
Keesokan harinya, ketika pernikahan akan di gelar, Siska yang sudah didandani dan sudah bersiap untuk berangkat ke gedung tempat acara pernikahan mereka akan di gelar, tiba-tiba saja ada Amora di hadapan Siska dan menatapnya dengan penuh permusuhan.
" Aku tidak mengerti dengan kamu. Kenapa kamu begitu tidak tahu malu sih? Kok kamu masih mau untuk memungut barang bekas orang lain?" tanya Amora kesal sekali dengan mata berapi-api.
Siska tidak mengerti apa maksud dari perkataan Amora yang terlalu ambigu baginya.
" Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud. Maksud perkataanmu itu apa? Tapi yang jelas, minggirlah sekarang juga. Karena aku harus segera ke gedung xxx untuk melaksanakan pernikahanku dengan Farel!" ucap Siska sambil melangkahkan kakinya dan melewati Amora yang tampak begitu geram.
Tampak tangan Amora yang sudah terhulur dan hendak menarik gaun yang digunakan oleh Siska. Ketika tiba-tiba saja Farel sudah ada di antara mereka dan menatap Amora dengan penuh amarah.
" Apa yang mau kau lakukan Amora? Awas kau! Jangan coba-coba kau untuk merusak acara pernikahanku dengan Siska!" Ucap Farel sambil menarik tangan Siska ke sampingnya dan menanyakan keadaannya.
Siska tersenyum dan merasa bahagia sekali karena Farel akhirnya datang juga untuk menjemputnya ke lokasi acara pernikahan mereka berdua yang di adakan di gedung.
" Kamu tidak apa-apa kan sayang? Apakah Amora menyakitimu?" tanya Farel sambil memeriksa keadaan Siska yang sedang tersenyum kepadanya.
Melihat Siska menggelengkan kepala sontak Farel pun menarik nafasnya dengan lega.
Farel kemudian melihat ke arah Amora yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
" Dengankan aku Amora! Hubungan kita sudah berakhir sejak lama sekali dan kau tidak punya hak untuk menangis di tempat ini sekarang. Karena aku bukan siapa-siapamu dan aku tidak sedang berkhianat kepada siapapun dengan pernikahan ini!" ucap Farel sebelum dia meninggalkan Amora yang mulai menangis tersedu-sedu di tempatnya.
Farel langsung menarik tangan Siska dan mengajaknya ke tempat resepsi pernikahan mereka berdua. Tanpa memperdulikan Amora yang terus mengejar dan memanggil namanya dengan air mata yang mengalir di pipinya dengan deras.
" Kamu jahat sekali Farel Kamu sudah tidak peduli lagi denganku," ucap Amora.
" Padahal dulu di matamu hanya ada aku seorang dan kamu selalu memanjakanku dengan semua cinta yang kau miliki. Tapi sekarang kau bahkan tidak ingin melihat ke arahku. Seakan aku hanyalah seonggok sampah di matamu!" monolog Amora sambil terus menetap mobil Farel yang sudah meninggalkannya sendirian.
Dengan langkah gontai Amora kemudian pergi menuju mobilnya. Sebelum pergi dari tempat itu, dia menghubungi anak buahnya.
" Cepat kalian datang ke gedung xx dan hancurkan acara pernikahan mereka berdua. Aku akan memberikan bonus besar kepada kalian, kalau kalian berhasil membubarkan acara pernikahan itu! Apa kalian faham?" tanya Amora dengan mata berkilat dan amarah yang membencah di dadanya yang seakan siap untuk membakar sekelilingnya.
" Siap bos akan kami laksanakan perintah anda dan siapkanlah bonus yang besar untuk kami. Karena kami pasti akan berhasil untuk menghancurkan pernikahan itu sampai tak bersisa! Haha!" ucap pemimpin dari anak buah Amora yang terkenal jumawa dan juga sangat sombong.
