Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
150. Usaha Jasmine


" Apakah masa lalumu dengan Jasmine segitu buruknya sampai membuatmu begitu tensi dengan dia?" tanya Steven benar-benar merasa heran melihat sang kakak yang bertindak aneh.


" Udah kita fokus aja dengan pekerjaan kita supaya segera kembali ke Jakarta!" ucap Adrian yang mulai kesal dengan Steven yang Sejak kedatangan Jasmine tampak begitu kepo dengan kehidupan kakaknya.


Adrian bukan termasuk player hanya saja dia selalu mempunyai cerita yang belum kelar dengan begitu banyak wanita yang pernah menjadi kekasihnya yang masih tidak merelakan untuk berpisah dengannya.


Sikap Adrian yang perhatian dan sangat mencintai para wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Membuat mereka kadang baper dan tidak rela berpisah dengannya.


Hal itu sama seperti dengan Jasmine. Jasmine pun masih merasa penasaran dengan Adrian yang tiba-tiba saja pergi menghilang dari hidupnya tanpa sepatah kata perpisahan. Saat Jasmine mendengar bahwa Adrian kembali ke Bandung. Jasmine pun berusaha untuk mendekati Adrian. Akan tetapi waktu itu Adrian sedang memiliki hubungan bersama dengan Indrana sehingga Jasmine pun kemudian mengurungkan niatnya.


Akan tetapi kemudian Jasmine mengetahui bahwa hubungan Adrian dengan Indrana pun sudah berakhir terlihat dari Adrian yang selalu menghindari gadis itu.


Jasmine sudah mengetahui bahwa saat ini Adrian sedang tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Oleh karena itu Dia berbuat nekat bahkan sampai mengejar Adrian ke Jakarta.


Akan tetapi siapa yang menyangka. Kalau ternyata Adrian langsung menghindarinya bahkan langsung menolak kehadirannya sebagai sekretarisnya pada hari pertama dia menginjakkan kakinya di perusahaan Prayoga Group. Hal itu benar-benar membuat Jasmine merasa frustasi.


Saat Jasmine mendengar ada masalah di dalam tender yang kali ini sedang di tangani oleh Adrian. Jasmine mengambil kesempatan itu untuk membantu Adrian menyelidiki perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengan Prayoga Group.


" Aku yakin aku bisa mengetahui masalah sebenarnya yang ada di dalam perusahaan itu. Sehingga perusahaan Adrian akan bisa meminiminal kan kerugian. Kalau memang benar-benar perusahaan itu bermasalah!" ucap Jasmine bermonolog sendiri.


Karena Jasmine tidak mengikuti pertemuan makan malam bersama dengan Adrian dan Steven. Jasmine memiliki kesempatan untuk beristirahat di hotel yang sekarang dia tempati.


***


Siska dan Farel terlihat sedang makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Ada seorang klien dari Australia yang mengajak pertemuan dengan mereka berdua di restoran itu. Yang menurut sekretaris Farel, orang itu ingin melakukan kerjasama di dalam bidang perfilman.


Sebenarnya Farel tidak tertarik sama sekali dengan apa yang ditawarkan oleh orang tersebut. Akan tetapi Siska membujuk Farel untuk menemui orang itu yang sudah datang dari jauh demi bertemu dengan mereka. Hanya sekedar sopan santun dan menjajaki bagaimana tawaran yang akan mereka berikan pada perusahaan Handoyo.


Setelah melalui banyak sekali rintangan dan halangan. Akhirnya sekarang Farel sudah bisa melewati masa tersulit perusahaan Handoyo group yang diakibatkan oleh kecurangan Abian.


" Kemana orang itu?? dia yang mengajak dan memaksa untuk bertemu dengan kita Lihatlah dia juga yang datang terlambat!" ucap Farel yang terlihat benar-benar tidak sabar.


" Ayolah sayang! Marah dan kesal tidak akan menyelesaikan apapun. Sekarang lebih baik kita berusaha untuk menikmati malam ini! Lihatlah Sayang! Bukankah live musiknya sangat menyenangkan?" tanya Siska yang berusaha untuk menghibur para yang saat ini sedang merasa bete.


Siska mengelus telapak tangan Farah dan memberikan senyum terbaiknya untuk sang suami tercinta.


Mau tidak mau Farel pun akhirnya tersenyum. Bagaimanapun dia tidak mau kalau sampai Siska merasa dirinya tidak menghargai usahanya yang sudah begitu keras untuk menghibur dirinya.


Tidak lama kemudian datanglah dua orang dengan penampilan yang glamor seorang wanita menghampiri mereka berdua.


Alexis yang datang bersama dengan Andreas tanpa menyapa Farel dan Siska.


Alexis ataupun Amora yang kini sudah merubah wajahnya dengan operasi plastik. Wanita itu sama sekali tidak takut untuk berhadapan dengan Farel sedekat Itu.


