Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
189. Jujurlah!


Setelah dirawat hampir satu minggu lamanya. Steven akhirnya dinyatakan sehat oleh dokter yang merawatnya.


Karena berada di rumah sakit selama beberapa hari, hal itu yang membuat Steven semakin berdekatan dengan Rosa.


Dengan telaten Rossa mengurus Steven dan bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan kepada pemuda tampan itu.


Adrian saat ini berhadapan dengan Steven.


" Katakan padaku! Apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa aku merasa bahwa kau selalu menghindariku dan Andini?" tanya Adrian ketika adiknya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


Adrian tahu bahwa adiknya menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Adrian tidak bisa menebak tentang apa itu.


Perasaan Steven saat ini sudah mulai menipis tentang cintanya terhadap Andini. Karena perasaannya sudah mulai tersentuh oleh semua yang di lakukan Rosa kepadanya.


" Jujurlah Stevan! Kakak mohon. Kakak tidak mau kalau sampai hubungan kita berdua jadi rusak Katakanlah pada Kakak! Ada masalah apa sehingga membuat kamu selalu menghindariku selama ini?" tanya Adrian.


Steven tersenyum kepada Adrian.


" Kak, aku tidak pernah menghindarimu. Percayalah padaku! Itu hanya perasaanmu saja." ucap Steven sambil memegang telapak tangan Adrian dengan lembut.


" Percaya padaku. Apakah kau meragukan tentang apa yang aku katakan padamu?" tanya Stevan yang mulai memasang wajah sedih di hadapan Adrian.


Adrian terus menatap adiknya dan berharap bahwa apa yang dikatakan olehnya adalah sebuah kebenaran.


" Baiklah kakak akan percaya dengan apa yang kau katakan. Tapi ingat! Satu kali lagi Kakak melihatmu selalu menghindari kakak, kakak pasti akan marah denganmu!" Adrian kemudian memeluk Steven.


Kakak beradik itu tidak melihat kalau sejak tadi Andini terus memperhatikan mereka berdua. " Syukurlah kalau mereka berdoa sudah akur dan tidak saling mendiamkan satu sama lain lagi. Tadinya aku merasa bersalah kalau sudah membuat mereka tidak akur seperti itu." Andini bermonolog dengan dirinya sendiri.


" Apa kau tahu kenapa kedua pamanku seperti itu?" tiba-tiba saja Siska sudah berada di samping Andini.


" Kenapa?"


" Itu semua adalah karena kamu!" Andini terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Siska tadi.


" Aku tidak mengerti apa maksud semua perkataan nyonya Siska!" Andini menuntut penjelasan dari apa yang dikatakan oleh Siska kepadanya.


Siska kemudian duduk di hadapan Andini yang saat ini sedang menatapnya dengan penasaran sekali.


" Kau tahu kan, kalau kedua Pamanku mencintai kamu?" tanya Siska sambil menatap tajam kepada Andini.


Andini menundukkan kepalanya merasa seperti sedang diintrogasi oleh Siska sebagai majikan yang membayarnya selama ini.


" Dari mana Nyonya berpikir bahwa kedua pamanmu mencintaiku?" tanya Andini yang sudah mulai merasa tidak nyaman.


" Paman Steven mencintaimu. Begitu juga Paman Adrian. Tetapi aku tidak tahu siapa yang kau cintai?" tanya Siska.


Siska menggenggam telapak tangan Andini dan memohon kepadanya untuk jujur tentang perasaannya sendiri.


" Aku mohon! Jujurlah tentang apa yang saat ini sedang kau rasakan. Aku tidak mau kalau ke dua pamanku akhirnya memiliki hubungan buruk karena merasa cemburu dengan satu sama lain. Pilihlah salah satu diantara keduanya sehingga mereka tidak merasa seperti diberi harapan olehmu." Siska benar-benar berharap kebahagiaan untuk kedua pamannya Tetapi dia pun tidak rela kalau sampai pamannya dipermainkan.