" Pastikan kalian tidak meninggalkan jejak apapun dan jangan sekali-kali menyebutkan namaku kalau terjadi apa-apa di belakang sana. Apa kau mengerti?" tanya Amora lagi.
Dengan senyum licik yang terukir di wajah cantiknya, Amora melangkahkan kakinya masuk ke gedung xx yang sudah didekorasi dengan begitu cantik dan menawan.
Hati Amora terbakar rasa cemburu yang sangat besar, ketika matanya melihat semua foto-foto prewedding antara Farel dan Siska yang menampakkan kebahagiaan di mata mereka dan cinta yang sangat besar di mata Farel untuk Siska.
" Seharusnya aku yang berada di dalam foto itu bukannya gadis urakan yang tidak tahu diri seperti Siska!" monolog Amora dengan air mata yang mengalir di kelopak matanya.
Ada seraut perasaan sesal di hati Amora. Amora merindukan masa ketika dulu dia selalu menerima cinta yang besar dari Farel, akan tetapi dia selalu saja mengabaikan semua perasaan cinta yang diungkapkan oleh Farel untuknya.
Sungguh! Saat ini dia sangat merindukan Farel yang selalu bersujud di telapak kakinya dan selalu membujuknya dengan lembut. Setiap kali dia ngambek ataupun tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Farel kepadanya setiap hari.
Yah terkadang Amora merasa sangat jenuh dan merasa sangat bosan dengan cinta Farel yang terlalu besar untuknya. Sehingga membuatnya merasa sesak dan tidak bisa bernafas. Oleh karena itu Amora sering sekali mencari gara-gara dengan Farel dan sering marah dengan pemuda itu yang sedang mabuk cinta kepadanya.
Sekarang Amora sedang menangis terisak. Karena merindukan semua saat-saat itu, yang sekarang tidak akan pernah bisa dia miliki lagi dalam hidupnya. Karena dia sudah kehilangan cinta Farel. Karena dia sudah kehilangan segalanya tentang Farel.
Farel yang sekarang hanya memiliki kebencian dan amarah di matanya yang tertuju kepadanya setiap mereka bertemu.
Mata Farel sekarang hanya tertuju kepada Siska dan itu benar-benar sangat menyayat hati Amora yang iri dan cemburu.
Amora tidak rela kehilangan cinta seorang Farel dan Dia merasa bahwa dia masih punya hak untuk memiliki Farel.
Dengan langkah gontai dan juga perasaan yang terhiris-hiris, Amora kemudian masuk ke dalam gedung yang tertata begitu apik dan terlihat sangat cantik di matanya.
Pernikahan impiannya sekarang berada di hadapannya. Tetapi Amora harus menerima kenyataan bahwa wanita yang berdiri di samping Farel bukanlah dirinya.
" Kamu kenapa begitu kejam Farel? Kenapa tema pernikahan ini yang kau gunakan huh? Bukankah tema ini adalah tema pernikahan impian yang dulu kita impikan bersama akan di laksanakan apabila kita berdua menikah? Hiks hiks!" hati Amora benar-benar sangat hancur sekali ketika dia masuk ke gedung.
Ketika dia melihat tema yang digunakan di dalam dekorasi pernikahan antara Farel dan Siska. Tema itu adalah pernikahan impian yang dulu pernah dia rancang bersama Farel saat mereka masih bersama dan saling mencintai satu sama lain.
" Sungguh Farel! Kau adalah laki-laki terkejam yang pernah aku tahu sepanjang hidupku. Kenapa kau harus menghujam hatiku dengan tema pernikahan seperti ini? Hiks hiks!" monolog Amora dengan air mata yang membasahi pipinya. Sedih dan terluka.
Sementara itu tidak jauh dari Amora, tampak dokter Andrew pun melakukan hal yang sama dengen Amora. Dia tampak sedang menangis terisak. Ketika dia melihat pasangan bahagia yang saat ini sedang duduk bersanding di kursi pelaminan, sepasang pengantin yang begitu cantik dan tampan.