Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
129. Usaha Siska


Setelah mengetahui bahwa Farel berada di rumah sakit milik Andrew, Siska langsung menuju ke Amerika untuk bertemu dengan Farel yang sudah selama seminggu ga ada kabar nya. Siska benar-benar mengkhawatirkan kondisi Farel.


" Aku akan menitipkan Aaron kepada Paman Adrian kan aku tidak bisa membawa Aaron ke Amerika!" ucap Siska kepada dirinya sendiri.


" Paman tolong aku titip Aaron di sini karena aku harus segera menjenguk Farel dan Alex yang sekarang sedang kritis berada di rumah sakit," ucap Siska kepada Adrian.


" Hati-hati lah Siska. Paman akan menjaga Aaron baik-baik, kau tidak usah khawatir!" ucap Adrian.


" Terimakasih paman!" ucap Siska.


Siska sudah bersiap untuk meninggalkan kantor, Steven masuk ke dalam.


" Siska Kenapa wajahmu kelihatan tidak bahagia?" tanya Steven.


" Saat ini Farel berada di rumah sakit. Karena di sandrea dan disiksa oleh Abian!" ucap Siska terlihat lesu sekali.


Steven benar-benar terkejut mendengarkan berita itu. " Sungguh jahat sekali Abian!" Steven tampak begitu geram sekali, " Lalu sekarang kau mau pergi ke mana?" tanya nya lagi kepada Siska.


" Sekarang Aku akan pergi ke Amerika Paman untuk menjenguk Farel yang sekarang sedang sekarat di sana di rumah sakit dokter Andrew." ucap Siska kepada Steven.


" Paman akan ikut denganmu Siska. Tidak baik Kalau kau pergi sendiri, Paman sangat takut ada apa-apa denganmu di jalan!" ucap Steven yang kemudian bersiap untuk mengikuti Siska ke Amerika dengan menggunakan jet pribadi milik Farel.


Setelah memastikan Aaron berada di tempat yang aman Siska pun langsung bergegas pergi ke Amerika.


" Terimakasih Paman, karena Paman selalu ada untukku!" ucap Siska benar-bener merasa bahagia sekali kedua pamannya selalu ada di sampingnya di setiap kondisi tersulit dalam hidupnya.


Kedua orang tuanya sudah tidak ada. Jadi Siska benar-benar sangat berterima kasih kepada kedua pamannya yang selalu peduli dan memperhatikannya.


" Siska kau adalah keponakan kami, sudah menjadi kewajiban kami untuk selalu menjagamu! Kau adalah tanggung jawab kami untuk selalu memastikan semuanya aman!" ucap Steven.


Siska benar-benar merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik yang menyayanginya dan juga mencintainya.


" Semoga Farel baik-baik saja. Paman, aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Hatiku sangat sakit sekali!" ucap Siska dengan mata berderai.


Dalam kehidupan Siska dia hanya mencintai Farel, karena tidak pernah ada laki-laki yang lain masuk ke dalam kehidupannya selain dia.


" Percayalah semuanya pasti akan baik-baik saja. Paman akan mengurus penjahat itu agar mendapatkan hukuman yang paling berat!" ucap Steven memberikan kekuatan kepada keponakannya yang tampaknya saat ini sedang berada dalam titik terlemahnya.


Setelah mereka sampai ke Amerika, Siska dan Stevan langsung menuju ke rumah sakit milik dokter Andrew.


" Paman jantungku sangat berdebar. Aku takut terjadi apa-apa dengan Farel," ucap Siska sambil terus menggenggam telapak tangan Steven.


" Percayalah Siska semuanya pasti akan baik-baik saja! Berdoalah yang baik untuk suamimu!" ucap Steven terus berusaha untuk menghibur dan menguatkan Siska.


Hanya karena harta bahkan saudaranya sampai dipukuli seperti itu. Hati Siska benar-benar tidak kuasa melihat suaminya yang saat ini masih terlalu lemah di ruangan ICU.


