Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
32. Teror di mulai


Siska menahan Adrian dan Steven untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


" Paman tidak tahu kenapa, bulu kuduk ku merinding ketika aku masuk ke dalam kamarku. Aku tidak berani tidur di sana. Apakah bisa kalau kita tidur bertiga di ruang tamu saja?" ucap siska sambil menunggu bukan kedua tangannya di depan dada meminta kepada kedua pamannya untuk menemani dia tidur di ruang tamu.


" Kau sudah besar masa tidur saja harus ditemani orang lain sih?" protes Adrian menatap Siska yang tampak ketakutan.


Siska kemudian menarik tangan kedua pamannya untuk duduk di kursi panjang yang ada di ruang keluarga.


" Kita nonton televisi saja Paman. Saya yakin pasti ada film yang bagus dan yang bisa kita tonton sampai pagi!" ucap Siska berusaha untuk membujuk kedua pamannya agar menemaninya tidur di sana.


Mata Siska terus nyalang menatap ke arah kamarnya sendiri.


" Kamu kenapa sih Siska? Memangnya di kamarmu ada apa? Ayo biar Paman periksa ke sana. Supaya kau bisa tidur dengan nyenyak di sana!" ucap Adrian yang kemudian berdiri dan bersiap untuk memeriksa kamar keponakannya.


Akan tetapi Siska menggelengkan kepalanya. Sehingga membuat Adrian dan Steven menjadi kesal di buatnya.


" Ayolah Siska. Jangan bersikap manja seperti itu! Kau itu sudah besar bahkan sebentar lagi kau akan menikah dengan seorang pria tampan seperti Farel! Kau tidak takut dengan hantu kan?" tanya Steven sambil menatap tajam ke arah Siska yang tampak ketakutan sekali.


Siska pun kemudian menceritakan apa yang terjadi ketika tadi dia masuk ke dalam kamarnya. Bulu kuduknya seketika merinding ketika dia tanpa sengaja menatap foto kedua orang tuanya yang dipajang di dinding kamarnya.


" Ini kan malam Jumat pasti kau tidak pernah mengirimkan al-fatihah maupun doa-doa untuk kedua orang tuamu makanya mereka mengunjungimu kembali! Kamu harus ingat Siska. Bawa kedua orang tuamu meninggal karena kecelakaan. Mungkin arwah mereka belum tenang hingga saat ini. Bahkan kita sampai saat ini belum menemukan siapa pembunuh mereka yang sebenarnya." ucap Adrian sambil menatap Siska yang sekarang semakin merapatkan tubuhnya kepadanya.


Steven sangat lucu melihat Siska yang begitu menggemaskan di matanya. Sehingga tanpa sadar Steven pun tertawa, sehingga membuat Siska marah kepadanya.


" Aku ini sedang ketakutan Paman. Kenapa kau malah tertawa sih? Apakah ada yang lucu? Ya ampun kamu jahat sekali Paman! Hiks hiks!" Siska pun mulai menangis terisak sambil merangkul lengan Adrian yang ada di dekatnya.


Adrian kemudian menggelengkan kepalanya memberikan isyarat kepada Steven untuk berhenti menggoda keponakannya yang cengeng dan manja sekali.


" Ya sudah Steven. Sana kau masuk ke kamar kita dan ambil selimut dan juga bantal. Kita tidur di sini saja!" perintah Adrian kepada Steven yang langsung melaksanakannya.


Selang beberapa menit Steven pun sudah datang dengan membawa selimut serta bantal dan menggelarnya di lantai.


Siska pun akhirnya menghapus air matanya melihat kedua pamannya menyerah dan mau menemaninya di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Siska benar-benar tidak berani untuk memejamkan matanya dia masih merinding hingga saat ini. Entah kenapa setiap dia melihat foto kedua orang tuanya bulu kuduk Siska seakan berdiri semuanya.


" Tidurlah Siska. Besok pagi-pagi kita semua bukankah ada rapat dengan para supplier Perusahaan kita?" ucap Adrian sambil mengelus pucuk kepala Siska, keponakan kesayangannya.


Akan tetapi Siska tetap merangkul lengan Adrian dan tidak berani untuk beranjak dari tempat duduknya.


" Ayolah Siska. Paman benar-benar sudah mengantuk dan ingin sekali tidur!" ucap Adrian memohon kepada Siska agar melepaskan lengannya dari rangkulannya.


Steven hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Siska yang benar-benar lucu di matanya.


" Apa itu paman?" tanya Siska auto menjerit dan semakin mengeratkan rangkulannya di tangan Adrian.


Adrian pun sudah mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di rumah.


" Steven cepat kau periksa di dapur. Apa yang menjadi pemicu dari keributan itu?" perintah Adrian kepada adiknya yang dia kenal memang sangat pemberani.


Steven pun tanpa merasa ragu maupun takut langsung pergi ke arah dapur dan memeriksa keadaan di sana.


" Kak Adrian cepat kesini kak!" tiba-tiba saja Steven berteriak di arah dapur yang membuat adrian dan Siska menjadi terkejut.


Siska dan Adrian pun kemudian segera berlari ke arah dapur. Tetapi Siska tidak berani untuk melepaskan tangannya dari lengan Adrian.


" Paman jangan ninggalin aku dong. Aku takut sekali!" ucap Siska gemetar sekujur tubuhnya.


Adrian pun kemudian menggenggam telapak tangan Siska dan membimbingnya untuk mengikutinya ke dapur memenuhi panggilan Steven.


" Ada apa sih Steve malam-malam kau bikin ribut?" protes Adrian sambil menatap tajam kepada saudaranya yang saat ini sedang berdiri dengan mata ketakutan.


Adrian menjadi penasaran dan kemudian dia pun mengarahkan pandangannya menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh Steven.


" Astaghfirullahaladzim! Siapakah orang yang sudah berbuat hal seperti ini?" ucap Adrian sangat terkejut ketika dia melihat sebuah kotak yang berisi bangkai tikus dan juga darah yang berceceran di lantai dapur.


Adrian kemudian melihat ke dalam kotak yang ada tulisan di dalamnya.


" Segera kalian lepaskan Prayoga Group atau teror ini tidak akan ada hentinya!" tulisan itu ditulis dengan darah dan tampak masih segar.


Adrian kemudian menatap kepada Steven yang tampak masih gemetar ketakutan.


" Adrian cepat lapor polisi! Saya yakin pasti penjahatnya masih ada di sekitar sini!" ucap Steven sambil menatap ke arah Siska yang mulai menangis.


Adrian berusaha untuk menenangkan keponakannya yang tampaknya begitu syok mendapatkan teror semacam itu dari orang asing yang tidak di ketahui oleh mereka.


" Siska di rumahmu ini ada CCTV atau tidak?" tanya Adrian sambil menatap keponakannya yang masih gemetar di sebelahnya.


Siska menatap Adrian dengan begitu lekat kemudian dia menggelengkan kepalanya.


" Dulu pernah ada CCTV di rumah ini tetapi dilepas oleh Papahku. Katanya mengganggu privasi orang yang ada di rumah. Jadi sampai saat ini semua CCTV dinonaktifkan!" ucap Siska menerangkan kepada Adrian.


Adrian menghela nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia menatap Steven yang sekarang sudah kembali ke ruang keluarga.


" Besok kau pindah ke apartemen kami saja tampaknya rumahmu ini sudah tidak aman. Setidaknya di apartemen kami ada CCTV yang bisa mengawasi setiap gerak-gerik siapapun yang melintas. Jadi lebih aman!" ucap Adrian memberikan saran kepada Siska yang langsung menggelengkan kepalanya.