Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
101. Maafkan!


Andrew dan Karina sudah kembali ke kediaman kedua orang tuanya Karina.


Waktu mereka berada di Indonesia tinggal dua hari lagi. Karena mereka mengajukan cuti pernikahan hanya sekitar kurang lebih 2 sampai 3 minggu.


Karina menunggu kedatangan ayahnya yang sebentar lagi akan datang ke kediamannya.


" Katakan padaku sayang. Apakah Kau pernah mempunyai masalah dengan laki-laki yang kita temui di Taman Mini Indonesia Indah?" tanya Andrew dengan hati-hati istana bagaimanapun dia tidak mau menyinggung perasaan istrinya.


Karina menatap Andrew dengan lekat dan intens. Andrew tidak terlalu mempedulikan tentang hubungan masa lalu antara Karina dan Heru. Dia hanya menginginkan sebuah penjelasan saja kenapa Karina terlihat begitu membenci Heru dan juga istrinya.


" Dia adalah mantan kekasihku dan wanita yang sekarang menjadi istrinya adalah anak dari pembantu yang bekerja di kediaman ku, sebelum aku memutuskan untuk bermigrasi ke Amerika!" ucap Karina sambil menatap Andrew yang terlihat manggil-manggut.


" Kelihatannya mantan kekasihmu masih mencintaimu terlihat sekali dari matanya ketika dia menatapmu kemarin!" ucap Andrew yang sukses mengundang tatapan tajam dari Karina yang auto kesal di buatnya.


" Ayolah sayang! Bagiku dia hanyalah masa lalu yang tidak ada artinya apa pun untuk Aku. Kau adalah masa depan yang akan aku perjuangkan sampai titik akhir!" ucap Karina sambil menatap tajam kepada Andrew yang tersenyum kepadanya dengan perasaan penuh kebahagiaan.


" Maafkan!" ucap Andrew tegas


" What?" tanya Karina kaget


" Ya, sayang. Maafkan mantan kekasihmu dan anak dari pembantumu itu dan lepaskanlah segala dendam amarah yang ada di dalam hati kamu. Aku sangat yakin mereka pun pasti merasa sangat bersalah kepadamu. Terlihat sekali dari wajah mereka yang tidak berani untuk menatapmu secara langsung!" ucap Andrew menggengam telapak tangan Karina.


Beberapa saat lamanya Karina hanya diam dan melihat sang suami yang terus menatapnya yang semakin lekat.


" Tidak mudah untuk memaafkan orang yang sudah menyakiti hati kita dengan begitu dalam," ucap Karina kemudian menundukkan kepalanya terlihat beli air mata mengalir dari kelopak matanya.


Andrew kemudian memeluk Karina dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut.


" Jangan katakan padaku, kalau kau masih mencintai mantan Kekasihmu itu!" ucap Andrew sambil melepaskan pelukannya dari Karina yang langsung menghapus air matanya.


" Mana ada? Aku malah benci sama dia!" ucap Karina yang kemudian bangkit dari atas ranjang dan meninggalkan Andrew sendirian di kamar mereka.


" Kalau kau memang tidak mencintainya lagi. Maka lepaskan dendam kamu. Kalau sampai saat ini kau masih membencinya, maka itu artinya dia masih bertahta di dalam hatimu!" ucap Andrew yang menarik tangan Karina agar menghadap kepadanya.


" Katakan padaku, apa kau masih mencintai dia?" ulang Andrew dengan suara berat.


Dengan penuh kemantapan, Karina langsung menggelengkan kepalanya dan menatap lekat wajah Andrew yang kemudian memeluknya lagi semakin erat.


" Baiklah aku akan berusaha untuk melupakan dia dan melupakan semua dendam di hatiku untuk mereka berdua!" ucap Karina pelan.


Andrew senang sekali dengan janji istrinya.