" Dokter Andrew. Bagaimana keadaan suamiku?" tanya Siska dengan air mata yang mulai berkaca.


Saat ini Siska sedang melihat tubuh Farel yang tergolek lemah di dalam ruangan ICU melalui kaca jendela besar yang memperlihatkan tubuh Farel dan Alex.


Dokter Karina dan dokter Andrew merasa sangat prihatin dengan keadaan pasangan suami istri itu yang selalu menghadapi begitu banyak cobaan hidup.


" Sabarlah Siska! Percayalah tim Dokter kami sedang berusaha untuk mengembalikan kondisi Farel seperti sedia kala," ucap Karina yang memeluk Siska yang tadi hampir saja jatuh ketika melihat Farel.


" Ketika kami menemukan Farel di kantor milik Abian, dia sudah pingsan. Entah berapa lama dia dikurung di sana dengan dipukuli dan disiksa!" ucap Andrew dengan nada prihatin sekali.


" Waktu itu saya seharian sibuk sekali di rumah sakit jadi saya tidak membuka ponsel saya selama seharian. Ketika saya membuka ponsel baru saya menemukan pesan yang ditinggalkan oleh Farel untuk saya. Kalau waktu itu saya langsung menemukan pesan itu dan langsung menggubrisnya, mungkin keadaan Farel tidak akan separah ini," ucap Andrew merasa benar-benar bersalah karena sudah membuat Farel dalam keadaan seperti itu. Terbaring lemah sekali.


" Banyak luka lebam dan juga pukulan di sekujur tubuh Farel. Organ tubuh dalam pun banyak yang terluka dan harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter." ucap Karina menerangkan kondisi Farel yang terbaru.


" Bagaimana kondisi asistennya Farel?" tanya Steven merasa khawatir sekali.


" Kondisinya hampir sama seperti Farel. Akan tapi dia tidak terlalu parah!" ucap Karina.


Mereka kemudian meminta kepada Siska untuk beristirahat dulu di ruangan Andrew. Di sana ada kasur yang bisa di gunakan untuk tidur. Biasanya Andrew menggunakan kasur Itu kalau harus Lembur karena terlalu banyak operasi maupun tugas di rumah sakit.


" Istirahatlah dulu Siska. wajahmu begitu pucat jangan sampai nanti kamu juga sakit. Saat ini Farel pasti sangat membutuhkanmu. Jadi kau harus memastikan tubuhmu sehat!" ucap Andrew membujuk Siska untuk mau beristirahat dulu.


Akan tetapi Siska menolak. " Bagaimana saya bisa beristirahat dokter sementara melihat suami saya seperti itu?" tanya Siska.


Dokter Karina kemudian membimbing Siska untuk duduk di kursi yang ada di dekat mereka.


" Percayalah kepada tim Dokter kami mereka akan memberikan yang terbaik untuk Farel dan juga asistennya! Sekarang kau harus mengistirahatkan dulu tubuhmu agar tidak sakit. Kau telah melakukan perjalanan yang sangat jauh pasti tubuhmu sangat lelah. Apalagi dengan pikiran yang begitu rumit dan stress luar biasa. Kami khawatir dengan kesehatanmu Siska!" ucap Karina tidak berhenti untuk membujuk Siska.


Akhirnya Siska pun menurut. Steven dan Siska menempati ruangan Andrew. Siska di ranjang dan Steven di sofa.


" Sungguh kasihan sekali di usia yang sangat muda dia harus menghadapi begitu banyak cobaan hidup karena orang-orang yang selalu memberikan mereka masalah," ucap Andrew sambil memeluk bahu Karina yang juga merasa prihatin dengan keadaan Siska.


" Beruntungnya Siska masih memiliki kedua paman yang sangat peduli dengannya dan selalu mendampingi dia, sehingga dia tidak terlalu kesepian," ucap Andrew.


Entah kenapa Karina tidak merasa cemburu sama sekali ketika melihat suaminya yang begitu peduli kepada Siska.


" Orang baik pasti akan selalu dikelilingi oleh orang-orang baik," ucap Karina.