Siska bangkit dan menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyum terbaiknya.


" Benar, Apakah anda adalah Tuan Andreas dan Nyonya Alexis dari Australia?" tanya Siska yang benar-benar tidak bisa mengenali Amora yang sudah di operasi wajahnya.


" Benar!" ucap Andreas.


Sepanjang pertemuan itu Amora hanya terdiam dan menatap Farel dengan begitu lekat. Ada rindu dendam di hatinya terhadap pria itu yang begitu romantis dan juga mesra kepada Siska.


Hati Amora sebenarnya sangat geram melihat pemandangan itu. Akan tetapi dia harus menahan diri demi Siska dan Farel agar tidak curiga kepadanya.


Amora berusaha untuk meminimalkan pembicaraan di antara mereka. Karena dia khawatir kalau Farel bisa mengenali suaranya yang pastinya familiar bagi Farel maupun Siska yang sudah lama kenal dengan Amora.


" Bagaimana Tuan Farel? Apakah anda sudah membaca proposal yang saya kirimkan kemarin melalui asisten anda?" tanya Andreas kepada Farel yang terlihat sedang menyimak setiap pembicaraannya.


" Saya sudah membacanya secara sekilas. Secara garis besar kami tertarik dengan tawaran dari anda. Hanya saja sangat disayangkan perusahaan kami tidak mempunyai basic untuk melangkah menuju ke proyek perfilman. Mohon maaf sekali!" ucap Farel menolak proposal yang diberikan oleh mereka.


Alexis atau Amora melotot sempurna mendengarkan ucapan dari Farel yang menolak proposal darinya. Kalau tidak dihalangi oleh Andreas pasti Amora sudah mengamuk karena emosi.


Bagaimanapun dia sudah berusaha sangat keras untuk membuat proposal itu dan sangat berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan Farel agar dirinya bisa bertemu dengan Farel secara leluasa.


Farel yang sebetulnya merasa sangat curiga melihat gelagat Alexis yang sejak tadi hanya diam saja dan terus memperhatikannya.


Farel terus menatap bola mata Alexis yang dia rasa begitu familiar. bagaimanapun sebelum bertemu dengan Siska Farel menjalin hubungan begitu dekat dengan Amora yang saat ini tengah menggunakan identitas sebagai Alexis di hadapan Farel dan Siska.


Siska sejak tadi sebetulnya merasa terganggu melihat Alexis yang menatap suaminya dengan begitu lekat. Aeakan ada sesuatu di dalam matanya yang begitu memuja sang suami dan Siska tidak bisa mengungkapkan semua itu dengan kata-kata.


" Maafkan saya. Saya dan istri saya harus segera kembali ke rumah kami. Karena kami meninggalkan putra Kami bersama dengan pengasuhnya!" ucap Farel yang langsung bangkit dari duduknya sambil menggenggam telapak tangan Siska mengajak istrinya untuk pulang bersamanya.


Alexis menghentikan langkah Farel, " Tolong pertimbangkanlah lagi tentang tawaran kerjasama yang saya bawa untuk perusahaan kalian berdua!" ucap Alexis akhirnya membuka suaranya dengan susah payah untuk menyamarkan suara aslinya.


Namun Farel tetap bersikeras tidak mau menerima proposal itu.


" Maafkan saya! Tapi saya tidak punya pengalaman sedikitpun di dalam dunia perfilman. Selain itu, saya juga tidak mau mengambil resiko untuk kehancuran perusahaan saya. Perusahaan saya baru mulai bangkit kembali setelah dihajar badai yang begitu dahsyat gara-gara perbuatan orang jahat yang sudah mencuri uang perusahaan kami senilai ratusan Milyar. Kami masih ingin bernafas setelah berjuang begitu keras untuk bisa bangkit seperti sekarang!" ucap Farel yang langsung menarik tangan Siska untuk segera meninggalkan restoran.


Andreas langsung menarik tangan Amora sewaktu melihat kekasihnya hendak mengejar mereka berdua.


" Sabar Alexis! Kita tidak bisa memaksakan sesuatu seperti itu kepada mereka!" ucap Andreas berusaha untuk menasehati Alexis yang terlihat begitu geram dengan kelakuan Farel dan Siska yang sama sekali tidak mempertimbangkan kerja kerasnya yang sudah jauh-jauh datang dari Australia hanya untuk menawarkan kerjasama itu kepada perusahaan mereka.


" Mereka terlalu sombong! Aku ingin memberi pelajaran kepada mereka Andreas!" ucap Alexis dengan mata berapi-api.


" Kita bisa menawarkan kerjasama ini ke perusahaan lainnya. Proposal kita sangat bagus. Saya yakin pasti banyak perusahaan lain yang bisa kita gandeng untuk bekerja sama dengan kita!" Andreas berusaha untuk menenangkan Alexis yang sejak tadi sangat sulit untuk dikendalikan.