
Dedi dan Susan saling memandang satu sama lain ketika mereka melihat semua pembicaraan dan perundingan antara Steven dan irdina yang terlihat begitu konyol bagi orang yang tidak mengerti bahwa saat ini Steven hanya sedang mencari cara untuk membuat Irdina mau menyerah dan tidak terus mencari masalah dengan mereka.
" Suamimu benar-benar sangat hebat dia bisa memikirkan ide cemerlang seperti ini untuk menyelamatkanmu dan juga anakmu. Rosa!! Kau harus menjaga suamimu dengan baik tidak banyak laki-laki cerdas seperti dia di dunia ini!" Dedi terlihat tersenyum kepada putrinya yang saat ini sedang cemberut dan misuh-misuh.
Rosa benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya yang malah seperti membanggakan apa yang dilakukan oleh Steven sekarang.
" Papa sebaiknya tidak usah ikut-ikutan gila seperti suamiku! Bagaimana mungkin aku mau menerima anak dari mantan kekasih suamiku untuk menjadi menantu anakku? Aku tak akan pernah sudi!" terlihat Rosa yang begitu murka dengan apa yang dilakukan oleh Steven yang menurutnya begitu ceroboh karena sudah bermain-main dengan masa depan Putra mereka yang masih dalam kandungannya.
Dedi kemudian menjelaskan semuanya kepada Rossa dengan gamblang dan jelas. Agar putrinya itu tidak salah paham dengan maksud yang sedang di perjuangkan oleh Steven sekarang.
" Kamu dengar ya Rosa!! Apa yang dilakukan oleh suamimu itu adalah untuk menjamin hidupmu dan juga anak yang ada di dalam kandunganmu. Kalau perjanjian itu benar-benar ditandatangani dan disetujui oleh Irdina. Maka dia tidak akan pernah membuat rencana untuk membunuhmu maupun membunuh anakmu. Karena dia pasti akan menjaga calon suami dari anaknya sendiri. Apa kamu mengerti? Dengan begitu, artinya Irdina akan menikah dengan pria lain dan secara otomatis dia akan melupakan suamimu. Karena dia akan fokus untuk mengurus anak yang ada di dalam perjanjian itu untuk jadi calon menantu kamu! Apa sekarang Kamu mengerti apa yang ada di dalam pikiran suamimu? Rossa berusahalah untuk menghargai apa yang sudah dilakukan oleh suamimu yang sedang mengamankan keselamatan dirimu dari mantan dia yang tidak bisa move on!" Dedi berusaha untuk membuka jalan pikiran putrinya agar tidak terlalu mengikuti hawa nafsu..
" Benar apa yang dikatakan oleh ayahmu! Rosa, suamimu melakukan itu semua adalah demi kamu dan juga anakmu Dia tidak memiliki tendensi buruk di dalamnya. Suamimu hanya ingin menyelesaikan masalah dengan damai tanpa membuat keributan dan tragedi seperti Adrian yang harus kehilangan istri dan juga calon anaknya." Susan juga mendukung pendapat suaminya yang memuji semua yang dilakukan oleh Steven untuk menyelamatkan putri dan juga cucunya.
Rosa terlihat mengerutkan keningnya dan terus berpikir apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya tentang rencana suaminya yang ingin menjodohkan anaknya dengan anak yang akan dilahirkan oleh Irdina. Sang mantan terindah Steven di masa lalu.
Hati wanita manakah yang tidak akan panas ketika melihat suaminya mau merencanakan hal gila semacam itu? Begitu pula dengan Rosa. Rosa hanya wanita normal yang sangat mencintai Steven dan tidak mau kalau sampai suaminya berbagi hati dengan mantan kekasihnya.
" Pikirkan baik-baik Rossa dan jangan membuat suamimu kecewa dengan penolakan kamu. Dan kamu juga tidak boleh membahas hal ini dengan suamimu. Sebelum dia yang membahasnya duluan denganmu jangan sampai suamimu itu mengetahui apa yang sekarang sedang kita lakukan. Apa kamu paham?" tanya Dedi kepada putrinya yang terkadang suka ceroboh dan berbuat hal yang absurd.
" Benar Rosa! Kau rahasiakanlah bahwa kita saat ini sedang mendengarkan semua pembicaraan dan perundingan mereka. Suami kamu akan tersinggung kalau mengetahui kalau kamu tidak akan percaya dia sebagai suaminya." Susan menggenggam telapak tangan putrinya yang terasa begitu dingin.
" Pah, Rosa masuk ke kamar dulu kepala Rosa begitu pening gegara masalah ini!" Rosa kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk meninggalkan mereka di sana.
" Istirahatlah dan cobalah untuk berpikir positif atas semua masalah ini." Nasehat Dedi kepada putrinya yang saat ini sedang mengalami kegamangan.
