengan penuh kemenangan.


" Ih, otaknya mesum mulu! Heran deh kamu mas! Perasaan dulu sebelum nikah, kamu nggak mesum kayak gini. Kok sekarang mesum banget sih? Otakmu Omes banget!" protes Andini yang merasa heran dengan suaminya yang menurutnya begitu aneh.


Adrian memeluk Andini dan benar-benar tidak melewatkan kesempatan ketika Andini menatap kepadanya.


Adrian langsung mencium bibir istrinya dan meminta jatah malamnya. Tetapi Andini tetap keukeuh menolak karena tidak mau kedua adiknya merasa terganggu dengan aktivitas mereka yang pasti akan menghasilkan suara aneh-aneh seperti yang di katakan adiknya.


" Baiklah sayang, selamat malam!" Adrian akhirnya menyerah dan mulai memejamkan matanya.


Andini tahu bahwa suaminya saat ini sedang marah karena keinginannya ditolak. " Mas, maaf ya?" tanya Andini yang merasa bersalah karena sudah membuat suaminya marah.


Adrian selama beberapa saat lamanya hanya diam dan tidak mau menggubris apapun.


" Sayang, kamu marah?" tanya Andini yang lama-lama merasa tidak tahan juga melihat Adrian yang begitu Acuh dan cuek padanya.


" Sayang, maafkan aku, ya?" Andini akhirnya ngusel-ngusel juga ke pelukan Adrian yang mau tidak mau Akhirnya tersenyum juga melihat Andini yang menyelusupkan kepala di dada bidangnya.


" Mau ya?" tanya Adrian ketika dia membuka matanya.


" Besok saja ya? Setelah adikku pindah. Aku mohon Mas." Andini berusaha untuk membujuk suaminya agar mengerti kesulitannya saat ini.


Adrian mahalan nafas kemudian dia pun mencium kening istrinya. " Baiklah sayang, besok tidak apa-apa. Tetapi kamu harus janji memberikan double untukku. Hahaha!" Adrian tertawa begitu bahagia melihat istrinya yang dengan mata kelincinya kelihatan frustasi dengan kelakuannya jangan terlalu Omes.


" Ih, dasar Omes!" kesal Andini akan tetapi hatinya merasa berbunga-bunga karena sang suami yang sekarang sudah tidak marah lagi.


Walaupun terasa begitu berat untuk Adrian. Tetapi dia berusaha untuk menahan diri agar tidak melakukan produksi Adrian junior pada malam itu. Karena bagaimanapun dia juga harus menjaga perasaan Andini dan juga kedua adiknya yang tidak merasa nyaman dengan aktivitas mereka setiap malam.


Mereka berdua pun kemudian tidur lelap dengan hati yang bahagia.