" Kedua Pamanku adalah orang-orang yang baik. Mereka selama ini telah menjalani kehidupan yang hanya disibukkan dengan pekerjaan dan peduli dengan keluargaku. Sejak kehadiranmu dalam hidup mereka, aku melihat, mereka memiliki kehidupan yang baru. Mereka seperti bersaing untuk mendapatkan cintamu," Siska menatap kedua pamannya yang saat ini sedang berbicara di ruangan keluarga dengan santai.


" Aku tidak akan melarangmu untuk memilih salah satu diantara mereka. Karena bagiku kebahagiaan mereka adalah segalanya." Siska terus membujuk kepada Andini untuk memilih salah satu di antara Adrian dan Steven.


" Katakan padaku. Apa kau mencintai Paman Adrian?" Andini menatap kedua laki-laki yang sama beberapa bulan ini telah mewarnai hidupnya.


Dua laki-laki yang sudah menyentuh perasaannya dengan suatu kehangatan.


" Aku memang merasa sangat beruntung telah mengenal kalian semua dalam hidupku. Aku memang merasakan ada sesuatu yang aneh tentang diriku sendiri terhadap Tuan Adrian. Tapi aku tidak berani mengatakan kalau itu adalah cinta. Aku hanya merasakan bahwa apa yang aku lakukan tugasku sebagai susternya. Tapi terkadang tahu tanpa sengaja kami bersentuhan aku merasa seperti ada aliran listrik yang menyengatku dan itu benar-benar sangat menggangguku!" Siska sangat bahagia mendengar Pengakuan dari Andini.


" Aku akan membantumu untuk bersama dengan paman Adrian. Kalau kau memang benar-benar mencintainya!" Andini terkejut mendengar perkataan Siska.


" Kenapa?" tanya Andini bingung.


" Karena pamanku juga mencintaimu dan aku yakin. Pamanku juga pasti ingin sekali untuk mengungkapkan perasaan cintanya padamu. Hanya saja dia tidak merasa yakin dengan perasaan kamu. Aku akan mengatur pertemuan untuk kalian berdua agar bisa saling jujur satu sama lain!" Andini sebenarnya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Siska.


Rasanya seperti sebuah mimpi ketika tahu tentang hal itu. Bahwa Adrian juga mencintai dirinya yang hanya sebagai seorang suster dan juga kepala tim IT dari perusahaan Prayoga Group. Jabatan itu pun adalah karena kebaikan keluarga Prayoga terhadap dirinya yang hanya dari kalangan biasa saja.


Sejujurnya selama ini Andini merasa sangat insecure dengan dirinya sendiri. Dia tidak berani untuk bermimpi terlalu tinggi untuk bisa bersama dengan Adriana ataupun Steven.


Andini tadinya hanya ingin menjalankan tugasnya sebagai suster dan setelah itu akan meninggalkan keluarga Prayoga dengan tenang. Setelah keadaan Adrian sudah mulao membaik dan bisa mandiri.


Siapa yang mengetahui kalau ternyata perasaannya tersentuh dengan semua yang dilakukan oleh Adrian.


Kebahagiaan Adrian kepada keluarganya benar-benar sudah melampaui ekspektasi Andini selama ini.


" Baiklah Nyonya bisa melakukannya. Kita akan lihat, seperti apa masa depan yang ada di hadapan sana untuk kami berdua." ucap Andini berusaha untuk tersenyum kepada Siska.


" Jangan memanggilku Nyinya lagi. Kau panggil saja Siska. Kalau sampai nanti kau menikah dengan Pamanku, maka aku harus memanggilmu bibi!" Siska tersenyum kepada Andini yang hanya terkekeh mendengar ucapannya.


" Bagaimana mungkin?? Aku tidak berani untuk bermimpi dengan hal itu nyonya. aku sadar, siapalah diriku ini bila di bandingkan dengan Tuan Adrian." Ucap Andini yang sekarang mulai bisa kembali ceria dan tersenyum lagi.


Siska kemudian mengajak Andini untuk bertemu dengan kedua pamannya.


" Ayo kita temu mereka. Dan yakinkanlah hatimu sendiri tentang perasaanmu kepada keduanya. Jangan sampai nanti kau salah mengartikan perasaanmu!" ucap Siska kepada Andini yang langsung menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah Siska untuk menemui Adrian dan Steven.