" Oh ya, Papa pulang dari luar kota jam berapa kah? Bukankah kita harus segera memesan tiket untuk ke Amerika?" tanya Andrew pada akhirnya ketika mereka sedang duduk bersama di rotro yang ada di kediaman ibunya Karina menikmati keindahan malam bulan purnama yang terasa begitu syahdu.


" Aku tidak tahu nanti kita tanyakan sama mama!" ucap Karina sambil mengelus telapak tangan suaminya yang berada di pinggangnya yang ramping.


Mereka kemudian turun ke ruang makan setelah mendapatkan panggilan dari pembantu yang bekerja di rumah itu.


" Papa belum pulang mah?" tanya Karina ketika mereka duduk di kursi makan di mana Maya dan asistennya sudah menunggu mereka berdua.


Terlihat wajah Maya yang terlihat tidak bersemangat.


" Apa kau tahu kalau ayahmu memiliki istri lain di luar kota?" tanya Maya kepada Karina.


Karina terkejut mendengarkan pertanyaan ibunya yang dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa ibunya bertanya seperti itu pada dirinya.


" Karina tidak tahu mah. Baru berapa hari Karina di Indonesia? Bagaimana bisa mengetahui tentang hal itu?" tanya Karina merasa heran kepada ibunya yang langsung menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi yang dia duduki.


" Mama baru mendapatkan laporan dari detektif yang selama beberapa hari ini mengikuti ayahmu di luar kota." ucap Maya sambil memperlihatkan ponselnya kepada Karina yang auto melotot. Ketika Karina melihat ayahnya yang sedang bersama dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 2 tahun.


" Apa Mama yakin kalau mereka adalah satu keluarga? Maksudku kalau dia benar-benar istri muda Papa?" tanya Karina kepada Maya.


Suasana di dalam rumah tiba-tiba menjadi begitu mencengangkan dan juga terasa begitu dingin. Asisten Maya pun bahkan tidak berani untuk mengatakan apapun kepada majikannya yang saat ini sedang sedih dan marah. Karena penghianatan dari suaminya.


Ternyata keputusannya untuk datang ke Indonesia malah memberikan begitu banyak kejutan kepada dirinya sendiri.


" Lalu di mana Papa sekarang?" tanya Karina menatap tajam kepada ibunya.


" Berdasarkan hasil laporan dari detektif yang mama kirim, Papamu saat ini ada di Surabaya bersama dengan istri mudanya!" Maya pun kemudian menyerahkan sebuah alamat ke tangan Karina.


Karina melihat alamat tersebut kemudian dia menatap kepada Andrew yang sedang menatapnya dengan rasa prihatin.


" Kalau kau ingin mendatangi ayahmu di sana. Aku siap untuk mengantarkanmu sayang!" ucap Andrew tersenyum kepada Karina.


Andrew berusaha untuk memberikan semua dukungan dan juga kekuatan kepada istrinya yang saat ini pasti sedang shock dan juga sedih. Setelah mengetahui penghianatan ayahnya terhadap sang ibu yang saat ini sedang sakit dan berjuang untuk tetap sehat kembali seperti dulu.


Karina sangat tahu bagaimana perasaan ibunya saat ini. Karena dulu dia pun pernah berada di satu titik yang sama dengan sang Ibu yaitu ketika Heru yang tiba-tiba datang kepadanya dan mengabarkan tentang pernikahannya dengan Amelia yang ternyata sedang hamil.


Saat itu seluruh dunia Karina terasa runtuh. Bagaimana tidak? Di saat dia sedang membangun impian yang begitu tinggi untuk membangun rumah tangga yang begitu indah bersama dengan Heru. Ternyata semua impian itu dihempaskan begitu saja sampai ke tingkat yang paling dasar.


" Karina dan mas Andrew akan mendatangi Papa di sana. Dan bertanya kenapa dia sampai melakukan ini kepada Mama," ucap Karina yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis karena dia tahu hal itu benar-benar sesuatu yang percuma.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka bertiga pun kemudian bersiap untuk pergi ke Surabaya demi mengunjungi Ayahnya di sana.


