Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
27. Amora menemui Siska


Keesokan harinya Siska berangkat ke sekolah lamanya. Karena dia harus menandatangani ijazahnya sebelum dia akhirnya benar-benar meninggalkan sekolah itu.


" Wah sebentar lagi aku harus meninggalkan sekolah ini dan berpisah dengan semua guru dan teman-temanku!" ucap Siska sambil memandangi gedung sekolah yang selama 3 tahun telah menemaninya.


Gedung sekolah itu yang telah memberikan banyak sekali kenangan kepadanya yang menjadi saksi masa remajanya yang penuh dengan kenakalan dan juga keusilannya dalam mengerjai guru-gurunya.


" Eh kok sendirian aja? Pak Farel tidak ikut denganmu?" tanya sahabatnya Siska ketika dia melihat Siska hanya sendirian saja datang ke sekolahan.


Siska mengerutkan keningnya. Merasa tidak senang ketika sahabatnya terus saja bertanya tentang Farel.


" Jangan katakan padaku kalau kau naksir pada calon suamiku!" ucap Siska sambil memasang wajah cemberut di hadapan sahabatnya.


Brina tampak gelagapan mendengarkan pertanyaan dari Siska.


" Tidaklah kau jangan sembarangan! Aku hanya mengidolakan dia saja, tidak lebih!" ucap Brina tampak gugup.


Siska akhirnya bersama Brina menuju ruangan administrasi untuk menandatangani ijazah dan kemudian dia pun di ajak pergi bersama Brina yang kebetulan di antarkan oleh supir ayahnya Brina.


" Ayo kau ikut saja denganku. Kita bisa berjalan-jalan dulu ke mall. Siapa tahu mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita karena aku rencananya mau kuliah ke Swiss mengikuti kakakku di sana!" ucap Brina dengan wajah antusias mengajak sahabatnya untuk berjalan-jalan ke mall seperti kebiasaan mereka dulu sewaktu masih sekolah.


" Maafkan aku Brina. Tapi aku harus segera kembali ke perusahaanku. Karena di sana Farel sudah menungguku. Kau lihatlah ini! Dari tadi dia sudah terus miscall dan banyak mengirimkan pesan untuk menyuruhku segera ke perusahaan!" ucap Siska dengan wajah penyesalan karena harus menolak ajakan Brina pergi ke mall bersamanya.


Brina tampak kecewa. Tetapi dia pun mencoba mengerti bahwa sekarang Siska sudah memiliki calon suami yang harus didengarkan kalau tidak ingin hubungan mereka menjadi rusak.


" Baiklah kalau begitu aku pergi ke mall sendiri saja. Kamu mau aku antarkan ke perusahaanmu?" tawar Brina kepada Siska.


" Tidak usah. Farel sudah mengirimkan sopirnya untuk menjemputku, tuh mobilnya sudah ada di parkiran. Aku pergi dulu ya!" Siska dan Rina pun Kemudian cipika-cipiki untuk memberikan salam perpisahan karena mereka tidak tahu kapan lagi akan bertemu setelah ini.


Brina tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian dia pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan sekolahannya.


Sementara dari kejauhan tampak Andika yang terus memperhatikan Siska. Dia sebenarnya ingin mendekati Siska. Tetapi dia sudah mendapatkan peringatan dari kepala sekolah untuk tidak mengganggu Siska lagi.


Pengaruh seorang Farel Handoyo benar-benar luar biasa di sekolahan itu. Maklumlah Farel itu memang seorang donatur tetap dan banyak memberikan sumbangan untuk pihak sekolah. Sehingga apa yang menjadi permintaannya benar-benar dipertimbangkan oleh Kepala Sekolah.


Andika kemudian langsung meninggalkan sekolahan karena sudah tidak ada lagi penyemangat untuk dia bisa menetap di sekolahan itu.