Rossa saat ini benar-benar sangat penting kepalanya tidak bisa berpikir terlalu berat. Kecemburuan di dalam hatinya begitu berlipat-lipat setelah melihat suaminya yang begitu bersikeras ingin berdamai dengan Irdina.
Padahal kalau Steven mau, dia bisa saja membawa Irdana ke kantor polisi dengan tuduhan perencanaan pembunuhan terhadap dirinya.
" Kenapa Steven jauh lebih memilih ide konyol seperti itu daripada mencobloskan Irdina ke penjara? Apakah Steven tidak tega untuk melihat penderitaan Irdina di dalam penjara? Apakah itu artinya kalau Stevan masih mencintai Irdina? Apakah karena sudah ada aku dan juga anakku sehingga membuat Steven lebih memilih rencana konyol itu untuk membuat mereka berdua selalu terhubung?" tanya Rosa kepada dirinya sendiri yang malah semakin membuat kepalanya pusing bukan kepalang.
***
Adrian yang saat ini juga sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan beberapa penyelidik dan juga petugas polisi yang akan mengantarkan Indrana dan Amora ke Jakarta untuk menjalani proses pengadilan di sana sesuai permintaan Adrian.
Bagaimanapun juga ada yang tidak mungkin akan menetap di Surabaya ataupun bolak-balik ke sana. Oleh karena itu Adrian dan Farel secara khusus meminta kepada pihak penyelidik untuk menyelidiki dan menyidangkan kasus pembunuhan Andini itu di Jakarta saja agar mereka semuanya tidak mengalami kesulitan untuk memberikan kesaksian.
" Apa kamu yakin kalau kamu akan menjebloskanku ke dalam penjara? Bukankah kamu juga layak untuk masuk penjara karena kamu sudah menyakiti dan membunuh perasaanku dengan kamu menikahi wanita lain!" Indrana terlihat begitu murka kepada Adrian yang hanya menatapnya dengan datar tanpa ekspresi sama sekali.
Adrian saat ini hanya sedang menjaga kewarasannya dengan tidak mau menggubris semua yang dikatakan oleh Indrana yang sangat menyakitkan hatinya yang sampai saat ini masih belum bisa melupakan Andini yang sekarang sudah meninggal gara-gara Indrana yang sudah memerintahkan seseorang untuk membunuhnya.
" Hey!! apa sekarang kau sudah berubah menjadi laki-laki bisu hanya karena istrimu yang kau cintai sudah masuk ke dalam kuburan?" tanya Indrana semakin mencari gara-gara dengan Adrian yang dari tadi terus mengepalkan kedua tangannya karena menahan emosi di hatinya agar tidak meledak.
Bagaimanapun juga saat ini ada petugas dan team penyelidik di dalam mobil tahanan itu. Adrian memang sengaja ikut dengan mobil tahanan untuk menjaga dan memastikan bahwa Indrana dan Amora tidak kabur dari pandangannya sendiri.
Adrian menginginkan Indrana masuk ke dalam penjara dengan dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
" Tutuplah mulutmu kalau kamu hanya ingin membicarakan hal-hal yang tidak penting sama sekali! Sebaiknya kau segera berpikir untuk menyiapkan pembelaan di pengadilan untuk membuatmu tidak mendekam di penjara seumur hidup!" Adrian menatap tajam kepada Indrana yang sontak merasa nyalinya menciut melihat kebencian di mata Adrian terhadapnya.
Sampai saat ini Adrian masih belum bisa memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh Indrana kepada Andini yang sangat dia cintai. Adrian benar-benar menyesali apa yang sudah dilakukan oleh Indrana yang sudah begitu tega membunuh istrinya dan juga calon anak yang sudah dia tunggu sangat lama sekali.
Adrian sekarang sudah berkepala tiga. Adrian sangat ingin sekali untuk segera mempunyai keturunan yang kelak akan mewarisi perusahaan yang sudah dibebankan ke pundaknya oleh Ibunya yang berada di Bandung yang sudah merasa tua dan lelah dalam bekerja. Silvia mengatakan kepada Adrian bahwa dirinya ingin pensiun secepatnya dan menyerahkan kepemimpinan Prayoga group yang ada di Bandung kepada Adrian.
Perusahaan Prayoga group yang ada di Bandung dan Jakarta memang dipisahkan manajemennya. Karena perusahaan yang di Bandung 100% didirikan oleh ayahnya Adrian. Sementara Prayoga Group yang ada di Jakarta didirikan 100% oleh ayahnya Siska.
Oleh karena itu Adrian sebagai anak pertama sang ayah dari Silvia yang akan mewarisinya dengan Steven yang kelak akan membantu dalam mengurus manajemen perusahaan di Bandung.
" Kenapa Adrian? Apa kamu sudah benar-benar melupakan kalau kamu dulu tergila-gila padaku?" tanya Indrana berusaha tersenyum untuk menggoda Adrian yang saat ini benar-benar sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak meluapkan emosinya kepada Indrana yang sangat menguji kesabarannya yang sudah setipis kulit ari.