Ya, Maya memutuskan untuk ikut bersama dengan Karina dan Andrew. Karena dia pun sangat penasaran dengan alasan suaminya yang memadu dirinya dengan wanita yang seusia dengan Karina.


" Mama yakin akan kuat untuk melakukan perjalanan ini? Apa kita perlu menggunakan jet pribadi saja Mah? Biarkan Andrew untuk menelepon ayahnya dan mengirimkannya kemari untuk kita?" tanya Karina sambil menyentuh telapak tangan ibunya yang terasa begitu dingin.


Maya menggelengkan kepalanya karena dia merasa bahwa saat ini kondisi tubuhnya benar-benar Fit. Setelah terakhir kemarin, dia menjalani operasi jantung dan operasi tersebut berhasil dengan baik.


Buktinya tadi ketika pengacara sang suami datang untuk meminta tanda tangan perceraian darinya, dia tidak unfall bahkan ketika mendengarkan kabar perselingkuhan suaminya dari detektif yang dia kirim pun dia tetap baik-baik saja.


Mereka berempat kemudian memutuskan untuk berangkat ke Surabaya dengan menggunakan pesawat komersial.


Sepanjang perjalanan ke Surabaya semua orang hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing tidak ada yang berani untuk membuka suara.


Andrew pun hanya berani menggenggam telapak tangan istrinya. Karena dia tahu saat ini istrinya dan juga mertuanya sedang dirundung sebuah masalah besar yang asti akan sangat sulit untuk bisa berdamai dengan masalah itu.


Begitu sampai di Surabaya. Mobil yang sudah menunggu mereka untuk menjemput dari bandara langsung mengantarkan mereka ke kediaman ayahnya Karina yang ditempati bersama dengan istri mudanya dan juga Putra mereka.


Hartono tampak terkejut ketika melihat Karina dan Maya beserta Andrew yang datang ke kediamannya bersama istri mudanya.


Messi hanya menatap mereka berempat tanpa berani untuk mengatakan apapun.


Karina menatap wajah Messi dengan penuh kebencian karena Messi adalah sahabat Karina ketika duduk di bangku SMA.


" Heran ya, di dunia ini masih aja ada makhluk yang suka menjadi benalu dalam kehidupan orang lain!" ucap Karina sambil menatap Messi dengan tajam.


Hartono langsung melindungi Messi yang waktu itu hendak didekati oleh Karina mengira kalau Karina akan menyerang istri mudanya yang tercinta.


Hartono kemudian menyuruh kepada Messi untuk masuk ke dalam kamar dan membawa Putra mereka berdua yang terlihat ketakutan melihat wajah semua orang yang datang ke rumah mereka membawa permusuhan yang begitu kentara di wajah mereka yang penuh kekecewaan.


" Mari kita bicara baik-baik!" ucap Hartono sambil mengarahkan semua orang yang datang ke rumah nya menju ke ruang tamu.


Maya sejak tadi hanya diam saja melihat suaminya yang seperti tidak merasa bersalah sama sekali sudah memberikan luka yang begitu dalam untuk dirinya dan juga putrinya.


" Jelaskan kepada kami Pah maksud dari semua ini!" ucap Karina yang menatap tajam ayahnya yang hanya menundukkan kepalanya.


Hartono sedang mengatur kata-kata apa yang akan diucapkan kepada kedua wanita yang pernah begitu penting dalam hidupnya beberapa saat lalu.


" Papa mencintai Messi dan Papa sudah memutuskan akan menikahi dia dan menceraikan ibumu. Papa tidak akan membiarkan Arman hidup tanpa seorang ayah dan tanpa memiliki kejelasan status di dalam keluarga kita!" ucap Hartono penuh dengan kemantapan.


" Biarkan Arman menjadi anak adopsi ku tapi aku tidak merelakan Papa untuk menikah dengan Messi!" semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut mendengarkan keputusan dari Karina yang terkesan begitu buru-buru.