" Sepertinya lebih baik aku mengundurkan diri saja dari sini. Toh Siska juga sudah tidak ada di sini lagi. Dulu dialah yang telah membuatku selalu bersemangat untuk mengajar di sekolahan ini. Walaupun gajinya tidak seberapa. Tetapi kehadiran seorang Siska benar-benar menjadi mood booster dalam hidupku. Kalau bukan karena usianya yang masih kecil aku pasti berani untuk menyatakan perasaan cintaku padanya. aku benar-benar coba karena mempertemukan Siska dengan Sonya. Sehingga membuat Siska jadi membenciku gara-gara hal itu. Siska pasti merasa ilfil setelah melihat hubunganku dengan Sonya yang begitu intim." Andika langsung pergi menuju kediamannya dia akan meminta kepada ayahnya untuk memberikan jabatan di perusahaan keluarga mereka.


Sementara itu Siska yang saat ini sedang berjalan menuju kantornya, tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran Amora yang mendatanginya.


" Halo Siska sayang. Apakah kau masih ingat denganku?" tanya Amora dengan senyum yang begitu manis di hadapan Siska.


Siska hanya mengangguk saja melihat kehadiran Amora di depannya.


' Mau apa dia datang kemari? Jangan sampai dia mau menyuruhku untuk meninggalkan Farel!' batin Siska mulai merasa tidak enak ketika melihat senyum amarah yang tampak terlalu dibuat-buat, terkesan tidak alami.


" Halo apakah kita bisa bertemu di tempat lain? Aku ingin bicara denganmu!" ucap Amora ketika dia sudah berhadapan dengan Siska yang masih membeku di tempatnya karena dia belum percaya bahwa Amora bersikap baik terhadapnya.


Bagaimanapun Siska sudah mengetahui sejarah percintaan antara Amora dan Farel.


" Tapi maafkan aku Amora. Karena saat ini Farel sudah menungguku. Apakah kita bisa bertemu di lain waktu?" tanya Siska merasa canggung dan tidak enak karena harus menolak keinginan Amora untuk bertemu dengannya.


Amora tampak kecewa dengan penolakan dari Siska Tetapi dia pun sangat mengenal karakter seorang Farel yang harus dipatuhi.


" Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar masa kau tidak bisa meluangkan saja sedikit waktumu untukku? Aku yakin Farel pasti akan tetap menunggumu!" ucap Amora memaksa Siska agar bertemu dengannya di tempat lain.


Siska tampak berpikir. Tetapi dia kembali melihat ponselnya yang kembali berdering.


Siska pun kemudian mengangkat telepon tersebut yang ternyata itu adalah dari Farel.


" Ya, Sayang ada apa? Oh aku harus segera ke sana Ya tunggu sebentar ya di sini sedang ada urusan sedikit!" ucap Siska menjawab panggilan dari Farel dan kemudian dia langsung menutupnya kembali.


Amora tampak kesulitan menelan salivanya sendiri. Ketika dia mendengarkan Siska yang memanggil Farel dengan kata "sayang" hatinya benar-benar sangat panas dan mendidih. Karena tidak rela laki-laki yang dia cintai disayangi oleh perempuan lain.


' Lihatlah Siska! Aku pasti bisa berhasil merebut kembali Farel dari tanganmu. Aku tidak rela kalau sampai Farel menikah denganmu!' batin Amora dengan menetap tajam kepada Siska yang sudah menutup teleponnya dan sekarang menatap bicara padanya.


" Tolong kau maafkan aku Amora. Tetapi aku benar-benar harus pergi sekarang. Karena calon suamiku sudah menunggu. Aku pergi dulu ya? Bye!" ucap Siska yang langsung nelambaikan tangannya dan pergi dari hadapan Amora tanpa menunggu jawaban dari Amora yang masih membeku di tempat ketika mendengar Siska mengatakan bahwa Farel sebagai calon suaminya.


Amora benar-benar frustasi Karena tampaknya kesempatannya untuk merebut Farel dari tangan Siska sangat tipis sekali.


" Kelihatannya mereka berdua saling mencintai. Tampaknya akan sangat sulit aku untuk memperjuangkan kembali Farel untuk kembali ke sisiku." monolog Siska.


Karena merasa jengkel Amora kemudian memilih untuk pergi ke cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari perusahaan milik Siska.